Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Lulus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lulus. Tampilkan semua postingan
13.18
RSBI Tampung Siswa Miskin
Written By Sena on Selasa, 12 Juni 2012 | 13.18
| LEPAS BALON: Kepala SMPN 2 Demak H Trisyono melepas balon menandai pelepasan siswa.(HARSEM/SUKMA WIJAYA) |
DEMAK-Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMPN 2 Demak yang berstatus RSBI dilakukan tiga tahap. Sekolah berjanji akan menampung siswa berkualitas dari keluarga miskin dengan kuota 20 persen. Mereka difasilitasi pihak sekolah untuk mendapat beasiswa.
“Pelaksanaan PPDB 2 dilakukan tiga tahap. Diawali seleksi calon peserta didik (siswa SD, red) sebelum Ujian Nasional,” kata Kepala SMPN 2 Demak, H Trisyono seusai wisuda pelepasan kelulusan siswa kelas IX di kampus SMPN 2 Demak, kemarin.
Sengaja pihaknya menyeleksi calon pelajar sebelum kelulusan SD. Ini dilakukan untuk mencari bibit-bibit siswa berkualitas. Awalnya, tahap I, dibuka pendaftaran bagi calon pelajar, dengan mengkalkulasi rata-rata nilai lima semester dari Kelas IV sampai kelas VI.
Tahap II, setelah calon siswa mengikuti ujian nasional rata-rata lima semeter dipadukan dengan rata-rata nilai Ujian Nasional. Nilai minimal rata-rata yang diambil adalah 7,00.
Waka SMPN 2 Demak, Mulyadi menambahkan saat tes tahap I sudah diikuti 407 calon siswa, di tahap I mengerucut menjadi 288 calon siswa. Selanjutnya calon siswa akan mengikuti tes tahap III dengan materi tes akademisi, meliputi bahasa Indonesia, PKN, IPA, dan IPS.
“Rencananya kami hanya menampung 240 siswa yang menempati delapan kelas RSBI,” ungkap Mulyadi.
Setelah calon siswa dinyatakan diterima, pihak sekolah bersama komite sekolah memilah kemampuan ekonomi siswa. Dari pemilihan kemampuan ekonomi siswa, biasanya ditemukan sejumlah siswa miskin hingga 20 persen lebih. Siswa miskin ini difasilitasi pihak sekolah untuk menerima beasiswa dari orang tua asuh dan negara, sehingga mereka bisa sekolah secara gratis.
Mulyadi menegaskan SMPN 2 Demka bukan sekolah mahal, namun sekolahnya anak pintar. Sehingga seleksi kemasukan sekolah dilakukan secara ketat berkompetitif untuk mencari siswa-siswa berkualitas.
Seperti kelulusan tahun 2012 ini, sebelumnya sekolah menarget rata-rata kelulusan dengan nilai 9,00. Ternyata dari 258 siswa, sebanyak 10 persen meraih nilai rata-rata 9,20.
Terpisah Ketua Komite SMPN 2 Demak, H Maryono mengimbau selain kelulusan siswa sekolah berkualitas RSBI, diperhatikan juga dalam proses belajar-mengajar, dan disisipkan pendidikan karakter dan muatan lokal.
“Sehingga lulusannya siswa berkualitas dengan karakter yang memiliki keimanan dan kebangsaan,” katanya. (swi/16)
Label:
Lulus,
Pendidikan,
SMP
13.21
WAKIL Walikota Semarang, Hendrar Prihadi menerima dua tamu istimewa, Rabu pagi kemarin. Kedua tamu ini mampu mengharumkan nama Kota Semarang di dunia pendidikan. Dalam undangan tersebut, Wawali memberikan penghargaan dan mengucapkan selamat atas torehan prestasi yang membanggakan ini.
Dua tamu istimewa itu adalah siswi Kota Semarang yang berhasil mencapai nilai UN terbaik di tingkat nasional. Salah satunya adalah Mutiarani, siswi Akuntansi 1 SMKN 2 Semarang yang berhasil mencapai nilai UN tertinggi tingkat nasional dengan total nilai 29,6. Rinciannya, Mapel Matematika 10, Bahasa Inggris 9,8, Bahasa Indonesia 9,8.
Mutiarani menuturkan sangat ingin meneruskan jenjang pendidikan di bangku kuliah. Meski belum menentukan di universitas mana akan menempuh jalur kuliah, remaja kelahiran 27 November 1994 tersebut bercita-cita bisa masuk ke Fakultas Ekonomi Akutansi.
“Saya berterima kasih kepada pihak-pihak yang memberi penghargaan. Ini menjadi motivasi bagi saya, untuk belajar lebih keras agar meraih prestasi lebih tinggi lagi,” ujarnya ramah.
Satu lagi tamu istimewa Wakil Walikota adalah siswi dari SMPN 5 Semarang bernama Amalia Adi Nugraha Arisakti, yang berhasil menyabet gelar siswi SMP dengan nilai UN terbaik nomer tiga tingkat nasional. Total nilai UN yang diperoleh 39,8 dari akumulasi empat nilai mata pelajaran yang diujikan, yakni Bahasa Indonesia 9,8, Bahasa Inggris 10, matematika 10B dan IPA 10.
Wawali yang mengundang khusus kedua siswi berpretasi tersebut mengungkapkan kekaguman dan terimaksihnya. “Selamat dan terima kasih karena prestasi kalian juga telah membuat bangga warga Kota Semarang, khususnya di bidang pendidikan,” ungkap Wakil Walikota di ruang kerjanya, kemarin.
Lebih lanjut, Wakil Walikota meminta agar prestasi dan semangat belajar para siswa dapat terus ditingkatkan. “Jangan pernah berhenti untuk belajar. Ibarat kristal, semangat belajar harus terus dijaga dan ditingkatkan. Karena kalau sampai pecah, akan sulit untuk mengembalikannya dan tidak akan sesempurna kristal yang utuh. Kalau semangat belajar itu terus dijaga dan ditingkatkan, insya Allah akan terus sukses dan bersinar sebagaimana kilauan kristal,” pesan Wakil Walikota.
Dalam kesempatan tersebut, masing-masing siswi berprestasi ini mendapatkan piagam penghargaan atas prestasi yang telah dicapai. Kepala Dinas Pendidikan Kota Bunyamin, yang mendampingi pemberian penghargaan menyampaikan, prestasi yang berhasil diraih siswanya itu menjadi bukti bahwa pelajar Kota Semarang mampu bersaing dengan daerah lain di Indonesia.
