Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Dosen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dosen. Tampilkan semua postingan
09.43
Termoakustika adalah suatu bidang yang berhubungan dengan fenomena fisis di mana perbedaan suhu dapat membangkitkan gelombang bunyi, dan sebaliknya gelombang bunyi dapat menghasilkan perbedaan suhu. Irna akan mempelajari Termoakustika khususnya di bidang Fisika terapan atau aplikasi.
Mantan Mahasiswa Berprestasi IKIP PGRI dan Kopertis VI tahun 2007 itu menjelaskan, alasan dirinya memilih fokus pada Termoakustika karena bidang tersebut dapat dipelajari dengan alat sederhana.
“Beberapa waktu lalu pun saya sudah membuat alat Termoakustika dari loudspeaker dan dihubungkan pada pralon yang ditumpuki mika. Hasil dari pengembangan penelitian tersebut adalah dapat memanfaatkan limbah gas buang AC atau kulkas menjadi energi listrik. Selain itu saya juga membuat prototipe Termoakustika yang berfungsi mengetahui berapa banyak suhu,'' kata perempuan kelahiran Semarang 10 Januari 1984 itu.
Selama tiga tahun kedepan Irna akan belajar di Department Bio Application and System Engineering Tokyo University dari beasiswa pascasarjana luar negeri yang dibiayai oleh Kemdikbud.
Sementara itu, Rektor IKIP PGRI Semarang Dr Muhdi mengatakan, bahwa Irna Farikha merupakan dosen pertama yang mempelajari Termoakustika hingga ke luar negeri. Tentu saja pihak kampus bangga dan mengapresiasi kompetensi dosen yang mendalami atau fokus pada bidang tertentu.
''Di samping itu IKIP PGRI terus memacu dosen lain untuk studi lanjut baik di dalam atau luar negeri. Bahkan kami menargetkan setiap tahun ada 10 hingga 15 dosen untuk melanjutkan kuliah di jenjang S-2 atau S-3,'' katanya. (K3/SMNetwork/njs)
Dosen IKIP PGRI Belajar Termoakustika di Jepang
Written By Unknown on Kamis, 24 Oktober 2013 | 09.43
Termoakustika adalah suatu bidang yang berhubungan dengan fenomena fisis di mana perbedaan suhu dapat membangkitkan gelombang bunyi, dan sebaliknya gelombang bunyi dapat menghasilkan perbedaan suhu. Irna akan mempelajari Termoakustika khususnya di bidang Fisika terapan atau aplikasi.
Mantan Mahasiswa Berprestasi IKIP PGRI dan Kopertis VI tahun 2007 itu menjelaskan, alasan dirinya memilih fokus pada Termoakustika karena bidang tersebut dapat dipelajari dengan alat sederhana.
“Beberapa waktu lalu pun saya sudah membuat alat Termoakustika dari loudspeaker dan dihubungkan pada pralon yang ditumpuki mika. Hasil dari pengembangan penelitian tersebut adalah dapat memanfaatkan limbah gas buang AC atau kulkas menjadi energi listrik. Selain itu saya juga membuat prototipe Termoakustika yang berfungsi mengetahui berapa banyak suhu,'' kata perempuan kelahiran Semarang 10 Januari 1984 itu.
Selama tiga tahun kedepan Irna akan belajar di Department Bio Application and System Engineering Tokyo University dari beasiswa pascasarjana luar negeri yang dibiayai oleh Kemdikbud.
Sementara itu, Rektor IKIP PGRI Semarang Dr Muhdi mengatakan, bahwa Irna Farikha merupakan dosen pertama yang mempelajari Termoakustika hingga ke luar negeri. Tentu saja pihak kampus bangga dan mengapresiasi kompetensi dosen yang mendalami atau fokus pada bidang tertentu.
''Di samping itu IKIP PGRI terus memacu dosen lain untuk studi lanjut baik di dalam atau luar negeri. Bahkan kami menargetkan setiap tahun ada 10 hingga 15 dosen untuk melanjutkan kuliah di jenjang S-2 atau S-3,'' katanya. (K3/SMNetwork/njs)
Label:
Berita,
Dosen,
IKIP PGRI,
Pendidikan
11.13
Di ruangan sekitar 10 x 12 meter dan berpendingin di gedung Rektorat Undip inilah Prof dr Sultana MH Faradz PhD menjalankan rutinitas harian sebagai Pembantu Rektor Pengembangan Kerja Sama (PRPKS). Pakar histologi ini juga getol meneliti gangguan perkembangan intelektual dan kerancuan kelamin (interseks).
Ibu tiga anak ini tergabung ke dalam tim penyesuaian kelamin laboratorium genetika di RSUP Dr Kariadi. Tim tersebut antara lain meliputi dokter anak, ahli hormon hingga psikiater dan psikolog. Sejak 2001, laboratorium itu didirikan hingga kini lebih dari 500 pasien interseks yang telah dirawat.
Dosen genetika medik pada program Pascasarjana Undip ini mengatakan, kerancuan kelamin adalah penyakit dan harus diobati. Hanya saja, obat ini mahal dan tidak tersedia di Tanah Air. Karena itu, pihaknya menjalani kerja sama dengan Belanda, sehingga mendapat bantuan obat ataupun pembacaan hasil tes yang sebelumnya dikirimkan ke sana.
Pada mulanya, istri dr M Hussein ini tergugah menggeluti penelitian genetika karena merasa prihatin terhadap banyaknya pasien dengan kerancuan kelamin yang datang berobat. Terlebih mereka cenderung berasal dari kalangan ekonomi lemah dan terkadang untuk ongkos transportasi pun tidak punya, ketika mereka harus datang kontrol.
’’Belum lagi jika masuk pada pemeriksaan hormon, biayanya mahal karena sekali periksa bisa mencapai Rp 200.000. Lantas terbersit ide bagaimana membantu mereka melalui kegiatan usaha,’’ katanya, kemarin.
Dengan difasilitasi Pemprov, berdiri warung makan yang melayani mahasiswa kedokteran Undip. Kegiatan usaha itu dikelola pasien kerancuan kelamin yang tergabung pada Forum Komunikasi Interseks Indonesia (Fokis). Para pasien interseks tersebut menerima gaji, sedangkan keuntungan dari hasil penjualan warung digunakan untuk menolong penderita interseks lainnya yang membutuhkan.
Dicurigai
Hal itu terjadi ketika menangani penderita interseks yang mengalami gangguan perut. Dari keterangan adik pasien, dia mencari tahu siapa dokter yang merawatnya. Perjuangan Sultana tidak berhenti di situ saja. Sebab, dokter tersebut telah berpindah rumah sakit.
’’Saya diberi nomor dokter tersebut, tapi nomor telepon rumah. Setelah bisa dihubungi dan yang menerima istrinya, ternyata saya malah dicurigai dikira ada apa-apa dengan dokter tersebut,’’ katanya sembari tersenyum.
Setelah bisa diketahui nomor ponsel tersebut, baru diketahui bahwa dokter yang menangani penderita interseks dengan gangguan perut ini tidak tahu. Dokter tersebut mengatakan, pasien tidak cerita sehingga tidak dilakukan pemeriksaan alat kelamin. Sebaliknya, jika pemeriksaan alat kelamin dilakukan sudah pasti si pasien menolak.
’’Tentu pasien menolak, lha wong yang sakit perut tapi kok alat kelamin ikut diperiksa. Terkadang etika ketimuran kita tidak memungkinkan untuk memeriksa alat kelamin. Tapi setelah diperiksa, ternyata benar alat kelaminnya rancu,’’ imbuhnya.
Atas dedikasinya tersebut, Sultana dinobatkan Freedom Institute sebagai salah seorang pakar Indonesia yang mendalami dan mengembangkan genetika untuk menghadapi sejumlah masalah besar yang memengaruhi mutu kesehatan, pendidikan, dan layanan masyarakat sebuah bangsa.
Sumbangan ilmiahnya yang paling menonjol adalah pemahaman aspek seluler dan molekuler dari kelambanan intelektual dan kerancuan kelamin, beserta pewarisan genetis dan penanganannya.
Sumbangannya tak terbatas pada kajian laboratorium tapi meluas sampai ke pembangunan institusi. Wanita kelahiran Purbalingga, 2 Februari 1952 ini memrakarsai berdirinya program Magister of Genetic Counseling yang pertama di Asia Tenggara. Program ini telah menghasilkan para konselor genetik dari beberapa daerah di Indonesia. (Hartatik/JBSM/15)
Prof dokter Sultana MH Faradz PhD: Obat Kerancuan Kelamin Mahal
Written By amoy ya annisaa on Selasa, 28 Agustus 2012 | 11.13
SEMARANG- Tahun ini, Freedom Institute menganugerahkan penghargaan Achmad Bakrie kepada tokoh-tokoh inspiratif, salah satunya pakar histologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (Undip), Prof dokter Sultana MH Faradz PhD. Seperti apa sepak terjang sang profesor itu dalam mengembangkan ilmu genetika?
Di ruangan sekitar 10 x 12 meter dan berpendingin di gedung Rektorat Undip inilah Prof dr Sultana MH Faradz PhD menjalankan rutinitas harian sebagai Pembantu Rektor Pengembangan Kerja Sama (PRPKS). Pakar histologi ini juga getol meneliti gangguan perkembangan intelektual dan kerancuan kelamin (interseks).
Ibu tiga anak ini tergabung ke dalam tim penyesuaian kelamin laboratorium genetika di RSUP Dr Kariadi. Tim tersebut antara lain meliputi dokter anak, ahli hormon hingga psikiater dan psikolog. Sejak 2001, laboratorium itu didirikan hingga kini lebih dari 500 pasien interseks yang telah dirawat.
