Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Peringatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Peringatan. Tampilkan semua postingan
08.49
SEMARANG- Diskusi Rekontruksi Pemahaman Sejarah G30S/PKI di kampus Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang, kemarin siang diduga disabotase, karena adanya intel yang mengawasi.
Beberapa peserta pun menyelutuk, "Wah, jangan-jangan ada sabotase ini, soalnya diskusi soal PKI,'' ujarnya. Diskusi yang menghadirkan mantan Ketua Lembaga Sejarah Comite Central Partai Komunis Indonesia Semaun Utomo dan Direktur Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) Tedi Kholiludin itupun hanya menggunakan megaphone dengan suara yang tidak jelas.
Beberapa mahasiswa menduga kuat sabotase itu, setelah mereka melihat ada sejumlah intel yang mengawasi diskusi. "Jika pemadaman listrik ini disengaja, berarti pemerintah belum sepenuhnya menyadari kesalahan sejarah itu,'' ungkap mahasiswa yang lainnya.
Dalam acara yang diselenggarakan oleh Lembaga Kajian dan Penerbitan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Tarbiyah dan Majalah Edukasi itu, Semaun menuturkan, lahirnya Partai Komunis Indonesia berhubungan erat dengan gerakan Islam, karena didirikan oleh aktivis Sarekat Islam (SI) pada 23 Mei tahun 1920. Tujuan didirikannya PKI, menurutnya juga sederhana, melawan penjajahan Belanda dan mewujudkan Indonesia yang sosialis.
''Karena, yang bisa membebaskan kolonialisme dan merubah tatanan hanya dengan sosialisme. Pengaruh PKI pun meluas, hingga berdiri organisasi-organisasi serikat buruh. PKI juga menjadi partai pertama yang membawa nilai nasionalisme dan sifat ke-Indonesiaan yang tidak mempersoalkan agama, suku, pendidikan dan ras,'' tuturnya.
Perkembangan PKI pun terus meluas dan diikuti masyarakat baik dari Jawa sendiri, hingga Sumatera, Ambon, dan suku-suku yang ada. Akan tetapi, perjalanan PKI tidaklah semulus apa yang diharapkan. Beberapa mantan anggota Syarikat Islam pun mendapatkan provokasi dari Belanda untuk membubarkan partai itu.
Tragedi Madiun
Tragedi Madiun pun menurut Semaun merupakan persekongkolan Amerika dan Perdana Menteri Mohamad Hatta. Dalam pertemuan Sarangan ini, yang belakangan terkenal dengan sebutan "Perundingan Sarangan", dihasilkan "Red Drive Proposals" atau "Usul-usul Pembasmian Kaum Merah."
Setelah pertemuan Sarangan ini, atas laporan Cochran, State Department (Kementerian Luar Negeri AS) berpendapat posisi Hatta harus cepat diperkuat agar supaya dapat menahan perkembangan Komunisme. Setelah pertemuan Sarangan ini pula Kepala Polisi Sukanto dikirim ke Amerika untuk mengurus bantuan.
Semaun yang juga Ketua Lembaga Perjuangan Rehabilitasi Korban Rezim Orde Baru (LPR-KROB) itu juga menandaskan jika peristiwa G30S/PKI tidak dilakukan oleh anggota PKI, akan tetapi skenario besar dan hembusan isu dari pemegang kekuasaan yang mengatakan jika PKI telah membunuh para kiai dan para jenderal. ''Sesaat setelah peristiwa itu, anggota PKI yang tengah tidur tiba-tiba ditangkap,'' katanya dengan suara parau.
Direktur eLSA Tedi Kholiludin menambahkan, sejarah tentang PKI selama ini dibuat untuk mengadu domba antara muslim dan komunis dan menjadi memori kolektif masyarakat di Indonesia yang bertutur tentang duka, luka dan nestapa. Baik melalui dokumen, data maupun film yang kini tak lagi diputar.
''Bahkan museum pun menjadi alat untuk menafsirkan sejarah,” paparnya. Untuk itu dibutuhkan rekonsiliasi dan rehabilitasi. “Karena tragedi itu memiliki skala dan korban yang besar kemudian menciptakan stigma tidak hanya kepada korban, tapi juga keluarga,'' paparnya.