Dirinya berharap, generasi emas seperti Amalia Adinugraha dan Mutiarani dapat sukses di kemudian hari. “Jika diasah dengan benar, kami yakin mereka mampu memberikan sumbangsih besar pada negara,” tandasnya. (lif/12)
Wakil Walikota Terima Dua Tamu “Istimewa”
Written By amoy ya annisaa on Jumat, 08 Juni 2012 | 13.21
| PRESTASI NASIONAL: Dua siswi peraih nilai UN terbaik tingkat nasional diterima Wakil Walikota Semarang dan Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang. (Foto: Harsem/ist) |
WAKIL Walikota Semarang, Hendrar Prihadi menerima dua tamu istimewa, Rabu pagi kemarin. Kedua tamu ini mampu mengharumkan nama Kota Semarang di dunia pendidikan. Dalam undangan tersebut, Wawali memberikan penghargaan dan mengucapkan selamat atas torehan prestasi yang membanggakan ini.
Dua tamu istimewa itu adalah siswi Kota Semarang yang berhasil mencapai nilai UN terbaik di tingkat nasional. Salah satunya adalah Mutiarani, siswi Akuntansi 1 SMKN 2 Semarang yang berhasil mencapai nilai UN tertinggi tingkat nasional dengan total nilai 29,6. Rinciannya, Mapel Matematika 10, Bahasa Inggris 9,8, Bahasa Indonesia 9,8.
Mutiarani menuturkan sangat ingin meneruskan jenjang pendidikan di bangku kuliah. Meski belum menentukan di universitas mana akan menempuh jalur kuliah, remaja kelahiran 27 November 1994 tersebut bercita-cita bisa masuk ke Fakultas Ekonomi Akutansi.
“Saya berterima kasih kepada pihak-pihak yang memberi penghargaan. Ini menjadi motivasi bagi saya, untuk belajar lebih keras agar meraih prestasi lebih tinggi lagi,” ujarnya ramah.
Satu lagi tamu istimewa Wakil Walikota adalah siswi dari SMPN 5 Semarang bernama Amalia Adi Nugraha Arisakti, yang berhasil menyabet gelar siswi SMP dengan nilai UN terbaik nomer tiga tingkat nasional. Total nilai UN yang diperoleh 39,8 dari akumulasi empat nilai mata pelajaran yang diujikan, yakni Bahasa Indonesia 9,8, Bahasa Inggris 10, matematika 10B dan IPA 10.
Wawali yang mengundang khusus kedua siswi berpretasi tersebut mengungkapkan kekaguman dan terimaksihnya. “Selamat dan terima kasih karena prestasi kalian juga telah membuat bangga warga Kota Semarang, khususnya di bidang pendidikan,” ungkap Wakil Walikota di ruang kerjanya, kemarin.
Lebih lanjut, Wakil Walikota meminta agar prestasi dan semangat belajar para siswa dapat terus ditingkatkan. “Jangan pernah berhenti untuk belajar. Ibarat kristal, semangat belajar harus terus dijaga dan ditingkatkan. Karena kalau sampai pecah, akan sulit untuk mengembalikannya dan tidak akan sesempurna kristal yang utuh. Kalau semangat belajar itu terus dijaga dan ditingkatkan, insya Allah akan terus sukses dan bersinar sebagaimana kilauan kristal,” pesan Wakil Walikota.
Dalam kesempatan tersebut, masing-masing siswi berprestasi ini mendapatkan piagam penghargaan atas prestasi yang telah dicapai. Kepala Dinas Pendidikan Kota Bunyamin, yang mendampingi pemberian penghargaan menyampaikan, prestasi yang berhasil diraih siswanya itu menjadi bukti bahwa pelajar Kota Semarang mampu bersaing dengan daerah lain di Indonesia.
Dirinya berharap, generasi emas seperti Amalia Adinugraha dan Mutiarani dapat sukses di kemudian hari. “Jika diasah dengan benar, kami yakin mereka mampu memberikan sumbangsih besar pada negara,” tandasnya. (lif/12)
Label:
Dinas Pendidikan,
Lulus,
Pendidikan,
Prestasi,
Siswi,
SMK N 2,
SMP N 5,
Ujian Nasional,
Walikota
13.44
Dia tidak hanya menjadi terbaik di sekolah, tetapi juga dengan nilainya yang mencapai 39,8 menjadi peringkat tiga tingkat nasional. Amalia hanya terpaut 20 poin dari peringkat satu nasional yang diraih Ni Putu Tamara Suweta, siswa SMPN 1 Denpasar yang mendapatkan nilai 40,0. Jumlah nilainya pun sama dengan siswa SMPN DKI Jakarta Novia Meizura yang juga mendapat nilai 39,8.
Dapat meraih prestasi itu pastilah butuh perjuangan. Dengan kerja keras dan ketekunan dalam belajar itulah kuncinya. “Saya tidak menyangka dapat menjadi peringkat pertama di sekolah, karena saat penjajagan UN di sekolah, hanya masuk peringkat sepuluh besar,” ungkap putri pasangan Hadi Susanto, Guru Bahasa Jepang SMAN 16 Semarang dan Titik Kunarti.
Gadis berambut panjang yang akrab dipanggil teman-temannya dengan “Ama Kokoro” ini mengaku, tidak ada persiapan khusus dalam menghadapi UN. Dia bahkan lebih sering bermain atau hanya tiduran di rumah saja sambil membaca komik kesukaanya. Hal itu dilakukan untuk membuat tubuhnya rilek, supaya tidak tegang pada saat ujian karena dengan kondisi tegang bisa mengganggu konsentrasi saat mengerjakan soal-soal.
“Tidak ada waktu khusus, kalau di rumah cuma istirahat saja. Kalau pun belajar hanya sebentar baca buku yang akan diujikan keesokan harinya,” ungkapnya. Ama memilih bersantai pada saat UN, karena jauh-jauh hari sebelum UN dilaksanakan sudah belajar dengan tekun. Kalau ada kesulitan pun, Ama tak segan untuk menanyakan hal tersebut kepada gurunya.
Ditanya apakah mengalami kesulitan saat mengerjakan soal UN, Ama mengaku memang mengalami kesulitan, namun berkat ketelitiannya dia mampu mengerjakan setiap soal dengan baik. ”Dalam mengerjakan soal yang pasti dibaca, dicermati, dipahami lalu dikerjakan,” tuturnya.
Dengan ketelitiannya itulah yang membuat tiga dari empat mata pelajaran yang diujikan, yakni Bahasa Inggris, IPA, Matematika mampu dikerjakan secara sempurna dan mendapatkan nilai 10. Sementara Bahasa Indonesia dia mendapatkan nilai 9,8.
Tunggu Pengumuman
Setelah lulus dia berencana melanjutkan ke SMA Taruna Nusantara Magelang yang sudah menjadi cita-citanya semenjak kecil. “Dari dulu sudah pingin masuk sana. Ini sudah daftar di Taruna Nusantara dan sudah menjalani tes tinggal menunggu pengumuman,” katanya.
