Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Sekolah roboh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sekolah roboh. Tampilkan semua postingan
20.40
"Yang jelas kondisi itu secepatnya akan segera ditindaklanjuti oleh dinas kota. Semoga bisa cepat terlaksana," tandasnya. (awi/15)
SDN Ngesrep 01 Belum Direnovasi Sejak 1952
Written By p3joeang45 on Selasa, 10 April 2012 | 20.40
![]() |
| AMBROL: Pagar SDN Ngesrep 01 ambrol karena terjangan hujan |
Kepala SDN Ngesrep 01 Widji Handani mengatakan, pagar tersebut ambrol sudah sejak Januari lalu. "Sebetulnya ya sudah harus segera dibetulkan, tapi sampai saat ini kami masih menunggu tindakan dari pemerintah," jelasnya kepada Harsem saat ditemui di ruang kerjanya, baru-baru ini.
Dikatakan, paskaambrolnya pagar, sejumlah instansi juga sudah memantau kondisi pagar secara langsung. "Dari kelurahan sudah memantau, begitu juga dari Dinas Pendidikan Kota Semarang. Saya berharap semoga secepatnya bisa segera direnovasi," ujarnya.
Beruntungnya, saat pagar ambrol, tidak ada siswa yang berada di dekat pagar. "'Karena kan saat itu kondisi sedang hujan deras, jadi tidak ada siswa yang bermain di halaman sekolah," jelasnya.
Namun demikian, karena kondisi pagar masih belum dirapikan, maka hal itu juga agak membahayakan bagi sejumlah siswa yang bermain di sekitar pagar. "Takutnya kalau ada batu atau semen keras yang kondisinya rapuh. Untuk itu saya selalu mewanti-wanti anak-anak untuk jangan bermain di daerah pagar, karena sangat bahaya," ujarnya.
Sementara itu, Plt Kepala UPTD Pendidikan Kecamatan Banyumanik, Siswoyo Hendro mengatakan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Kota Semarang untuk secepatnya bisa merenovasi pagar SDN Ngesrep yang ambrol.
"Yang jelas kondisi itu secepatnya akan segera ditindaklanjuti oleh dinas kota. Semoga bisa cepat terlaksana," tandasnya. (awi/15)
Label:
Pendidikan,
SD,
Sekolah roboh
09.34
"Siswa tiga kelas tersebut sementara kami pindahkan untuk belajar di ruang laboratorium," ungkap Kepala SMPN 2 Sayung, Suwarno, kemarin. Kendati pihaknya telah berupaya merawat, namun kondisi fisik gedung sudah sangat parah, dan harus direhab total. Perbaikan membutuhkan biaya tinggi, sementara sekolah belum bisa memiliki dana untuk melakukan regab secara total.
Kendati SMPN 2 Sayung merupakan sekolah berstandar nasional, pihaknya mengaku tidak bisa memaksa orangtua murid untuk membayar iuran. "Kemarin saja SPI (sumbangan peningkatan institusi) sangat rendah. Hampir semua orangtua murid hanya memberi Rp 100 ribu-Rp 300 ribu," ungkap Bagian Sarpras SMPN 2 Sayung, Heri Suprapto.
Walaupun mayoritas siswa dari keluarga miskin, pihak sekolah tetap bersemangat mencerdaskan anak bangsa. Bahkan perilaku senyum sapa salam sopan santun terus diterapkan, kendati sekolah lain belum melakukannya.
Juga ada tradisi membaca asmaul husna selalu dilakukan menjelang proses belajar-mengajar,. Lebih unik lagi, tradisi bersalaman seperti yang dilakukan saat pembentukan karakter di sekolah usia dini, di SMPN 2 Sayung sudah menjadi tradisi. "Ini selalu diterapkan ketika siswa akan masuk ke lingkungan sekolah, para guru menunggu di pintu gerbang sekolah," ungkap Wakasek Kesiswaan, Siswanto.
Kelas Rusak, Baca Asmaul Husna
Written By p3joeang45 on Senin, 20 Februari 2012 | 09.34
| Suwarno (kiri) bersama Heri Suprapto meninjau kelas yang rusak |
AKIBAT sejumlah ruang kelas rusak berat, proses pembelajaran di sejumlah kelas di SMPN 2 Sayung Demak terpaksa dipindahkan ke laboratorium. Dari pantauan Harsem, sedikitnya enam kelas sudah mengalami kerusakan. Tiga kelas di antarannya tidak bisa digunakan sama sekali. Pihak sekolah khawatir bangunan akan roboh atau genting ambruk, dan menimpa siswa di tengah proses belajar mengajar.