Dosen genetika medik pada program Pascasarjana Undip ini mengatakan, kerancuan kelamin adalah penyakit dan harus diobati. Hanya saja, obat ini mahal dan tidak tersedia di Tanah Air. Karena itu, pihaknya menjalani kerja sama dengan Belanda, sehingga mendapat bantuan obat ataupun pembacaan hasil tes yang sebelumnya dikirimkan ke sana.
Pada mulanya, istri dr M Hussein ini tergugah menggeluti penelitian genetika karena merasa prihatin terhadap banyaknya pasien dengan kerancuan kelamin yang datang berobat. Terlebih mereka cenderung berasal dari kalangan ekonomi lemah dan terkadang untuk ongkos transportasi pun tidak punya, ketika mereka harus datang kontrol.
’’Belum lagi jika masuk pada pemeriksaan hormon, biayanya mahal karena sekali periksa bisa mencapai Rp 200.000. Lantas terbersit ide bagaimana membantu mereka melalui kegiatan usaha,’’ katanya, kemarin.
Dengan difasilitasi Pemprov, berdiri warung makan yang melayani mahasiswa kedokteran Undip. Kegiatan usaha itu dikelola pasien kerancuan kelamin yang tergabung pada Forum Komunikasi Interseks Indonesia (Fokis). Para pasien interseks tersebut menerima gaji, sedangkan keuntungan dari hasil penjualan warung digunakan untuk menolong penderita interseks lainnya yang membutuhkan.
Dicurigai
Perjalanan anggota American Society of Human Genetics dan Human Genetics Society Australia itu dalam membantu pasien interseks tidak hanya berhenti di situ saja. Untuk sekadar melacak riwayat kesehatan pasien, reviewer riset Iptek Kedokteran Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kemenkes ini kerap mendapat tekanan keluarga pasien. Tidak hanya itu saja, dia juga pernah dicurigai oleh istri dokter yang merawat pasien itu sebelumnya.
Hal itu terjadi ketika menangani penderita interseks yang mengalami gangguan perut. Dari keterangan adik pasien, dia mencari tahu siapa dokter yang merawatnya. Perjuangan Sultana tidak berhenti di situ saja. Sebab, dokter tersebut telah berpindah rumah sakit.
’’Saya diberi nomor dokter tersebut, tapi nomor telepon rumah. Setelah bisa dihubungi dan yang menerima istrinya, ternyata saya malah dicurigai dikira ada apa-apa dengan dokter tersebut,’’ katanya sembari tersenyum.
Setelah bisa diketahui nomor ponsel tersebut, baru diketahui bahwa dokter yang menangani penderita interseks dengan gangguan perut ini tidak tahu. Dokter tersebut mengatakan, pasien tidak cerita sehingga tidak dilakukan pemeriksaan alat kelamin. Sebaliknya, jika pemeriksaan alat kelamin dilakukan sudah pasti si pasien menolak.
’’Tentu pasien menolak, lha wong yang sakit perut tapi kok alat kelamin ikut diperiksa. Terkadang etika ketimuran kita tidak memungkinkan untuk memeriksa alat kelamin. Tapi setelah diperiksa, ternyata benar alat kelaminnya rancu,’’ imbuhnya.
Atas dedikasinya tersebut, Sultana dinobatkan Freedom Institute sebagai salah seorang pakar Indonesia yang mendalami dan mengembangkan genetika untuk menghadapi sejumlah masalah besar yang memengaruhi mutu kesehatan, pendidikan, dan layanan masyarakat sebuah bangsa.
Sumbangan ilmiahnya yang paling menonjol adalah pemahaman aspek seluler dan molekuler dari kelambanan intelektual dan kerancuan kelamin, beserta pewarisan genetis dan penanganannya.
Sumbangannya tak terbatas pada kajian laboratorium tapi meluas sampai ke pembangunan institusi. Wanita kelahiran Purbalingga, 2 Februari 1952 ini memrakarsai berdirinya program Magister of Genetic Counseling yang pertama di Asia Tenggara. Program ini telah menghasilkan para konselor genetik dari beberapa daerah di Indonesia. (Hartatik/JBSM/15)
Label:
Dosen,
Pendidikan,
Perguruan Tinggi,
Semarang,
UNDIP
10.11
Indarto Raih Doktor, Penerapan GCG Kurang Efektif
Written By amoy ya annisaa on Kamis, 26 Juli 2012 | 10.11
| Indarto (JBSM/dok) |
SEMARANG- Tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance) menjadi suatu keharusan dalam rangka membangun kondisi perusahaan yang tangguh dan berkelanjutan. Namun banyak perusahaan di Indonesia kurang efektif dalam mengimplementasikan GCG.
Hal diungkapkan dosen USM, Indarto SE MSi dalam Disertasinya pada ujian terbuka doktor Fakultas Ekonomi Undip, baru-baru ini.Indarto mempertahankan disertasi dengan judul ''Peran Mekanisme Good Corporate Governance dan Budaya Organisasi dalam Menciptakan Kecerdasan Kolektif untuk Meningkatkan Keunggulan Bersaing dan Kinerja Berkelanjutan''.
Di depan Promotor, Prof Dr Miyasto SU, Co Promomotor I, Prof Dr Sugeng Wahyudi MM, dan Co Promotor II, Prof Dr Augusty Tae Ferdinand MBA, Indarto mengatakan, tidak efektifnya implementasi GCG di Indonesia disebabkan oleh perusahaan masih terfokus pada kinerja jangka pendek (profit jangka pendek), masih sebatas memenuhi tuntutan kepatuhan pada regulasi,kegagalan beradaptasi dengan perubahan yang cepat dan masih rendahnya orientasi terhadap etika dalam bisnis.
Selain itu juga kegagalan perusahaan dalam meredam konflik dan membangun sinergi dari para stakeholder-nya, serta kurangnya keterbukaan informasi dan belum menempatkan budaya sebagai dasar membangun GCG.
''Singkatnya, belum terwujud kecerdasan kolektif dalam proses implementasi GCG
di Indonesia,'' kata Indarto.
Menurutnya, penelitiannya ini mendasarkan pada Resource Based View dan Agency theory. Proposisi baru pada penelitian ini adalah proposisi kecerdasan kolektif yang merupakan kapabilitas organisasi yang diharapkan dapat meningkatkan efektifitas implementasi GCG dan budaya organisasi untuk mewujudkan keunggulan bersaing dan kinerja berkelanjutan.
Kecerdasan kolektif menunjuk pada kemampuan berpikir dan bertindak visioner, inovatif, aspiratif dan etis yang dilandasi oleh nilai-nilai kebersamaan dan keharmonisan. Kecerdasan kolektif diproksi dengan inovasi bisnis etis dan kolaborasi harmonis.
''Dalam penelitian ini terbukti bahwa kecerdasan kolektif mampu berperan dalam menciptakan keunggulan bersaing dan kinerja berkelanjutan melalui berkurangnya risiko keagenan, terciptanya hubungan harmonis dari seluruh stakeholder sehingga semua stakeholder merasa yakin dengan pertaruhannya di perusahaan.
Hal diungkapkan dosen USM, Indarto SE MSi dalam Disertasinya pada ujian terbuka doktor Fakultas Ekonomi Undip, baru-baru ini.Indarto mempertahankan disertasi dengan judul ''Peran Mekanisme Good Corporate Governance dan Budaya Organisasi dalam Menciptakan Kecerdasan Kolektif untuk Meningkatkan Keunggulan Bersaing dan Kinerja Berkelanjutan''.
Di depan Promotor, Prof Dr Miyasto SU, Co Promomotor I, Prof Dr Sugeng Wahyudi MM, dan Co Promotor II, Prof Dr Augusty Tae Ferdinand MBA, Indarto mengatakan, tidak efektifnya implementasi GCG di Indonesia disebabkan oleh perusahaan masih terfokus pada kinerja jangka pendek (profit jangka pendek), masih sebatas memenuhi tuntutan kepatuhan pada regulasi,kegagalan beradaptasi dengan perubahan yang cepat dan masih rendahnya orientasi terhadap etika dalam bisnis.
Selain itu juga kegagalan perusahaan dalam meredam konflik dan membangun sinergi dari para stakeholder-nya, serta kurangnya keterbukaan informasi dan belum menempatkan budaya sebagai dasar membangun GCG.
''Singkatnya, belum terwujud kecerdasan kolektif dalam proses implementasi GCG
di Indonesia,'' kata Indarto.
Menurutnya, penelitiannya ini mendasarkan pada Resource Based View dan Agency theory. Proposisi baru pada penelitian ini adalah proposisi kecerdasan kolektif yang merupakan kapabilitas organisasi yang diharapkan dapat meningkatkan efektifitas implementasi GCG dan budaya organisasi untuk mewujudkan keunggulan bersaing dan kinerja berkelanjutan.
Kecerdasan kolektif menunjuk pada kemampuan berpikir dan bertindak visioner, inovatif, aspiratif dan etis yang dilandasi oleh nilai-nilai kebersamaan dan keharmonisan. Kecerdasan kolektif diproksi dengan inovasi bisnis etis dan kolaborasi harmonis.
''Dalam penelitian ini terbukti bahwa kecerdasan kolektif mampu berperan dalam menciptakan keunggulan bersaing dan kinerja berkelanjutan melalui berkurangnya risiko keagenan, terciptanya hubungan harmonis dari seluruh stakeholder sehingga semua stakeholder merasa yakin dengan pertaruhannya di perusahaan.
Selain itu juga memampukan perusahaan dalam membangun sumber daya dan kapabilitas unik yang menjadi sumber keunggulan, meningkatkan efektivitas GCG dan membantu mentransformasi
pengetahuan kedalam praktek-praktek bisnis terbaik serta terbangunnya reputasi perusahaan yang baik.