Sementara itu, Kepala Sekolah SMPN 5 Semarang Suharto mengaku, dengan prestasi akademik yang diraih salah satu siswinya itu merupakan sebuah kejutan. Dan prestasi yang diraih Ama sebuah kebanggan tersendiri bagi sekolah.
”Kejutan bagi saya karena enam tahun di sini ada salah satu siswa masuk peringkat nasional. Ini semua berkat kerja keras semua guru yang ada,” katanya. Dikatakan Suharto, selama menjalani pendidikan di SMP 5 Semarang, prestasi akademik Ama memang cukup menonjol sejak kelas tujuh.
Amalia Adi Nugraha Arisakti, Terbaik di Jawa Tengah
Written By amoy ya annisaa on Selasa, 05 Juni 2012 | 13.44
![]() |
| TERBAIK: Amalia bersama Kepala Sekolah SMPN 5 Semarang Suharto (HARSEM/WARA MERDEKAWATI) |
SEMARANG- Menjadi lulusan terbaik Ujian Nasional SMP se-Jawa Tengah, tidak pernah dibayangkan siswa SMPN 5 Semarang, Amalia Adi Nugraha Arisakti.
Dia tidak hanya menjadi terbaik di sekolah, tetapi juga dengan nilainya yang mencapai 39,8 menjadi peringkat tiga tingkat nasional. Amalia hanya terpaut 20 poin dari peringkat satu nasional yang diraih Ni Putu Tamara Suweta, siswa SMPN 1 Denpasar yang mendapatkan nilai 40,0. Jumlah nilainya pun sama dengan siswa SMPN DKI Jakarta Novia Meizura yang juga mendapat nilai 39,8.
Dapat meraih prestasi itu pastilah butuh perjuangan. Dengan kerja keras dan ketekunan dalam belajar itulah kuncinya. “Saya tidak menyangka dapat menjadi peringkat pertama di sekolah, karena saat penjajagan UN di sekolah, hanya masuk peringkat sepuluh besar,” ungkap putri pasangan Hadi Susanto, Guru Bahasa Jepang SMAN 16 Semarang dan Titik Kunarti.
Gadis berambut panjang yang akrab dipanggil teman-temannya dengan “Ama Kokoro” ini mengaku, tidak ada persiapan khusus dalam menghadapi UN. Dia bahkan lebih sering bermain atau hanya tiduran di rumah saja sambil membaca komik kesukaanya. Hal itu dilakukan untuk membuat tubuhnya rilek, supaya tidak tegang pada saat ujian karena dengan kondisi tegang bisa mengganggu konsentrasi saat mengerjakan soal-soal.
“Tidak ada waktu khusus, kalau di rumah cuma istirahat saja. Kalau pun belajar hanya sebentar baca buku yang akan diujikan keesokan harinya,” ungkapnya. Ama memilih bersantai pada saat UN, karena jauh-jauh hari sebelum UN dilaksanakan sudah belajar dengan tekun. Kalau ada kesulitan pun, Ama tak segan untuk menanyakan hal tersebut kepada gurunya.
Ditanya apakah mengalami kesulitan saat mengerjakan soal UN, Ama mengaku memang mengalami kesulitan, namun berkat ketelitiannya dia mampu mengerjakan setiap soal dengan baik. ”Dalam mengerjakan soal yang pasti dibaca, dicermati, dipahami lalu dikerjakan,” tuturnya.
Dengan ketelitiannya itulah yang membuat tiga dari empat mata pelajaran yang diujikan, yakni Bahasa Inggris, IPA, Matematika mampu dikerjakan secara sempurna dan mendapatkan nilai 10. Sementara Bahasa Indonesia dia mendapatkan nilai 9,8.
Tunggu Pengumuman
Setelah lulus dia berencana melanjutkan ke SMA Taruna Nusantara Magelang yang sudah menjadi cita-citanya semenjak kecil. “Dari dulu sudah pingin masuk sana. Ini sudah daftar di Taruna Nusantara dan sudah menjalani tes tinggal menunggu pengumuman,” katanya.
Sementara itu, Kepala Sekolah SMPN 5 Semarang Suharto mengaku, dengan prestasi akademik yang diraih salah satu siswinya itu merupakan sebuah kejutan. Dan prestasi yang diraih Ama sebuah kebanggan tersendiri bagi sekolah.
”Kejutan bagi saya karena enam tahun di sini ada salah satu siswa masuk peringkat nasional. Ini semua berkat kerja keras semua guru yang ada,” katanya. Dikatakan Suharto, selama menjalani pendidikan di SMP 5 Semarang, prestasi akademik Ama memang cukup menonjol sejak kelas tujuh.
Selain itu, Ama juga menorehkan prestasi pada olimpiade sains tingkat Jateng maupun nasional.
“Di tingkat Jateng, Ama mendapat medali perak pada tahun 2009 dan tingkat nasional juga mendapatkan medali perak pada tahun ini,” tuturnya. (wam/15)
“Di tingkat Jateng, Ama mendapat medali perak pada tahun 2009 dan tingkat nasional juga mendapatkan medali perak pada tahun ini,” tuturnya. (wam/15)
Label:
Lulus,
Pendidikan,
Prestasi,
Semarang,
Siswi,
SMP N 5,
Ujian Nasional
13.40
Penyerahan simbolis bantuan senilai Rp 10 juta dari pemilik jaringan minimarket Alfamart itu dilakukan oleh Senior Corporate Communications Manager, Choirullah, dalam sebuah acara sederhana di RM Dapur Solo, Purwosari, Solo. "Ini adalah salah satu bentuk Corporate Social Responsibility (CSR) yang selama ini kami miliki. Diharapkan, beasiswa ini bisa membantu Mutiarani melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi," terang Choirullah, sebelum acara berlangsung.
Dijelaskan, latar belakang keluarga dan akademik siswi peraih nilai UN murni 29,6 ini, telah menjadi pertimbangan manajemen dalam memberikan bantuan tersebut. "Kami sudah melihat kondisi keluarga dan pribadi dari Mutiarani. Semangatnya tinggi untuk mengejar cita-cita yang diimpikan almarhum ayahnya, yakni seorang guru. Prestasi belajarnya juga sangat bagus. Kami kira, dia layak mendapatkan fasilitas untuk menggapai mimpinya."
Seperti diketahui, Mutiarani satu di antara 10 siswa SMK peraih nilai tertinggi UN kemarin. Siswi jurusan Akuntansi ini mendapat nilai 9,8 untuk mata ujian Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, serta nilai sempurna atau 10 untuk mata ujian Matematika. Jika ditambah dengan mata ujian Kompetensi Akuntansi, yakni 9,0, maka total nilai yang diperolehnya adalah 38,6.
Lebih jauh Choirullah menjelaskan, pemberian CSR di bidang pendidikan tersebut telah dilakukan perusahaannya sejak 2007. "Ada enam program umum CSR, yang salah satunya adalah program Alfamart Smart yang concern pada dunia pendidikan. Di antaranya melalui pemberian beasiswa, renovasi sekolah dan sebagainya," terang dia.
