Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Banjir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Banjir. Tampilkan semua postingan
09.09
Hingga kemarin banjir belum sepenuhnya surut. Sejumlah sekolah masih tergenang air. Meski sekolah tidak kibur, namun sejumlah siswa memilih tidak masuk.
GENANGAN air masih terlihat di sejumlah sekolah di Kecamatan Semarang Utara, Pedurungan, Genuk, dan Gayamsari. Salah satu sekolah yang masih tergenang tinggi adalah SDN Kuningan 04.
Hingga kemarin, ketinggian genangan sekitar 15 cm, atau turun sekitar 25 cm dari sehari sebelumnya. "Kemarin (Selasa, 15/1) air masuk ke beberapa kelas dan ruang ibadah. Hari ini pelajaran biasa," kata Kepala Sekolah Indarsih Yuliati.
Di Pedurungan dan Gayamsari, kondisinya serupa. Seperti di SD Kalicari 01 Jalan Supriyadi Pedurungan, bisa dipastikan tiap kali hujan datang dengan intensitas deras, sekolah tersebut selalu dilanda banjir.
Ketinggian air yang mencapai hampir setengah meter membuat sejumlah guru tidak bisa pulang membawa sepeda motornya karena terendam banjir.
Sementara di Gayamsari di SD Sawah Besar 02, air bah yang menggenangi halaman sekolah sudah surut. Akan tetapi, banyak siswa tidak masuk sekolah karena akses menuju sekolah putus karena tempat tinggal mereka dilanda banjir.
''Rata-rata siswa yang tidak masuk 10-15 anak per kelas. Penyebabnya, karena akses ke sekolah terhalang banjir,'' kata Kepala SD Sawah Besar 01, Tri Hariyanti.
Susahnya ke sekolah diakui Yono Suharno warga Dempel Lor Pedurungan. Demi mengantar sekolah putranya, Chahya Satria (8), menggunakan sepeda. Itu pun butuh perjuangan karena harus melewati genangan.
''Pas hujan, Selasa (15/1), anak saya libur karena jalan menuju seiolah terhalang banjir. Hari ini (kemarin,-red) saya antar menggunakan sepeda,'' tuturnya.
Memilih Nyeker
Di SD Kaligawe juga banyak siswa tidak masuk. Karena air setinggi 50 meter masih menggenangi sekolah di Jalan Tambakan itu. Adapun siswa yang masuk, memilih nyeker atau menggunakan sandal.
Di SDN Muktiharjo Lor, guru memulangkan siswa lebih awal. Kepala Sekolah Jumadi mengatakan, pihaknya sengaja memulangkannya lebih awal karena banjir mengganggu KBM.
Banjir sudah menggenangi sekolah tersebut sejak dua hari lalu. “Belum surut airnya. Di dalam kelas, ketinggian air sekitar mata kaki. Tapi kalau yang di luar kelas, genangannya dalam, lebih dari 50 cm,” paparnya.
Namun banjir tidak sampai merusak benda-benda yang ada di sekolah. “Tidak merusak data-data sekolah, karena memang kami sudah siaga sebelumnya,” jelasnya.
Dikatakan, sekolah tersebut memang sudah menjadi langganan banjir. “Setiap tahun begini, semoga secepatnya surut, karena kondisi ini sangat mengganggu KBM. Semoga tidak perlu meliburkan siswa,” jelasnya.
Sejauh ini, pihaknya sudah menghubungi UPTD Pendidikan Kecamatan Genuk dan Dinas Pendidikan Kota Semarang terkait kondisi banjir ini. “Kami sudah melaporkannya, dan memang banyak sekolah lain mengalami nasib yang sama,” paparnya. (K3, H81-SM Network, awi/nji)
Banjir Belum Surut, Banyak Siswa Tidak Masuk
Written By arnoldy septiano on Kamis, 17 Januari 2013 | 09.09
![]() |
| HARSEM/CUN CAHYA Dua anak tengah bermain di halaman SDN Muktiharjo Lor yang masih tergenang. |
Hingga kemarin banjir belum sepenuhnya surut. Sejumlah sekolah masih tergenang air. Meski sekolah tidak kibur, namun sejumlah siswa memilih tidak masuk.
GENANGAN air masih terlihat di sejumlah sekolah di Kecamatan Semarang Utara, Pedurungan, Genuk, dan Gayamsari. Salah satu sekolah yang masih tergenang tinggi adalah SDN Kuningan 04.
Hingga kemarin, ketinggian genangan sekitar 15 cm, atau turun sekitar 25 cm dari sehari sebelumnya. "Kemarin (Selasa, 15/1) air masuk ke beberapa kelas dan ruang ibadah. Hari ini pelajaran biasa," kata Kepala Sekolah Indarsih Yuliati.
Di Pedurungan dan Gayamsari, kondisinya serupa. Seperti di SD Kalicari 01 Jalan Supriyadi Pedurungan, bisa dipastikan tiap kali hujan datang dengan intensitas deras, sekolah tersebut selalu dilanda banjir.
Ketinggian air yang mencapai hampir setengah meter membuat sejumlah guru tidak bisa pulang membawa sepeda motornya karena terendam banjir.
Sementara di Gayamsari di SD Sawah Besar 02, air bah yang menggenangi halaman sekolah sudah surut. Akan tetapi, banyak siswa tidak masuk sekolah karena akses menuju sekolah putus karena tempat tinggal mereka dilanda banjir.
''Rata-rata siswa yang tidak masuk 10-15 anak per kelas. Penyebabnya, karena akses ke sekolah terhalang banjir,'' kata Kepala SD Sawah Besar 01, Tri Hariyanti.
Susahnya ke sekolah diakui Yono Suharno warga Dempel Lor Pedurungan. Demi mengantar sekolah putranya, Chahya Satria (8), menggunakan sepeda. Itu pun butuh perjuangan karena harus melewati genangan.
''Pas hujan, Selasa (15/1), anak saya libur karena jalan menuju seiolah terhalang banjir. Hari ini (kemarin,-red) saya antar menggunakan sepeda,'' tuturnya.
Memilih Nyeker
Di SD Kaligawe juga banyak siswa tidak masuk. Karena air setinggi 50 meter masih menggenangi sekolah di Jalan Tambakan itu. Adapun siswa yang masuk, memilih nyeker atau menggunakan sandal.
Di SDN Muktiharjo Lor, guru memulangkan siswa lebih awal. Kepala Sekolah Jumadi mengatakan, pihaknya sengaja memulangkannya lebih awal karena banjir mengganggu KBM.