"Siswa tiga kelas tersebut sementara kami pindahkan untuk belajar di ruang laboratorium," ungkap Kepala SMPN 2 Sayung, Suwarno, kemarin. Kendati pihaknya telah berupaya merawat, namun kondisi fisik gedung sudah sangat parah, dan harus direhab total. Perbaikan membutuhkan biaya tinggi, sementara sekolah belum bisa memiliki dana untuk melakukan regab secara total.
Kendati SMPN 2 Sayung merupakan sekolah berstandar nasional, pihaknya mengaku tidak bisa memaksa orangtua murid untuk membayar iuran. "Kemarin saja SPI (sumbangan peningkatan institusi) sangat rendah. Hampir semua orangtua murid hanya memberi Rp 100 ribu-Rp 300 ribu," ungkap Bagian Sarpras SMPN 2 Sayung, Heri Suprapto.
Walaupun mayoritas siswa dari keluarga miskin, pihak sekolah tetap bersemangat mencerdaskan anak bangsa. Bahkan perilaku senyum sapa salam sopan santun terus diterapkan, kendati sekolah lain belum melakukannya.
Juga ada tradisi membaca asmaul husna selalu dilakukan menjelang proses belajar-mengajar,. Lebih unik lagi, tradisi bersalaman seperti yang dilakukan saat pembentukan karakter di sekolah usia dini, di SMPN 2 Sayung sudah menjadi tradisi. "Ini selalu diterapkan ketika siswa akan masuk ke lingkungan sekolah, para guru menunggu di pintu gerbang sekolah," ungkap Wakasek Kesiswaan, Siswanto.
Label:
Pendidikan,
Sekolah roboh,
SMP
09.10
Beruntung Kepala SD Mojosimo, Munarti segera memindahkan tempat belajar satu minggu sebelum ambruk. Sehingga saat atap roboh tidak ada siswa berada di di dalamnya. "Untungnya kami sudah memindahkan semua siswa. Mereka belajar di Madrasah Sabihul Huda," akunya kepada Harsem, kemarin.
Menurut Munarti, atap gedung yang memanjang itu ambruk meliputi ruang kelas I, II, III, ruang guru, tiga WC, dan Dapur sekolah. Namun setelah kelas I, II, dan III dipindah belajar di ruang kelas Marasah Sabihul Huda yang tidak jauh dari sekolah, dirinya menjadi was-was. Selain siswa jauh dari pantauan guru, ketika jam istirahat banyak siswa bermain ke sawah.
Dari kekawatiran itu, dua minggu lalu, para guru sepakat menggunakan garasi sepeda untuk ruang kelas I, II, dan kelas III. serta memakai mushola untuk ruang belajar kelas IV. Agar nyaman saat belajar di garasi sepeda, para guru urunan membeli kipas angin dan lampu.
Dari pantauan Harsem, kondisi gedung yang berdiri sejak tahun 1977 ini cukup mengkhawatirkan. Bagian atap gedung sudah hilang. Pihak sekolah berinisiatif menutup pintu kelas agar para siswa tidak bermain di dalamnya. Sementara tiga kelas yang masih bagus digunakan untuk ruang kelas V, VI, dan ruang guru. Sekolah sengaja memilih ruang guru dari bangunan yang bagus, karena untuk menyimpan berkas dan dokumen penting.
Sudah beberapa kali pihak sekolah memohonkan bantuan ke dinas terkait untuk perbaikan, namun belum ada realisasi. SD Mojosimo adalah satu-satu sekolah negeri di Desa Mojosimo. Tahun ini jumlah siswa mencapai 138 siswa. Pihaknya berharap ada bantuan, agar kegiatan belajar mengajar kembali normal. Para siswa dapat belajar dengan tenang, apalagi mendekati Ujian Nasional.
Saat ditemui, siswa kelas III, Elang Ekananda, mengaku tidak terganggu kendati belajar di garasi. Bocah polos dan riang ini tertawa ketika menjawab pertanyaan wartawan. "Kalau sekolahnya dibuat baru saya mau, gak becek," jelasnya polos.
Sebelum terjadi pemekaran Desa Mojosimo dan Desa Tambirejo, SD Inpres ini bernama SD Tambirejo 2. Sejak bulan Februari 2011 lalu sekolah ini berganti nama SD Mojosimo. Sekitar tahun 2006 sekolah pernah mendapat bantuan ruang kelas namun kondisi semua gedung yang menua harus direhab total. (nji)
Sekolah Ambruk, Siswa Belajar di Garasi
Written By p3joeang45 on Kamis, 12 Januari 2012 | 09.10
| Sejumlah siswa bermain di sekitar bangunan sekolah yang ambruk |
AKIBAT atap gedung sekolah ambruk, sejak 14 Desember 2011 lalu, ratusan siswa SD Negeri Mojosimo Kecamatan Gajah Kabupaten Demakk, harus belajar di garasi dan mushola. Kondisi ini disebabkan belum adanya bantuan untuk rehab gedung sekolah.