Mutiarani sendiri mengatakan, ia bersyukur mendapat beasiswa tersebut, karena bisa membantu melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi yang diidamkannya. Sementara itu, Wakasek SMKN 2, Sutikno Prawoto, yang mendampingi penyerahan itu berharap, bantuan tersebut dapat memacu siswa lain untuk berprestasi lebih baik lagi. (H73/JBSM/15)
Mutiarani Dapat Beasiswa Rp 10 Juta
![]() |
| SIMBOLIS: Senior Corporate Communications Manager Alfamart, Choirullah (kiri), menyerahkan bantuan beasiswa secara simbolis kepada Mutiarani di RM Dapur Solo, kemarin. (HARSEM/JBSM/AGUSTINUS ARIAWAN) |
SOLO - Salah satu siswa SMK peraih nilai tertinggi ujian nasional UN 2012, Mutiarani, layak bersyukur. Kemarin siswi SMK Negeri 2 Semarang itu mendapat beasiswa pendidikan dari salah satu perusahaan ritel terkemuka, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk.
Penyerahan simbolis bantuan senilai Rp 10 juta dari pemilik jaringan minimarket Alfamart itu dilakukan oleh Senior Corporate Communications Manager, Choirullah, dalam sebuah acara sederhana di RM Dapur Solo, Purwosari, Solo. "Ini adalah salah satu bentuk Corporate Social Responsibility (CSR) yang selama ini kami miliki. Diharapkan, beasiswa ini bisa membantu Mutiarani melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi," terang Choirullah, sebelum acara berlangsung.
Dijelaskan, latar belakang keluarga dan akademik siswi peraih nilai UN murni 29,6 ini, telah menjadi pertimbangan manajemen dalam memberikan bantuan tersebut. "Kami sudah melihat kondisi keluarga dan pribadi dari Mutiarani. Semangatnya tinggi untuk mengejar cita-cita yang diimpikan almarhum ayahnya, yakni seorang guru. Prestasi belajarnya juga sangat bagus. Kami kira, dia layak mendapatkan fasilitas untuk menggapai mimpinya."
Seperti diketahui, Mutiarani satu di antara 10 siswa SMK peraih nilai tertinggi UN kemarin. Siswi jurusan Akuntansi ini mendapat nilai 9,8 untuk mata ujian Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, serta nilai sempurna atau 10 untuk mata ujian Matematika. Jika ditambah dengan mata ujian Kompetensi Akuntansi, yakni 9,0, maka total nilai yang diperolehnya adalah 38,6.
Lebih jauh Choirullah menjelaskan, pemberian CSR di bidang pendidikan tersebut telah dilakukan perusahaannya sejak 2007. "Ada enam program umum CSR, yang salah satunya adalah program Alfamart Smart yang concern pada dunia pendidikan. Di antaranya melalui pemberian beasiswa, renovasi sekolah dan sebagainya," terang dia.
Mutiarani sendiri mengatakan, ia bersyukur mendapat beasiswa tersebut, karena bisa membantu melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi yang diidamkannya. Sementara itu, Wakasek SMKN 2, Sutikno Prawoto, yang mendampingi penyerahan itu berharap, bantuan tersebut dapat memacu siswa lain untuk berprestasi lebih baik lagi. (H73/JBSM/15)
Label:
Beasiswa,
Lulus,
Pendidikan,
Siswi,
SMK N 2,
Solo,
Ujian Nasional
13.26
MTs Australia Lulus 100 Persen
| WISUDA: Ratusan siswa MTs dan SMK Sholihiyyah mengikuti wisuda.HARSEM/SUKMA WIJAYA |
DEMAK- MTs Sholihiyyah di Desa Kalitengah Kecamatan Mranggen yang merupakan sekolah gratis mampu mencetak lulusan berkualitas. Bukan hanya 20 persen, bahkan semua siswa tidak dipungut biaya. Baik sumbangan pengembangan institusi (SPI) maupun SPP bulanan.
Kepala MTs Sholihiyyah, Kasmuin mengatakan kendati gratis namun sistem pembelajarannya menyerupai sekolah lain yang memungut biaya tinggi. Dibantu 20 guru PNS dan sejumlah guru GTT serta PTT sekolah mampu mencetak lulusan terbaik dengan rata-rata nilai 9,0.
“Kami memang tidak memungut biaya dari siswa, karena biaya operasional pendidikan dari bantuan pemerintah,” kata Kasmuin.
Di antaranya dari dana bantuan operasional sekolah (BOS). Juga bantuan dari pemerintah Australia untuk mengadakan sarana-prasarana.
Konsep pendidikan yang diterapkan yaitu 'Otak Jerman Hati Mekkah'. Dengan sistem pembelajaran, pagi sekolah umum sore sekolah agama di Pondok Pesantren yang disiapkan.
MTs Sholihiyyah meluluskan 76 siswa atau 100 persen. Konsep gratis tapi berkualitas membawa Sholihiyyah mendirikan sekolah lagi, yakni SMK Sholihiyyah dengan program pendidikan multimedia dan tata busana yang telah meluluskan 49 siswa atau 100 persen.
Ditemui, siswa lulusan terbaik MTs Sholihiyyah, Nisril Hidayah meraaih nilai UN 36,10 atau rata-rata nilai 9,0 mengaku keberhasilannya tak lepas dari dorongan guru dan orang tua.
“Kami terus belajar dan berlatih soal bersama ibu-bapak guru,” ucap Nisril ketika mengikuti Wisuda ke-12 MTs Sholihiyyah dan Wisud ke-6 SMK Sholihiyyah di komples kampus Sholihiyyah. (swi)
Label:
Lulus,
MTs,
Pendidikan
13.23
Puluhan Siswa Raih Nilai ‘10’
| SEMPURNA: Dua siswi Denaneer Rahmadatu ((kanan) ) dan Rechika Ardihia peraih meraih nilai ‘10’ pada UN bahasa Indonesia. (HARSEM/SUKMA WIJAYA) |
DEMAK-Kurikulum Rintisan Sekolah Berbasis Internasional (RSBI) ternyata ampuh. Siswa dari sekolah tersebut berhasil lulus dengan nilai terbaik. Di SMPN 2 Demak yang sudah ber-RSBI sejak 2006-2007, terdapat puluhan siswa yang meraih nilai ujian nasional (UN) dengan skor sempurna alias 10.
Uniknya nilai terbaik pada matematika dan IPA yang terbilang momok, malah dianggap biasa. Namun keberhasilan nilai terbaik di bahasa Indonesia justru dianggap luar biasa.
