Diberdayakan oleh Blogger.
Latest Post

Ketika Ibu Guru Bercelana Panjang...

Written By tonitok on Kamis, 03 November 2011 | 06.45

Seorang guru TK Harapan Bunda Semarang tengah mengajar
MENGENAKAN rok, mungkin lebih ribet dibanding celana panjang. Mungkin karena itu, banyak guru TK (perempuan) yang memilih mengenakan celana panjang, alih-alih dibanding rok. Salahkah? Tentu tidak.
Menurut Dian Savitri, psikolog dari Universitas Semarang (USM), busana merupakan bagian dari identias gender. ”Di Indonesia, pada batas tertentu, busana merupakan bagian identitas gender. Misalnya rok untuk wanita dan celana panjang untuk wanita,” jelasnya.
Namun dia tak mau’menghakimi’ bahwa itu keliru.

Pasalnya, menurut dia, sejatinya identitas gender tak memiliki batas demarkasi yang jelas. Namun berkembang sesuai zaman.”Dulu, anak perempuan yang suka manjat pohon dianggap tomboy. Sekarang, tak masalah,” jelasnya.

Dian mengatakan, penyikapan terhadap peran gender berbeda pada setiap budaya. “Ini  tergantung kearifan lokal,” ujarnya.

Menurut dia kontruksi gender bersifat fleksibel. Karenanya, masyarakat perlu memahami perbedaan jenis kelamin dan gender. Meski sepintas mirip, kedua terminologi ini berbeda. ”Jenis kelamin merupakan terminologi biologi, yang juga membawa karasteristik psikologis,” ujarnya.

Maksudnya? Biasanya pria membawa sifat maskulin, baik fisik (menyangkut struktur biologis dari otot) maupun alat reproduksi yang secara fisik jelas berbeda dengan perempuan. Adapun secara psikologis, kecenderungannya pria lebih rasional dan wanita emosional.

”Namun jika berbicara gender, berarti kita mengkaji status yang menempel pada jenis kelamin. Misalnya persepsi bahwa wanita itu emosional,” jelasnya.

Perihal pantas tidaknya guru TK mengenakan celana panjang, Dian Savitri mengatakan saat ini celana panjang tak bisa diidentikkan sebagai busana pria. Jadi boleh-boleh saja.

Meski demikian, Savitri anak-anak usia TK dan SD masih perlu dikenalkan identitas jenis kelaminnya yang tidak sekadar biologis. Mereka masih perlu dikenalkan konstruksi budaya, bahwa laki-laki tidak mengenakan rok dan perempuan identitasnya adalah rok. ”Jadi di sini ada pengenalan identitas gender. Pada tingkat TK dan SD, menurut saya, masih perlu,” jelasnya.

Hal senada diungkapkan Izzun Nahdloh, mahasiswa Jurusan Bimbingan Konseling Unnes yang juga aktivias mentoring. Menurutnya, pengenalan identitas gender di kalangan TK dan SD awal masih perlu. ”Perlu karena anak-anak masih belajar tentang itu,” jelasnya.

Menurut dia, batasan yang lentur membuatnya tak mudah diajarkan kepada anak. Karenanya, jangan sampai konstruksi tersebut mengaburkan identitas kelamin. Jika itu terjadi, bisa jadi muncul efek sampingan, yakni adanya ”trans” terhadap peran gender. Atau setidaknya, membuat anak melakukan kebiasaan yang menyimpang secara mencolok dari kultur di masyarakat.

Anak laki-laki boleh saja melihat kakak perempuannya memakai lipstik. Namun jika kemudian si anak ikut-ikutan ber-lipstik, itu bisa menjadi masalah.

Masalahnya, di Indonesia justru terbalik-balik. ”Mestinya, guru TK mengenakan rok untuk mengenalkan identitas gender pada anak-anak. Adapun guru SMA, malah boleh mengenakan celana panjang karena siswanya sudah dewasa dan sudah memahami perbedaan gender. Tapi yang terjadi sebaliknya,” jelasnya. Bagaimana menurut Anda? (panji joko satrio)

Berbalas Pantun Indonesia-Singapura

Written By tonitok on Rabu, 02 November 2011 | 09.59

Siswa Northland Secondary School Singapura menyajikan harmoni dance dalam kunjungannya ke SMAN 3 Semarang, kemarin
Oleh Sokhibun Ni’am

Bak berbalas pantun, SMAN 3 Semarang dan Northland Secondary School Singapore saling berkunjung. Sekolah dari negeri jiran itu, mengaku ingin menimba ilmu.