Banjir sudah menggenangi sekolah tersebut sejak dua hari lalu. “Belum surut airnya. Di dalam kelas, ketinggian air sekitar mata kaki. Tapi kalau yang di luar kelas, genangannya dalam, lebih dari 50 cm,” paparnya.
Namun banjir tidak sampai merusak benda-benda yang ada di sekolah. “Tidak merusak data-data sekolah, karena memang kami sudah siaga sebelumnya,” jelasnya.
Dikatakan, sekolah tersebut memang sudah menjadi langganan banjir. “Setiap tahun begini, semoga secepatnya surut, karena kondisi ini sangat mengganggu KBM. Semoga tidak perlu meliburkan siswa,” jelasnya.
Sejauh ini, pihaknya sudah menghubungi UPTD Pendidikan Kecamatan Genuk dan Dinas Pendidikan Kota Semarang terkait kondisi banjir ini. “Kami sudah melaporkannya, dan memang banyak sekolah lain mengalami nasib yang sama,” paparnya. (K3, H81-SM Network, awi/nji)
Label:
Banjir,
pelajar,
Pendidikan
08.57
SDN Karangkidul merupakan salah satu sekolah menjadi langganan banjir. Namun banjir justru mendatangkan kebahagiaan siswa. Hal itu dikarenakan mereka asyik bermain air hingga membuat seragam sekolah mereka basah. Berbeda dengan siswa, para guru tentu mengkhawatirkan kondisi siswa.
Kepala Sekolah Lilis Mahardika mengatakan, karena kondisi tersebut, beberapa guru bahkan mengusulkan agar anak-anak dipulangkan lebih awal. “Tetapi kami melarang. Jangan sampai situasi ini mengganggu KBM,” jelasnya kepada Harsem, kemarin.
Memang tidak sampai mengganggu KBM, karena air hanya menggenangi halaman sekolah. Namun membuat lingkungan menjadi kotor. “Bahkan tadi ada siswa yang terpeleset hingga bajunya basah,” jelasnya.
Banjir tidak sampai masuk kelas karena sudah. Namun, air masuk ke ruang guru dan kepala sekolah. “Karena ruang guru dan kepala sekolah memang paling rendah,” kata dia.
Selain itu, para guru juga mengkhawatirkan kesehatan siswa. “Karena musim penghujan seperti ini membawa banyak penyakit. Jadi kami khawatir banjir ini malah justru berdampak pada kesehatan para siswa,” terangnya.
Rp 800 Juta
Terkait kondisi ini, beberapa waktu yang lalu, pihaknya sempat didatangi oleh sejumlah anggota DPRD Kota Semarang. “Pada intinya mereka akan membantu sekolah kami,” jelasnya.
Karena tidak hanya bermasalah dengan banjir, sekolah yang sudah berdiri sejak tahun 1970 tersebut sudah mulai lapuk di beberapa bagian. “Jadi kalau musim penghujan begini, kan kita was-was,” jelasnya.
Dulu pemerintah berjanji akan memberikan bantuan Rp 800j juta sesuai. Jika cair, tidak akan digunakan untuk pengurukan lapangan.
“Karena itu untuk memperbaiki ruangan kelas. Jadi untuk pengurukan kami berharap ada pihak swasta yang membantu,” kata dia.
Beberapa waktu yang lalu, Pertamina memberikan bantuan untuk pengurukan tanah di lapangan. “Tapi terkikis lagi karena terus-terusan terkena banjir,” jelasnya. (awi/nji)
Sekolah Banjir, Siswa Malah Senang
Written By arnoldy septiano on Rabu, 16 Januari 2013 | 08.57
![]() |
| HARSEM/ARIS WASITA WIDIASTUTI Sejumlah siswa terlihat bermain di halaman sekolah yang tergenang air. |
Kepala Sekolah Lilis Mahardika mengatakan, karena kondisi tersebut, beberapa guru bahkan mengusulkan agar anak-anak dipulangkan lebih awal. “Tetapi kami melarang. Jangan sampai situasi ini mengganggu KBM,” jelasnya kepada Harsem, kemarin.
Memang tidak sampai mengganggu KBM, karena air hanya menggenangi halaman sekolah. Namun membuat lingkungan menjadi kotor. “Bahkan tadi ada siswa yang terpeleset hingga bajunya basah,” jelasnya.
Banjir tidak sampai masuk kelas karena sudah. Namun, air masuk ke ruang guru dan kepala sekolah. “Karena ruang guru dan kepala sekolah memang paling rendah,” kata dia.
Selain itu, para guru juga mengkhawatirkan kesehatan siswa. “Karena musim penghujan seperti ini membawa banyak penyakit. Jadi kami khawatir banjir ini malah justru berdampak pada kesehatan para siswa,” terangnya.
Rp 800 Juta
Terkait kondisi ini, beberapa waktu yang lalu, pihaknya sempat didatangi oleh sejumlah anggota DPRD Kota Semarang. “Pada intinya mereka akan membantu sekolah kami,” jelasnya.
Karena tidak hanya bermasalah dengan banjir, sekolah yang sudah berdiri sejak tahun 1970 tersebut sudah mulai lapuk di beberapa bagian. “Jadi kalau musim penghujan begini, kan kita was-was,” jelasnya.
Dulu pemerintah berjanji akan memberikan bantuan Rp 800j juta sesuai. Jika cair, tidak akan digunakan untuk pengurukan lapangan.
“Karena itu untuk memperbaiki ruangan kelas. Jadi untuk pengurukan kami berharap ada pihak swasta yang membantu,” kata dia.
Beberapa waktu yang lalu, Pertamina memberikan bantuan untuk pengurukan tanah di lapangan. “Tapi terkikis lagi karena terus-terusan terkena banjir,” jelasnya. (awi/nji)
Label:
Banjir,
Pendidikan,
Sekolah
09.34
Belum lama ini, siswa kelas tiga dan kelas empat SDN Trimulyo 02 Kecamatan Genuk terpaksa belajar di teras sekolah. Penyebabnya, kelas mereka terendam air dari hujan hingga sebatas lutut orang dewasa. Kepala Sekolah, Endang Yulianati mengatakan, air masuk ke kelas semalam sebelumnya. “Untung semua arsip sudah kami amankan,” jelasnya.
Banjir yang merendam sejak Kamis (16/2) lalu tersebut rupanya sudah dua hari menggenangi sekolah. “Pada Sabtu minggu lalu, juga kebanjiran, tapi sempat surut. Sekarang banjir lagi,” kata dia.
Dikatakan, kawasan Genuk memang rawan banjir. “Pokoknya, asal hujan agak deras di sini dapat dipastikan banjir. Kalau sudah demikian, terpaksaa anak harus belajar di teras kelas, karena kalau meliburkan mereka terlalu lama juga tidak mungkin,” jelasnya.