Dalam ujian tersebut dosen FE USM kelahiran Magelang, 15 Mei 1969 itu dinyatakan lulus dengan predikat cumlaude. (B18/jbsm14)
pengetahuan kedalam praktek-praktek bisnis terbaik serta terbangunnya reputasi perusahaan yang baik.
Dalam ujian tersebut dosen FE USM kelahiran Magelang, 15 Mei 1969 itu dinyatakan lulus dengan predikat cumlaude. (B18/jbsm14)
Label:
Doktor,
Dosen,
Pendidikan,
Perguruan Tinggi,
Semarang,
USM
11.17
"Beliau sering bercerita kepada kami. Hingga kami benar-benar memperhatikan dan membuat kami tertarik," jelas dosen Jurusan Sejarah Undip ini.
Selain itu, dirinya dari awal memang tertarik dengan ilmu sosial. "Mulai sejak SMA, saya sudah tertarik ilmu sosial," jelas ayah satu putri ini.
Dirinya mengaku, terkadang merasa prihatin dengan anak-anak muda jaman sekarang yang tidak tertarik pada sejarah. "Karena seolah mereka tidak punya masa lalu," terang pria kelahiran Temanggung 19 Juli 1983 ini.
Diakuinya, kecenderungan saat ini, banyak orang mulai melupakan ilmu sejarah. "Terlihat dari tidak terlalu banyaknya mahasiswa yang masuk di jurusan Sejarah," jelasnya.
Upaya yang dilakukan untuk mencintai sejarah, diantaranya mulai mencintai sejarah yang berasal dari sekitarnya. "Misalnya mulai memahami Kota Semarang, karena saya yakin pasti banyak yang belum tahu seluk-beluk Semarang, salah satunya dengan bangunan-bangunan bersejarah," ujar dosen yang mengajar mata kuliah Metode Sejarah, Sejarah Islam serta Sejarah Barat/Eropa ini.
Sementara itu, mengenai karir, dirinya memang bercita-cita menjadi seorang pengajar. "Apalagi ayah saya dulu juga ngajar di IAIN Walisongo. Itu juga yang memotivasi," kata dia.
Akhirnya, setelah lulus dari S2 Ilmu Sejarah Undip, saat itu pula ada kesempatan untuk menjadi dosen. "Undip membuka formasi untuk dosen Sejarah, alhamdulillah saya diterima," jelasnya yang sudah bergabung dengan Undip sejak tahun 2009 lalu ini.(Awi/14)
Tertarik Sejarah Karena Guru
Written By amoy ya annisaa on Senin, 23 Juli 2012 | 11.17
Awal ketertarikan Rabith Jihan Amaruli terhadap ilmu sejarah berawal ketika salah seorang guru SMA bisa menyampaikan materi pelajaran sejarah dengan menarik.
"Beliau sering bercerita kepada kami. Hingga kami benar-benar memperhatikan dan membuat kami tertarik," jelas dosen Jurusan Sejarah Undip ini.
Selain itu, dirinya dari awal memang tertarik dengan ilmu sosial. "Mulai sejak SMA, saya sudah tertarik ilmu sosial," jelas ayah satu putri ini.
Dirinya mengaku, terkadang merasa prihatin dengan anak-anak muda jaman sekarang yang tidak tertarik pada sejarah. "Karena seolah mereka tidak punya masa lalu," terang pria kelahiran Temanggung 19 Juli 1983 ini.
Diakuinya, kecenderungan saat ini, banyak orang mulai melupakan ilmu sejarah. "Terlihat dari tidak terlalu banyaknya mahasiswa yang masuk di jurusan Sejarah," jelasnya.
Upaya yang dilakukan untuk mencintai sejarah, diantaranya mulai mencintai sejarah yang berasal dari sekitarnya. "Misalnya mulai memahami Kota Semarang, karena saya yakin pasti banyak yang belum tahu seluk-beluk Semarang, salah satunya dengan bangunan-bangunan bersejarah," ujar dosen yang mengajar mata kuliah Metode Sejarah, Sejarah Islam serta Sejarah Barat/Eropa ini.
Sementara itu, mengenai karir, dirinya memang bercita-cita menjadi seorang pengajar. "Apalagi ayah saya dulu juga ngajar di IAIN Walisongo. Itu juga yang memotivasi," kata dia.
Akhirnya, setelah lulus dari S2 Ilmu Sejarah Undip, saat itu pula ada kesempatan untuk menjadi dosen. "Undip membuka formasi untuk dosen Sejarah, alhamdulillah saya diterima," jelasnya yang sudah bergabung dengan Undip sejak tahun 2009 lalu ini.(Awi/14)
Label:
Dosen,
Pendidikan,
Perguruan Tinggi,
UNDIP
09.10
Untuk itu, dirinya bertugas memberikan bimbingan kepada dosen dan mahasiswa. “Sejauh ini teman-teman mahasiswa dan dosen belum sampai mendetail dalam mengakses info legal di internet,” jelasnya.
Untuk aktivitas perpustakaan Unika, sejauh ini sudah ada komunitas buku yang diikuti oleh mahasiswa. “Namanya Komunitas Cinta Buku," jelas wanita kelahiran Magelang, 19 September 1973.
Untuk pengalaman mengajar yang pernah diikuti juara I pustakawan berprestasi tingkat Kopertis VI ini diantaranya, mengajar di perpustakaan gereja untuk mata kursus katalogisasi serta di kursus pendidikan siapp kerja di perpustakaan 220 jam tentang manajemen perpustakaan.
Karya yang pernah dihasilkan diantaranya modul literasi informasi: orientasi perpustakaan untuk mahasiswa baru, desain banner layanan dan petunjuk ruang perpustakaan dan desain brosur perpustakaan. (awi/16)
Rikarda Ratih Saptaastuti Bimbing Dosen
Written By amoy ya annisaa on Selasa, 17 Juli 2012 | 09.10
SEMARANG-Memberikan bimbingan bagi dosen dan mahasiwa merupakan tugas dari salah satu pustakawan Unika Soegijapranata, Rikarda Ratih Saptaastuti.
Kegiatan yang dilakukannya sehari-hari yakni memberikan materi-materi pelatihan serta mendampingi mahasiswa dan dosen dalam hal literatur. “Karena saat ini, untuk penelusuran informasi melalui internet, ada data yang boleh bersifat ilegal dan legal,” jelasnya.
Untuk itu, dirinya bertugas memberikan bimbingan kepada dosen dan mahasiswa. “Sejauh ini teman-teman mahasiswa dan dosen belum sampai mendetail dalam mengakses info legal di internet,” jelasnya.
Untuk aktivitas perpustakaan Unika, sejauh ini sudah ada komunitas buku yang diikuti oleh mahasiswa. “Namanya Komunitas Cinta Buku," jelas wanita kelahiran Magelang, 19 September 1973.
Untuk pengalaman mengajar yang pernah diikuti juara I pustakawan berprestasi tingkat Kopertis VI ini diantaranya, mengajar di perpustakaan gereja untuk mata kursus katalogisasi serta di kursus pendidikan siapp kerja di perpustakaan 220 jam tentang manajemen perpustakaan.
Karya yang pernah dihasilkan diantaranya modul literasi informasi: orientasi perpustakaan untuk mahasiswa baru, desain banner layanan dan petunjuk ruang perpustakaan dan desain brosur perpustakaan. (awi/16)
Label:
Dosen,
Pendidikan,
Perguruan Tinggi,
Semarang,
UNIKA
14.02
Beberapa waktu lalu, dirinya berhasil menjadi terbaik kedua untuk ketua progdi berprestasi tingkat Kopertis VI tahun 2012. “Tentunya ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi saya, karena bagaimanapun juga perolehan ini bisa menjadi motivasi terutama untuk DKV,” jelasnya, baru-baru ini.
Berhasilnya dia memperoleh prestasi tersebut tak lepas dari nama DKV yang sudah mulai banyak diperbincangkan oleh orang, terutama di Kota Semarang. “Eksistensi DKV sudah mulai kelihatan, terutama di Kota Semarang sendiri,” jelasnya.
DKV sendiri memiliki peran yang cukup baik dalam kaitannya untuk memajukan Kota Semarang. “Setiap seminar atau hal-hal yang kami lakukan, tidak lepas dari membahas potensi Semarang,” jelasnya.
Belum lama ini, DKV menggelar seminar tentang men-3D-kan (mentridikan) Kota Semarang melalui denah yang dibuat dengan melibatkan mahasiswa. “Kami membuat desain Semarang dengan konsep tiga dimensi, saat ini hasilnya memang belum maksimal. Tapi paling tidak itu ide yang bisa kami berikan kepada Semarang,” jelasnya.
Selain itu, beberapa waktu lalu, DKV juga menggelar kegiatan dengan tema mengangkat batik khas Semarang. “Selain itu kami juga mendesain ulang becak, agar alat transportasi ini bisa menjadi Semarang unggul dan lebih dikenal oleh orang luas,” ujarnya.
Capaian-capaian tersebut kemudian dirangkum untuk selanjutnya diperkenalkan kepada warga Semarang. “Dan saya pribadi berhadap agar DKV dikemudian hari bisa menjadi mitra Kota Semarang,” jelasnya.