SEBANYAK 32 siswa Northland Secondary School, Singapura mengunjungi SMAN 3 Semarang, kemarin (1/11). Kedatangan mereka merupakan kunjungan balasan, setelah sebelumnya SMAN 3 berkujung ke Singapura.

Melalui kunjungan ini, mereka mengaku menimba pengalaman di SMAN 3 yang kini telah berusia 134 tahun. SMA di depan Balaikota Semarang itu telah berdiri sejak zaman penjajahan.

Dalam kunjungan tersebut, siswa dan guru asal Singapura disambut hangat dengan suguhan kesenian tradisional seperti gamelan dan tari Semarangan. Sementara pihak Northland Secondary School selaku tamu memberikan oleh-oleh spesial berupa harmoni dance, yaitu tarian kreasi yang paduan modern dan tradisional Singapura.

Menurut Kepala Sekolah SMAN 3 Semarang Hari Waluyo, kunjungan siswa Singapura tersebut merupakan implementasi dari program kerjasama antara sekolahnya dengan Nortland Secondary School, Singapura. Sebelumnya, sejumlah guru dan siswanya telah mengawali melakukan kunjungan ke sekolah ternama di Singapura itu.

“Kunjungan mereka ini termasuk salah satu rangkaian dari program kerjasama yang telah dijalin SMAN 3 dengan Nortland Secondary School. Ini merupakan balasan dari kunjungan yang pernah dilakukan siswa SMAN 3 Semarang pada Januari lalu,” jelas Hari, di sela acara, kemarin (1/11).

Maksud dari program kunjungan ini, diterangkan Hari, untuk saling bertukar pengalaman dan saling mempelajari sistem pembelajaran yang diterapkan pada masing-masing sekolah. “Ini juga termasuk tuntutan sebagai rintisan sekolah bertaraf internasional, yakni pada 2012 nanti kami berganti menjadi sekolah bertaraf internasional dan diwajibkan mempunyai kurikulum internasional,” ucapnya.

Kunjungan yang dilakukan para siswa Singapura tersebut, dikatakan Hari, hanya berlangsung selama dua hari. Namun dalam waktu yang singkat itu, semua siswa Singapura tersebut akan dilibatkan dalam kegiatan belajar dalam kelas di SMAN 3 Semarang, mulai dari pagi hingga pulang sekolah. Sementara, para guru turut mengamati proses pembelajarannya. “Ketika kami di sana (di Northland Secondary School), hal itu juga kami lakukan untuk meningkatkan kualitas akademik,” jelasnya.

Sementara itu Principal Northland Secondary School, Koh Yiak Khieng menyampaikan, kedatangan rombongan ke SMAN 3 Semarang untuk menimba pengalaman. “SMAN 3 telah berdiri 134 tahun, sedangkan kami baru 17 tahun. Masih banyak pengalaman yang harus kami ambil dari SMAN 3 ini,” tandas Koh. (sna/nji)

Penyaluran Beasiswa: Sebuah Realita

Written By Harian Semarang on Selasa, 01 November 2011 | 08.01

Sasaran Beasiswa Kurang Akurat

Tahun ini, banyak beasiswa yang telah dikeluarkan oleh pemerintah yang diperuntuksn kepada mahasiswa di Perguruan Tinggi yang berprestasi. Akan tetapi dalam realisasinya sasaran yang dituju terkadang dirasa kurang akurat. Dimana masih banyak para mahasiswa yang memperoleh beasiswa adalah mahasiswa yang secara ekonomi sudah mapan. Di sekeliling kampus para mahasiswa yang secara ekonomi kurang mampu lebih membutuhkan akan hal ini. Mereka memiliki kemampuan yang lebih serta ingin melanjutkan sekolah ke jenjang selanjutnya. Akan tetapi mereka terkendala dengan biaya.
            
Sungguh ironis mahasiswa ekonominya lemah akhirnya terakienasi dalam dunia pendidikan. Padahal mereka juga mempunyai kemampuan yang lebih dan hak yang sama dengan mahasiswa “elit” untuk bersaing dan memperoleh beasiswa dari pemerintah.
            