Beruntung Kepala SD Mojosimo, Munarti segera memindahkan tempat belajar satu minggu sebelum ambruk. Sehingga saat atap roboh tidak ada siswa berada di di dalamnya. "Untungnya kami sudah memindahkan semua siswa. Mereka belajar di Madrasah Sabihul Huda," akunya kepada Harsem, kemarin.
Menurut Munarti, atap gedung yang memanjang itu ambruk meliputi ruang kelas I, II, III, ruang guru, tiga WC, dan Dapur sekolah. Namun setelah kelas I, II, dan III dipindah belajar di ruang kelas Marasah Sabihul Huda yang tidak jauh dari sekolah, dirinya menjadi was-was. Selain siswa jauh dari pantauan guru, ketika jam istirahat banyak siswa bermain ke sawah.
Dari kekawatiran itu, dua minggu lalu, para guru sepakat menggunakan garasi sepeda untuk ruang kelas I, II, dan kelas III. serta memakai mushola untuk ruang belajar kelas IV. Agar nyaman saat belajar di garasi sepeda, para guru urunan membeli kipas angin dan lampu.
Dari pantauan Harsem, kondisi gedung yang berdiri sejak tahun 1977 ini cukup mengkhawatirkan. Bagian atap gedung sudah hilang. Pihak sekolah berinisiatif menutup pintu kelas agar para siswa tidak bermain di dalamnya. Sementara tiga kelas yang masih bagus digunakan untuk ruang kelas V, VI, dan ruang guru. Sekolah sengaja memilih ruang guru dari bangunan yang bagus, karena untuk menyimpan berkas dan dokumen penting.
Sudah beberapa kali pihak sekolah memohonkan bantuan ke dinas terkait untuk perbaikan, namun belum ada realisasi. SD Mojosimo adalah satu-satu sekolah negeri di Desa Mojosimo. Tahun ini jumlah siswa mencapai 138 siswa. Pihaknya berharap ada bantuan, agar kegiatan belajar mengajar kembali normal. Para siswa dapat belajar dengan tenang, apalagi mendekati Ujian Nasional.
Saat ditemui, siswa kelas III, Elang Ekananda, mengaku tidak terganggu kendati belajar di garasi. Bocah polos dan riang ini tertawa ketika menjawab pertanyaan wartawan. "Kalau sekolahnya dibuat baru saya mau, gak becek," jelasnya polos.
Sebelum terjadi pemekaran Desa Mojosimo dan Desa Tambirejo, SD Inpres ini bernama SD Tambirejo 2. Sejak bulan Februari 2011 lalu sekolah ini berganti nama SD Mojosimo. Sekitar tahun 2006 sekolah pernah mendapat bantuan ruang kelas namun kondisi semua gedung yang menua harus direhab total. (nji)
Label:
Pendidikan,
SD,
Sekolah roboh
10.52
Ya, sebelumnya 36 siswa kelas 1 SDN Kalongan 01, mengerjakan ujian semester di tenda darurat karean ruang kelas tengah direnovasi. Namun, sekitar pukul sembilan pagi, tenda roboh terhempas angin dan menimpa sejumlah siswa yang tengah mengerjakan ujian.
Akibat kejadian tersebut, guru langsung panik. Apalagi sejumlah siswa menangis kesakitan. Ujian terpaksa dihentikan sekitar 30 menit untuk mendirikan kembali tenda darurat yang sempat roboh.
Kepala Sekolah Eva Rista Kristiyati menceritakan, ketika peristiwa terjadi, para siswa sedang mengerjakan soal ujian bahasa Jawa. Tiba-tiba angin bertiup kencang dan merobohkan tenda.
"Karena anginnya kencang, bambu penyangga tidak kuat menahan beban tenda yang lebarnya mencapai 20 meter persegi. Kemudian roboh menimnpa siswa. Tapi untung tidak ada siswa yang mengalami luka parah," terangnya, kemarin (8/12) saat ditemui di lokasi kejadian.
Menurut Eva, robohnya tenda berlangsung sangat cepat, hingga guru tidak sempat memerintahkan siswa untuk berlindung. "Begitu angin besar datang tenda langsung roboh dan menimpa anak-anak. Kami para guru dan murid tidak sempat menghindar," paparnya.
Akibat kejadian tersebut, beberapa siswa mengalami luka di bagian kepala akibat tertimpa bambu penyangga. Untungnya, lanjut Eva, hanya berupa memar yang tidak membahayakan. "Luka para siswa kelas masih bisa diatasi pihak sekolah. Memang ada yang memar bagian kepalanya akibat tertimpa bambu penyangga. Tapi kebanyakan hanya mengalami shock dan menangis melihat tenda tempat mereka belajar roboh," terangnya lagi.