Seperti halnya saat mengikuti kejuaraan ketua progdi berprestasi tingkat Kopertis VI, dirinya juga membuat karya unggulan dengan berfokus tentang pemahaman dan pengelolaan Kota Semarang. “Kegiatan ini akan lebih optimal dilakukan dengan adanya kerjasama dengan pemkot,” tandas pria kelahiran Bandung, 27 Juni 1967 ini. (awi/15)
Robert Rianto Widjaja: Angkat Batik Khas Semarang
Written By amoy ya annisaa on Senin, 16 Juli 2012 | 14.02
SEMARANG- Banyak peluang yang bisa menjadi penemuan kampus. Demikian dikatakan, Ketua Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Unika Soegijapranata, Ir Robert Rianto Widjaja.
Beberapa waktu lalu, dirinya berhasil menjadi terbaik kedua untuk ketua progdi berprestasi tingkat Kopertis VI tahun 2012. “Tentunya ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi saya, karena bagaimanapun juga perolehan ini bisa menjadi motivasi terutama untuk DKV,” jelasnya, baru-baru ini.
Berhasilnya dia memperoleh prestasi tersebut tak lepas dari nama DKV yang sudah mulai banyak diperbincangkan oleh orang, terutama di Kota Semarang. “Eksistensi DKV sudah mulai kelihatan, terutama di Kota Semarang sendiri,” jelasnya.
DKV sendiri memiliki peran yang cukup baik dalam kaitannya untuk memajukan Kota Semarang. “Setiap seminar atau hal-hal yang kami lakukan, tidak lepas dari membahas potensi Semarang,” jelasnya.
Belum lama ini, DKV menggelar seminar tentang men-3D-kan (mentridikan) Kota Semarang melalui denah yang dibuat dengan melibatkan mahasiswa. “Kami membuat desain Semarang dengan konsep tiga dimensi, saat ini hasilnya memang belum maksimal. Tapi paling tidak itu ide yang bisa kami berikan kepada Semarang,” jelasnya.
Selain itu, beberapa waktu lalu, DKV juga menggelar kegiatan dengan tema mengangkat batik khas Semarang. “Selain itu kami juga mendesain ulang becak, agar alat transportasi ini bisa menjadi Semarang unggul dan lebih dikenal oleh orang luas,” ujarnya.
Capaian-capaian tersebut kemudian dirangkum untuk selanjutnya diperkenalkan kepada warga Semarang. “Dan saya pribadi berhadap agar DKV dikemudian hari bisa menjadi mitra Kota Semarang,” jelasnya.
Seperti halnya saat mengikuti kejuaraan ketua progdi berprestasi tingkat Kopertis VI, dirinya juga membuat karya unggulan dengan berfokus tentang pemahaman dan pengelolaan Kota Semarang. “Kegiatan ini akan lebih optimal dilakukan dengan adanya kerjasama dengan pemkot,” tandas pria kelahiran Bandung, 27 Juni 1967 ini. (awi/15)
Label:
Dosen,
Pendidikan,
Perguruan Tinggi,
Semarang,
UNIKA
13.51
Selain itu, ajang tersebut dianggapnya merupakan kesempatan langka untuk bisa bertemu dengan banyak orang. “Saya berkesempatan untuk bertemu dengan dosen-dosen yang sangat hebat,” jelas Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unika Soegijapranata ini.
Yang utama adalah sebagai ajang untuk rendah hati. “Saya akan bertemu dengan dosen yang lebih hebat, untuk itu saya tidak boleh tinggi hati,” ujar wanita kelahiran Yogyakarta, 22 Februari 1968 ini.
Dirinya juga mengucapkan terimakasih kepada pihak Unika Soegijapranata karena telah memberikan kesempatan kepada para dosen seperti dirinya untuk lebih mengembangkan diri. “Mungkin kalau di tempat lain, kami belum tentu bisa seperti ini. Karena di kampus ini adalah tanah kami, di sinilah kami bisa mengembangkan diri,” jelas Wakil Rektor Bidang Akademik ini.
Sebelum mengikuti lomba tingkat nasional yang akan dilakukan pada minggu depan ini, dirinya berhasil menjuarai dosen berprestasi tingkat VI. “Saat mengikuti lomba di tingkat kopertis tersebut, saya mengikutkan kumpulan karya unggulan selama tiga tahun terakhirnya mengajar,” jelasnya.
Ada tiga aspek yang dinilai, yakni pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat. “Apa saja yang sudah dilakukan selama menjadi pengajar,” tambahnya. Sedangkan untuk karya unggulan yang diangkat bertema ‘Pemodelan Structural Break Rasional Expectation di Dalam Kebijakan Ekonomi Indonesia’. (awi/15)
Dr Angelina Ika Rahutami: Ajang Rendah Hati
Written By amoy ya annisaa on Kamis, 12 Juli 2012 | 13.51
![]() |
Dr Angelina Ika Rahutami (HARSEM/ARIS WW)
|
SEMARANG- Beberapa hari lagi, Dr Angelina Ika Rahutami akan mengikuti lomba dosen berprestasi untuk tingkat nasional. Sejumlah persiapan sudah dilakukannya. Di antaranya, membuat karya tulis baru yang disiapkan dalam waktu dua hari. “Karena untuk minggu depan akan dipresentasikan di lomba dosen berprestasi,” jelasnya, kemarin.
Selain itu, ajang tersebut dianggapnya merupakan kesempatan langka untuk bisa bertemu dengan banyak orang. “Saya berkesempatan untuk bertemu dengan dosen-dosen yang sangat hebat,” jelas Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unika Soegijapranata ini.
Yang utama adalah sebagai ajang untuk rendah hati. “Saya akan bertemu dengan dosen yang lebih hebat, untuk itu saya tidak boleh tinggi hati,” ujar wanita kelahiran Yogyakarta, 22 Februari 1968 ini.
Dirinya juga mengucapkan terimakasih kepada pihak Unika Soegijapranata karena telah memberikan kesempatan kepada para dosen seperti dirinya untuk lebih mengembangkan diri. “Mungkin kalau di tempat lain, kami belum tentu bisa seperti ini. Karena di kampus ini adalah tanah kami, di sinilah kami bisa mengembangkan diri,” jelas Wakil Rektor Bidang Akademik ini.
Sebelum mengikuti lomba tingkat nasional yang akan dilakukan pada minggu depan ini, dirinya berhasil menjuarai dosen berprestasi tingkat VI. “Saat mengikuti lomba di tingkat kopertis tersebut, saya mengikutkan kumpulan karya unggulan selama tiga tahun terakhirnya mengajar,” jelasnya.
Ada tiga aspek yang dinilai, yakni pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat. “Apa saja yang sudah dilakukan selama menjadi pengajar,” tambahnya. Sedangkan untuk karya unggulan yang diangkat bertema ‘Pemodelan Structural Break Rasional Expectation di Dalam Kebijakan Ekonomi Indonesia’. (awi/15)
Label:
Dosen,
lomba,
Pendidikan,
Perguruan Tinggi,
Prestasi,
Semarang,
UNIKA
13.48
Mereka adalah dosen dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Dr Angelina Ika Rahutami dan pustakawan, Rikarda Ratih Saptaastuti. Sebelumnya, mereka telah berprestasi di tingkat Kopertis VI.
Tak hanya itu, namun Ketua Program Studi Desain Komunikasi Visual, Robert Rianto Widjaja juga berhasil meraih juara dua untuk kategori ketua program studi berprestasi dan Christina Vania Utami juga berhasil menjadi juara untuk mahasiswa berprestasi tingkat kopertis VI.
Rektor Unika Soegijapranata, Prof Budi Widianarko mengatakan, pihaknya sangat bangga karena empat anggota keluarga dari perguruan tinggi tersebut bisa memperoleh prestasi yang maksimal untuk tingkat kopertis.
“Untuk itu, Dr Angelina Ika Rahutami dan Rikarda Ratih akan mewakili kopertis VI untuk mengikuti lomba serupa untuk tingkat nasional,” ungkapnya kepada sejumlah wartawan, kemarin.
Dirinya mengatakan, prestasi dari tiga staf serta satu mahasiswa universitas tersebut, mau tidak mau sudah mengangkat reputasi perguruan tinggi tersebut. “Untuk itu, kami berharap, agar mereka bisa berbuat yang terbaik untuk tingkat nasional mendatang,” jelasnya.
Selain itu, perolehan prestasi tersebut juga sudah meningkatkan mutu pelayanan Unika Soegijapranata di mata masyarakat. “Pada gilirannya nanti, keberhasilan individu akan memancar pada pelayanan yang kami berikan kepada masyarakat,” urainya.
Dirinya juga berpesan, agar prestasi tersebut bisa menjadi motivasi bagi dosen dan mahasiswa lain untuk mengikuti jejak mereka. “Karena mereka ini sekaligus menjadi duta kami untuk event-event tingkat nasional maupun internasional,” jelasnya.
Pada kesempatan tersebut, Christina Vania Utami yang pada tahun lalu mendapatkan prestasi sebagai student of the year Unika Soegijapranata mengatakan, sangat senang bisa membawa nama baik kampus.
“Saya banyak mendapatkan pengalaman. Apalagi ketika berhasil menjadi student of the year pada tahun lalu,” jelasnya. Selain mendapatkan sejumlah hadiah, dirinya juga berkesempatan untuk mengikuti konferensi tahunan di Jepang. “Dari dulu saya ingin ke Jepang, akhirnya bisa tercapai karena saya bisa menjadi student of the year,” jelasnya.
Tak hanya bisa bertemu dan mendapatkan banyak teman, namun dirinya juga bisa mengetahui kebudayaan masing-masing negara yang mengikuti konferensi tersebut. “Dan yang membuat saya semakin senang adalah bisa menjadi salah satu mahasiswa berprestasi untuk tingkat Kopertis VI,” tandasnya.(awi)
Dosen dan Pustakawan Unika Maju ke Tingkat Nasional
![]() |
| BERPRESTASI: Dosen, pustakawan dan mahasiswa berprestasi bersama Rektor Unika Soegijapranata (HARSEM/ARIS WASITA WIDIASTUTI) |
SEMARANG- Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang patut berbangga hati. Hal tersebut dikarenakan satu dosen dan pustakawan berhasil maju tingkat nasional untuk lomba dosen dan pustakawan berprestasi.