Yang menjadi permasalahannya sekarang, bagaimana peran Birokrasi kampus serta ketua-ketua lembaga untuk lebih cermat memilih calaon penerima beasiswa. Sehingga ke depannya par kalangan mahasiswa bawah juga dapat merasakan perkuliahan dan ikut serta bersaing dalam dunia pendidikan.
            
Inilah saatnya Birokrasi kampus bertindak adil dalm merealisasikan beasiswa. Agar timbul masalah kesenjangan sosial. Sehingga jika program beasiswa itu sudah terealisasi dengan baik, semua mahasiswa akan bisa hidup bersama dalam menempuh perguruan tinggi. Sangatlah mulia lagi jika Perguruan tinggi dapat merealisasikan program ini secara tepat. (Alif Adibatul Latifah, Mahasiswa :IAIN Walisongo Fakultas Syari'ah, Jurusan Muamalah)

Ribet dan Kurang Mengena

Berbicara mengenai penyaluran beasiswa sejauh ini terkesan hanya bermodal “dana” yang dipersiapkan tanpa melibatkan “proses”, dalam artian pemerintah penyedia beasiswa hanya menyediakan anggaran beasiswa yang terbilang cukup besar tapi terkadang kurang mendapatkan perhatian dalam proses penyaluran beasiswa yang tepat guna dan tepat sasaran. Selain itu, persyaratan administrasi formal terkadang masih terlalu memberatkan bagi kalangan yang benar-benar kurang mampu, bahkan walaupun beasiswa itu masih baru sebatas spekulasi, usaha untuk mendapatkan dan belum benar-benar pasti mendapatkan karena masih harus bersaing dengan calon penerima beasiswa lain tapi sudah harus mengeluarkan dana yang tak bisa dibilang sedikit untuk kalangan bawah.

Dalam berbagai media juga sering dikabarkan masih banyak kalangan tidak mampu yang belum tersentuh beasiswa bahkan sampai harus nunggak SPP dan dikeluarkan dari pihak institusi atau sekolah, hal ini membuktikan bahwa pemerintah terkesan apa adanya dalam penyaluran dana beasiswa, yang penting tersalurkan tanpa memperdulikan apakah penyaluran beasiswa selain sudah memenuhi prosedur juga sudah menyentuh seluruh kalangan masyarakat tanpa terkecuali, meski hanya sebatas pengetahuan dan informasi bahwa ada beasiswa.

Sehingga, besarnya dana beasiswa yang disediakan layaknya diimbangi dengan perencanaan untuk mencetak generasi unggulan dari kalangan calon penerima beasiswa yang kurang mampu dengan program terencana, terkelola profesional, dan termonitor dengan ketat dan cermat. Dengan begitu, program beasiswa tidak terkesan membuang-buang uang, tapi juga diperhatikan efesiensi dan urgensinya agar lebih mengena, tepat sasaran dan tepat guna. (Aji Ainul Faqih, Redaktur Zenith, Mahasiswa Prodi Konsentrasi Ilmu Falak IAIN Walisongo Semarang)

Si Kaya Makin jaya, sang Miskin kian Menderita

Saya sering mendengar, model pendistribusian Beasiswa pemerintah, sejenis Bidik Misi, unggulan dsb masih belum mengena dan tepat sasaran. Yang katanya, sasaran utamanya adalah masyarakat miskin yang berprestasi.

Sebenarnya, siapa yang berhak mendapat beasiswa tersebut?  Masyarakat miskin yang memang berprestasi kah atau orang kaya yang berkecukupan yang juga berprestasi? karena hingga  saat ini,  banyak penikmat beasiswa tersebut yang berasal dari kalangan ekonomi cukup dan menengah yang juga punya prestasi, Atau memang belum ada standarisasi miskin dari pemerintah, miskin seperti apa yang berhak mendapatkan beasiswa?

Si Kaya makin jaya, sang Miskin kian Menderita, ungkapan ini yang kiranya mengilustrasikan realitanya. Jika harus bersaing, umumnya yang kaya lah yang akan unggul daripada yang miskin. Betapa tidak, selepas belajar di kelas, tidak sedikit dari mereka yang juga ikut les privat tambahan lainya yang menunjang prestasi akademiknya, sungguh berbeda dengan mereka yang miskin lantaran terbentur dengan ekonomi dan biaya.

