Diberdayakan oleh Blogger.
Latest Post

Andalkan Eskul Tari, Belum Punya Kostum

Written By Harian Semarang on Minggu, 30 Oktober 2011 | 23.29

Para siswa mengikuti ekstrakurikuler tari

SUDAH sering tampil di hadapan umum. Itulah salah satu prestasi yang dikecap SDN Purwosari 02 Semarang dalam kegiatan ekstrakurikuler tari.  Hal itu diungkapkan Kepala Sekolah Purwaningsih saat ditemui Harsem di ruang kerjanya, kemarin. Dijelaskan, eskul tari memang merupakan salah satu unggulan sekolah.

“Eskul tari kami sering mengikuti kejuaraan di tingkat kecamatan maupun kota. Selain itu, siswa yang mengikuti eskul tari juga sering mengisi acara yang diadakan sekolah. Misalnya dalam acara perpisahan kelas enam, siswa selalu menampilkan tari,” jelasnya.

Dikatakan, eskul tari wajib diikuti semua siswa. “Mulai kelas satu sampai kelas enam wajib mengikuti. Eskul ini sifatnya gratis,” jelasnya.

Dia mengatakan, semua siswa mengikuti eskul tari. Ketika akan mengikuti perlombaan, barulah kontingen dipilih oleh guru. “Yang pasti, kami mencari siswa yang luwes dan memiliki gerakan bagus. Untuk kami kirimkan di kejuaraan tari,” ungkapnya.

Perihal jenis tari yang dipelajari siswa, biasanya disesuaikan dengan tingkat umur. “Untuk siswa kelas rendah, mereka belajar tari dolanan yang gerakannya lebih mudah. Mulai kelas empat, mereka belajar tarian yang gerakannya agak susah dan kompleks, misalnya tari golek dan bondan,” paparnya.

Dijelaskan, siswa diajarkan berbagai macam jenis tari. “Ada tari klasik, tari Jawa, tari nasional dan kreasi,” sambungnya.

Purwaningsih  mengatakan eskul tari juga menghadapi kendala. “Kendalanya, sampai saat ini kami belum memiliki kostum untuk pentas. Jadi kalau mau pentas kami harus meminjam kostum,” kata dia.

Untuk itu dia berharap mendapatkan bantuan pengadaan kostum ini. “Kalau siswa mendapatkan kostum baru mereka pasti akan lebih semangat mengikuti kejuaraan,” terangnya.

Biaya operasional mengikuti kejuaraan tari dibebankan pada dana BOS. “Namun kalau siswa berkeinginan tampil mengisi acara, biasanya orangtua yang membiayai,” lanjutnya.

Tak hanya tari yang menjadi kegiatan esktrakurikuler. “Kegiatan lain antara lain baca tulis Alquran, komputer, voli mini, pramuka, gambar dan lukis, serta karate,” paparnya.

Belum lama ini, bolavoli dan karate SDN Purwosari 02 maju hingga tingkat kota. “Para siswa sudah mengikuti olimpiade dan POPDA. Mereka sudah memiliki jam terbang cukup tinggi dalam mengikuti lomba-lomba hingga tingkat kota,” tandasnya.

Dijelaskan pula, orangtua siswa sangat kooperatif dalam mendukung sekolah. “Sampai saat ini orangtua sangat kooperatif. Mereka juga mau melibatkan diri dari segi pendanaan. Karena mereka menyadari selama ini pihak sekolah hanya mengandalkan dana BOS. Padahal dana BOS jumlahnya minim,” ujarnya.

Dilanjutkan, dirinya meyakini semua prestasi yang dicetak siswa tergantung dukungan orangtua. “Selama orangtua mendukung dan anak memiliki bakat, saya yakin prestasi ada di tangan,” pungkasnya. (nji)

HARSEM/ARIS WASITA WIDIASTUTI

Pascasarjana Unnes Siapkan Lima Prodi Baru

Prof Samsudi
PROGRAM Pascasarjana Universitas Negeri Semarang (Unnes) kini tengah melakukan berbagai upaya penguatan lembaganya, salah satunya dengan menyiapkan penambahan lima program studi (prodi) baru yang dijadwalkan akan mulai dibuka pada 2012 mendatang.