Dari 258 siswa SMPN 2 Demak, sebanyak 33 siswa meraih nilai 10 di mata pelajaran matematika, 25 siswa nilai 10 untuk IPA, dan dua siswa dengan skor 10 untuk bahasa Indonesia.
Dua siswa dengan nilai terbaik bahasa Indonesia-lah yang justru banyak mendapat ucapan selamat.”Sebab sejak enam tahun diberlakukannya RSBI di SMPN 2 Demak, baru kali ini meraih nilai 10 di UN bahasa Indonesia,” jelas Waka SMPN 2 Demak, Mulyadi, Sabtu (3/5) seusai pengumuman kelulusan.
Lanjutnya, tahun ini 100 persen siswa SMP N 2 Demak dengan nilai rata-rata 9,2. Lain itu selama enam tahun pembelajaran RSBI, SMPN 2 Demak menduduki peringkat enam besar se-Indonesia dari 134 sekolah be-RSBI.
Menurut tim penilai di tingkat nasional, RSBI SMP N 2 Demak mampu meningkatkan delapan standar proses belajar-mengajar, keberhasilan bahkan mampu meraih prestasi di tingkat provinsi, nasional, sampai internasional.
Saat ditemui, dua siswa peraih nilai terbaik UN Bahasa Indonesia, yaitu Denaneer Rahmadatu dan Rechika Ardihia, mengaku hal ini hasil kerja keras mereka yang selalu belajar dan mencoba berlatih menjawab soal.
“Setiap sore kami ke rumah bu Mey Nurhayati (guru bahasa Indonesia, red) untuk berlatih soal,” kata Denaneer. Menurut dia, soal bahasa Indonesia cukup sulit. Ada yang menyimpulkan cerita, dirangkum, tema puisi yang soalnya menjebak, kalimat utama, gagasan, atau kalimat efektif yang membutuhkan kejelian. (swi/16)
Label:
Lulus,
Pendidikan,
Siswa,
SMP
13.15
Nazar Jalan Kaki
![]() |
| JALAN KAKI: Kepsek SMPN 7 Edi Waspodo (kiri) berjalan kaki dari sekolah menuju Bundaran Tamansari bersama siswanya sambil membersihkan sampah di sepanjang jalan.(HARSEM/JBSM/MOCH KUNDORI) |
SALATIGA- Aksi nazar dengan berjalan kaki dilakukan oleh Kepsek SMPN 7 Edi Waspodo dan siswanya dari sekolah di Dukuh Warak, Kecamatan Sidomukti menuju Bundaran Tamansari Salatiga, setelah pengumuman Ujian Nasional (UN) SMP, Sabtu (2/6). Hal itu dilakukan karena untuk kali kedua sekolah itu lulus 100%.
''Kami mengungkapkan rasa senang dengan berjalan kaki sambil membersihkan sampah di sepanjang perjalanan. Daripada aksi corat-coret, lebih baik melakukan kegiatan bermanfaat,'' katanya.
Edi mengungkapkan, sekolahnya berada di daerah pinggiran dan inputnya merupakan siswa bernilai rendah yang tidak diterima di sekolah favorit. Tahun ini, 153 siswanya yang mengikuti UN bisa lulus, setelah mendapat tambahan pelajaran menghadapi ujian tersebut.
Sementara itu, di SMP Kristen 2 Jalan Jenderal Sudirman, para guru memberikan kejutan kepada siswa dengan membentangkan spanduk bertuliskan ''Lulus 100% 7 Tahun Berturut-turut'' saat acara wasanawarsa. Siswa dan orang tua yang melihat aksi guru itu terharu dan langsung memberikan ucapan selamat.
Kepala SMP Kristen 2, Daud Ronald Hutagaol mengungkapkan, dari 66 siswa yang mengikuti UN, ada tiga siswa yang sejak try out memiliki nilai kurang. Namun dengan gemblengan dan tambahan pelajaran, mereka akhirnya lulus semua. Ada empat siswa yang mendapat nilai 100 untuk mata pelajaran Matematika. (JBSM/H32,H2/15)
Label:
Lulus,
Pendidikan,
SMP,
Ujian Nasional
16.18
Dia juga bukan dari keluarga kaya yang setiap saat bisa memfasilitasi untuk meningkatkan pembelajaran. Anak dari pasangan Juwarto (alm) dan Sutarmi (55) itu mengungkapkan sebenarnya berkeinginan melanjutkan ke perguruan tinggi untuk memperdalam akuntansi. Namun, belum berpikir sejauh itu karena himpitan kondisi ekonomi keluarganya.
Namun bukan berarti usaha yang dia lakukan untuk meraih cita-citanya tidak ada. Diakuinya, dirinya sudah mendaftar beasiswa Bidik Misi di Unnes. "Mudah-mudahan lolos,” jelasnya.
Namun kalaupun tidak lolos, dirinya ingin bekerja terlebih dahulu. "Karena saya harus membantu ekonomi keluarga," jelasnya.
Saat ini, Mutiarani yang tinggal di Pudakpayung Setuk RT 6/RW 4 Semarang itu mengaku kedua kakaknya sudah bekerja di pabrik garmen dan bengkel, sementara ibunya bekerja serabutan membantu menjaga dan merawat rumah tetangga. "Jadi saya ingin membantu mereka," tambahnya.
Kepala SMKN 2 Semarang, Supriyanto mengatakan, Mutiarani termasuk siswa berprestasi di sekolah meski tidak pernah menempati peringkat pertama kelas. "Namun, peringkat tiga besar kerap diraihnya setiap semester," ujarnya.
Untuk nilai yang diperoleh Mutiarani hingga akhirnya bisa menduduki peringkat 1 nasional, di antaranya matematika mendapat 10, bahasa Indonesia dengan nilai 9,8, dan bahasa Inggris mendapat 9,8.
"Untuk itu dia berhasil memperoleh nilai 29,6. Itu nilai murni UN, belum ditambahkan nilai dari sekolah. Untuk itu kami sangat bangga dengan prestasi ini," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Bunyamin dalam kesempatan sama mengaku bangga dengan prestasi yang diraih siswa kelas 3 jurusan akuntansi SMKN 2 Semarang itu menempati peringkat pertama UN.
"Dia berasal dari keluarga kurang mampu. Penghasilan ibunya saja hanya Rp 600 ribu/bulan, itu pun tidak tentu. Oleh karena itu, kami akan kawal terus hingga mendapatkan beasiswa ke perguruan tinggi," tegasnya.
Berdasarkan data peringkat siswa SMK 15 besar UN se-Indonesia dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, ada tiga siswa SMK di Jateng yang menempati 10 besar, bahkan salah satunya, Mutiarani menempati peringkat pertama.