Namun, jikalau beasiswa tersebut benar-benar difokuskan untuk masyarakat miskin, maka kunci utamanya adalah masyarakat miskin sekalipun dengan prestasi akademik yang tidak seberapa. Penulis meyakini, prestasi akademik tidak bisa dijadikan syarat dalam rekruitmen penerima beasiswa tersebut, yang dibutuhkan adalah niat dan kesungguhan.  Ada pesan moral yang bisa diangkat “betapa seseorang yang miskin pun berhak mendapat kesetaraan pendidikan tanpa pandang bulu seberapa baik dan buruk prestasi akademiknya di masa lalu, andaikata ada niat dan kesempatan dari pemerintah bukan mustahil  mereka bisa melakukan inovasi yang lebih baik dalam hidupnya termasuk dalam hal peningkatan mutu dan kualitas akademiknya.  Pembenahan dalam pendistribusian beasiswa mulai dari pusat hingga kampus ini yang harus mulai dibenahi saat ini. (Sa’adatul Inayah, Mahasiswa IAIN Walisongo Semarang, Redaktur Pelaksana Bulletin Magesty CSS MoRA)

Realita Beasiswa dalam Kapitalisme Pendidikan

Dunia perguruan tinggi kini tampil dengan penuh angkuh dan hidup dari kebohongan, dibangun di atas puing-puing keserakahan. Semangat kapitalisme terus menggejala untuk mengeruk banyak uang tanpa memperhatikan unsur substansi pendidikan.

Ketidakpuasan masyarakat terhadap situasi pendidikan yang mengalami kerancuan, sudah cukup menjadi pelajaran berharga bagi dunia pendidikan. Rakyat yang begitu membutuhkan dunia pendidikan, terpaksa terkatung-katung dalam jebakan kapitalisme pendidikan. Jangankan mengakses pendidikan berkualitas, sekadar masuk ke sekolah reguler dengan standar minimal, rakyat harus berjuang dengan cucuran keringat.
Karena itu, beasiswa menjadi incaran utama bagi kaum tak mampu. Ironisnya, beasiswa didunia perguruan tinggi selalu menghampiri  yang kuat dan yang kaya. Ada indikasi kongkalikong dalam penyaluran beasiswa. Jika bangsa ini masih menginginkan tujuan pendidikan tercapai, maka permasalahan struktural dalam lembaga pendidikan mesti segera diselesaikan.

Problem sosial dan ekonomi kemasyarakatan adalah hal yang tidak bisa ditunda serta mendapat perhatian awal dalam pengelolaan pendidikan berbasis masyarakat. Para pengelola pendidikan yang telah mendapatkan mandat untuk menyalurkan beasiswa dari pemerintah, harus benar-benar berjiwa nonkarierisme dan nonprofiturisme. Birokrasi perguruan tinggi harus terdorong melahirkan semangat baru dan visi baru dalam menyelenggarakan sistem pendidikan yang lebih demokratis dan desentralistis dalam pengelolaannya.

Pendidikan yang baik dan berkualitas memang perlu biaya. Akan tetapi, haruskah biaya itu dibebankan kepada warga negara yang jelas-jelas tak mampu menanggungnya? Pada konteks ini, beasiswa lahir dalam rangka mewujdukan mimpi dari semangat juang kaum ekonomi lemah. Namun, apa dikata, jika beasiswa telah raib dimakan dalam permainan tikus-tikus berdasi? Ah, sungguh terlalu! (Wildani Hefni, mahasiswa dan peneliti muda Fakultas Syariah IAIN Walisongo Semarang)

TAK PERLU ADA ‘KAMBING HITAM’

Bak jamur yang tumbuh di musim hujan, mungkin merupakan istilah yang sesuai untuk mendeskripsikan banyaknya program beasiswa yang dicanangkan di perguruan tinggi. Satu hal yang perlu digarisbawahi adalah program beasiswa yang diberikan oleh perguruan tinggi tidak lagi berdasar pada tingkat ekonomi mahasiswa, meskipun salah satu syarat yang biasa dijumpai adalah menyertakan keterangan penghasilan orang tua, namun penyerahan bantuan pendidikan ini lebih dominan pada prestasi yang diraih mahasiswa. Sehingga, seharusnya tidak ada lagi ihwal penyaluran beasiswa yang tidak tepat sasaran, akan tetapi bagaimana para mahasiswa dapat bersaing secara sehat untuk didaulat menjadi mahasiswa penerima dana bantuan tersebut.