Di sela pelepasan 370 magister dan 15 doktor Program Pascasarjana Unnes di Hotel Patrajasa, kemarin (18/10), Direktur Pascasarjana Unnes, Prof Samsudi mengatakan, sampai saat ini pihaknya terus melakukan berbagai penguatan untuk menuju lembaga pengembangan dan penyebarluasan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni bertaraf internasional.

Misalnya dari sisi akademik, ia mengatakan, pihaknya terus berupaya memberikan layaan secara optimal mulai dari pengembangan kurikulum, konten perkuliahan, pemantauan perkuliahan secara online, serta peningkatan kualifikasi dosen.

“Dosen pascasarjana itu kan minimal harus berjenjang pendidikan doktor. Dan itu yang saat ini terus kita dorong meskipun saat ini Pascasarjana Unnes telah mempunyai sekitar 150 doktor dan 60 profesor,” ucapnya.

 Selain itu, juga dilakukan penguatan dengan melakukan pengembangan prodi baru. Selama ini, pasacasarjana Unnes telah memiliki 13 prodi dan lima konsentrasi pada jenjang pendidikan S2. Sementara untuk S3, terdiri empat prodi, meliputi Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Bahasa Indonesia, Pendidikan Olahraga, dan Manajemen Pendidikan.

“Tahun ini kami sudah mengajukan ijin kepada Dirjen Dikti untuk mengembangkan lima prodi baru. Kemungkinan besar prodi-prodi baru tersebut sudah bisa kami buka pada 2012 nanti,” ujarnya.

Samsudi menyebutkan, lima prodi baru yang bakan dibuka itu terdiri pendidikan ekonomi (S2), pendidikan kejuruan (S2), pendidikan seni (S3), pendidikan IPA (S3), dan pendidikan matematika (S3).

 “Semua itu kami kembangkan dengan tetap berorientasi pada kebutuhan masyarakat. Tiga tahun terakhir minat masyarakat terhadap pendidikan pascasarjana terbilang meningkat. Ini menjadi indikasi bahwa kebutuhan pendidikan pascasarjana kian dibutuhkan,” ucapnya.

Samsudi juga mengatakan, penguatan lembaga juga dilakukan dengan melakukan kerjasama dan pengayaan dengan berbagai universitas, baik di dalam maupun luar negeri melalui program dual master degree, seperti di antaranya dengan Belgia, Ohaio, Amerika, Indiana, dan Australia. (sna/nji)



Siswa SMKN 2 Kendal Juara LKS

LIGAN Budipratomo, Siswa SMKN 2 Kendal, menjuarai Lomba Kompetensi Siswa (LKS) XX Tingkat Provinsi Jateng khusus teknik refrigerasi, yang digelar di SMKN 2 Kendal, kemarin. Dengan demikian dia berhak mewakili Jawa Tengah, untuk maju di tingkat nasional.

Ligan, mengalahkan siswa-siswa lain yang mewakili  Pati, Kudus, Grobogan, Semarang, Salatiga, Kendal, Pekalongan, Banyumas, Wonosobo, Magelang, Klaten dan Surakarta. Menurut pembina siswa SMKN 2 Kendal, Sudar, pihaknya merasa bangga dan senang dengan siswanya yang berhasil meraih juara LKS teknik refrigerasi XX. “Tahun kemarin siswa kami juga menang di tingkat provinsi. Tapi di tingkat nasional hanya meraih juara harapan,” kata Sudar.

Diadakannya lomba LKS Teknik Refrigerasi XX  tingkat provinsi di SMKN 2 Kendal, menurut Sudar, karena SMKN 2 Kendal dinilai paling lengkap dan memadai sarana dan prasarana khusus teknik refrigerasi. Namun kegiatan tersebut LKS secara umum dipusatkan di Pati.

“SMKN 2 Kendal dinilai paling memadai khusus untuk teknik refrigerasi. Sebelumnya kita juga sudah pernah menjadi tuan rumah pada LKS tingkat nasional, jadi di tingkat provinsi kita sudah dianggap layak,” kata Dwianto, Plt Kepala Dikpora Kendal kemarin.

Dwianto mengatakan, tujuan diadakannya LKS untuk mengukur tingkat penguasaan kompetensi siswa sesuai standar yang digunakan dalam dunia usaha dunia industry (DuDI). “Lomba ini untuk mengetahui tingkat penguasaan kompetensi siswa sesuai standart yang digunakan oleh DuDI,” katanya.