Mereka adalah dosen dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Dr Angelina Ika Rahutami dan pustakawan, Rikarda Ratih Saptaastuti. Sebelumnya, mereka telah berprestasi di tingkat Kopertis VI.
Tak hanya itu, namun Ketua Program Studi Desain Komunikasi Visual, Robert Rianto Widjaja juga berhasil meraih juara dua untuk kategori ketua program studi berprestasi dan Christina Vania Utami juga berhasil menjadi juara untuk mahasiswa berprestasi tingkat kopertis VI.
Rektor Unika Soegijapranata, Prof Budi Widianarko mengatakan, pihaknya sangat bangga karena empat anggota keluarga dari perguruan tinggi tersebut bisa memperoleh prestasi yang maksimal untuk tingkat kopertis.
“Untuk itu, Dr Angelina Ika Rahutami dan Rikarda Ratih akan mewakili kopertis VI untuk mengikuti lomba serupa untuk tingkat nasional,” ungkapnya kepada sejumlah wartawan, kemarin.
Dirinya mengatakan, prestasi dari tiga staf serta satu mahasiswa universitas tersebut, mau tidak mau sudah mengangkat reputasi perguruan tinggi tersebut. “Untuk itu, kami berharap, agar mereka bisa berbuat yang terbaik untuk tingkat nasional mendatang,” jelasnya.
Selain itu, perolehan prestasi tersebut juga sudah meningkatkan mutu pelayanan Unika Soegijapranata di mata masyarakat. “Pada gilirannya nanti, keberhasilan individu akan memancar pada pelayanan yang kami berikan kepada masyarakat,” urainya.
Dirinya juga berpesan, agar prestasi tersebut bisa menjadi motivasi bagi dosen dan mahasiswa lain untuk mengikuti jejak mereka. “Karena mereka ini sekaligus menjadi duta kami untuk event-event tingkat nasional maupun internasional,” jelasnya.
Pada kesempatan tersebut, Christina Vania Utami yang pada tahun lalu mendapatkan prestasi sebagai student of the year Unika Soegijapranata mengatakan, sangat senang bisa membawa nama baik kampus.
“Saya banyak mendapatkan pengalaman. Apalagi ketika berhasil menjadi student of the year pada tahun lalu,” jelasnya. Selain mendapatkan sejumlah hadiah, dirinya juga berkesempatan untuk mengikuti konferensi tahunan di Jepang. “Dari dulu saya ingin ke Jepang, akhirnya bisa tercapai karena saya bisa menjadi student of the year,” jelasnya.
Tak hanya bisa bertemu dan mendapatkan banyak teman, namun dirinya juga bisa mengetahui kebudayaan masing-masing negara yang mengikuti konferensi tersebut. “Dan yang membuat saya semakin senang adalah bisa menjadi salah satu mahasiswa berprestasi untuk tingkat Kopertis VI,” tandasnya.(awi)
Label:
Dosen,
lomba,
Mahasiswa,
Pendidikan,
Perguruan Tinggi,
Prestasi,
Semarang,
UNIKA
13.44
Diakuinya, dirinya senang berbagi dengan banyak orang mengenai ilmu yang diperolehnya ini. Bahkan untuk meningkatkan ilmu yang dikuasainya tersebut, dirinya saat ini sedang mengambil studi S2 di UGM.
"Untuk S2 ini saya juga mengambil Kedokteran, " jelas wanita kelahiran Surabaya, 5 Mei 1983 itu. Dirinya mengaku senang dengan ilmu Biologi. "Waktu saya masih ambil S1 mengambil Jurusan Biologi di Undip," jelasnya.
Mengenai karir, dirinya mulai mengajar di Unissula sejak tahun 2005. "Tapi tidak langsung di Kedokteran, melainkan di Keperawatan dulu. Saya juga mengajar tentang Biologi, kemudian pada tahun 2010 baru di Kedokteran," jelasnya. (awi/15)
Dina Fatmawati: Senang Berbagi Ilmu
Written By amoy ya annisaa on Selasa, 03 Juli 2012 | 13.44
SEMARANG- Menikmati kala berbagi ilmu dengan banyak orang dirasakan oleh Dina Fatmawati.
Salah satu dosen Fakultas Kedokteran Unissula ini merupakan salah satu dosen muda yang memiliki sejumlah prestasi.
Salah satu dosen Fakultas Kedokteran Unissula ini merupakan salah satu dosen muda yang memiliki sejumlah prestasi.
Beberapa prestasi yang pernah diperolehnya antara lain berhasil memperoleh hibah dari Departemen Kesehatan pada tahun 2010 untuk penelitian kanker payudara. "Selain itu saya juga pernah mendapatkan hibah dari Dikti pada tahun 2010 untuk dosen muda dengan beberapa dosen lain untuk meneliti tentang pigmen," paparnya.
Diakuinya, dirinya senang berbagi dengan banyak orang mengenai ilmu yang diperolehnya ini. Bahkan untuk meningkatkan ilmu yang dikuasainya tersebut, dirinya saat ini sedang mengambil studi S2 di UGM.
"Untuk S2 ini saya juga mengambil Kedokteran, " jelas wanita kelahiran Surabaya, 5 Mei 1983 itu. Dirinya mengaku senang dengan ilmu Biologi. "Waktu saya masih ambil S1 mengambil Jurusan Biologi di Undip," jelasnya.
Mengenai karir, dirinya mulai mengajar di Unissula sejak tahun 2005. "Tapi tidak langsung di Kedokteran, melainkan di Keperawatan dulu. Saya juga mengajar tentang Biologi, kemudian pada tahun 2010 baru di Kedokteran," jelasnya. (awi/15)
Label:
Dosen,
Pendidikan,
Perguruan Tinggi,
Semarang,
UNISSULA
14.35
“Misi dari adanya klinik ini adalah karena kami ingin membantu kaum dhuafa,” jelasnya. Diakuinya, tidak semua warga di daerah tersebut mendapatkan jaminan kesehatan. “Untuk itu mereka perlu dibantu dengan adanya promosi kesehatan ini,” ujar wanita kelahiran Kuala Pembuang, 27 Agustus 1965 ini.
Untuk itu, keberadaan klinik tersebut tidak hanya untuk sarana memeriksakan diri. “Namun juga agar mereka bisa mendapatkan jaminan kesehatan yang lebih baik lagi,” ujar ibu dua anak ini.
Pada dasarnya, dirinya bersama dosen-dosen lain ingin tetap memperhatikan dan fokus pada kebutuhan masyarakat. “Tidak hanya mengobati secara preventif, tetapi juga promotif,” kata dia.
Apalagi, Kelurahan Penggaron Lor merupakan daerah yang jauh dari sarana kesehatan. “Perlu waktu yang cukup lama untuk mendatangi puskesmas terdekat,” kata dia.
Mengenai karir sendiri, dirinya mulai bergabung sebagai bagian dari keluarga besar Unissula sejak tahun 1993. “Awalnya saya di Fisiologi, selanjutnya di bagian anak,” ujar wanita yang hobi olah raga ini. (awi/15)
Membantu Kaum Dhuafa
Written By amoy ya annisaa on Senin, 02 Juli 2012 | 14.35
![]() |
| dr Pujiati SpA (HARSEM/ARIS WASITA WIDIASTUTI) |
SEMARANG- Bisa ikut terjun langsung dalam proyek berdirinya klinik kesehatan yang ada di Kelurahan Penggaron Lor merupakan kebanggaan tersendiri bagi dr Pujiati SpA. Dosen kedokteran bagian anak Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) ini mengaku sangat senang karena bisa membantu kaum dhuafa yang berada di salah satu kelurahan Kecamatan Genuk ini.
“Misi dari adanya klinik ini adalah karena kami ingin membantu kaum dhuafa,” jelasnya. Diakuinya, tidak semua warga di daerah tersebut mendapatkan jaminan kesehatan. “Untuk itu mereka perlu dibantu dengan adanya promosi kesehatan ini,” ujar wanita kelahiran Kuala Pembuang, 27 Agustus 1965 ini.
Untuk itu, keberadaan klinik tersebut tidak hanya untuk sarana memeriksakan diri. “Namun juga agar mereka bisa mendapatkan jaminan kesehatan yang lebih baik lagi,” ujar ibu dua anak ini.
Pada dasarnya, dirinya bersama dosen-dosen lain ingin tetap memperhatikan dan fokus pada kebutuhan masyarakat. “Tidak hanya mengobati secara preventif, tetapi juga promotif,” kata dia.
Apalagi, Kelurahan Penggaron Lor merupakan daerah yang jauh dari sarana kesehatan. “Perlu waktu yang cukup lama untuk mendatangi puskesmas terdekat,” kata dia.
Mengenai karir sendiri, dirinya mulai bergabung sebagai bagian dari keluarga besar Unissula sejak tahun 1993. “Awalnya saya di Fisiologi, selanjutnya di bagian anak,” ujar wanita yang hobi olah raga ini. (awi/15)
Label:
Dosen,
Pendidikan,
Perguruan Tinggi,
Semarang,
UNISSULA
15.03
Dirinya mengatakan, salah satu tantangan yang dirasakannya yaitu pengaruh global yang sangat kuat. "
Mengenai karir, ayah dua anak ini mulai mengajar sejak tahun 1991. "Bahkan saat saya masih tercatat sebagai mahasiswa di IKIP negeri Semarang saya sudah mengajar di SMA Sultan Agung Semarang," jelas guru Bahasa Indonesia kelas 10 ini.