Namun saat ini hanya dua kelas saja yang masih sering kemasukan air. “Hanya kelas tiga dan kelas empat saja. Kelas lain tidak kena air karena bangunannya sudah ditinggikan,” ujarnya.
Pengawas TK/SD UPTD Pendidikan Kecamatan Genuk, Zulkifli Agus mengatakan, hampir sebagian sekolah di Kecamatan Genuk rawan banjir. “Yang paling parah SDN Trimulyo 01, SDN Trimulyo 02, SDI Hsanudin, SDI Darul Falah serta SDN Gebangsari 01-02-03 dan SDN Muktiharjo Lor,” paparnya.
Dikatakan, kawasan tersebut memang menjadi langganan banjir. “Sebenarnya, bila memungkinkan dan ada lahan, mereka seharusnya dipindahkan ke lokasi yang bebas banjir,” jelasnya.
Namun, pihaknya menyadari bahwa hal tersebut bukanlah perkara yang mudah. “Sulit mencari lokasi yang benar-benar bebas banjir,” jelas Zulkifli.
Dia mengungkapkan, upaya yang bisa dilakukan dalam waktu dekat ini adalah meninggikan bangunan sekolah atau kelas. “Seperti SDN Trimulyo 01-02 dengan meninggikan kelas, sementara dapat teratasi. Meski akses jalan menuju sekolah juga banjir,” jelasnya.
Meski demikian hal tersebut mau tidak mau harus dilakukan. “Yang penting anak-anak bisa belajar dengan tenang, meski sekolah juga dikepung air,” ungkap Zulkifli. (awi/nji)
Banjir, Belajar di Teras Sekolah
Written By p3joeang45 on Jumat, 17 Februari 2012 | 09.34
![]() |
| Para siswa SDN Trimulyo 02 Semarang belajar di teras kelas |
Hujan yang akhir-akhir mengguyur Kota Semarang membawa dampak bagi dunia pendidikan. Apalagi menilik sejarah Semarang yang sering terkena banjir. Banjir bisa datang kapan saja menjadi resiko yang harus dihadapi warga semarang, tak terkecuali siswa yang sedang belajar di sekolah.
Belum lama ini, siswa kelas tiga dan kelas empat SDN Trimulyo 02 Kecamatan Genuk terpaksa belajar di teras sekolah. Penyebabnya, kelas mereka terendam air dari hujan hingga sebatas lutut orang dewasa. Kepala Sekolah, Endang Yulianati mengatakan, air masuk ke kelas semalam sebelumnya. “Untung semua arsip sudah kami amankan,” jelasnya.
Banjir yang merendam sejak Kamis (16/2) lalu tersebut rupanya sudah dua hari menggenangi sekolah. “Pada Sabtu minggu lalu, juga kebanjiran, tapi sempat surut. Sekarang banjir lagi,” kata dia.
Dikatakan, kawasan Genuk memang rawan banjir. “Pokoknya, asal hujan agak deras di sini dapat dipastikan banjir. Kalau sudah demikian, terpaksaa anak harus belajar di teras kelas, karena kalau meliburkan mereka terlalu lama juga tidak mungkin,” jelasnya.
Namun saat ini hanya dua kelas saja yang masih sering kemasukan air. “Hanya kelas tiga dan kelas empat saja. Kelas lain tidak kena air karena bangunannya sudah ditinggikan,” ujarnya.
Pengawas TK/SD UPTD Pendidikan Kecamatan Genuk, Zulkifli Agus mengatakan, hampir sebagian sekolah di Kecamatan Genuk rawan banjir. “Yang paling parah SDN Trimulyo 01, SDN Trimulyo 02, SDI Hsanudin, SDI Darul Falah serta SDN Gebangsari 01-02-03 dan SDN Muktiharjo Lor,” paparnya.
Dikatakan, kawasan tersebut memang menjadi langganan banjir. “Sebenarnya, bila memungkinkan dan ada lahan, mereka seharusnya dipindahkan ke lokasi yang bebas banjir,” jelasnya.
Namun, pihaknya menyadari bahwa hal tersebut bukanlah perkara yang mudah. “Sulit mencari lokasi yang benar-benar bebas banjir,” jelas Zulkifli.
Dia mengungkapkan, upaya yang bisa dilakukan dalam waktu dekat ini adalah meninggikan bangunan sekolah atau kelas. “Seperti SDN Trimulyo 01-02 dengan meninggikan kelas, sementara dapat teratasi. Meski akses jalan menuju sekolah juga banjir,” jelasnya.
Meski demikian hal tersebut mau tidak mau harus dilakukan. “Yang penting anak-anak bisa belajar dengan tenang, meski sekolah juga dikepung air,” ungkap Zulkifli. (awi/nji)
Label:
Banjir,
Pendidikan,
SD
09.30
Berdasarkan pantaun Harsem kemarin, banjir merendam sekolah di sejumlah wilayah Kota Semarang. Di antaranya di Semarang Utara, Pedurungan, dan Genuk. Banyaknya ruang kelas yang terendam banir, membuat proses pembelajaran terganggu.
Di SD dan SMP Al Irsyad di Kampung Petek, Semarang Utara, air terlihat merendam sebagian besar bagian sekolah, seperti halaman, tempat parkir, tiga ruang kelas dan satu ruang guru. Meski ketinggian air hanya sebatas mata kaki orang dewasa, namun kegiatan pembelajaran di sekolah tersebut menjadi terganggu.
“Baru kali ini sekolah kami kebanjiran, tahun-tahun sebelumnya tidak pernah air sampai masuk ruangan, paling hanya memenuhi drainase sekolah. Banjir mulai menggenang sejak dini hari tadi (kemarin, red),” terang M Amirudin Aziz, salah satu guru sekolah tersebut, kemarin (26/1).
Untuk tiga ruang kelas yang terendam banjir, jelasnya, masing-masing adalah ruang kelas kelas I, kelas II, dan kelas III. Karena pertimbangan keamanan, kegiatan pembelajaran siswa kelas I dan kelas II terpaksa dipindahkan sementara di ruang moshola sekolah. Sedangkan untuk kelas III, tetap mengikuti kegiatan pembelajaran di ruangannya seperti sediakala dengan pengawasan ekstra dari guru. “Kami upayakan kegiatan pembelajaran berjalan sebagaimana mestinya, tidak ada siswa yang kami pulangkan lebih awal,” imbuhnya.