Peringkat kedua UN SMK secara nasional diraih siswa SMK Mitra Batik Tasikmalaya, disusul SMKN 1 Katapang, Jawa Barat. Dua siswa lain dari Jateng, yakni dari SMK Negeri 1 Purwodadi Grobogan menduduki peringkat tujuh dan delapan. (awi/16)
Lulusan Terbaik dari Keluarga Sederhana
Written By amoy ya annisaa on Selasa, 29 Mei 2012 | 16.18
| Mutiarani (HARSEM/ARIS WASITA WIDIASTUTI) |
SEMARANG-Siapa sangka, anak seorang pekerja serabutan bisa menjadi lulusan terbaik untuk Ujian Nasional (UN) SMK tingkat nasional. Dialah Mutiarani, siswa SMKN 2 Semarang ini mengaku tidak menyangka bisa menjadi peringkat satu. “Padahal persiapan saya saat menghadapi UN sama dengan teman-teman yang lain," jelasnya.
Dia juga bukan dari keluarga kaya yang setiap saat bisa memfasilitasi untuk meningkatkan pembelajaran. Anak dari pasangan Juwarto (alm) dan Sutarmi (55) itu mengungkapkan sebenarnya berkeinginan melanjutkan ke perguruan tinggi untuk memperdalam akuntansi. Namun, belum berpikir sejauh itu karena himpitan kondisi ekonomi keluarganya.
Namun bukan berarti usaha yang dia lakukan untuk meraih cita-citanya tidak ada. Diakuinya, dirinya sudah mendaftar beasiswa Bidik Misi di Unnes. "Mudah-mudahan lolos,” jelasnya.
Namun kalaupun tidak lolos, dirinya ingin bekerja terlebih dahulu. "Karena saya harus membantu ekonomi keluarga," jelasnya.
Saat ini, Mutiarani yang tinggal di Pudakpayung Setuk RT 6/RW 4 Semarang itu mengaku kedua kakaknya sudah bekerja di pabrik garmen dan bengkel, sementara ibunya bekerja serabutan membantu menjaga dan merawat rumah tetangga. "Jadi saya ingin membantu mereka," tambahnya.
Kepala SMKN 2 Semarang, Supriyanto mengatakan, Mutiarani termasuk siswa berprestasi di sekolah meski tidak pernah menempati peringkat pertama kelas. "Namun, peringkat tiga besar kerap diraihnya setiap semester," ujarnya.
Untuk nilai yang diperoleh Mutiarani hingga akhirnya bisa menduduki peringkat 1 nasional, di antaranya matematika mendapat 10, bahasa Indonesia dengan nilai 9,8, dan bahasa Inggris mendapat 9,8.
"Untuk itu dia berhasil memperoleh nilai 29,6. Itu nilai murni UN, belum ditambahkan nilai dari sekolah. Untuk itu kami sangat bangga dengan prestasi ini," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Bunyamin dalam kesempatan sama mengaku bangga dengan prestasi yang diraih siswa kelas 3 jurusan akuntansi SMKN 2 Semarang itu menempati peringkat pertama UN.
"Dia berasal dari keluarga kurang mampu. Penghasilan ibunya saja hanya Rp 600 ribu/bulan, itu pun tidak tentu. Oleh karena itu, kami akan kawal terus hingga mendapatkan beasiswa ke perguruan tinggi," tegasnya.
Berdasarkan data peringkat siswa SMK 15 besar UN se-Indonesia dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, ada tiga siswa SMK di Jateng yang menempati 10 besar, bahkan salah satunya, Mutiarani menempati peringkat pertama.
Peringkat kedua UN SMK secara nasional diraih siswa SMK Mitra Batik Tasikmalaya, disusul SMKN 1 Katapang, Jawa Barat. Dua siswa lain dari Jateng, yakni dari SMK Negeri 1 Purwodadi Grobogan menduduki peringkat tujuh dan delapan. (awi/16)
Label:
Lulus,
Pendidikan,
Prestasi,
Semarang,
SMK N 2,
Ujian Nasional
16.14
Mereka berkonvoi lengkap dengan seragam yang sudah dicorat-coret. Di antaranya berasal dari SMAN 11 Semarang, SMKN 3 Semarang, serta SMA Islam Sultan Agung 1.
Berdasarkan pantauan, beberapa d iantara mereka terlihat asyik berkonvoi dengan tidak menggunakan helm, meskipun lebih banyak yang berusaha taat dengan menggunakan helm. Tingkah dari siswa tersebut sempat memacetkan arus lalu lintas yang dilewati.
Terkait hal tersebut, Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Bunyamin mengatakan, pihaknya telah melarang keras aksi konvoi kendaraan bermotor dan corat-coret. Pihaknya telah memberikan surat edaran kepada seluruh sekolah untuk mengantisipasi siswa melakukan konvoi kendaraan bermotor dan corat-coret seragam terkait dengan euforia perayaan kelulusan.
"Konvoi kendaraan bermotor sangat membahayakan, baik diri sendiri maupun pengguna jalan lain. Kalau untuk seragam, daripada dicorat-coret, lebih baik disumbangkan ke orang lain yang lebih membutuhkan,” katanya.
Mengenai sanksi, pihaknya telah menyerahkan kepada masing-masing sekolah. Tidak semua siswa merayakan kelulusan dengan berkonvoi sepeda motor atau corat-coret seragam.
Menurut kepala SMAN 3 Semarang, Hari Waluyo, pawai sepeda diikuti seluruh siswa kelas 3 yang berjumlah 484 siswa dari 13 kelas. "Kami pikir itu lebih baik dibandingkan mereka berkonvoi kendaraan bermotor yang merugikan masyarakat atau corat-coret seragam. Apalagi, mereka juga membagikan nasi bungkus," katanya.
Kelulusan Naik
Kelulusan SMA/SMK di Kota Semarang tahun ini naik. Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Bunyamin mengatakan kelulusan mencapai 99,87 persen. “Tahun lalu 99,85 persen,” jelasnya.
Dipaparkan, untuk SMA dan MA (Madrasah Aliyah), untuk program IPA mencapai 99,79 persen, IPS sebesar 99,68 persen, Bahasa sebesar 99,69 persen. "Sedangkan untuk MA program keagamaan 100 persen lulus," jelasnya.
Rerata kelulusan tingkat SMA/MA untuk tahun ajaran 2011/2012 mencapai 99,83 persen. "Sedangkan untuk SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) juga 99,83 persen," ujarnya.
Dikatakan, jumlah siswa yang menjadi peserta Ujian Nasional (UN) SMA dan sederajat di Kota Semarang sebanyak 22.284 siswa. "Yang dinyatakan tidak lulus tahun ini mencapai 29 orang. Mereka tersebar dari sejumlah sekolah," ujarnya.