Lebih lanjut dikatakannya, peserta lomba merupakan juara I hasil seleksi di masing-masing kota/kabupaten. Pesertanya dari 12 kabupaten/kota, yaitu Pati, Kudus, Grobogan, Semarang, Salatiga, Kendal, Pekalongan, Banyumas, Wonosobo, Magelang, Klaten, dan Surakarta.

“Kendal diwakili Ligan Budi Pratomo, siswa SMKN 2 Kendal kelas XII jurusan teknik pendingin dan tata udara,” ungkapnya.

Dwianto menjelaskan, juara I hasil seleksi LKS tersebut, bakal mewakili Jateng pada tingkat nasional tahun 2011-2012. Menurutnya, untuk mendapatkan calon peserta LKS dengan kualifikasi DuDI dan obyektifitas hasil lomba, maka juri LKS refrigrasi itu merupakan praktisi dari DuDI yang memiliki kualifikasi.
“Juara I ini, nanti mewakili pada tingkat nasional tahun 2011-2012,” jelasnya.

Dia menambahkan, materi yang dikerjakan oleh para peserta antara lain yaitu job tugas/ materi, pengelasan pipa, pemasangan AC dan showcase. Dari seluruh materi diperkirakan yang paling sulit adalah pengelasan pipa. Selain teknik refrigrasi, SMKN 2 Kendal juga mengirimkan wakilnya pada beberapa jenis perlombaan LKS tersebut, seperti control industry, mekatronika, konversi wairing, cabinet making, multimedia, tata busana, perikanan, dan welding.

“Apabila Ligan bias meraih juara I tingkat nasional, akan beri tiket PP ke Singapura secara gratis,” kata Dwi, untuk memotivasi siswa SMKN 2 tersebut. (iyo/nji)

Annisa Nugraeni, Seimbangkan Teori dan Praktik

Annisa Nugraeni
SEORANG mahasiswa dituntut kreatif dalam mengembangkan keilmuannya pada realitas kehidupan. Terutama setelah menyerap teori dari bangku kuliah. Hal ini sangat penting bagi kesiapan menerjuni kehidupan bermasyarakat seusai menyandang gelar sarjana. Namun, dari sekian banyak mahasiswa, hanya beberapa yang menyadari. Salah satunya adalah Annisa Nugraeni, mahasiswa Fisip Jurusan Ilmu Komunikasi Undip.

Putri bungsu pasangan H Soekimin dan Hj Mardiyatun ini berhasil didaulat menjadi salah satu lulusan terbaik dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,60 pada wisuda yang digelar Undip di Hotel Patra Semarang Jalan Sisingamangaraja Candi Baru, kemarin (24/10).

“Kuliah hanya memberikan teori, sehingga menjadi mahasiswa harus pandai mempraktikkan di dunia nyata. Hal ini akan tampak betapa pentingnya antara teori dan praktik. Jadi, tidak hanya pandai bicara, tapi terjun secara langsung,” ujar Annisa, begitu ia akrab disapa.

Prestasi yang diraihnya sekarang, dilaluinya dengan usaha keras. Ia mengaku bahwa kesempatan yang dimilikinya semasa muda dipergunakan secara bijak dalam menempuh pendidikan. Tak berlebihan jika ia menghabiskan waktunya untuk belajar dan mengembangkan dengan membaur di dunia luar.

“Terpenting adalah berani dan memiliki minat kuat untuk bisa. Proses itu tidak gampang, setiap perjalanannya tak jarang akan menemui rintangan. Tapi jangan putus asa dan anggap itu sebagai motivasi diri,” tuturnya.

Selain itu, Annisa aktif mengikuti organisasi sebagai bentuk kegemarannya mempelajari kebudayaan-kebudayaan baru dan lahan membangun hubungan. Seperti LSM Dejavato Foundations Jalan Bukit Panjangan Asri Blok M /7 Semarang. Dari itu, ia diutus ke Spanyol pada Juli 2009 hingga Februari 2010 sekaligus sebagai magang kuliah.

“Di sana saya mendapat banyak pelajaran sosial, bagaimana membantu masyarakat Indonesia dengan bekerjasama orang asing,” lanjut dara kelahiran Semarang, 17 Juni 1988 ini.

