Diberdayakan oleh Blogger.
Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Agama Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama Islam. Tampilkan semua postingan

Ratusan Siswa SD Ikuti Lomba Mapsi

Written By Unknown on Jumat, 25 Oktober 2013 | 08.54

Peserta Mapsi tingkat Kecamatan Mirit mementaskan seni rebana di MTs Ma'arif Miftahul Huda Mangunranan.
KEBUMEN- Sekitar 425 siswa SD se-Kecamatan Mirit mengikuti lomba Mata Pelajaran Agama dan Seni Islam (Mapsi) di MTs Ma'arif Miftahul Huda Mangunranan dan SDN Mangunranan, Rabu (23/10). Perwakilan 32 SD itu beradu kecerdasan dan keterampilan dalam mengerjakan soal tertulis dan pentas seni yang terdiri atas 10 cabang lomba. Diantaranya, lomba tertulis mapel agama Islam, macapat Islam, rebana, adzan, TIK Islam dan kaligrafi serta memasak.
    
Ketua Panitia, H Muhtasor SAg mengatakan, lomba tersebut merupakan seleksi Mapsi tingkat kecamatan yang nantinya para pemenang akan dikirim ke tingkat kabupaten untuk mengikuti ajang serupa pada 30-31 Oktober mendatang. Perlombaan tahun ini terbilang sangat meriah lantaran mendapat dukungan dari semua pihak, utamanya para orang tua siswa. "Untuk kepanitiaan juga melibatkan perwakilan semua SD yang ada di Mirit," katanya.
    
Dia menjelaskan, lomba tersebut diawali dengan pawai ta'aruf yang diikuti semua peserta dan dilepas oleh Kepala UPTD Dikpora Kecamatan Mirit, Marsono SPd. Pawai tersebut mengambil garis start di halaman MTs Ma'arif Miftahul Huda Mangunranan berjalan melintasi jalan desa sepanjang satu kilometer. Iring-iringan siswa itu sempat menjadi pusat perhatian warga sekitar untuk melihat keunikan pawai. "Peserta kegiatan dibatasi umur maksimal 14 tahun," ujar dia.
   
 Kepala Sekolah MTs Ma'arif Miftahul Huda Mangunranan, Sukirno SPd mengaku senang bisa menjadi tuan rumah pelaksanaan Mapsi tahun ini. Usai pawai, kegiatan dilanjutkan dengan lomba-lomba di ruangan kelas dan halaman MTs Ma'arif Miftahul Huda Mangunranan. "Kegiatan ini dilaksanakan satu hari dan hadiah lomba langsung diberikan kepada para penemang," tandasnya. (K42/SMNetwork/njs)

Khoiru Nikmah: Akan Buka Pesantren Penghafal Alquran

Written By amoy ya annisaa on Selasa, 26 Juni 2012 | 13.54

Khoiru Nikmah (HARSEM/ARIS WASITA WIDIASTUTI)

SEMARANG- Sejak kecil, Khoiru Nikmah sudah tertarik dengan ilmu tafid atau hafalan Alquran. Bahkan sebelum dirinya masuk ke jenjang SD. 
 
Demikian diakui salah satu guru SD Islam Harapan Bunda itu. Untuk itulah saat ini dirinya didapuk menjadi guru tafid. 
 
Untuk ke depan, istri dari dosen Bahasa Arab Unnes, Hasan B ini akan membuka pesantren tafid yang bisa diikuti berbagai usia.  
 
Saat ini, ada empat anak yang ikut di rumahnya untuk belajar tafid. "Sebetulnya masih ada yang tertarik, tapi karena kami terbatas tempat jadi hanya enam anak yang bisa kami tampung," jelasnya.

Namun, sejauh ini sudah banyak ibu-ibu sekitar yang mengikuti kelas tafid. "Sudah ada 60 ibu-ibu di berbagai usia yang mengikuti kelas ini," jelasnya.  
 
Mengenai rencana pesantren tersebut, saat ini dirinya beserta suami masih berusaha untuk menghimpun dana agar cepat selesai pengerjaan tempatnya. "Yang pasti kami tentu saja akan menerima jika ada yang ingin memberikan bantuan," tandasnya.

Ibu dua anak ini juga pernah meraih juara  pertama untuk lomba tafsir juz 1Alquran dan hafalan 30 juz untuk putri tingkat Provinsi DIY. "Saya memperoleh kejuaraan itu saat saya masih duduk di bangku kuliah," jelas lulusan Jurusan Tafsir Fakultas Ushuludin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini.

Kebisaannya tersebut juga diperoleh salah satunya dari ilmu yang diajarkan oleh sang ayah. "Saya memang banyak berguru kepada ayah, karena kebetulan ayah saya adalah guru mengaji di desa tempat asal saya," jelas wanita kelahiran Demak, 7 September 1977 ini.

Namun demikian, ayahnya meminta dirinya untuk berguru ke guru lain. "Karena biasanya kalau anak diajarkan oleh ayah sendiri kan tidak serius," kata dia. Selanjutnya, pada usia 16 tahun, dirinya sudah mulai masuk ke pondok pesantren. 
 
"Tapi selain itu saya juga banyak belajar sendiri untuk menghafal Alquran. Bahkan saya dulu saat di rumah juga sering mengaji," urainya.  (awi/15)

Halaqah Ulama dan Cendekia di MAJT, Sholat Harus Gunakan Aspek Spiritual

HALAQAH:  Sejumlah cendekiawan kampus tampil sebagai pembicara dalam Halaqah Ulama dan Cendekia. (HARSEM/ARIS WASITA WIDIASTUTI)

SEMARANG- Sejumlah cendekiawan kampus seperti KH Rozihan, Prof dr H Amin Husni dan dr H Ismed Yusuf tampil sebagai pembicara dalam Halaqah Ulama dan Cendekia memperingati Isra' Mikraj Nabi Muhammad SAW, Sabtu (23/6) lalu.