Sekolah negeri yang tidak meloloskan 100 persen di antaranya SMAN 8 dan SMKN 8 Semarang. “Masing-masing tidak meloloskan satu siswa. Lainnya dari sekolah swasta," ujarnya. (awi/16)
Tetap Konvoi Meski Sudah Dilarang
![]() |
| NEKAT KONVOI: Sejumlah pelajar nekat melakukan konvoi sepeda motor meski sudah dilarang Dinas Pendidikan Kota Semarang (HARSEM/INDRA PRABAWA) |
SEMARANG-Dinas Pendidikan Kota Semarang elarang siswa merayakan kelulusan dengan konvoi dan corat-coret. Namun masih banyak siswa yang mengabaikan.
MEREKA nekat melakukan konvoi di sejumlah ruas jalan di Semarang. Di antaranya di Jalan protokol seperti Jalan Pahlawan, Jalan Pandanaran, Bundaran Simpanglima, Jalan Ahmad Yani, dan Jalan dr Cipto Semarang.
MEREKA nekat melakukan konvoi di sejumlah ruas jalan di Semarang. Di antaranya di Jalan protokol seperti Jalan Pahlawan, Jalan Pandanaran, Bundaran Simpanglima, Jalan Ahmad Yani, dan Jalan dr Cipto Semarang.
Mereka berkonvoi lengkap dengan seragam yang sudah dicorat-coret. Di antaranya berasal dari SMAN 11 Semarang, SMKN 3 Semarang, serta SMA Islam Sultan Agung 1.
Berdasarkan pantauan, beberapa d iantara mereka terlihat asyik berkonvoi dengan tidak menggunakan helm, meskipun lebih banyak yang berusaha taat dengan menggunakan helm. Tingkah dari siswa tersebut sempat memacetkan arus lalu lintas yang dilewati.
Terkait hal tersebut, Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Bunyamin mengatakan, pihaknya telah melarang keras aksi konvoi kendaraan bermotor dan corat-coret. Pihaknya telah memberikan surat edaran kepada seluruh sekolah untuk mengantisipasi siswa melakukan konvoi kendaraan bermotor dan corat-coret seragam terkait dengan euforia perayaan kelulusan.
"Konvoi kendaraan bermotor sangat membahayakan, baik diri sendiri maupun pengguna jalan lain. Kalau untuk seragam, daripada dicorat-coret, lebih baik disumbangkan ke orang lain yang lebih membutuhkan,” katanya.
Mengenai sanksi, pihaknya telah menyerahkan kepada masing-masing sekolah. Tidak semua siswa merayakan kelulusan dengan berkonvoi sepeda motor atau corat-coret seragam.
Seperti yang dilakukan siswa SMAN 3 Semarang yang memilih membagikan nasi bungkus kepada masyarakat. Meski berkonvoi, mereka tidak menggunakan sepeda motor, melainkan dengan sepeda angin melewati ruas jalan, seperti Jalan Pemuda, Jalan Gadjah Mada, Jalan Pandanaran, Jalan Menteri Supeno, dan Jalan Pahlawan Semarang. Mereka juga membagikan 120 tangkai bunga mawar dan 150 nasi bungkus kepada warga.
Menurut kepala SMAN 3 Semarang, Hari Waluyo, pawai sepeda diikuti seluruh siswa kelas 3 yang berjumlah 484 siswa dari 13 kelas. "Kami pikir itu lebih baik dibandingkan mereka berkonvoi kendaraan bermotor yang merugikan masyarakat atau corat-coret seragam. Apalagi, mereka juga membagikan nasi bungkus," katanya.
Kelulusan Naik
Kelulusan SMA/SMK di Kota Semarang tahun ini naik. Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Bunyamin mengatakan kelulusan mencapai 99,87 persen. “Tahun lalu 99,85 persen,” jelasnya.
Dipaparkan, untuk SMA dan MA (Madrasah Aliyah), untuk program IPA mencapai 99,79 persen, IPS sebesar 99,68 persen, Bahasa sebesar 99,69 persen. "Sedangkan untuk MA program keagamaan 100 persen lulus," jelasnya.
Rerata kelulusan tingkat SMA/MA untuk tahun ajaran 2011/2012 mencapai 99,83 persen. "Sedangkan untuk SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) juga 99,83 persen," ujarnya.
Dikatakan, jumlah siswa yang menjadi peserta Ujian Nasional (UN) SMA dan sederajat di Kota Semarang sebanyak 22.284 siswa. "Yang dinyatakan tidak lulus tahun ini mencapai 29 orang. Mereka tersebar dari sejumlah sekolah," ujarnya.
Sekolah negeri yang tidak meloloskan 100 persen di antaranya SMAN 8 dan SMKN 8 Semarang. “Masing-masing tidak meloloskan satu siswa. Lainnya dari sekolah swasta," ujarnya. (awi/16)
Label:
Lulus,
Pendidikan,
Semarang,
Ujian Nasional
15.53
Sebelumnya Kunto Nugroho mengatakan, dinas pendidikan kabupaten/kota harus dapat memberikan peringatan kepada peserta didik agar tidak melampiaskan kegembiraannya secara berlebihan. Misalnya, dengan corat-coret baju seragam, arak-arakan, atau konvoi dan kegiatan lain yang mengganggu kepentingan umum.
“Harus dikoordinasikan dengan aparat keamanan setempat, orang tua atau wali siswa dan pihak terkait untuk mengantisipasi kegiatan yang tidak diinginkan,” ungkapnya, kemarin.
Dia berharap, sekolah dapat mengarahkan siswa untuk melakukan kegiatan positif dalam merayakan kelulusan. Diantaranya, menyumbangkan pakaian seragam pantas pakai kepada saudara, teman atau yang membutuhkan.
Mengenai ‘ulah’ siswanya yang melakukan aksi corat-coret, Kepala SMAN 1 Semarang Bambang Nianto Mulyo mengatakan tidak tahu. Dia mengaku belum memberikan pengumuman kepada siswa terkait kelulusan tersebut. “Saya malah tidak tahu kalau anak-anak melakukan aksi corat-coret, jujur saya kaget,” jelasnya.
Dia mengaku juga tidak tahu bagaimana siswa demikian percaya diri bahwa mereka pasti lulus. “Kan pengumuman resmi itu baru akan keluar Sabtu tanggal 26 Mei nanti,” jelasnya kepada sejumlah wartawan saat ditemui di SMAN 1 Semarang, kemarin.
Diakuinya, dirinya sempat ditelepon Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Bunyamin. “Saya sempat ditanyai, kok anak-anak sudah melakukan hal demikian,” jelasnya.
Pihaknya sempat bertanya kepada para siswa mengenai pemberitahuan kelulusan tersebut. “Mereka bilang lewat internet, kami sendiri malah belum tahu perihal tersebut,” kata dia.
Mengenai hal itu, pihaknya memaklumi. “Karena kecanggihan teknologi saat ini, mungkin mereka bisa mendapatkan informasi yang lebih. Tapi kan belum tentu itu valid,” jelasnya.
sekolah diminta menghimbau siswa agar mereka membubarkan diri. “Karena pengumuman secara resmi belum ada,” tambahnya.