Ditambahkan pula, untuk melakukan rekonsiliasi, beberapa pihak terus mengalami kebuntuan. Pasalnya, penciptaan pola "sejarah resmi" yang diproduksi dan dikendalikan oleh negara dan militer itu membuat masyarakat merasakan ada "musuh negara."
''Negara telah berhasil memainkan aparat secara represif maupun aparat negara yang ideologis. Untuk itu, rekonsiliasi dan rehabilitasi adalah jalan keluar yang dimungkinkan,'' tandasnya. (Muhammad Syukron/JBSM/15)
Di IAIN Walisongo Diskusi PKI Diduga Disabotase
Written By putra on Jumat, 05 Oktober 2012 | 08.49
![]() |
| DISKUSI PKI: Diskusi Rekontruksi Pemahaman Sejarah G30S/PKI di kampus Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang (HARSEM/JBSM) |
SEMARANG- Diskusi Rekontruksi Pemahaman Sejarah G30S/PKI di kampus Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang, kemarin siang diduga disabotase, karena adanya intel yang mengawasi.
Beberapa peserta pun menyelutuk, "Wah, jangan-jangan ada sabotase ini, soalnya diskusi soal PKI,'' ujarnya. Diskusi yang menghadirkan mantan Ketua Lembaga Sejarah Comite Central Partai Komunis Indonesia Semaun Utomo dan Direktur Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) Tedi Kholiludin itupun hanya menggunakan megaphone dengan suara yang tidak jelas.
Beberapa mahasiswa menduga kuat sabotase itu, setelah mereka melihat ada sejumlah intel yang mengawasi diskusi. "Jika pemadaman listrik ini disengaja, berarti pemerintah belum sepenuhnya menyadari kesalahan sejarah itu,'' ungkap mahasiswa yang lainnya.
Dalam acara yang diselenggarakan oleh Lembaga Kajian dan Penerbitan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Tarbiyah dan Majalah Edukasi itu, Semaun menuturkan, lahirnya Partai Komunis Indonesia berhubungan erat dengan gerakan Islam, karena didirikan oleh aktivis Sarekat Islam (SI) pada 23 Mei tahun 1920. Tujuan didirikannya PKI, menurutnya juga sederhana, melawan penjajahan Belanda dan mewujudkan Indonesia yang sosialis.
''Karena, yang bisa membebaskan kolonialisme dan merubah tatanan hanya dengan sosialisme. Pengaruh PKI pun meluas, hingga berdiri organisasi-organisasi serikat buruh. PKI juga menjadi partai pertama yang membawa nilai nasionalisme dan sifat ke-Indonesiaan yang tidak mempersoalkan agama, suku, pendidikan dan ras,'' tuturnya.
Perkembangan PKI pun terus meluas dan diikuti masyarakat baik dari Jawa sendiri, hingga Sumatera, Ambon, dan suku-suku yang ada. Akan tetapi, perjalanan PKI tidaklah semulus apa yang diharapkan. Beberapa mantan anggota Syarikat Islam pun mendapatkan provokasi dari Belanda untuk membubarkan partai itu.
Tragedi Madiun
Tragedi Madiun pun menurut Semaun merupakan persekongkolan Amerika dan Perdana Menteri Mohamad Hatta. Dalam pertemuan Sarangan ini, yang belakangan terkenal dengan sebutan "Perundingan Sarangan", dihasilkan "Red Drive Proposals" atau "Usul-usul Pembasmian Kaum Merah."
Setelah pertemuan Sarangan ini, atas laporan Cochran, State Department (Kementerian Luar Negeri AS) berpendapat posisi Hatta harus cepat diperkuat agar supaya dapat menahan perkembangan Komunisme. Setelah pertemuan Sarangan ini pula Kepala Polisi Sukanto dikirim ke Amerika untuk mengurus bantuan.
''Temyata tidak tanggung-tangggng bantuan yang diterima oleh Hatta, 56 juta dollar AS dari State Department Amerika. Uang itu oleh Hatta antara lain untuk memperlengkapi pasukan dalam pemerintah, Divisi Siliwangi. Ini artinya, pembersihan PKI merupakan persekongkolan kolonial dan aktor pemegang kekuasaan,'' tandasnya.