Pria kelahiran Kebumen, 12 Agustus 1969 ini pada tahun 1998 pindah ke SMAN 1 Semarang. "Dari awal saya sudah mengajar Bahasa Indonesia," jelasnya.
Prestasi tak hanya diraihnya saat bekerja. Namun saat kuliah pun Rusmiyanto sudah terbiasa dengan prestasi. "Saya juga pernah menjadi mahasiswa berprestasi di IKIP Semarang serta meraih terbaik pertama untuk menulis apresiasi sastra tingkat Semarang," tukasnya. (awi/15)
Rusmiyanto: Terbiasa Berprestasi
Written By amoy ya annisaa on Senin, 18 Juni 2012 | 15.03
![]() |
| Rusmiyanto (awi/15) |
SEMARANG- Keasyikan mengajar dirasakan oleh Rusmiyanto. Keasyikan tersebut yaitu bisa mempersiapkan calon-calon pemimpin bangsa.
"Apalagi menjadi guru sekarang ini banyak sekali tantangannya," jelasnya kepada Harsem, kemarin.
Dirinya mengatakan, salah satu tantangan yang dirasakannya yaitu pengaruh global yang sangat kuat. "
Kami dituntut untuk tidak hanya menjadi pengajar namun juga guru. Jadi harus memberikan contoh yang baik bagi para siswa-siswinya," ujarnya.
Mengenai karir, ayah dua anak ini mulai mengajar sejak tahun 1991. "Bahkan saat saya masih tercatat sebagai mahasiswa di IKIP negeri Semarang saya sudah mengajar di SMA Sultan Agung Semarang," jelas guru Bahasa Indonesia kelas 10 ini.
Pria kelahiran Kebumen, 12 Agustus 1969 ini pada tahun 1998 pindah ke SMAN 1 Semarang. "Dari awal saya sudah mengajar Bahasa Indonesia," jelasnya.
Tak heran jika dirinya saat ini juga menjadi dosen luar biasa di IKIP PGRI Semarang. "Selain itu saya juga menjadi dosen luar biasa di Unisula. Semuanya di Fakultas Bahasa," ujarnya.
Prestasi tak hanya diraihnya saat bekerja. Namun saat kuliah pun Rusmiyanto sudah terbiasa dengan prestasi. "Saya juga pernah menjadi mahasiswa berprestasi di IKIP Semarang serta meraih terbaik pertama untuk menulis apresiasi sastra tingkat Semarang," tukasnya. (awi/15)
Label:
Dosen,
Guru,
IKIP PGRI,
Pendidikan,
Perguruan Tinggi,
Semarang,
SMA
13.52
70% Dosen Unika Bersertifikasi
Written By Sena on Jumat, 15 Juni 2012 | 13.52
| Rektor Unika menyerahkan sertifikat kepada salah satu dosen. (harsem/dok) |
SEMARANG- 33 Dosen dari Unika Soegijapranata menerima sertifikat dari Dikti. Penyerahan sertifikat dilakukan Rektor Unika Soegijapranata Prof Budi Widianarko di Gedung Mikael lantai tiga, kemarin.
Prof Budi mengatakan, sebelumnya para dosen tersebut telah memenuhi sejumlah syarat yang ditentukan oleh Dikti. "Untuk yang menerima ini paling sedikit jabatannya lektor. Kemudian mereka mengisi borang yang ada, di situ mereka membubuhkan pengalamannya sebagai dosen," jelasnya kepada Harsem saat ditemui usai acara.
Beberapa di antaranya yaitu curicullum vitae atau deskripsi diri. "Yaitu menjelaskan bagaimana mereka menjalankan profesi ini sebelumnya. Sehingga dengan dasar itu kemudian tim penilai akan melihat apakah mereka betul-betul layak mendapatkan sertifikat dosen," ujarnya.
Untuk tim penilainya dilakukan langsung oleh Dikti. "Kami tidak tahu, karena penilaian ini dilakukan secara silang. Melibatkan perguruan tinggi-perguruan tinggi lain di Indonesia," jelasnya.
Dikatakan, sejauh ini ada 132 dosen Unika yang sudah bersertifikasi. "Ini sudah sekitar 70 persen yang sudah bersertifikasi dari 189 dosen yang ada," jelasnya.
Mengenai harapan ke depan, dirinya mengatakan, jika dosen sudah bersertifikasi, maka ada pengakuan kepada universitas tersebut. "Selain itu karena ini bentuknya insentif, tentunya mereka lebih semangat dalam bekerja dan semakin mencintai profesi ini," jelasnya.
Sementara itu, salah satu penerima sertifikat, Dr Octavianus Digdo Hartomo mengatakan, sertifikat tersebut merupakan indikator dari pemerintah untuk memenuhi apa yang telah disyaratkan untuk menjadi dosen yang profesional.
"Ini saya kira sesuatu yang sangat positif. Ini merupakan pengakuan dari pemerintah, sehingga dengan begitu langkah-langkah kita akan disupport," jelasnya.
Dikatakan, selain itu sertifikasi ini juga merupakan bantuan pemerintah kepada PTS. "Kalau hanya mengandalkan dana dari PTS itu sendiri maka akan terbatas. Dengan begini maka kita bisa berlangganan jurnal internasional. Selain itu bisa mengikuti konferensi internasional. Tentu itu dengan anggaran dari kita sendiri," ujarnya.
Untuk itu, anggaran yang disalurkan pemerintah kepada dosen yang sudah bersertifikasi akan bisa digunakan untuk pengembangan diri. "Sehingga kualitas mengajar kami akan menjadi lebih baik. Penelitian kami juga lebih baik," ujarnya. (awi/15)
Label:
Dosen,
Pendidikan,
Perguruan Tinggi
14.00
SEMARANG- Ikut mencerdaskan anak bangsa merupakan satu hal yang memberikan semangat tersendiri bagi, Rini Handayaningsih. Salah satu pengajar Undip ini mengakui sangat mencintai pekerjaannya tersebut. "Saya kira tidak ada hal yang tidak enak. Dari pekerjaan ini tidak ada duka yang saya alami," jelasnya.
Diakuinya, meskipun kesibukannya menggunung, namun Kasubag TU di UPT Humas Undip ini mengaku selalu menikmati hari-harinya. "Bertemu dengan anak-anak muda itu membuat hidup juga semakin muda," ujar wanita kelahiran Malang, 11 September 1958 ini.
Rini mulai mengajar di Undip sejak tahun 90-an. "Awalnya saya sekretaris rektor, saat itu masih dijabat oleh Prof Moeljono," jelasnya. Sekretaris rektor tersebut dijalaninya sejak tahun 1989 hingga 1994. "Setelah itu saya dipindah ke Fakultas Ekonomi dan mengajar D3 Pengantar Kesekretariatan," ujarnya.
Dirinya juga mengajar di Fisip untuk jurusan D3 Public Relations, D3 Marketing serta D3 APS (Administrasi Perkantoran dan Sekretaris) untuk mata kuliah pengembangan kepribadian. "Kalau untuk ekonomi saya juga mengajar D3 Manajemen," tambahnya.
Bahkan yang menjadikannya bangga yaitu saat bertemu dengan orang-orang yang pernah diajarnya dulu. "Biasanya mereka kan kerjaannya di front office, senang sekali rasanya saat mereka masih ingat kepada saya. Itu sangat membanggakan," ujar mahasiswi Sospol Undip angkatan 1978 ini. (awi/15)
Rini Handayaningsih: Jadi Makin Muda
Written By amoy ya annisaa on Kamis, 14 Juni 2012 | 14.00
![]() |
| Rini Handayaningsih (HARSEM/INDRA PRABAWA) |
SEMARANG- Ikut mencerdaskan anak bangsa merupakan satu hal yang memberikan semangat tersendiri bagi, Rini Handayaningsih. Salah satu pengajar Undip ini mengakui sangat mencintai pekerjaannya tersebut. "Saya kira tidak ada hal yang tidak enak. Dari pekerjaan ini tidak ada duka yang saya alami," jelasnya.
Diakuinya, meskipun kesibukannya menggunung, namun Kasubag TU di UPT Humas Undip ini mengaku selalu menikmati hari-harinya. "Bertemu dengan anak-anak muda itu membuat hidup juga semakin muda," ujar wanita kelahiran Malang, 11 September 1958 ini.
Rini mulai mengajar di Undip sejak tahun 90-an. "Awalnya saya sekretaris rektor, saat itu masih dijabat oleh Prof Moeljono," jelasnya. Sekretaris rektor tersebut dijalaninya sejak tahun 1989 hingga 1994. "Setelah itu saya dipindah ke Fakultas Ekonomi dan mengajar D3 Pengantar Kesekretariatan," ujarnya.
Dirinya juga mengajar di Fisip untuk jurusan D3 Public Relations, D3 Marketing serta D3 APS (Administrasi Perkantoran dan Sekretaris) untuk mata kuliah pengembangan kepribadian. "Kalau untuk ekonomi saya juga mengajar D3 Manajemen," tambahnya.
Bahkan yang menjadikannya bangga yaitu saat bertemu dengan orang-orang yang pernah diajarnya dulu. "Biasanya mereka kan kerjaannya di front office, senang sekali rasanya saat mereka masih ingat kepada saya. Itu sangat membanggakan," ujar mahasiswi Sospol Undip angkatan 1978 ini. (awi/15)
Label:
Dosen,
Pendidikan,
Perguruan Tinggi,
Semarang,
UNDIP
15.07
Karakter Kuat, Bangsa Jaya
Written By Sena on Senin, 04 Juni 2012 | 15.07
| Dari kiri ke kanan: Prof Singgih TS, Prof Franz MS dan Dekan FIB Agus Maladi. (harsem/dok) |
SEMARANG- Hanya bangsa yang mampu membangun karakter yang kuat yang akan jadi bangsa yang jaya. Demikian dikatakan Dosen Undip, Prof Singgih Tri Sulistyono dalam seminar nasional “Membangun Karakter Bangsa Melalui Pemantapan Kebudayaan Nasional dan Kesadaran Historis”, kemarin.