Ia menambahkan sebagai generasi muda haruslah membuka diri untuk pengetahuan-pengetahuan nonakademis. Pasalnya, masyarakat yang akan dihadapi memiliki persoalan kompleks. “Kuliah memberikan pelajaran bagus, tapi lebih bagus bila ditambah dengan pengalaman berkehidupan secara langsung,” ucapnya.

Di keluarga, ia memiliki tiga saudara yaitu Henny Puspaningrum, Familla DN, dan Fajar Ismail. Ia tak segan bertanya guna memperluas wawasan. Bahkan, Annisa tak segan memberikan kritik membangun kepada saudara-suadaranya.

H Soekimin, ayah kandungnya, membenarkan akan hal itu. Karakter kuat dan rasa ingin tahu membawa Annisa menjadi kebanggaan keluarga maupun institusi Undip.
“Annisa cukup kuat pendiriannya, percaya diri, dan tidak gampang menyerah. Kami bangga ia bisa berprestasi,” ujarnya.

Ditambahkan bahwa sebagai orangtua, Soekimin tak ingin mengekang atas keinginan anak-anaknya. Termasuk Annisa yang memilih kuliah dengan mengembangkan langsung ilmu di salah satu organisasi kemasyarakatan. “Selagi itu positif, orangtua pasti mendukung,” papar pria yang berkediaman di Jalan Srinindito VII/50 Semarang ini. (wika setiawan/nji)

Welcome Kampus Asing

Written By Harian Semarang on Selasa, 25 Oktober 2011 | 06.33

Jangan Tolak Kesempatan

Akhir-akhir ini ada berita heboh tentang akan beroperasinya perguruan tinggi asing (PTA) di Indonesia. Ini mempunyai keuntungan sekaligus kerugian bagi Indonesia, khususnya dalam bidang pendidikan. Masuknya PTA ke Indonesia akan menguntungkan pendidikan di Indonesia karena selama ini kita tahu pendidikan di Indonesia belum bonafid.

Jika PTA positif masuk, maka pendidikan di Indonesia akan bertambah maju. Sebagaimana kita ketahui bahwa para profesor dan guru besar yang ada di hampir setiap kampus di bangsa ini, biasanya jebolan luar negeri.
Tidak sedikit mahasiswa mati-matian mencari beasiswa ke luar negeri. Karena dirasa, kuliah di luar negeri jauh lebih berbobot daripada kuliah di indonesia. Tidak sedikit tayangan film luar yang menggambarkan kemajuan kampus mereka.

Lihat saja seperti di film Love Story in Hardvard atau 3 Idiot. Film-film tersebut menggambarkan jam perkuliahan yang sangat efektif dan dosennya sangat kaya akan kreativitas  sebagai fasilitator mahasiswa saat kuliah berlangsung. Ini membuktikan,  bahwa kualitas PTA dengan PTN itu sangat jauh berbeda, bagai langit dan bumi.

Maka, kapan lagi indonesia akan maju jika kesempatan ini dibiarkan begitu saja. Jangan mudah menuding  PTA sebagai agen kapitalis yang akan menambah kemiskinan di negeri ini. Mari  kita sedikit melihat ke belakang. Dulu, Malaysia pernah menjadi muridnya Indonesia dan sekarang dia sudah maju. Bahkan bagi mahasiswa kita, negeri jiran itu sudah menjadi salah satu menu favorit mereka untuk kuliah ke luar negeri. Lantas, kapan indonesia dapat menyusulnya? (Khotibul Umam, mahasiwa Syariah IAIN Walisongo Semarang, santri Darun Najah Jrakah)

Jangan Biarkan Indonesiaku Dijajah

RENCANA akan diperbolehkannya perguruan tinggi asing (PTA) di Indonesia menjadi berita heboh di kalangan mahasiswa. Pemerintah menilai hal ini akan meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, karena kita dapat belajar dari kurikulum mereka yang sudah melonjak tinggi. Keberadaanya akan memudahkan warga Indonesia yang ingin kuliah di PTA dengan tidak mengeluarkan biaya untuk pergi keluar negeri.

Dalam jangka pendek, mungkin saja penilaian pemerintah akan terwujud. Mereka (orang asing) akan mematuhi peraturan pemerintah terhadap PTA tersebut. Tetapi, kita harus memikirkan akibat yang akan terjadi dalam jangka waktu panjang.