Semaun yang juga Ketua Lembaga Perjuangan Rehabilitasi Korban Rezim Orde Baru (LPR-KROB) itu juga menandaskan jika peristiwa G30S/PKI tidak dilakukan oleh anggota PKI, akan tetapi skenario besar dan hembusan isu dari pemegang kekuasaan yang mengatakan jika PKI telah membunuh para kiai dan para jenderal. ''Sesaat setelah peristiwa itu, anggota PKI yang tengah tidur tiba-tiba ditangkap,'' katanya dengan suara parau.
Direktur eLSA Tedi Kholiludin menambahkan, sejarah tentang PKI selama ini dibuat untuk mengadu domba antara muslim dan komunis dan menjadi memori kolektif masyarakat di Indonesia yang bertutur tentang duka, luka dan nestapa. Baik melalui dokumen, data maupun film yang kini tak lagi diputar.
''Bahkan museum pun menjadi alat untuk menafsirkan sejarah,” paparnya. Untuk itu dibutuhkan rekonsiliasi dan rehabilitasi. “Karena tragedi itu memiliki skala dan korban yang besar kemudian menciptakan stigma tidak hanya kepada korban, tapi juga keluarga,'' paparnya.
Ditambahkan pula, untuk melakukan rekonsiliasi, beberapa pihak terus mengalami kebuntuan. Pasalnya, penciptaan pola "sejarah resmi" yang diproduksi dan dikendalikan oleh negara dan militer itu membuat masyarakat merasakan ada "musuh negara."
''Negara telah berhasil memainkan aparat secara represif maupun aparat negara yang ideologis. Untuk itu, rekonsiliasi dan rehabilitasi adalah jalan keluar yang dimungkinkan,'' tandasnya. (Muhammad Syukron/JBSM/15)
Label:
Pendidikan,
Peringatan
08.50
SEMARANG- Berbusana batik, ratusan siswa SMA Kesatrian 2 Semarang mendeklarasikan antitawuran dengan menandatangani pakta integritas.
Selain khidmat melaksanakan upacara dan merayakan Hari Batik, mereka yang merupakan pemuda generasi bangsa juga mendeklarasikan anti tawuran dengan menanda tangani pakta integritas. Pakta Integritas Cinta Damai dan Anti Tawuran yang dikeluarkan sekolah itu berisi lima poin.
Di antaranya, pertama mengutamakan perdamaian, kedua menolak segala bentuk kekerasan dan tawuran, ketiga mengedepankan kebersamaan dan kekeluargaan, keempat meraih prestasi dan kreativitas tanpa batas, dan terakhir kelima berbudi pekerti luhur sesuai visi dan misi sekolah.
Kelima poin tersebut dipampang dalam spanduk berbahan MMT sepanjang 9 meter dan lebar satu meter. Seusai upacara, dimulai dari kepala sekolah dan diikuti guru dan para siswa turut menandatangani pakta integritas tersebut.
Kepala Sekolah SMA Kesatrian 2 Semarang Supriyono mengatakan, peringatan Hari Kesaktian Pancasila ini dipicu oleh merebaknya gerakan yang seolah ingin memutarbalikan fakta mengenai peristiwa 1965.
"Selain itu, ini juga respon atas situasi dunia pendidikan yang belakangan diwarnai aksi tawuran antar siswa hingga memakan korban," ungkapnya seusai upacara, kemarin.
Maka itu, lanjut dia, penandatanganan 'pakta integritas cinta damai dan anti tawuran' itu sebagai harapan agar siswanya tidak terlibat dengan kegiatan kekerasan dalam bentuk apapun.
"Adapun langkah lainnya untuk mengantisipasi tawuran, sekolah menanamkan pendidikan karakter pada siswa. Dan dalam jangka dekat akan mengundang sekolah terdekat, yakni SMK Tlogosari, dan SMA Gita Bahari untuk turut serta dalam menyepakati pakta ini," katanya.
Sementara itu salah satu siswa, Dicky Octavianus (15) berharap, dengan adanya kesepakatan ini tidak ada tawuran lagi baik antar siswa atau sekolah. Di samping itu, peringatan ini untuk meningkatkan disiplin dan cinta tanah air kepada bangsa. (K3/JBSM/15)
Berbatik, Siswa Deklarasikan Anti-Tawuran
Written By putra on Selasa, 02 Oktober 2012 | 08.50
SEMARANG- Berbusana batik, ratusan siswa SMA Kesatrian 2 Semarang mendeklarasikan antitawuran dengan menandatangani pakta integritas.