Beberapa bangsa yang mampu membangun karakter bangsa dengan kuat yakni Jepang, Cina, Korea serta Singapura. “Bangsa-bangsa yang disebutkan di atas adalah bangsa-bangsa yang mampu membangun karakternya sesuai dengan jatidiri dan landasan budaya mereka,” paparnya.
Artinya, karakter bangsa dapat dibangun dari basis budaya yang telah berkembang dalam sejarah bangsa itu sendiri. “Namun kemudian juga dapat ditambah dan disempurnakan dengan nilai-nilai baru (modern) yang dapat saja berasal dari bangsa-bangsa lain sesuai dengan rekayasa ideal yang dirumuskan oleh bangsa itu sendiri,” jelasnya.
Dengan demikian bangsa yang mengalami sindrom amnesia historis (tidak memiliki kesadaran sejarah) tidak akan mampu membangun masa depannya secara optimal. “Sudah barang tentu rekayasa ideal mengenai karakter bangsa yang dicita-citakan itu dapat selalu diubah dan disempurnakan secara dinamis dari waktu ke waktu sesuai dengan tantangan zaman,” ujar Singgih.
Singgih menegaskan, dalam konteks pembangunan karakter bangsa, wujud budaya lokal yang diangkat sebagai bahan utamanya terutama wujud budaya yang bersifat ideasional (sistem ide) dan behavioral (pola perilaku) yang dapat dipandang sebagai local wisdom (kearifan lokal).
“Misalnya tentang semangat gotong-royong, sopan-santun, menghormati orang yang lebih tua, tepo-saliro, dan sebagainya yang banyak dijumpai pada banyak kebudayaan lokal. Smentara itu nilai-nilai karakter yang tidak dijumpai dalam budaya lokal bisa diadopsi dan diadaptasi dari kebudayaan modern, seperti disiplin, kerja keras, sikap intelektualitas, mandiri, dan sebagainya,” paparnya.
Dalam seminar yang diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Budaya (FIB) di Gedung Pascasarjana Undip Pleburan dihadiri pula Prof Dr Franz Magnis-Suseno dari STF Driyarkarna Jakarta, dan live performance oleh Didik Ninik Thowok. (awi/15)
Label:
Dosen,
Pendidikan,
UNDIP
13.06
Dia mengatakan, sebelum menjadi pengajar, dia sempat aktif bekerja di salah satu stasiun televisi lokal di Semarang. “Saya lima tahun bekerja di TV lokal. Mulai 2006 saya aktif ngajar di Undip,” ujarnya.
Diakuinya, bekerja sebagai jurnalis dengan menjadi pengajar, lebih enak menjadi pengajar. Namun demikian, dirinya merasa beruntung pernah bekerja sebagai jurnalis. “Kalau cita-cita sih saat itu saya pernah ingin meliput daerah terpencil yang sedang konflik. Namun ternyata saya liputannya untuk daerah Semarang saja,” kata dia.
Dikatakan, sejak kecil dirinya memang sudah bercita-cita untuk menjadi jurnalis. “Karena pekerjaan itu penuh dengan tantangan. Ini kan merupakan pelayanan untuk masyarakat,” ujarnya.
Tak hanya itu, namun keuntungan menjadi jurnalis yaitu bisa menjadi orang pertama yang mengetahui info. “Jadi memang jurnalis itu sangat dibutuhkan orang,” tambahnya.
Namun demikian, dia merasa lebih ‘enak’ menjadi pengajar. “Menjadi pengajar jam kerjanya lebih jelas, dan yang pasti waktu untuk keluarga lebih banyak,” tandasnya. (awi/16)
Guru Nurul Hasfi ‘Ogah’ Jadi Jurnalis
Written By amoy ya annisaa on Rabu, 30 Mei 2012 | 13.06
![]() |
| Nurul Hasfi (HARSEM/ARIS WASITA WIDIASTUTI) |
SALAH satu dosen Ilmu Komunikasi Undip, Nurul Hasfi rupanya memiliki ketertarikan di dunia jurnalistis. Untuk itu, meskipun sudah menjadi pengajar, ibu satu anak ini juga masih setiap terhadap jurnalistik. “Saya mengajar ilmu komunikasi untuk konsentrasi jurnalistik,” jelasnya kepada Harsem saat ditemui, kemarin.
Dia mengatakan, sebelum menjadi pengajar, dia sempat aktif bekerja di salah satu stasiun televisi lokal di Semarang. “Saya lima tahun bekerja di TV lokal. Mulai 2006 saya aktif ngajar di Undip,” ujarnya.
Diakuinya, bekerja sebagai jurnalis dengan menjadi pengajar, lebih enak menjadi pengajar. Namun demikian, dirinya merasa beruntung pernah bekerja sebagai jurnalis. “Kalau cita-cita sih saat itu saya pernah ingin meliput daerah terpencil yang sedang konflik. Namun ternyata saya liputannya untuk daerah Semarang saja,” kata dia.
Dikatakan, sejak kecil dirinya memang sudah bercita-cita untuk menjadi jurnalis. “Karena pekerjaan itu penuh dengan tantangan. Ini kan merupakan pelayanan untuk masyarakat,” ujarnya.
Tak hanya itu, namun keuntungan menjadi jurnalis yaitu bisa menjadi orang pertama yang mengetahui info. “Jadi memang jurnalis itu sangat dibutuhkan orang,” tambahnya.
Namun demikian, dia merasa lebih ‘enak’ menjadi pengajar. “Menjadi pengajar jam kerjanya lebih jelas, dan yang pasti waktu untuk keluarga lebih banyak,” tandasnya. (awi/16)
Label:
Dosen,
Guru,
Pendidikan,
UNDIP
14.26
“Ketika kita punya pemahaman Matematika itu mudah, maka setiap ada waktu luang pasti kita akan selalu belajar Matematika. Kebalikannya, jika menganggap Matematika itu sulit maka setiap ada waktu luang pasti malas berlatih Matematika,” jelasnya kepada Harsem saat ditemui diruang kerjanya, kemarin.
Dirinya yang juga merupakan dosen FKIP jurusan Matematika di UKSW Salatiga ini bahkan memiliki harapan terkait dengan Matematika. “Saya ingin suatu hari Matematika tidak lagi menjadi momok bagi para siswa maupun mahasiswa,” jelas pria kelahiran Jepara, 16 Mei 1969 ini.
Hingga saat ini, dirinya sering memberikan pemahaman kepada siswa untuk jangan takut dengan mata pelajaran berhitung ini. “Belajar Matematika itu menyenangkan,” tambahnya.
Sementara itu, mengenai keasyikan mengajar, dia mengakui sangat menyenangkan bisa mengajar siswa. “Apalagi kalau bisa menjelaskan dengan singkat namun siswa sudah bisa mengerti,” jelasnya.
Mengenai perjalanannya sebagai pengajar, dirinya mengawali karir sebagai guru bukan di Semarang. “Saya mulai mengajar sejak tahun 1992. Awalnya di Tegal,” jelasnya. Setelah itu, pada tahun 2001 dirinya dipindah ke Semarang, langsung mengajar di SMPN 21. (aris wasita widiastuti)
Matematika Itu Gampang
Written By amoy ya annisaa on Kamis, 24 Mei 2012 | 14.26
![]() |
| Al Kristiyanto (HARSEM/ARIS WASITA WIDIASTUTI) |
SEMARANG- Matematika bisa menjadi pelajaran yang sulit, namun bisa juga menjadi pelajaran mudah. Demikian dikatakan Wakil Kepala Sekolah SMPN 21 Semarang Al Kristiyanto yang juga merupakan guru mata pelajaran Matematika. Dirinya mengatakan, mudah atau sulitnya sesuatu tergantung pada pemahaman orang tersebut.
“Ketika kita punya pemahaman Matematika itu mudah, maka setiap ada waktu luang pasti kita akan selalu belajar Matematika. Kebalikannya, jika menganggap Matematika itu sulit maka setiap ada waktu luang pasti malas berlatih Matematika,” jelasnya kepada Harsem saat ditemui diruang kerjanya, kemarin.
Dirinya yang juga merupakan dosen FKIP jurusan Matematika di UKSW Salatiga ini bahkan memiliki harapan terkait dengan Matematika. “Saya ingin suatu hari Matematika tidak lagi menjadi momok bagi para siswa maupun mahasiswa,” jelas pria kelahiran Jepara, 16 Mei 1969 ini.
Hingga saat ini, dirinya sering memberikan pemahaman kepada siswa untuk jangan takut dengan mata pelajaran berhitung ini. “Belajar Matematika itu menyenangkan,” tambahnya.
Sementara itu, mengenai keasyikan mengajar, dia mengakui sangat menyenangkan bisa mengajar siswa. “Apalagi kalau bisa menjelaskan dengan singkat namun siswa sudah bisa mengerti,” jelasnya.