Lagi pula, pihak dinas pendidikan melalui sekolah sudah menghimbau kepada para siswa agar tidak merayakan kelulusan dengan cara yang berlebihan. “Tapi ini belum-belum kok sudah corat-coret,” tukasnya.
Dikatakan, pengumuman resmi mengenai kelulusan UN ini bisa dilihat melalui web sekolah pada Sabtu (26/5) pada pukul 14.00 WIB. “Selain itu kalau untuk pemberitahuan secara resmi akan dilakukan pengiriman surat kelulusan melalui pos dan ditujukan ke alamat rumah masing-masing siswa,” ujarnya.
Plt Kepala Sekolah SMAN 2 Semarang tersebut juga telah memberikan pengumuman kepada siswa SMAN 1 maupun SMAN 2 untuk menunggu pengumuman resmi hingga hari Sabtu mendatang. “Jadi bisa dilihat lewat web sekolah dan surat secara resmi,” tandasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Bunyamin mengakui menerima laporan mengenai aksi corat-coret yang dilakukan oleh sejumlah siswa dari beberapa SMA di Semarang.
“Saya menerima laporan hari ini tadi. Padahal rapat terkait kelulusan siswa di seluruh kabupaten/kota di Jawa Tengah baru dilakukan Kamis ini,” ujarnya, kemarin.
Pihaknya menyayangkan tindakan siswa tersebut.
Sore ini (kemarin), rapat tingkat provinsi dilakukan. “Selanjutnya, hasil UN dikirimkan hari ini ke masing-masing kabupaten/kota. Siangnya baru sekolah mengadakan rapat pleno penentuan kelulusan,” jelasnya.
Karena, kriteria kelulusan tidak hanya dari nilai UN, namun ada empat komponen. “Salah satunya nilai ujian sekolah,” tambahnya. (K3-JBSM/awi/16)
Dilarang Kunto, Tetap Nekat Corat-coret
![]() |
| CORAT-CORET:Siswa SMA Negeri 1 Semarang melakukan aksi corat-coret merayakan kelulusan Ujian Nasional, kemarin (HARSEM/INDRA PRABAWA) |
SEMARANG-Permintaan Kepala Dinas Pendidikan Jateng Kunto Nugroho agar siswa tak melakukan aksi corat-coret saat merayakan kelulusan, tak gubris. Siswa SMA Negeri 1 Semarang bahkan sudah ‘beraksi’ kemarin, sebelum pengumuman resmi dilakukan pada Sabtu besok.
Sebelumnya Kunto Nugroho mengatakan, dinas pendidikan kabupaten/kota harus dapat memberikan peringatan kepada peserta didik agar tidak melampiaskan kegembiraannya secara berlebihan. Misalnya, dengan corat-coret baju seragam, arak-arakan, atau konvoi dan kegiatan lain yang mengganggu kepentingan umum.
“Harus dikoordinasikan dengan aparat keamanan setempat, orang tua atau wali siswa dan pihak terkait untuk mengantisipasi kegiatan yang tidak diinginkan,” ungkapnya, kemarin.
Dia berharap, sekolah dapat mengarahkan siswa untuk melakukan kegiatan positif dalam merayakan kelulusan. Diantaranya, menyumbangkan pakaian seragam pantas pakai kepada saudara, teman atau yang membutuhkan.
Mengenai ‘ulah’ siswanya yang melakukan aksi corat-coret, Kepala SMAN 1 Semarang Bambang Nianto Mulyo mengatakan tidak tahu. Dia mengaku belum memberikan pengumuman kepada siswa terkait kelulusan tersebut. “Saya malah tidak tahu kalau anak-anak melakukan aksi corat-coret, jujur saya kaget,” jelasnya.
Dia mengaku juga tidak tahu bagaimana siswa demikian percaya diri bahwa mereka pasti lulus. “Kan pengumuman resmi itu baru akan keluar Sabtu tanggal 26 Mei nanti,” jelasnya kepada sejumlah wartawan saat ditemui di SMAN 1 Semarang, kemarin.
Diakuinya, dirinya sempat ditelepon Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Bunyamin. “Saya sempat ditanyai, kok anak-anak sudah melakukan hal demikian,” jelasnya.
Pihaknya sempat bertanya kepada para siswa mengenai pemberitahuan kelulusan tersebut. “Mereka bilang lewat internet, kami sendiri malah belum tahu perihal tersebut,” kata dia.
Mengenai hal itu, pihaknya memaklumi. “Karena kecanggihan teknologi saat ini, mungkin mereka bisa mendapatkan informasi yang lebih. Tapi kan belum tentu itu valid,” jelasnya.
sekolah diminta menghimbau siswa agar mereka membubarkan diri. “Karena pengumuman secara resmi belum ada,” tambahnya.
Lagi pula, pihak dinas pendidikan melalui sekolah sudah menghimbau kepada para siswa agar tidak merayakan kelulusan dengan cara yang berlebihan. “Tapi ini belum-belum kok sudah corat-coret,” tukasnya.
Dikatakan, pengumuman resmi mengenai kelulusan UN ini bisa dilihat melalui web sekolah pada Sabtu (26/5) pada pukul 14.00 WIB. “Selain itu kalau untuk pemberitahuan secara resmi akan dilakukan pengiriman surat kelulusan melalui pos dan ditujukan ke alamat rumah masing-masing siswa,” ujarnya.
Plt Kepala Sekolah SMAN 2 Semarang tersebut juga telah memberikan pengumuman kepada siswa SMAN 1 maupun SMAN 2 untuk menunggu pengumuman resmi hingga hari Sabtu mendatang. “Jadi bisa dilihat lewat web sekolah dan surat secara resmi,” tandasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Bunyamin mengakui menerima laporan mengenai aksi corat-coret yang dilakukan oleh sejumlah siswa dari beberapa SMA di Semarang.
“Saya menerima laporan hari ini tadi. Padahal rapat terkait kelulusan siswa di seluruh kabupaten/kota di Jawa Tengah baru dilakukan Kamis ini,” ujarnya, kemarin.
Pihaknya menyayangkan tindakan siswa tersebut.
Sore ini (kemarin), rapat tingkat provinsi dilakukan. “Selanjutnya, hasil UN dikirimkan hari ini ke masing-masing kabupaten/kota. Siangnya baru sekolah mengadakan rapat pleno penentuan kelulusan,” jelasnya.
Karena, kriteria kelulusan tidak hanya dari nilai UN, namun ada empat komponen. “Salah satunya nilai ujian sekolah,” tambahnya. (K3-JBSM/awi/16)
Label:
Dinas Pendidikan,
Lulus,
Pendidikan,
SMA,
Ujian Nasional