Memperingati Hari Kesaktian Pancasila, Senin (1/10) sekaligus perayaan Hari Batik yang jatuh hari ini, ratusan siswa SMA Kesatrian 2 Semarang menggelar upacara yang berbeda. Tidak memakai seragam sekolah, tapi mereka berbusana batik yang merupakan kain warisan budaya Indonesia.
Selain khidmat melaksanakan upacara dan merayakan Hari Batik, mereka yang merupakan pemuda generasi bangsa juga mendeklarasikan anti tawuran dengan menanda tangani pakta integritas. Pakta Integritas Cinta Damai dan Anti Tawuran yang dikeluarkan sekolah itu berisi lima poin.
Di antaranya, pertama mengutamakan perdamaian, kedua menolak segala bentuk kekerasan dan tawuran, ketiga mengedepankan kebersamaan dan kekeluargaan, keempat meraih prestasi dan kreativitas tanpa batas, dan terakhir kelima berbudi pekerti luhur sesuai visi dan misi sekolah.
Kelima poin tersebut dipampang dalam spanduk berbahan MMT sepanjang 9 meter dan lebar satu meter. Seusai upacara, dimulai dari kepala sekolah dan diikuti guru dan para siswa turut menandatangani pakta integritas tersebut.
Alhasil spanduk tersebut pun penuh dengan coretan tanda tangan dari 975 siswa ditambah jajaran guru SMA Kesatrian 2 Semarang.
Kepala Sekolah SMA Kesatrian 2 Semarang Supriyono mengatakan, peringatan Hari Kesaktian Pancasila ini dipicu oleh merebaknya gerakan yang seolah ingin memutarbalikan fakta mengenai peristiwa 1965.
Mengingat tahun-tahun tersebut adalah tahun yang penuh pertumpahan darah menurutnya ini adalah momentum yang tepat untuk mendeklarasikan gerakan cinta damai.
"Selain itu, ini juga respon atas situasi dunia pendidikan yang belakangan diwarnai aksi tawuran antar siswa hingga memakan korban," ungkapnya seusai upacara, kemarin.
Maka itu, lanjut dia, penandatanganan 'pakta integritas cinta damai dan anti tawuran' itu sebagai harapan agar siswanya tidak terlibat dengan kegiatan kekerasan dalam bentuk apapun.
"Adapun langkah lainnya untuk mengantisipasi tawuran, sekolah menanamkan pendidikan karakter pada siswa. Dan dalam jangka dekat akan mengundang sekolah terdekat, yakni SMK Tlogosari, dan SMA Gita Bahari untuk turut serta dalam menyepakati pakta ini," katanya.
Sementara itu salah satu siswa, Dicky Octavianus (15) berharap, dengan adanya kesepakatan ini tidak ada tawuran lagi baik antar siswa atau sekolah. Di samping itu, peringatan ini untuk meningkatkan disiplin dan cinta tanah air kepada bangsa. (K3/JBSM/15)
Label:
Pendidikan,
Peringatan,
SMA
09.58
Para peserta berasal dari enam sekolah dasar, di antaranya SDN 1, 2, 3, SDN 02 Srondol Wetan, dan SD Al-Kamila. Mereka mengenakan berbagai kostum dan atribut, mulai dari polisi, tentara, dokter, hingga pakaian adat.
Dengan didampingi orangtuanya, para peserta sudah berkumpul sejak pukul 13.00, meskipun karnaval baru akan dimulai pukul 15.00. Karnaval mengambil start dari halaman SDN 02 Srondol Wetan di Jalan Karangrejo Raya, kemudian menyurui Jalan Meranti Raya lalu masuk ke perumahan di Jalan Gaharu dan finish kembali ke SD Srondol Wetan.
Selama perjalanan tentu saja mengundang perhatian banyak warga. Bahkan warga yang semula berada di dalam rumah menyempatkan diri keluar untuk sekadar melihat. Selain itu banyak warga yang mengabadikan momen satu tahunan itu dengan menggunakan kamera handphone.