Setelah sempat dihentikan beberapa saat, ujian dapat dilanjutkan kembali setelah tenda diperbaiki sejumlah tukang. Meski demikian beberapa siswa mengaku trauma dan was-was.
Salah satu siswa, Putri (6) mengaku tidak bisa berkonsentrasi lagi saat melanjutkan mengerjakan soal ujian. Dia khawatir kejadian serupa terulang. Dia mengaku, luka memar di kepalanya yang tertimpa bambu masih dirasa sakit. "Saya takut. Takut tendanya roboh lagi dan ketimpa bambu lagi, kepalaku masih sakit," ujarnya sambil memegang bagian kepalanya yang memar.
Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan, Dewi Pramuningsih mengatakan kejadian tersebut di luar kemampuan pihaknya. "Ini di luar kemampuan kami, namanya saja darurat. Kami harap tidak ada lagi kejadian seperti ini," katanya.
Diungkapkan, saat ini SDN Kalongan 01 sedang direnovasi, dijadwalkan rampung Desember ini juga. Renovasi menggunakan dana APBD Provinsi Jateng sebesar Rp 90 juta. (nji)
Asyik Ujian Semester, Kelas Darurat Ambruk Belasan Siswa Luka Tertimpa
Written By p3joeang45 on Jumat, 09 Desember 2011 | 10.52
| Siswa kembali mengerjakan ujian semester setelah tenda yang roboh diperbaiki |
SUDAH jatuh tertimpa tangga, itu kata pepatah. Lain halnya dengan siswa SDN Kalongan 01 Ungaran Timur. Kenyataan yang mereka alami, sudah mengungsi tertimpa tenda.
Ya, sebelumnya 36 siswa kelas 1 SDN Kalongan 01, mengerjakan ujian semester di tenda darurat karean ruang kelas tengah direnovasi. Namun, sekitar pukul sembilan pagi, tenda roboh terhempas angin dan menimpa sejumlah siswa yang tengah mengerjakan ujian.
Akibat kejadian tersebut, guru langsung panik. Apalagi sejumlah siswa menangis kesakitan. Ujian terpaksa dihentikan sekitar 30 menit untuk mendirikan kembali tenda darurat yang sempat roboh.
Kepala Sekolah Eva Rista Kristiyati menceritakan, ketika peristiwa terjadi, para siswa sedang mengerjakan soal ujian bahasa Jawa. Tiba-tiba angin bertiup kencang dan merobohkan tenda.
"Karena anginnya kencang, bambu penyangga tidak kuat menahan beban tenda yang lebarnya mencapai 20 meter persegi. Kemudian roboh menimnpa siswa. Tapi untung tidak ada siswa yang mengalami luka parah," terangnya, kemarin (8/12) saat ditemui di lokasi kejadian.
Menurut Eva, robohnya tenda berlangsung sangat cepat, hingga guru tidak sempat memerintahkan siswa untuk berlindung. "Begitu angin besar datang tenda langsung roboh dan menimpa anak-anak. Kami para guru dan murid tidak sempat menghindar," paparnya.
Akibat kejadian tersebut, beberapa siswa mengalami luka di bagian kepala akibat tertimpa bambu penyangga. Untungnya, lanjut Eva, hanya berupa memar yang tidak membahayakan. "Luka para siswa kelas masih bisa diatasi pihak sekolah. Memang ada yang memar bagian kepalanya akibat tertimpa bambu penyangga. Tapi kebanyakan hanya mengalami shock dan menangis melihat tenda tempat mereka belajar roboh," terangnya lagi.
Setelah sempat dihentikan beberapa saat, ujian dapat dilanjutkan kembali setelah tenda diperbaiki sejumlah tukang. Meski demikian beberapa siswa mengaku trauma dan was-was.
Salah satu siswa, Putri (6) mengaku tidak bisa berkonsentrasi lagi saat melanjutkan mengerjakan soal ujian. Dia khawatir kejadian serupa terulang. Dia mengaku, luka memar di kepalanya yang tertimpa bambu masih dirasa sakit. "Saya takut. Takut tendanya roboh lagi dan ketimpa bambu lagi, kepalaku masih sakit," ujarnya sambil memegang bagian kepalanya yang memar.
Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan, Dewi Pramuningsih mengatakan kejadian tersebut di luar kemampuan pihaknya. "Ini di luar kemampuan kami, namanya saja darurat. Kami harap tidak ada lagi kejadian seperti ini," katanya.
Diungkapkan, saat ini SDN Kalongan 01 sedang direnovasi, dijadwalkan rampung Desember ini juga. Renovasi menggunakan dana APBD Provinsi Jateng sebesar Rp 90 juta. (nji)
Label:
Pendidikan,
SD,
Sekolah roboh,
Siswa





