Home » » Guru Harus Pandai Mengambil Hati Siswa

Guru Harus Pandai Mengambil Hati Siswa

Written By Harian Semarang on Sabtu, 27 November 2010 | 02.17

SIKAP guru memegang peran penting dalam menentukan siswa akan menyukai pelajaran atau tidak. Untuk itu, menurut praktisi pendidikan Haris Ma’ruf, seorang guru idealnya tidak terlalu idealis mengelola kelas.

Tidak dibenarkan seorang guru beranggapan bahwa seorang siswa harus memiliki pemahaman yang sama dengannya. Apalagi sampai menilai atau bahkan mengecap siswanya bodoh.

“Tugas penting seorang guru adalah mengajarkan ilmu atau pengetahuan kepada anak didiknya. Agar anak didik tersebut jadi tahu atau bertambah tahu tentang sesuatu hal,” ungkap pria yang berprofesi sebagai guru di SMA Sultan Agung 1 serta dosen di Universitas Dian Nuswantoro itu, kemarin (26/11).

Guru ideal adalah guru yang dapat dijadikan sebagai sumber motivasi belajar. Takaran sukses atau tidaknya seorang guru, menurut pria yang pernah lama menjabat sebagai Kepala sekolah SMA Sultan Agung 02 itu, bisa dilihat dari perilaku dan sikap anak didiknya.

Dalam hal ini, kesuksesan seorang guru dapat diketahui dengan mengukur seberapa jauh anak didik yang diajarnya menjadi termotivasi untuk belajar.

Mencari cara agar siswa termotivasi untuk belajar itulah yang harus dilakukan oleh seorang guru. Hal penting yang harus diperhatikan dalam hal ini, menurut Haris, adalah tidak samanya satu individu dengan individu lainnya, karenanya dibutuhkan metode yang berbeda dalam menyikapinya.

“Tingkat kerja otak tiap anak itu berbeda. Ada karakter anak yang lebih cepat menangkap pelajaran dengan cara mendengar dan ada yang lebih cepat dengan cara visual. Ada pula yang merupakan gabungan dari ke duanya. Dari perbedaan itu tentu perlu metode atau cara penanganan berbeda, sesuai karakter masing-masing,”

Jalinan Pertemanan
Menurut pria yang saat ini menjabat sebagai Kepala Litbang Yayasan Badan Waqaf Sultan Agung tersebut, salah satu cara yang paling bisa dilakukan agar siswa termotivasi untuk belajar adalah melalui cara jalinan pertemanan.

Yakni, seorang guru bisa memposisikan diri menjadi teman bagi anak didiknya. Dengan begitu siswa tidak merasa canggung bertanya atau bahkan bisa lebih merasakan senang mengikuti pelajaran.

“Menurut saya, seorang guru tidak akan kehilangan kehormatannya ketika menjadikan siswa sebagai teman baginya. Itu yang saya pahami kemudian saya jalankan selama ini,” imbuh pria kelahiran Jepara yang mengaku suka menikmati seni dari berbagai genre itu.

Bagi Haris, guru ibaratnya adalah seorang musafir yang hijrah ke dunia anak-anak. Di dunia itu, guru harus bisa berlaku baik agar anak-anak senang dan jatuh hati kepadanya.

Setelah hal itu bisa dilakukan, tentunya para siswa tidak akan keberatan atau merasa terpaksa jika diajak hijrah ke dunia guru yang penuh dengan pengetahuan. “Bukannya malah seenaknya, atau bahkan asal beri sanksi jika siswa bersalah,” tandasnya. (sohibun niam/nji)
Share this article :

Posting Komentar

Silahkan tulis komentar, saran dan kritik anda di bawah ini!
Terima kasih atas kunjungannya, semoga silaturrahim ini membawa berkah dan manfaat untuk kita semua, dan semoga harsem makin maju dan sukses selalu. amin.

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. HARIAN SEMARANG - Education - All Rights Reserved
Template Created by Mas Fatoni Published by Tonitok
Proudly powered by Blogger