Banjir di Semarang Utara juga merendam empat ruang milik SDN Dadapsari yang kondisi lantainya berada 50 centimeter di bawah halaman sekolah, yaitu dua ruang kelas, satu ruang guru, dan ruangan kepala sekolah. Air setinggi 20 centimeter terus menggenang sejak malam hingga kemarin pagi. Untuk mengurangi ketinggian air di lokal ruangan itu, sekolah berupaya menyedotnya dengan mesin waterpam. “Karena sebagian besar kelas tidak terendam kegiatan pembelajaran tetap kami langungkan, meskipun kurang bisa kondusif,” terang Arini salah satu guru.
Sementara, di SDN Trimulyo 02, Genuk, dua ruang kelas dan satu ruang guru dan kepala sekolah tergenang juga kebanjiran. Kepala SDN Trimulyo 02 Endang Yulianati mengatakan, ketiga ruangan di sekolah itu telah terendam air sejak Rabu (25/1) malam.
Ruang kelas yang kebanjiran adalah kelas III dan kelas IV. Karena tidak memungkinkan, siswa kelas III dipulangkan lebih awal. “Sementara untuk siswa kelas IV kegiatan pembelajarannya kami pindah di ruang musala sekolah,” ucap Endang.
Menurut Endang, sekolahnya memang kerap menjadi langganan banjir dan rob. Tapi banjir akibat cuaca ekstrim beberapa hari terakhir ini merupakan yang paling parah terjadi. “Tahun lalu kami sudah dapat bantuan dari Disdik untuk peninggian sebagian halaman,” tukasnya.
Lebih lanjut, Endang mengatakan, untuk jangka pendek pihak sekolah memang belum dapat berbuat apa-apa. “Jika besok masih tergenang ya kalau tidak dipulangkan lebih awal ya sementara ke musala lagi,” ujarnya.
Selain di SDN Trimulyo 02, genangan banjir di Genuk juga terlihat merendam halaman SDN Trimulyo 01 dengan ketinggian air mencapai 40-50 cm. Akibat banjir para siswa terpaksa harus melepas sepatu mereka untuk masuk ke kelas.
Sementara di kawasan Muktiharjo Kidul, Pedurungan banjir merendam SMP PL Bonifasio. Namun banjir hanya merendam halaman sekolah dan tidak sampai merendam sembilan ruang kelas yang dimiliki. Menurut Wakil Kepala Sekolah SMP PL Bonifasio Rosalia Dwi Susilawati, meski hanya menggenangi bagian halaman sekolah, namun banjir kali ini menyebabkan beberapa kegiatan di sekolah menjadi terganggu. “Seperti pelajaran olahraga sementara harus kami tiadakan,” ucapnya.
Menurutnya, banjir di sekolahnya terjadi karena lingkungan di sekitar sekolah seperti saluran air yang kurang baik. “Kami berharap perhatian dari pihak terkait. Terutama pada persoalan pemeliharaan saluran air di lingkungan sekitar sekolah. Jalan depan sekolah ditinggikan, rumah-rumah penduduk juga sudah ditinggikan, jadi airnya lari ke sini semua,” tandas Dwi. (nji)
Sudah Ditinggikan, Sekolah Tetap Kebanjiran
Written By p3joeang45 on Jumat, 27 Januari 2012 | 09.30
| Sejumlah siswa SD Al Irsyad di Kampung Petek berjalan di halaman sekolah yang tergenang air |
BELUM genap sebulan, SDN Muktiharjo Lor meninggikan halaman sekolah hingga sekitar setengah meter. Namun sekolah ini kemarin masih terendam banjir. Kondisi serupa dialami sekolah-sekolah lain. Sudah berlomba-lomba meninggikan bangunan sekolah, tetap saja kebanjiran. Ini menjadi bukti langkah selama ini keliru. Karena penanganan banjir harus berbasis lingkungan.
Berdasarkan pantaun Harsem kemarin, banjir merendam sekolah di sejumlah wilayah Kota Semarang. Di antaranya di Semarang Utara, Pedurungan, dan Genuk. Banyaknya ruang kelas yang terendam banir, membuat proses pembelajaran terganggu.
Di SD dan SMP Al Irsyad di Kampung Petek, Semarang Utara, air terlihat merendam sebagian besar bagian sekolah, seperti halaman, tempat parkir, tiga ruang kelas dan satu ruang guru. Meski ketinggian air hanya sebatas mata kaki orang dewasa, namun kegiatan pembelajaran di sekolah tersebut menjadi terganggu.
“Baru kali ini sekolah kami kebanjiran, tahun-tahun sebelumnya tidak pernah air sampai masuk ruangan, paling hanya memenuhi drainase sekolah. Banjir mulai menggenang sejak dini hari tadi (kemarin, red),” terang M Amirudin Aziz, salah satu guru sekolah tersebut, kemarin (26/1).
Untuk tiga ruang kelas yang terendam banjir, jelasnya, masing-masing adalah ruang kelas kelas I, kelas II, dan kelas III. Karena pertimbangan keamanan, kegiatan pembelajaran siswa kelas I dan kelas II terpaksa dipindahkan sementara di ruang moshola sekolah. Sedangkan untuk kelas III, tetap mengikuti kegiatan pembelajaran di ruangannya seperti sediakala dengan pengawasan ekstra dari guru. “Kami upayakan kegiatan pembelajaran berjalan sebagaimana mestinya, tidak ada siswa yang kami pulangkan lebih awal,” imbuhnya.
Banjir di Semarang Utara juga merendam empat ruang milik SDN Dadapsari yang kondisi lantainya berada 50 centimeter di bawah halaman sekolah, yaitu dua ruang kelas, satu ruang guru, dan ruangan kepala sekolah. Air setinggi 20 centimeter terus menggenang sejak malam hingga kemarin pagi. Untuk mengurangi ketinggian air di lokal ruangan itu, sekolah berupaya menyedotnya dengan mesin waterpam. “Karena sebagian besar kelas tidak terendam kegiatan pembelajaran tetap kami langungkan, meskipun kurang bisa kondusif,” terang Arini salah satu guru.
Sementara, di SDN Trimulyo 02, Genuk, dua ruang kelas dan satu ruang guru dan kepala sekolah tergenang juga kebanjiran. Kepala SDN Trimulyo 02 Endang Yulianati mengatakan, ketiga ruangan di sekolah itu telah terendam air sejak Rabu (25/1) malam.
Ruang kelas yang kebanjiran adalah kelas III dan kelas IV. Karena tidak memungkinkan, siswa kelas III dipulangkan lebih awal. “Sementara untuk siswa kelas IV kegiatan pembelajarannya kami pindah di ruang musala sekolah,” ucap Endang.
Menurut Endang, sekolahnya memang kerap menjadi langganan banjir dan rob. Tapi banjir akibat cuaca ekstrim beberapa hari terakhir ini merupakan yang paling parah terjadi. “Tahun lalu kami sudah dapat bantuan dari Disdik untuk peninggian sebagian halaman,” tukasnya.