Awalnya, ketika PTA dibangun, maka mayoritas mahasiswa akan memilih kuliah di sana. Sehingga perguruan tinggi negari (PTN) terancam punah karena dinilai kurang berkualitas. Berkaca pada produk yang sering dikonsumsi warga kita, yang dominan menggunakan produk luar dibanding produk dalam negeri. Ini terjadi karena produk luar dinilai lebih berkualitas. Nah, itulah yang terjadi ketika PTA dibangun, mahasiswa akan lebih memilih kuliah di PTA, sehingga PTN semakin kehilangan mahasiswa.

Banyaknya mahasiswa Indonesia yang kuliah di PTA, akan memudahkan orang asing menanamkan ideologi kapitalisme dan liberalisme. Akibatnya, hilanglah kaderisasi Indonesia yang berjiwa Pancasila dan nasionalisme. Jiwa yang terkontaminasi ideologi kapitalisme tidak akan memikirkan sesama.

Terjadilah, yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Akhirnya persatuan akan hancur. Jika ini terjadi, sangat tidak mustahil Indonesia akan dijajah untuk yang kesekian kalinya. (Mariatul Kiptiyah, mahasiswa Syariah IAIN Walisongo Semarang, Anggota CSS MORA).

Pembeli adalah Raja

MASUKNYA perguruan tinggi asing di Indonesia akan melecut semangat PTN dan PTS untuk terus meningkatkan kualitasnya agar tidak kalah bersaing. Perguruan tinggi dalam negeri seharusnya menganggap perguruan tinggi asing sebagai mitra supaya kemajuan luar negeri dapat diimplementasikan dan diaktualisasikan dalam konten indonesia.  Jadi hadirnya perguruan tinggi asing jangan hanya dianggap sebagai penggerus eksistensi perguruan tinggi lokal.

Jamak diketahui, sejak WTO menyatakan bahwa pendidikan bagian dari perdagangan. Muncullah istilah liberalisasi dalam pendidikan yang artinya hukum ekonomi pasar bebas juga bermain dalam dunia akademik perguruan tinggi. Hal ini menimbulkan kekhawatiran dari perguruan tinggi lokal akan kalah bersaing dengan perguruan tinggi asing yang notabene lebih maju. Tak ayal, hubungan perguruan tinggi dengan mahasiswa tidak hanya hubungan guru dengan murid akan tetapi juga hubungan antara penyedia jasa dan costumer.

Oleh karena itu, pengelola perguruan tinggi lokal harus mampu menjamin kepuasan costumer. Pengelola perguruan tinggi lokal jangan hanya memberlakukan mahasiswa sebagai produk tetapi pembeli adalah raja. Perguruan tinggi harus memastikan kepuasan costumer tercapai pada setiap tahapan interaksi dengan universitas.

Jika kedekatan customer sudah mencapai tingkat “pelanggan”, maka brand perguruan tinggi itu akan selalu diusungnya. Sehingga tak perlu lagi takut kalah saing dengan perguruan tinggi asing.

Langkah terakhir dipegang oleh pemerintah. Akan dibawa ke mana nasib perguruan tinggi lokal di Indonesia. Jika pemerintah tak mampu menghadapi manuver perguruan tinggi asing, mungkin nasib perguruan tinggi lokal akan berujung seperti usaha kecil menengah (UKM) yang hancur diserang barang Cina yang lebih “murah” akibat perdagangan bebas. (Muhammad Iqbal, mahasiswa Fakultas Syariah IAIN Walisongo Semarang, anggota CSS MORA).

Pintu Masuk Ideologi Asing

WACANA pembukaan perguruan tinggi asing (PTA) di Indonesia yang muncul pada pembahasan RUU Pendidikan Tinggi layaknya perlu digodok sampai benar-benar matang. Pasalnya, wacana ini langsung mendapatkan kritikan keras dari beberapa perguruan tinggi) di Indonesia dengan berbagai alasan.

Kehadiran PTA memang bisa menjadi terobosan baru dari pemerintah untuk mendongkrak kemajuan pendidikan Indonesia. Tapi, sekarang Indonesia dirasa belum siap dengan semua itu. Banyak PTN yang belum siap untuk bersaing dengan PTA sebagai penyeimbangnya. Tanpa penyeimbang, kehadiran PTA sangatlah berbahaya. PTA akan berkuasa penuh pada dunia pendidikan. Hal itu sangat riskan dan rentan resiko. Salah resikonya adalah pemasukan ideologi asing oleh PTA melalui mahasiswa.

