Home » , , , » Mbadut di Kelas Pun Dilakoni

Mbadut di Kelas Pun Dilakoni

Written By Harian Semarang on Selasa, 30 November 2010 | 01.27

Dia memiliki banyak strategi untuk mengajar siswa. Termasuk membadut di depan kelas. Pengagum Werkudara ini pun diganjar Satyalancana Karya Satya

UPACARA peringatan HUT Korp Pegawai Republik Indonesia (Korpri) ke-39, Senin (29/11) kemarin, diwarnai penyematan dan penganugerahan Satyalancana Karya Satya kepada 205 anggota Korpri dari berbagai instansi Kota Semarang. Anugrah diberikan pada sosok yang menunjukkan kecakapan, kedisiplinan, kesetiaan, dan pengabdiannya selama 10, 20 atau 30 tahun lebih.

Adalah Purwanto salah satunya. Kepala sekolah SDN Srondol Wetan 02-06 itu dianugerahi Satyalancana Karya Satya 30 Tahun oleh Presiden RI melalui Walikota Semarang, Soemarmo di halaman Balaikota Semarang.

Pagi itu, menjadi hari membahagiakan pria kelahiran Kulonprogo, 12 April 1955 tersebut. Kebahagiaannya tergambar jelas dari kalimat berbahasa Jawa yang ia tulis di secarik kertas setelah Harsem meminta tanggapannya berkaitan dengan anugerah yang ia terima pada kesempatan itu.

Usai upacara, pria yang piawai mendalang dan melantunkan geguritan itu menulis, caos syukur pujo-puji santi. Kanjuk ngarso Gusti Kang Kuwoso, kang peparing nugrahane. Bekti kulo satuhu, makaryo projo tumraping nagri. Darbe atur dedungo, nugroho satuhu, Satyalancana nironggan. Kang wis dadi jodho prasetyaning khalbi, mantebing karya satya.

Ya, melakoni profesi sebagai abdi negara selama 35 tahun, tepatnya mulai 1975 hingga sekarang, dengan menjaga konsistensi, baik kedisiplinan, kecakapan, dan kesetiaan, tentu bukan perkara mudah. Suka-duka pengalaman pernah ia alami sepanjang perjalanannya sebagai seorang guru.

Namun baginya, pengalaman pahit juga merupakan anugerah kenikmatan yang harus disyukuri. “Dedungo lan narimo ing pandum. Ora gresah lan gresulo (terus berdoa dan bersyukur. Tidak mengeluh),” jawab suami dari Susilowati itu, saat ditanya falsafah hidupnya.

Karakter Werkudara
Menjadi guru adalah pekerjaan sangat menyenangkan. Apalagi jika dilakukan ikhlas, cerdas, laras, profesional, dan proporsional. Sebagaimana ia terapkan pada dirinya selama ini. Berkesempatan mengajar anak-anak sudah menjadi cita-citanya sejak kecil. Karena menurutnya, dunia pendidikan adalah salah satu jalan menuju ibadah.

“Hal yang paling menggembirakan adalah bisa berbagi ilmu kepada anak didik. Bisa memperlihatkan kepada mereka mana yang benar dan salah, apa yang harus dipilah dan apa yang wajib dipilih. Agar bisa selamat baik di kehidupan dunia ataupun akhirat,” jelas ayah dua anak dan kakek satu cucu itu.

Baginya, pendidikan sangat penting. Pria paruh baya ini gandrung tokoh wayang berwatak jujur dan bertanggung jawab, yang tak lain Werkudara. Dia rela melakukan apa saja agar anak didiknya bisa termotivasi dan giat belajar. Nembang dan mbadut di depan kelas melakonkan tokoh Punakawan pun sering ia lakukan demi anak didiknya.

“Selain sebagai orangtua bagi murid-muridnya, guru juga teman. Jadi tidak perlu malu kalau tujuannya baik. Selain itu, jika penyampaian pelajaran dilakukan secara menyenangkan, pasti anak-anak lebih cepat paham,” tandas kepala sekolah yang juga mengajar PPKn itu. (sohibun niam/nji)
Share this article :

Posting Komentar

Silahkan tulis komentar, saran dan kritik anda di bawah ini!
Terima kasih atas kunjungannya, semoga silaturrahim ini membawa berkah dan manfaat untuk kita semua, dan semoga harsem makin maju dan sukses selalu. amin.

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. HARIAN SEMARANG - Education - All Rights Reserved
Template Created by Mas Fatoni Published by Tonitok
Proudly powered by Blogger