Lebih lanjut, Endang mengatakan, untuk jangka pendek pihak sekolah memang belum dapat berbuat apa-apa. “Jika besok masih tergenang ya kalau tidak dipulangkan lebih awal ya sementara ke musala lagi,” ujarnya.
Selain di SDN Trimulyo 02, genangan banjir di Genuk juga terlihat merendam halaman SDN Trimulyo 01 dengan ketinggian air mencapai 40-50 cm. Akibat banjir para siswa terpaksa harus melepas sepatu mereka untuk masuk ke kelas.
Sementara di kawasan Muktiharjo Kidul, Pedurungan banjir merendam SMP PL Bonifasio. Namun banjir hanya merendam halaman sekolah dan tidak sampai merendam sembilan ruang kelas yang dimiliki. Menurut Wakil Kepala Sekolah SMP PL Bonifasio Rosalia Dwi Susilawati, meski hanya menggenangi bagian halaman sekolah, namun banjir kali ini menyebabkan beberapa kegiatan di sekolah menjadi terganggu. “Seperti pelajaran olahraga sementara harus kami tiadakan,” ucapnya.
Menurutnya, banjir di sekolahnya terjadi karena lingkungan di sekitar sekolah seperti saluran air yang kurang baik. “Kami berharap perhatian dari pihak terkait. Terutama pada persoalan pemeliharaan saluran air di lingkungan sekitar sekolah. Jalan depan sekolah ditinggikan, rumah-rumah penduduk juga sudah ditinggikan, jadi airnya lari ke sini semua,” tandas Dwi. (nji)
Label:
Banjir,
Pendidikan,
SD
18.33
Diakuinya, berbagai upaya sudah dilakukan untuk menanggulangi banjir. “Bahkan upaya tidak hanya datang dari pihak sekolah saja, namun juga dari kelurahan dan kecamatan,” jelasnya.
Dikatakan, beberapa waktu yang lalu, pihak Kecamatan Genuk dan Kelurahan Muktiharjo Lor melakukan kerja bakti di lingkungan sekolah. “Kebetulan di depan sekolah itu ada sungai kecil, dan biasanya sampai kebanjiran itu pas sungainya meluap,” terangnya.
Namun, beberapa waktu yang lalu pihak kecamatan dan kelurahan sudah melakukan kerja bakti membersihkan sungai. “Itu dimaksudkan untuk meminimalisir banjir, kebetulan kami juga dibantu warga sekitar dan tokoh masyarakat juga,” terangnya.
Dijelaskan, selain itu, disiplin dalam hal kebersihan juga diterapkan kepada para siswa. “Setiap saat guru maupun kepala sekolah selalu mengingatkan siswa agar selalu membuang sampah tepat pada tempatnya,” jelasnya.
Dikatakan pula, kepala sekolah selalu mengatakan kepada siswa, kunci dari banjir adalah sampah. “Penerapan yang sudah dilakukan yaitu siswa dari kelas besar memunguti sampah siswa dari kelas rendah, itu supaya kedisiplinan bisa merata dan tertular, dari siswa besar ke siswa kecil,” paparnya.
Sementara itu, banjir yang terjadi beberapa waktu lalu sempat pula mengakibatkan seluruh lingkungan sekolah terendam air. “Tahun lalu cukup parah, bahkan banyak kursi dan arsip yang rusak,” jelasnya.
Selain itu, akses untuk masuk ke sekolah menjadi terganggu. “Kebetulan kan ada beberapa guru yang tinggalnya jauh dari sekolah, jadi terpaksa mereka juga tidak bisa datang ke sekolah saat dikabari kalau sekolah banjir,” jelasnya.
Lantas, karena harus ada arsip-arsip yang diselamatkan, akhirnya para guru yang rumahnya dekat dengan sekolah terpaksa mendobrak almari-almari yang digunakan untuk menyimpan arsip.
“Kan memang kalau untuk arsip, itu sudah menjadi rahasia masing-masing guru. Dan kunci almari yang digunakan untuk menyimpan arsip-arsip tersebut dibawa oleh guru masing-masing kelas juga. Akhirnya saat itu terpaksa almari-almari didobrak,” jelasnya.
Tak pelak, banjir yang saat itu melanda sekolah tersebut membuat sejumlah barang-barang sekolah menjadi rusak. “Saat itu kursi, dan almari banyak yang rusak, dan akhirnya kami mendapatkan bantuan dari pihak pemerintah kota setelah mengajukan proposal,” jelasnya. (aris wasita widiastuti/nji)
Selamat Tinggal Banjir…
Written By p3joeang45 on Rabu, 04 Januari 2012 | 18.33
| Siswa berolahraga di halaman sekolah yang dulu kerap tergenang banjir |
KARENA letaknya di daerah rawan banjir, SDN Muktiharjo Lor Genuk pernah menjadi langganan banjir. Tapi setelah halaman sekolah ditinggikan, mereka bisa berucap “selamat tinggal banjir…” Salah satu guru, Eni Setyawati mewakili Kepala Sekolah Jumadi mengatakan, tahun sebelumnya sekolah sering dilanda banjir. “Biasanya sampai masuk ke ruang kelas maupun kantor. Untungnya pada hujan kali ini tidak banjir, semoga seterusnya begini,” terangnya.
Diakuinya, berbagai upaya sudah dilakukan untuk menanggulangi banjir. “Bahkan upaya tidak hanya datang dari pihak sekolah saja, namun juga dari kelurahan dan kecamatan,” jelasnya.
Dikatakan, beberapa waktu yang lalu, pihak Kecamatan Genuk dan Kelurahan Muktiharjo Lor melakukan kerja bakti di lingkungan sekolah. “Kebetulan di depan sekolah itu ada sungai kecil, dan biasanya sampai kebanjiran itu pas sungainya meluap,” terangnya.
Namun, beberapa waktu yang lalu pihak kecamatan dan kelurahan sudah melakukan kerja bakti membersihkan sungai. “Itu dimaksudkan untuk meminimalisir banjir, kebetulan kami juga dibantu warga sekitar dan tokoh masyarakat juga,” terangnya.
Dijelaskan, selain itu, disiplin dalam hal kebersihan juga diterapkan kepada para siswa. “Setiap saat guru maupun kepala sekolah selalu mengingatkan siswa agar selalu membuang sampah tepat pada tempatnya,” jelasnya.
Dikatakan pula, kepala sekolah selalu mengatakan kepada siswa, kunci dari banjir adalah sampah. “Penerapan yang sudah dilakukan yaitu siswa dari kelas besar memunguti sampah siswa dari kelas rendah, itu supaya kedisiplinan bisa merata dan tertular, dari siswa besar ke siswa kecil,” paparnya.