Kepala Sekolah SD N 02 Srondol Wetan, Heni Tri Yuliastuti mengatakan, kegiatan karnaval diikuti oleh siswa dari enam sekolah yang berada di Gugus Amarta.
Karnaval dilakukan dalam rangka menyambut peringatan HUT Kemerdekaan RI dan untuk menyambut bulan Ramadan. “Tujuannya untuk memupuk kebersamaan antarsiswa, kedisplinan, dan jiwa patriotisme,” katanya, kemarin.
Salah seorang wali murid, Hermansyah, mengaku senang anaknya bisa ikut menjadi salah satu peserta karnaval. Dengan adanya kegiatan karnaval tersebut lebih mengenalkan lingkungan kepada anak-anak. ”Anak saya kebetulan diminta dari sekolah untuk mengenakan baju muslim karena tema acarnya memang untuk menyambut bulan Ramadan,” kata ayah dari Ipang ini. (wam/12)
Meriahkan HUT RI, Siswa SD Gelar Karnaval
Written By amoy ya annisaa on Senin, 23 Juli 2012 | 09.58
![]() |
| KARNAVAL: Anak-anak mengikuti karnaval dalam rangka menyambut HUT RI dan menyambut datangnya bulan Ramadan. (Foto: Harsem/Wara Merdekawati) |
BANYUMANIK - Ratusan siswa dan siswi SD se-Gugus Amarta UPTD Pendidikan Kecamatan Banyumanik, kemarin menggelar karnaval dan kirab budaya. Meskipun peringatan Hari Proklamasi masih bulan depan, tetapi tidak menyurutkan semangat mereka.
Para peserta berasal dari enam sekolah dasar, di antaranya SDN 1, 2, 3, SDN 02 Srondol Wetan, dan SD Al-Kamila. Mereka mengenakan berbagai kostum dan atribut, mulai dari polisi, tentara, dokter, hingga pakaian adat.
Dengan didampingi orangtuanya, para peserta sudah berkumpul sejak pukul 13.00, meskipun karnaval baru akan dimulai pukul 15.00. Karnaval mengambil start dari halaman SDN 02 Srondol Wetan di Jalan Karangrejo Raya, kemudian menyurui Jalan Meranti Raya lalu masuk ke perumahan di Jalan Gaharu dan finish kembali ke SD Srondol Wetan.
Selama perjalanan tentu saja mengundang perhatian banyak warga. Bahkan warga yang semula berada di dalam rumah menyempatkan diri keluar untuk sekadar melihat. Selain itu banyak warga yang mengabadikan momen satu tahunan itu dengan menggunakan kamera handphone.
Kepala Sekolah SD N 02 Srondol Wetan, Heni Tri Yuliastuti mengatakan, kegiatan karnaval diikuti oleh siswa dari enam sekolah yang berada di Gugus Amarta.
Karnaval dilakukan dalam rangka menyambut peringatan HUT Kemerdekaan RI dan untuk menyambut bulan Ramadan. “Tujuannya untuk memupuk kebersamaan antarsiswa, kedisplinan, dan jiwa patriotisme,” katanya, kemarin.
Salah seorang wali murid, Hermansyah, mengaku senang anaknya bisa ikut menjadi salah satu peserta karnaval. Dengan adanya kegiatan karnaval tersebut lebih mengenalkan lingkungan kepada anak-anak. ”Anak saya kebetulan diminta dari sekolah untuk mengenakan baju muslim karena tema acarnya memang untuk menyambut bulan Ramadan,” kata ayah dari Ipang ini. (wam/12)
Label:
HUT RI,
Pendidikan,
Peringatan,
Ramadhan,
SD,
Semarang,
Siswa
13.48
SEMARANG- Sejumlah cendekiawan kampus seperti KH Rozihan, Prof dr H Amin Husni dan dr H Ismed Yusuf tampil sebagai pembicara dalam Halaqah Ulama dan Cendekia memperingati Isra' Mikraj Nabi Muhammad SAW, Sabtu (23/6) lalu.
Pada acara yang diadakan di Aula Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) tersebut, dr Ismed menyatakan, orang gila tidak punya kewajiban sholat, tetapi kalau orang sehat wajib.