Faktor keberuntungan biasanya menjadi ‘kambing hitam’ yang didengungkan terkait syarat struktural beasiswa yang telah ditentukan oleh pihak pemberi. Persyaratan lengkap dan kuota masih mencukupi, tentu jadi landasan utama dikabulkannya permintaan, selain kelengkapan syarat administrasi. Beberapa anggapan mengemukakan bahwa faktor X yang jadi penghalang terpenuhinya persyaratan bagi mahasiswa kalangan bawah adalah administrasi yang dinilai terlalu tinggi. Sehingga, muncul kesimpulan bahwa penyaluran beasiswa tidak tepat sasaran.

Sejatinya, beasiswa dan mahasiswa merupakan kesatuan simbiosis mutualisme, saling membutuhkan dan melengkapi satu sama lain, sehingga wajar jika dalam proses memperolehnya terdapat pengorbanan yang diberikan. Laik pepatah “where there is a will, there is a way”. Tidak ada yang mustahil selama mau berusaha. Ekonomi tak seharusnya jadi kambing hitam, tinggal bagaimana keinginan dan semangat para mahasiswa untuk berprestasi dan memperoleh dana bantuan yang ditawarkan. (Rizki Mukaromah, Mahasiswi Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo Semarang,  Redaktur majalah Zenith )

Tidak Jelas Prosedur

Keistemewaan beasiswa memang menjadi hal yang dinanti oleh semua mahasiswa, beasiswa digambarkan sebagai penyokong guna menunjang biaya perkuliahan, mengingat dana pendidikan Perguruan Tinggi (PT) dari tahun ke tahun terus meningkat alias tidak murah. Hal tersebut membawa kepada para mahasiswa khususnya dari kalangan tidak mampu sering mencari-cari beasiswa supaya bisa membayar dana kuliah yang mahal.

Namun ironisnya  pemberian beasiswa yang diberikan PT untuk mahasiswa sering kali menggambarkan ketidakjelasan prosedur penyeleksian dan kreteria calon penerima. PT seakan memberikan beasiswa bagi siapa saja tanpa melihat status dari mahasiwa tersebut, dan itu menjadikan sistem yang tidak tepat dan tidak pas sasaran.

Seperti yang kita lihat sekarang bahwa prosedur yang dilakukan banyak mengandung unsur asal-asalan seperti orang yang kaya tapi tidak mempunyai prestasi bisa mendapat beasiswa, namun bagi mahasiswa tidak mampu tapi mempunyai prestasi malah tidak dapat padahal dia sangat membutuhkan. Sistem tersebut akan berdampak pada “kecemburuan sosial” mahasiswa kalau seandainya sistem asal-asalan sering dipakai oleh PT.        

 Dan Seyogjanya pihak PT bisa mengambil sikap tegas dan harus objektif dalam memberikan beasiswa dikalangan mahasiswa. Salah satu satu cara supaya PT bisa memilih dan memilah dalam membedakan mana mahasiswa yang asal-asalan dan mana mahasiswa yang betul-betul harus diberi beasiswa tersebut. 
(Nanang Qosim, Mahasiswa Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang)



SMKN 1 Sayung Gelar Pemilu

Siswa tengah mengikuti pemungutan suara

SMKN 1 Sayung Demak mengadakan Pemilihan Umum (Pemilu) Ketua Osis periode 2011/2012, Senin kemarin (31/10). Pemilu wakil siswa yang diikuti oleh empat kandidat, yakni Dwi Aldi dan Miftahul Badriah dari jurusan Tata Boga, Fatkul Mubin dan Nasrullah jurusan Teknik Sepeda Motor, Jubaidin dan Bagus Sutrisno  jurusan Rekayasa Perangkat Lunak, serta Ani Afriyanti dan Tri Lestari jurusan Tata Busana, dilaksanakan secara langsung, mengadopsi Pemilu di Indonesia.