Sementara itu, banjir yang terjadi beberapa waktu lalu sempat pula mengakibatkan seluruh lingkungan sekolah terendam air. “Tahun lalu cukup parah, bahkan banyak kursi dan arsip yang rusak,” jelasnya.
Selain itu, akses untuk masuk ke sekolah menjadi terganggu. “Kebetulan kan ada beberapa guru yang tinggalnya jauh dari sekolah, jadi terpaksa mereka juga tidak bisa datang ke sekolah saat dikabari kalau sekolah banjir,” jelasnya.
Lantas, karena harus ada arsip-arsip yang diselamatkan, akhirnya para guru yang rumahnya dekat dengan sekolah terpaksa mendobrak almari-almari yang digunakan untuk menyimpan arsip.
“Kan memang kalau untuk arsip, itu sudah menjadi rahasia masing-masing guru. Dan kunci almari yang digunakan untuk menyimpan arsip-arsip tersebut dibawa oleh guru masing-masing kelas juga. Akhirnya saat itu terpaksa almari-almari didobrak,” jelasnya.
Tak pelak, banjir yang saat itu melanda sekolah tersebut membuat sejumlah barang-barang sekolah menjadi rusak. “Saat itu kursi, dan almari banyak yang rusak, dan akhirnya kami mendapatkan bantuan dari pihak pemerintah kota setelah mengajukan proposal,” jelasnya. (aris wasita widiastuti/nji)
Label:
Banjir,
Pendidikan,
SD
11.54
“Sebetulnya ada ruangan untuk perpustakaan, namun saat ini digunakan sebagai ruang guru karena guru tidak punya ruangan,” jelasnya kepada Harsem saat ditemui di sela aktivitas mengajarnya, pekan lalu.
Dikatakan, sebelumnya, untuk mengganti keberadaan perpustakaan, pihak sekolah membuat rak buku yang dipasang di sepanjang dinding kelas. “Tinggi rak kami sesuaikan dengan siswa, agar mereka bisa mengambil sendiri,” jelasnya.
Namun pada musim penghujan 2009 lalu, sekolah di kawasan tambak tersebut terendam air. “Banyak barang-barang yang digunakan untuk KBM rusak karena terkena air, termasuk rak-rak buku tersebut,” kata dia.
Tak hanya merusakkan rak, banyak buku yang hanyut. “Semuanya rusak parah. Sampai saat ini belum ada gantinya,” terangnya.
Saat ini para siswa hanya bisa membaca sejumlah buku yang tersisa. “Letaknya juga kurang strategis, yaitu menjadi satu dengan ruangan yang digunakan guru. Kerapkali siswa mau masuk ke ruangan tersebut, mereka sungkan dengan guru,” paparnya.
Dirinya berharap tahun ini ruang perpustakaan bisa segera diadakan. “Semoga cepat ada. Kalau ada nantinya akan kami bangun di halaman sekolah yang bersebelahan dengan kelas,” jelasnya.
Dikatakan, beberapa waktu lalu, tim dari Dinas Pendidikan Provinsi Jateng datang meninjau lokasi sekolah. “Karena tahun ini prioritas anggaran dari pemerintah pusat bidang pendidikan untuk pembangunan perpustakaan. Untuk itu kami berinisiatif untuk mengajukan untuk pengadaan perpustakaan sekolah,” ungkapnya.
Karena terbatasnya jumlah kelas, hingga saat ini masih ada tiga kelas yang harus masuk siang. “Jadi harus bergantian dengan kelas lain. Selain itu ruangan untuk komputer juga belum ada,” jelasnya.
Namun demikian, dijelaskan, hingga saat ini tidak ada kendala yang berarti dalam proses KBM. “Meskipun para siswa masuk siang, namun mereka juga terlihat tetap semangat dan bisa mengikuti kegiatan pembelajaran dengan optimal,” tukasnya. (nji)
SDN Sawah Besar Rindukan Perpustakaan
Written By ericadventure on Jumat, 25 November 2011 | 11.54
| Para siswa membaca buku di depan ruang kelas, karena mereka belum memiliki perpustakaan |
BANJIR membawa akibat buruk bagi dunia pendidikan. Tak terkecuali bagi SDN Sawah Besar 02 Semarang. Tingginya air membuat sekolah kehilangan rak-rak yang digunakan untuk menyimpan buku bacaan. Salah satu guru SDN Sawah Besar 02, Ponco Budi Winarsih mewakili Kepala Sekolah Kusmini mengatakan, karena keterbatasan ruangan, hingga saat ini sekolah memang belum memiliki perpustakaan.
“Sebetulnya ada ruangan untuk perpustakaan, namun saat ini digunakan sebagai ruang guru karena guru tidak punya ruangan,” jelasnya kepada Harsem saat ditemui di sela aktivitas mengajarnya, pekan lalu.
Dikatakan, sebelumnya, untuk mengganti keberadaan perpustakaan, pihak sekolah membuat rak buku yang dipasang di sepanjang dinding kelas. “Tinggi rak kami sesuaikan dengan siswa, agar mereka bisa mengambil sendiri,” jelasnya.
Namun pada musim penghujan 2009 lalu, sekolah di kawasan tambak tersebut terendam air. “Banyak barang-barang yang digunakan untuk KBM rusak karena terkena air, termasuk rak-rak buku tersebut,” kata dia.
Tak hanya merusakkan rak, banyak buku yang hanyut. “Semuanya rusak parah. Sampai saat ini belum ada gantinya,” terangnya.
Saat ini para siswa hanya bisa membaca sejumlah buku yang tersisa. “Letaknya juga kurang strategis, yaitu menjadi satu dengan ruangan yang digunakan guru. Kerapkali siswa mau masuk ke ruangan tersebut, mereka sungkan dengan guru,” paparnya.
Dirinya berharap tahun ini ruang perpustakaan bisa segera diadakan. “Semoga cepat ada. Kalau ada nantinya akan kami bangun di halaman sekolah yang bersebelahan dengan kelas,” jelasnya.
Dikatakan, beberapa waktu lalu, tim dari Dinas Pendidikan Provinsi Jateng datang meninjau lokasi sekolah. “Karena tahun ini prioritas anggaran dari pemerintah pusat bidang pendidikan untuk pembangunan perpustakaan. Untuk itu kami berinisiatif untuk mengajukan untuk pengadaan perpustakaan sekolah,” ungkapnya.
Karena terbatasnya jumlah kelas, hingga saat ini masih ada tiga kelas yang harus masuk siang. “Jadi harus bergantian dengan kelas lain. Selain itu ruangan untuk komputer juga belum ada,” jelasnya.