"Tetapi orang yang asalnya gila, setelah diterapi menjadi sehat, kemudian lupa akan kewajiban sholat, kalau tidak melaksanakan sholat kelak masuk neraka," tandasnya.
Jika dibiarkan saja tetap gila, tidak sholat pun akan masuk surga. Namun di satu sisi dokter kesehatan jiwa punya tanggung jawab untuk menyembuhkan orang gila. Pertanyaanya apakah orang yang gila perlu disembuhkan atau tidak?
"Beberapa kali para dokter kesehatan jiwa berkumpul dan mendiskusikan soal ini, akan tetapi belum ada kesimpulan yang pasti," papar pengelola Yayasan Kesehatan Jiwa FATWA Semarang itu.
Sedang menurut KH Haris Shadaqah, “Sekecil apapun perbuatan baik seseorang, Allah pasti akan menghargainya”.
"Kini hanya lima kali dalam sehari. Walaupun begitu umat Islam masih sering malas dalam menjalankan ibadah sholat," tegasnya. Selama ini, dalam menjalankan sholat, manusia masih dalam tataran bentuk fisik semata.
"Hanya wujud luarnya atau gerakan yang bersifat formalitas sebagai pengguguran kewajiban," terangnya.
Sekretaris panitia, Ahsan Fauzi menuturkan acara halaqah yang digelar oleh Bidang Ketakmiran Badan Pengelola Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) ini dihadiri oleh 250 peserta.
Halaqah Ulama dan Cendekia di MAJT, Sholat Harus Gunakan Aspek Spiritual
Written By amoy ya annisaa on Selasa, 26 Juni 2012 | 13.48
| HALAQAH: Sejumlah cendekiawan kampus tampil sebagai pembicara dalam Halaqah Ulama dan Cendekia. (HARSEM/ARIS WASITA WIDIASTUTI) |
SEMARANG- Sejumlah cendekiawan kampus seperti KH Rozihan, Prof dr H Amin Husni dan dr H Ismed Yusuf tampil sebagai pembicara dalam Halaqah Ulama dan Cendekia memperingati Isra' Mikraj Nabi Muhammad SAW, Sabtu (23/6) lalu.
Pada acara yang diadakan di Aula Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) tersebut, dr Ismed menyatakan, orang gila tidak punya kewajiban sholat, tetapi kalau orang sehat wajib.
"Tetapi orang yang asalnya gila, setelah diterapi menjadi sehat, kemudian lupa akan kewajiban sholat, kalau tidak melaksanakan sholat kelak masuk neraka," tandasnya.
Jika dibiarkan saja tetap gila, tidak sholat pun akan masuk surga. Namun di satu sisi dokter kesehatan jiwa punya tanggung jawab untuk menyembuhkan orang gila. Pertanyaanya apakah orang yang gila perlu disembuhkan atau tidak?
"Beberapa kali para dokter kesehatan jiwa berkumpul dan mendiskusikan soal ini, akan tetapi belum ada kesimpulan yang pasti," papar pengelola Yayasan Kesehatan Jiwa FATWA Semarang itu.
Sedang menurut KH Haris Shadaqah, “Sekecil apapun perbuatan baik seseorang, Allah pasti akan menghargainya”.
Ulama tersebut menceritakan perjalanan Nabi Muhammad SAW ke Sidrotul Muntaha menghasilkan dikuranginya pelaksanaan ibadah sholat yang semula dijalankan 50 kali sehari yaitu pada masa Nabi Musa AS.
"Kini hanya lima kali dalam sehari. Walaupun begitu umat Islam masih sering malas dalam menjalankan ibadah sholat," tegasnya. Selama ini, dalam menjalankan sholat, manusia masih dalam tataran bentuk fisik semata.
"Hanya wujud luarnya atau gerakan yang bersifat formalitas sebagai pengguguran kewajiban," terangnya.
Penguatan pelaksanaan sholat yang dapat berdampak pada terwujudnya sholat yang mencegah dari kekejian dan kemungkaran, adalah dalam tataran Iqomatis Sholat yaitu menyeluruh, menggunakan aspek spiritual dalam pelaksanaannya.
Sekretaris panitia, Ahsan Fauzi menuturkan acara halaqah yang digelar oleh Bidang Ketakmiran Badan Pengelola Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) ini dihadiri oleh 250 peserta.