Pada acara yang diadakan di Aula Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) tersebut, dr Ismed menyatakan, orang gila tidak punya kewajiban sholat, tetapi kalau orang sehat wajib.

"Tetapi orang yang asalnya gila, setelah diterapi menjadi sehat, kemudian lupa akan kewajiban sholat, kalau tidak melaksanakan sholat kelak masuk neraka," tandasnya.

Jika dibiarkan saja tetap gila, tidak sholat pun akan masuk surga. Namun di satu sisi dokter kesehatan  jiwa punya tanggung jawab untuk menyembuhkan orang gila. Pertanyaanya apakah orang yang gila perlu disembuhkan atau tidak?

"Beberapa kali para dokter kesehatan jiwa berkumpul dan mendiskusikan soal ini, akan tetapi belum ada kesimpulan yang pasti," papar pengelola Yayasan Kesehatan Jiwa FATWA Semarang itu.

Sedang menurut KH Haris Shadaqah, “Sekecil apapun perbuatan baik seseorang, Allah pasti akan menghargainya”.  

Ulama tersebut menceritakan perjalanan Nabi Muhammad SAW ke Sidrotul Muntaha menghasilkan dikuranginya pelaksanaan ibadah sholat yang semula dijalankan 50 kali sehari yaitu pada masa Nabi Musa AS.

"Kini hanya lima kali dalam sehari. Walaupun begitu umat Islam masih sering malas dalam menjalankan ibadah sholat," tegasnya. Selama ini, dalam menjalankan sholat, manusia masih dalam tataran bentuk fisik semata.

"Hanya wujud luarnya atau gerakan yang bersifat formalitas sebagai pengguguran kewajiban," terangnya. 

Penguatan pelaksanaan sholat yang dapat berdampak pada terwujudnya sholat yang mencegah  dari kekejian dan kemungkaran, adalah dalam tataran Iqomatis Sholat yaitu menyeluruh, menggunakan aspek spiritual dalam pelaksanaannya.

Sekretaris panitia, Ahsan Fauzi menuturkan acara halaqah yang digelar oleh Bidang Ketakmiran Badan Pengelola Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) ini dihadiri oleh 250 peserta. 

Baik dari unsur perguruan tinggi, pondok pesantren, takmir dan remaja masjid, ormas islam, OKP serta LSM. "Alhamdulillah acara berjalan dengan lancar, peserta sangat antusias," ujarnya. (awi/15)

523 Anak Khatam Bareng-bareng

Written By amoy ya annisaa on Senin, 04 Juni 2012 | 14.38


KHATAMAN: Sedikitnya 523 anak mengikuti tahtimul Quran di masjid Raya Candi
(HARSEM/WARA MERDEKAWATI)

KALIWIRU-Lantunan ayat-ayat suci Alquran menggema di masjid Candi Raya Jalan Dr Wahidin Kecamatan Candisari, kemarin. Sebanyak 523 anak-anak di Kecamatan Candisari mengikuti kegiatan tahtimul Quran.

Kegiatan Kelompok Kerja Guru Pendidikan Agama Islam (KKG PAI) Kecamatan Candisari ini menjadi agenda rutin tiap tahun. Kegiatan yang masuk dalam tahun kesepuluh ini bertujuan meningkatkan kecintaan generasi muda terhadap Alquran yang selama banyak ditinggalkan.

Seluruh peserta merupakan anak yang sudah bisa membaca Alquran, namun belum khatam. Sehingga dengan mengikuti tahtimul Quran para peserta bisa mengkhatamkan Alquran bersama-sama.

Salah seorang siswa Muammar Ibraham mengaku, selain belajar ngaji di sekolah dirinya juga belajar ngaji di salah satu TPQ dekat tempat tinggalnya. “Sekarang ini sudah bisa baca Alquran, karena belajar ngaji di sekolah dan di TPQ,” ungkap siswa kelas 6 SDN Candi 04 ini. 

Dalam kegiatan Tahtimul Qur’an ini, yang dibaca mulai dari surat Ad-dhuha sampai An-Nas. Setiap ayat dibaca bersama-sama, dengan dipandu para guru.

Ketua Panitia kegiatan Komarudin mengatakan, kegiatan untuk menumbuhkan kecintaan membaca Alquran dan melaksanakan ajaran dalam Alquran.

“Saat ini generasi muda banyak yang enggan atau bahkan tidak bisa membaca Alquran dengan benar. Serta menumbukan kecintan anak-anak kepada Alquran,” katanya,.

Ketua KKG PAI Kecamatan Candisari Sulaiman SpdI menambahkan, kegiatan tersebut juga diharapkan mampu mempertebal keimanan generasi penerus bangsa, dan mampu menjadi benteng dari era globalisasi yang semakin merusak moral anak muda.

“Saat ini banyak pengaruh negatif yang bisa menjerumuskan generasi muda ke hal-hal yang tidak bermoral. Oleh sebab itu dengan meraka bisa membaca dan mendalami Alquran nantinya jika sudah beranjak remaja bisa membentengi diri mereka sendiri dengan bekal ilmu agama yang dimiliki,” tandasnya. (wam/16)

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. HARIAN SEMARANG - Education - All Rights Reserved
Template Created by Mas Fatoni Published by Tonitok
Proudly powered by Blogger