Namun demikian, dijelaskan, hingga saat ini tidak ada kendala yang berarti dalam proses KBM. “Meskipun para siswa masuk siang, namun mereka juga terlihat tetap semangat dan bisa mengikuti kegiatan pembelajaran dengan optimal,” tukasnya. (nji)
09.57
Salah satu guru, Ponco Budi Winarsih mewakili Kepala Sekolah Kusmini mengatakan, mushola sekolah memang dibangun di atas tanah yang mudah tergenang air. “Jadi kalau habis turun hujan, pasti airnya memenuhi jalan masuk ke mushola. Akibatnya, mushola tidak bisa dimasuki,” jelasnya kepada Harsem saat ditemui di sela kegiatan mengajar, kemarin.
Dikatakan, hal ini diakibatkan pembangunan mushola yang belum selesai. “Saat itu mushola dibangun dengan memakai uang infak siswa, guru, serta orangtua siswa,” jelasnya.
Saat ini pembangunan terhenti karena belum ada dana untuk meneruskan pembangunan. “Sebetulnya kami ingin meminta bantuan ke Dinas Pendidikan Kota Semarang, tapi tahun ini prioritasnya untuk pembangunan perpustakaan,” terangnya.
Untuk itu, pihaknya berharap ada pihak yang mau memberikan bantuan untuk pembangunan mushola. “Karena keberadaan mushola ini sangat penting bagi siswa. Bahkan saking senangnya ada mushola meski baru setengah jadi, para siswa sudah sering menghabiskan waktu untuk bercengkrama maupun sholat di mushola sekolah ini” paparnya
Saat ini, air tidak sampai membanjiri halaman sekolah. “Karena ruang kelas dan guru sudah ditinggikan sekitar 160 cm, jadi air tidak masuk kelas,” jelasnya.
Tahun lalu sekolah kebanjiran. Saking parahnya, tahun lalu KBM di SDN Sawah Besar 02 sampai diungsikan ke SDN Sawah Besar 01. “Semoga tahun ini dan selanjutnya tidak terulang kejadian itu,” terangnya.
Dia menjelaskan, sebagai upaya untuk pencegahan penyakit yang disebabkan oleh musim penghujan, sekolah juga sudah melakukan sosialisasi kepada siswa. “Sosialisasi penyakit demam berdarah sudah kami lakukan. Pemeriksaan jentik nyamuk di sekitar sekolah juga sudah kami lakukan,” kata dia.
Namun demikian, hal itu tidak terlalu membantu. Penyebabnya, letak sekolah yang berdekatan dengan tambak. “Belakang sekolah tambak, jadi kalau sampai ada kasus DB, itu bukan dari sekolah tapi dari lingkungan,” urainya.
Untuk itu, pihaknya terus melakukan sosialisasi kepada orangtua siswa.”Orangtua siswa harus kami beritahu tentang bahaya DB. Mereka diminta menjaga lingkungan rumah supaya terbebas dari jentik nyamuk,” tandasnya. (nji)
Hujan Sebentar, Mushola Dikepung Air
| Genangan air membuat siswa kesulitan beribadah di mushola sekolah |
BETAPA senangnya memiliki mushola sekolah. Meski mushola masih setengah jadi, namun sudah kerap digunakan untuk beribadah. Sayangnya, jika hujan turun meski Cuma sebentar, genangan air langsung memenuhi halaman sekolah, terutama dekat mushola. Akibatnya, siswa tidak bisa masuk ke mushola sekolah. Itulah yang terjadi di SDN Sawah Besar 02 Semarang.
Salah satu guru, Ponco Budi Winarsih mewakili Kepala Sekolah Kusmini mengatakan, mushola sekolah memang dibangun di atas tanah yang mudah tergenang air. “Jadi kalau habis turun hujan, pasti airnya memenuhi jalan masuk ke mushola. Akibatnya, mushola tidak bisa dimasuki,” jelasnya kepada Harsem saat ditemui di sela kegiatan mengajar, kemarin.
Dikatakan, hal ini diakibatkan pembangunan mushola yang belum selesai. “Saat itu mushola dibangun dengan memakai uang infak siswa, guru, serta orangtua siswa,” jelasnya.
Saat ini pembangunan terhenti karena belum ada dana untuk meneruskan pembangunan. “Sebetulnya kami ingin meminta bantuan ke Dinas Pendidikan Kota Semarang, tapi tahun ini prioritasnya untuk pembangunan perpustakaan,” terangnya.
Untuk itu, pihaknya berharap ada pihak yang mau memberikan bantuan untuk pembangunan mushola. “Karena keberadaan mushola ini sangat penting bagi siswa. Bahkan saking senangnya ada mushola meski baru setengah jadi, para siswa sudah sering menghabiskan waktu untuk bercengkrama maupun sholat di mushola sekolah ini” paparnya
Saat ini, air tidak sampai membanjiri halaman sekolah. “Karena ruang kelas dan guru sudah ditinggikan sekitar 160 cm, jadi air tidak masuk kelas,” jelasnya.
Tahun lalu sekolah kebanjiran. Saking parahnya, tahun lalu KBM di SDN Sawah Besar 02 sampai diungsikan ke SDN Sawah Besar 01. “Semoga tahun ini dan selanjutnya tidak terulang kejadian itu,” terangnya.
Dia menjelaskan, sebagai upaya untuk pencegahan penyakit yang disebabkan oleh musim penghujan, sekolah juga sudah melakukan sosialisasi kepada siswa. “Sosialisasi penyakit demam berdarah sudah kami lakukan. Pemeriksaan jentik nyamuk di sekitar sekolah juga sudah kami lakukan,” kata dia.
Namun demikian, hal itu tidak terlalu membantu. Penyebabnya, letak sekolah yang berdekatan dengan tambak. “Belakang sekolah tambak, jadi kalau sampai ada kasus DB, itu bukan dari sekolah tapi dari lingkungan,” urainya.
Untuk itu, pihaknya terus melakukan sosialisasi kepada orangtua siswa.”Orangtua siswa harus kami beritahu tentang bahaya DB. Mereka diminta menjaga lingkungan rumah supaya terbebas dari jentik nyamuk,” tandasnya. (nji)
Label:
Banjir,
Dinas Pendidikan,
SD,
Semarang,
Siswa
21.29
Hujan deras sedang “giat-giatnya” mengguyur Kota Semarang. Siswa yang bersekolah di kawasan banjir harus memutar otak mencari jalan yang bebas genangan.
SEJUMLAH siswa memutuskan untuk memilih jalan memutar agar tak menemui genangan air. Namun tak sedikit yang memilih tetap menerjang, meski kondisi air sangat kotor.