Baik dari unsur perguruan tinggi, pondok pesantren, takmir dan remaja masjid, ormas islam, OKP serta LSM. "Alhamdulillah acara berjalan dengan lancar, peserta sangat antusias," ujarnya. (awi/15)
Label:
Agama Islam,
Pendidikan,
Peringatan,
Semarang
14.23
Peringatan dengan tema “Kita Tingkatkan Sholat Berjamaah” tersebut diselingi dengan menampilkan atraksi siswa berupa pembacaan ayat-ayat suci Alquran oleh siswa kelas 1,2,3, menyanyi tunggal dan berkelompok, grup rebana serta penampilan para penghafal Alquran.
Dalam ceramahnya, Kiai Kustari Mustafa mengemukakan, perjalanan Nabi Besar Muhammad SAW dalam Isra' Mi'raj membawa perintah Allah agar umat Islam melaksanakan sholat lima waktu sehari semalam.
"Perintah sholat ini sebuah keharusan yang menjadi penanda seseorang itu betul-betul seorang muslim atau muslimah. Jika tidak melaksanakan sholat lima waktu, berarti dia belum boleh dikatakan sebagai seorang muslim atau muslimah," ujarnya.
Untuk itu, dirinya berharap agar para siswa semakin rajin sholat. "Kalau bisa berjamaah. Karena dengan rajin sholat kalian semua akan terhindar dari sifat pemalas, dan godaan setan,” tandasnya.
Mengawali acara, Kepala SDN Genuksari 01 V Mulyono berpesan dengan memperingati Isra' Mi'raj para siswa dapat menjadi lebih baik dari hari-hari kemarin.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Rajin Sholat Tak Lagi Pemalas
Written By amoy ya annisaa on Kamis, 21 Juni 2012 | 14.23
| MAIN REBANA: Siswa SDN Genuksari 01 menyanyi dan memainkan rebana dalam peringatan Isra' Mi'raj di sekolahnya. (HARSEM/DOK) |
SEMARANG- SDN Genuksari 01 Kecamatan Genuk, Semarang memperingati Maulid Nabi Besar Muhammad SAW di halaman sekolah yang terletak di Jalan Genuksari itu.
Acara dihadiri oleh Pengawas Pendidikan Agama Islam Djamilatun, kepala sekolah dan guru-guru, Komite Sekolah dan Pengawas TK/SD Dabin I Zulkifli Agus.
Peringatan dengan tema “Kita Tingkatkan Sholat Berjamaah” tersebut diselingi dengan menampilkan atraksi siswa berupa pembacaan ayat-ayat suci Alquran oleh siswa kelas 1,2,3, menyanyi tunggal dan berkelompok, grup rebana serta penampilan para penghafal Alquran.
Dalam ceramahnya, Kiai Kustari Mustafa mengemukakan, perjalanan Nabi Besar Muhammad SAW dalam Isra' Mi'raj membawa perintah Allah agar umat Islam melaksanakan sholat lima waktu sehari semalam.
"Perintah sholat ini sebuah keharusan yang menjadi penanda seseorang itu betul-betul seorang muslim atau muslimah. Jika tidak melaksanakan sholat lima waktu, berarti dia belum boleh dikatakan sebagai seorang muslim atau muslimah," ujarnya.
Untuk itu, dirinya berharap agar para siswa semakin rajin sholat. "Kalau bisa berjamaah. Karena dengan rajin sholat kalian semua akan terhindar dari sifat pemalas, dan godaan setan,” tandasnya.
Mengawali acara, Kepala SDN Genuksari 01 V Mulyono berpesan dengan memperingati Isra' Mi'raj para siswa dapat menjadi lebih baik dari hari-hari kemarin.
Di antaranya lebih disiplin, taat beribadah, patuh dan taat kepada orang tua, serta patuh dan taat kepada guru di sekolah.
“Mari kita berjanji kepada diri kita masing-masing untuk lebih baik dari hari kemarin,” tandasnya. (awi/15)
“Mari kita berjanji kepada diri kita masing-masing untuk lebih baik dari hari kemarin,” tandasnya. (awi/15)
Label:
Pendidikan,
Peringatan,
SD,
Semarang,
Siswa