Masing-masing pasangan calon telah melalui tahapan,  penjaringan calon, penetapan nomor urut, kampanye dan terakhir pemungutan suara yang dilaksanakan dengan sistim contreng. Para siswa antusias dengan digelarnya pesta demokrasi lokal di sekolahnya tersebut, satu persatu siswa rela antri untuk memberikan hak suaranya kepada kandidat yang menjadi jagonya.

Suasana sempat memanas pada saat panitia pemilu OSIS mulai melakukan penghitungan suara, para siswa terus meneriakan yel-yel dukungan pada saat nama pasangan calon yang menjadi jagonya dibacakan. Dari empat kandidat calon, suara terbanyak, pada pasangan Fatkul Mubin dan Nasrullah dengan perolehan 134 suara.

Menurut Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Munif, Pemilu ini diadakan setiap tahun sekali, sebagai bentuk pembelajaran pada siswa tentang proses dan pentingnya berdemokrasi. "Diharap ketika berada di masyarakat, para siswa bisa memahami etika dan keterbukaan berdemokrasi," jelasnya. (swi/nji)

Kemala Bersiap Meraih Adiwiyata

Para siswa dan seorang guru sedang menanam apotek hidup
Oleh Aris Wasita Widiastuti

Persiapan sudah dilakukan: dari kebersihan hingga keasrian sekolah. Mampukah SD Kemala Bhayangkari 04 Semarang memenangi lomba adiwiyata?

KEBERSIHAN menjadi salah satu unsur yang saat ini sedang diperhatikan penuh oleh SD Kemala Bhayangkari 04 Semarang. Hal tersebut dikarenakan sekolah yang berada di kompleks Akpol Semarang itu sebentar lagi akan menuju perlombaan adiwiyata. Kepala Sekolah, Sumirah mengatakan pihaknya terus bersiap menata sekolah.

“Kebersihan mencakup banyak hal, antara lain pengelolaan sampah, kesehatan, kerapian, penghijauan serta konservasi lingkungan,” jelasnya kepada Harsem saat ditemui di ruang kerjanya, minggu lalu.

Dijelaskan, keikutsertaan sekolah tersebut pada lomba adiwiyata merupakan penunjukan langsung dari UPTD Pendidikan Kecamatan Gajahmungkur. “Meskipun ini merupakan keikutsertaan kami yang pertama, namun demikian, kami berusaha untuk melakukan persiapan secara optimal,” terangnya.

Namun demikian, prioritas utama adalah menanamkan kecintaan siswa pada lingkungan sekitar. “Memang kami pasti ingin menang atau paling tidak bisa meraih peringkat yang baik, namun lebih dari itu, kami ingin menerapkan pendidikan karakter pada diri siswa,” urainya.

Untuk pendidikan karakter tersebut, antara lain yaitu tanggung jawab, tekun, ketelitian, kerjasama, toleransi, percaya diri, kejujuran, religius, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokrsi serta rasa ingin tahu.
“Jadi yang kami lakukan ini tidak semata-mata untuk lomba saja, namun juga untuk mengubah karakter siswa, menjadi yang sesuai dengan pendidikan karakter,” tegasnya.

Sementara itu, persiapan yang sudah dilakukan oleh sekolah antara lain yaitu menanam sejumlah pohon baru yang sengaja dibawa oleh siswa. “Jadi kami memang ada kerjasama dengan komite sekolah, ada tanaman yang disiapkan oleh mereka langsung,” jelasnya.

Selanjutnya, kendala masih ada di pengolahan sampah. “Terutama untuk pengolahan limbah, jadi mau dikemanakan sampah non organik ini masih dalam tahap direncanakan, karena kami memang menghindari bakar sampah,” ujarnya.

Namun, pihaknya sudah merencanakan, sampah nonorganik akan digunakan untuk ketrampilan siswa. “Sementara itu, untuk sampah organik, di belakang sekolah sudah kami buat lubang besar untuk mengelolanya menjadi kompos,” jelasnya.

Selanjutnya, pada keikutsertaan kali pertama ini, Sumirah berharap agar sekolahnya bisa menjadi juara. “Jadi sekolah tidak hanya memiliki prestasi akademik saja, namun juga diimbangi dengan prestasi nonakademik juga, itu harapan kami,” pungkasnya. (nji)



 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. HARIAN SEMARANG - Education - All Rights Reserved
Template Created by Mas Fatoni Published by Tonitok
Proudly powered by Blogger