Tak jarang siswa harus melepas sepatu, berjalan tanpa alas kaki demi menyelamatkan sepatu dan koas kaki dari rendaman air. Beberapa siswa yang mengalami hal tersebut adalah siswa SDN Dadapsari.
Irdan adalah salah satunya (12) . Dia terpaksa menjinjing sepasang sepatunya setiap berangkat dan pulang sekolah. Siswa kelas 6 SDN Dadapsari ini mengatakan, hal tersebut sering terjadi di kawasan sekolah mereka. “Bahkan air sering sampai halaman sekolah kami, jadi halaman yang biasanya bisa buat bermain jadi nggak bisa kalau musim hujan gini,” ujarnya lesu.
Dikatakan, hal tersebut tak lepas dari salah satu daerah yang ada di Kelurahan Dadapsari. “Hujan sebentar saja air langsung menggenang. Apalagi kalau hujan mengguyur sehari semalam seperti yang terjadi beberapa hari yang lalu itu,” jelasnya.
Meski demikian, dirinya tak pernah hingga sakit gara-gara selalu bersentuhan dengan air hujan. “Nggak pernah sampai sakit kok. Soalnya sudah biasa sejak kelas satu,” akunya.
Dirinya pun tak pernah merasa terganggu dengan keadaan tersebut. “Karena sudah biasa, jadi sudah bukan gangguan lagi. Saya juga tak malas masuk ke sekolah. Saya lihat teman-teman juga tidak malas,” tukasnya.
Minum Vitamin
Begitu pula dengan Slamet (12). Dia menjelaskan, selama ini kondisi fisiknya tak pernah terganggu gara-gara melewati banjir saat ke sekolah. “Kan memang kalau musim hujan selalu banjir. Biasanya malah lebih tinggi dari ini,” kata dia.
Dia mengaku tak pernah merasa risih atau jijik dengan banjir yang selalu menggenang di sekitarnya. “Malah bisa bermain bersama teman-teman di genangan air begini,” candanya.
Meski demikian, dia mengatakan jika sudah lulus SD dan melanjutkan ke SMP, ingin pindah sekolah yang bebas dari bajir. “Biar nggak perlu lepas sepatu setiap berangkat dan pulang sekolah,” jelasnya.
Demikian halnya dengan Windu (11). Dia mengatakan, setiap hari selalu diberi vitamin oleh orang tuanya agar tak gampang terserang penyakit. “Pak guru dan Bu guru juga sudah mewanti-wanti untuk makan yang banyak dan istirahat cukup agar tak gampang terserang penyakit,” ujarnya.
Dia mengatakan, meski selalu melewati genangan air setiap berangkat maupun pulang sekolah, hal itu tak pernah membuatnya bolos sekolah.
“Kalau bolos nanti dimarahi bapak dan ibu. Lagi pula banyak teman senasib, sama-sama kebanjiran,” paparnya.
Seperti rekannya yang lain, dia tak pernah merasa terganggu oleh banjir yang kerap datang di musim penghujan. “Nggak terganggu kok. Kalau ingin main tapi halaman sekolah banjir, berarti mainnya di dalam kelas aja,” tuturnya polos. (awi/nji)
Berbasah-basah ke Sekolah
Written By Panji on Jumat, 14 Januari 2011 | 21.29
SEJUMLAH siswa memutuskan untuk memilih jalan memutar agar tak menemui genangan air. Namun tak sedikit yang memilih tetap menerjang, meski kondisi air sangat kotor.
Tak jarang siswa harus melepas sepatu, berjalan tanpa alas kaki demi menyelamatkan sepatu dan koas kaki dari rendaman air. Beberapa siswa yang mengalami hal tersebut adalah siswa SDN Dadapsari.
Irdan adalah salah satunya (12) . Dia terpaksa menjinjing sepasang sepatunya setiap berangkat dan pulang sekolah. Siswa kelas 6 SDN Dadapsari ini mengatakan, hal tersebut sering terjadi di kawasan sekolah mereka. “Bahkan air sering sampai halaman sekolah kami, jadi halaman yang biasanya bisa buat bermain jadi nggak bisa kalau musim hujan gini,” ujarnya lesu.
Dikatakan, hal tersebut tak lepas dari salah satu daerah yang ada di Kelurahan Dadapsari. “Hujan sebentar saja air langsung menggenang. Apalagi kalau hujan mengguyur sehari semalam seperti yang terjadi beberapa hari yang lalu itu,” jelasnya.
Meski demikian, dirinya tak pernah hingga sakit gara-gara selalu bersentuhan dengan air hujan. “Nggak pernah sampai sakit kok. Soalnya sudah biasa sejak kelas satu,” akunya.
Dirinya pun tak pernah merasa terganggu dengan keadaan tersebut. “Karena sudah biasa, jadi sudah bukan gangguan lagi. Saya juga tak malas masuk ke sekolah. Saya lihat teman-teman juga tidak malas,” tukasnya.
Minum Vitamin
Begitu pula dengan Slamet (12). Dia menjelaskan, selama ini kondisi fisiknya tak pernah terganggu gara-gara melewati banjir saat ke sekolah. “Kan memang kalau musim hujan selalu banjir. Biasanya malah lebih tinggi dari ini,” kata dia.
Dia mengaku tak pernah merasa risih atau jijik dengan banjir yang selalu menggenang di sekitarnya. “Malah bisa bermain bersama teman-teman di genangan air begini,” candanya.
Meski demikian, dia mengatakan jika sudah lulus SD dan melanjutkan ke SMP, ingin pindah sekolah yang bebas dari bajir. “Biar nggak perlu lepas sepatu setiap berangkat dan pulang sekolah,” jelasnya.
Demikian halnya dengan Windu (11). Dia mengatakan, setiap hari selalu diberi vitamin oleh orang tuanya agar tak gampang terserang penyakit. “Pak guru dan Bu guru juga sudah mewanti-wanti untuk makan yang banyak dan istirahat cukup agar tak gampang terserang penyakit,” ujarnya.
Dia mengatakan, meski selalu melewati genangan air setiap berangkat maupun pulang sekolah, hal itu tak pernah membuatnya bolos sekolah.
“Kalau bolos nanti dimarahi bapak dan ibu. Lagi pula banyak teman senasib, sama-sama kebanjiran,” paparnya.
Seperti rekannya yang lain, dia tak pernah merasa terganggu oleh banjir yang kerap datang di musim penghujan. “Nggak terganggu kok. Kalau ingin main tapi halaman sekolah banjir, berarti mainnya di dalam kelas aja,” tuturnya polos. (awi/nji)