Ideologi yang dimaksud adalah liberalisme dan kapitalisme. Idelogi liberalisme akan merubah suasana pendidikan menjadi bebas dalam artian sebebas-bebasnya. Mulai dari pola pikir, berinteraksi dengan lawan jenis, sampai gaya berpakaian. Sedangkan ideologi kapitalisme akan menjadikan pendidikan sebagai lahan perdagangan (komersil). Nanti dampaknya akan sangat terasa oleh kaum menengah kebawah, karena biaya pendidikan yang akan terus naik.

Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa adanya indikasi yang kurang baik tentang kehadiran PTA di Indonesia. Bukan menjadi pendongkrak kemajuan pendidikan tetapi malah bisa menjadi bumerang. Maka dari itu pemerintah dituntut bersikap bijak atas keputusan yang nantinya dikeluarkan. Pertimbangkan matang-matang dampak positif dan negatif yang akan timbul dengan memperhatikan rakyat kecil sebagai tolak ukur utama. (Noor Aflah, reporter Majalah Zenith, mahasiswa Fakultas Syariah IAIN Walisongo Semarang).


Maksimalkan Tujuan Pendidikan


Melihat tujuan Pendidikan Nasional adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, dan menjadikan warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.

Dari tujuan tersebut mengemangkan kemampuan bangsa, apakah sudah terealisasikan dengan baik?. Jawabanya masih sangat kurang. Bagaimana untuk mengembangkan kemampuan yang dimiliki anak bangsa?, apakah dengan cara membandingkannya dengan pelajar asing?.

Kebijakan pemerintah tentang rencana pertukaran pelajar dengan negara lain dengan maksud agar pendidikan Indonesia berkualitas dan diakui dunia internasional. Ini merupakan kebijakan yang harus dipertimbangkan lagi. Lihat dahulu, apa manfaat dan madharat yang akan terjadi kalau ini benar-benar diadakan.

Kunjungan mahasiswa/pelajar dari luar negeri ditakutkan akan memanfaatkan segala sesuatu yang ada di indonesia.Bisa saja mereka belajar budaya kita dan nantinya akan mengklaim, kerena dibalik kerjasama mereka menyembunyikan misi tersendiri. Dengan muka dan sikap baik, perlahan-lahan mencaplok indonesia.

Tidak harus dengan mengundang mahasiswa asing untuk menunjang pendidikan di negeri kita, maksimalkan saja anak-anak bangsa yang dimiliki negara. Kalau bener-bener dibimbing, penulis menilai anak bangsa tidak akan kalah dengan warga asing,contohnya banyak pelajar Indonesia yang menang olimpiade luar negeri dengan membawa emas.

Sayangnya, pemerintah kurang apresiatif dengan bakat-bakat yang dimiliki anak bangsa dan dibiarkan saja tanpa ada pengembangan bakat mereka sehingga mereka cenderung memilih beasiswa luar negeri dan lebih senang mengabdi di negara orang lain karena di sana lebih dihargai.

Pelajar sendiri malah diabaikan dan lebih mengagung-agungkan pelajar asing. Ini adalah fakta yang terjadi. Memberi beasiswa untuk orang lain, tetapi diri sendiri malah ditelantarkan. Masih banyak anak-anak yang tidak bersekolah karena tidak ada biaya.

Mari kita rubah orientasi pendidikan kita pada tujuan pendidikan semula, bahwa kualitas pendidikan yang baik adalah diukur dari kesejahteraan bangsanya. Kalau hanya mementingkan persaingan dan melupakan bangsa, negara ini akan segara mati karena tidak bisa bersaing dengan yang lain. Kualitas pendidikan sangat penting, tetapi bukan harga mati kalau hanya mengharapkan pujian. Perbaiki intern lebih penting daripada hubungan ekstern agar tidak menjadi bahan tertawaan bangsa-bangsa lain. (Tinwarotul Fatonah, Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam IAIN Walisongo Semarang)
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. HARIAN SEMARANG - Education - All Rights Reserved
Template Created by Mas Fatoni Published by Tonitok
Proudly powered by Blogger