Mengenai perjalanannya sebagai pengajar, dirinya mengawali karir sebagai guru bukan di Semarang. “Saya mulai mengajar sejak tahun 1992. Awalnya di Tegal,” jelasnya. Setelah itu, pada tahun 2001 dirinya dipindah ke Semarang, langsung mengajar di SMPN 21. (aris wasita widiastuti)
Label:
Dosen,
Guru,
Pendidikan,
Semarang,
SMP
14.02
SEMARANG-Pada 19 Mei mendatang, salah satu guru besar Fakultas Hukum Undip, Prof Dr Redjeki Hartono SH akan memasuki purna tugas. Dekan Fakultas Hukum Undip, Prof Dr SH MHum Yos Johan Utama mengatakan, selama puluhan tahun mengabdi sebagai dosen di Undip, Prof Redjeki tidak pernah mencatatkan sikap cela sama sekali.
Prof Redjeki, Puluhan Tahun Tanpa Cela
![]() |
| DARI KIRI: Prof Soedharto, Prof Redjeki, serta Prof Yos Johan Utama. (harsem/aris wasita widiastuti) |
SEMARANG-Pada 19 Mei mendatang, salah satu guru besar Fakultas Hukum Undip, Prof Dr Redjeki Hartono SH akan memasuki purna tugas. Dekan Fakultas Hukum Undip, Prof Dr SH MHum Yos Johan Utama mengatakan, selama puluhan tahun mengabdi sebagai dosen di Undip, Prof Redjeki tidak pernah mencatatkan sikap cela sama sekali.
“Beliau sudah mengabdi di Undip sejak tahun 1972 tanpa cela. Itu sesuatu yang membanggakan kami,” tambahnya.
Dikatakan, Prof Redjeki merupakan aset Undip dan asset nasional. “Meskipun Prof Redjeki sudah mengakhiri sebagai PNS, namun itu hanya tanda saja. Selebihnya beliau masih tetap bagian dari Fakultas Hukum Undip,” jelasnya.
Dia mengatakan, keluarga besar Undip ingin selalu diayomi dan dibimbing Prof Redjeki. Pada kesempatan yang sama, Prof Redjeki mengatakan sangat bersyukur dan selalu berterimakasih kepada Tuhan karena masih diberikan kesempatan terus berkarya.
Pada perpisahan yang akan dilakukan tanggal 19 Mei mendatang, dia juga akan membawakan pidato “Evaluasi Kajian Hukum Dagang menjadi Hukum Bisnis dan Hukum Ekonomi”.
Dikatakan, dalam praktik hukum ekonomi, adanya perlu campur tangan atau intervensi negara akan memberikan rasa keadilan yang baik dalam penyelesaian perselisihan dalam bisnis.
“Perkembangan kajian hukum dagang menjadi hukum bisnis didominasi atas kajian hukum personal yang sekarang sudah mulai longgar, dalam artian praktik hukum dagang tidak hanya melibatkan ranah privat tetapi juga menyentuh ranah publik,” jelasnya.
Guru Besar Hukum Perdata tersebut menjelaskan bahwa banyak fakta yang menunjukkan adanya kepentingan konsumen yang pada dasarnya pendukung pelaku bisnis yang sebenarnya diabaikan.
“Selain itu juga adanya praktik persaingan yang tidak sehat yang dapat merugikan dunia usaha sendiri sebagai pelaku bisnis dan kepentingan konsumen. Lebih lanjut juga disampaikan fakta bahwa usaha/bisnis dapat membahayakan kelestarian lingkungan dan ekosistem umumnya yang membahayakan kepentingan manusia dan kemanusiaan,” jelasnya.
Rektor Undip, Prof Sudharto P Hadi, MES.PhD menyampaikan ini adalah bentuk budaya akademik yang baik. “Ini pertama di Undip dan juga pertama di Indonesia. Yaitu perpisahan guru besar dilakukan bersamaan dengan rapat senat terbuka,” ujarnya.
Dikatakan, bukan hanya seremoni saja yang dilakukan. “Namun juga tanggung jawab guru besar dan Undip pada publik, serta meneguhkan dan mempertahankan karya akademik yang dihasilkan sehingga selalu dikenang dan bermanfaat untuk masyarakat bangsa dan negara,” tandasnya. (awi/16)
Label:
Dosen,
Guru,
Pendidikan,
Semarang,
UNDIP
13.55
Atiq Amjadallah Alfi Ngajar Akutansi dan Nahwu
![]() |
| Atiq Amjadallah Alfi. (harsem/aris wasita widiastuti) |
MENJADI dosen tidak mudah. Seperti pengalaman dosen Fakultas Ekonomi Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang, Atiq Amjadallah Alfi. Dia mengatakan, awal menjadi dosen banyak tes yang harus dilaluinya.
“Mulai dari tes tertulis, mengajar, wawancara dengan pimpinan fakultas interview dengan yayasan,” ujarnya kepada Harsem, kemarin.
Dia mengatakan, proses dilaluinya hingga dua bulan. “Cukup lama, padahal menjadi dosen bukan cita-cita saya. Tapi memang jalan hidup membawa saya ke sini,” ujar pria kelahiran 3 Agustus 1980 ini.
Dikatakan, hingga kini, dirinya tidak hanya tercatat sebagai dosen saja, namun ayah satu anak ini juga sangat aktif di kegiatan kampus.
“Saya bisa juga disebut sebagai marketingnya kampus, karena saat ini saya juga terlibat dalam penerimaan mahasiswa baru,” kata dia.
Belum lama ini dirinya baru saja melakukan promosi dengan mengadakan sosialisasi ke sejumlah daerah di Pulau Jawa. “Mulai dari Jawa Barat hingga Yogyakarta, sejumlah sekolah dari masing-masing kabupaten kami kunjungi," jelasnya.
Suami dari Dina Noor Amaliya ini juga aktif di kegiatan kemasyarakatan. “Karena saya dari akademisi, saya lebih banyak terlibat dalam urusan PKL dan KKL,” tambahnya.
Tak hanya itu, lulusan Akuntansi Undip ini juga aktif mengajar di Pondok Pesantren Addainuriyah 2 Semarang yang diasuh KH Dzikron Abdulloh. “Setiap malam Kamis saya mengajar ilmu nahwu kepada santri yang ada di ponpes tersebut,” tandasnya. (awi/16)
Label:
Dosen,
Pendidikan,
Semarang
17.31
SYUTING: Proses syuting salah-satu adegan film “Sanubari Jakarta”
Written By Sena on Rabu, 23 Mei 2012 | 17.31
![]() |
| Bedah Film Sanubari Jakarta (upper) (harsem/dok) |
Kritisi Gerakan Syahwat Merdeka
Centre For Islamic Studies Undip belum lama ini menggelar Kajian Diskusi dengan tema “Bedah Film Sanubari Jakarta : Gerakan Syahwat Merdeka”. Acara yang diselenggarakan Minggu (13/5) tersebut, menghadirkan sejumlah pembicara. Di antaranya, Wakil Ketua ICMI Adityawiyarman serta Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Undip Fuad Mas’ud.
Pada kesempatan tersebut, Adityawiryaman menyatakan keprihatinannya atas kemunculan film tersebut. Dirinya mengatakan, film ini merupakan salah satu propaganda isu ke masyarakat untuk menerima adanya fenomena LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender).
Dapat dilihat dari poster pemutaran film yang beredar di kampus-kampus. Di dalam poster berukuran A3 berwarna pink tersebut terdapat gambar barisan lambang perempuan dan laki-laki yang berurutan, namun di tengah-tengah urutan yang teratur tersebut terdapat gambar lambang laki-laki dan perempuan yang acak (tidak sesuai dengan urutan) yang ditandai dengan warna yang berbeda. Ini menggambarkan kaum lesbian, gay, biseksual dan transgender. Film yang terdiri dari 10 film pendek yang masing-masing berdurasi 10 menit ini bercerita tentang gaya hidup kaum LGBT.
Sementara itu, Fuad Ma’ud mengatakan respon atas film ini bisa menjadi salah satu indikator budaya yang tercermin dari masyarakat. “Jika pemutaran film ini tidak dicegah bisa jadi mempengaruhi pandangan dan cara berpikir masyarakat yang bertolak belakang dengan prinsip Islam,” jelasnya.
Karena film merupakan sarana untuk menyebarkan nilai-nilai. “Dan film Sanubari Jakarta mempunyai nilai-nilai yang tidak sesuai dengan kebudayaan lokal Indonesia,” jelasnya.
Imbangi Wacana
Pada kesempatan yang sama, ketua penyelenggara kajian diskusi tersebut, Udhi mengatakan, agenda diskusi ini sengaja dilakukan untuk mengimbangi wacana yang ada di masyarakat mengenai film tersebut.
“Film ini bisa merubah mindset masyarakat bahwa fenomena Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender ini menjadi sesuatu yang lumrah, padahal sejatinya LGBT ini merupakan suatu penyakit masyarakat yang harus disembuhkan. Bahkan di kalangan Barat sendiri pun fenomena ini masih menjadi perdebatan apakah diizinkan tidaknya perkawinan sesama jenis,” tandasnya. (awi/15)
Label:
Dosen,
Film,
ICMI,
Pendidikan
17.10
SEMARANG-Memperingati Hari Pendidikan Nasional, Rektor Undip Prof Sudharto P Hadi menganugerahi sejumlah dosen yang telah mengabdi kepada universitas dengan piagam Satya Lencana Karya Satya (SLKS).
Penghargaan tersebut diberikan bersamaan dengan upacara Hardiknas yang dilakukan di Halaman Gedung Widya Puraya, Tembalang. Dosen yang menerima penghargaan ini adalah mereka yang sudah mengabdi selama 30, 20 dan 10 tahun.
Selain dosen, sejumlah PNS yang bekerja di lingkungan Undip juga mendapatkan
penghargaan serupa. Salah seorang penerima penghargaan yang merupakan salah satu dosen dari Fisip Undip, Adi Nugroho mengatakan, dengan mendapatkan penghargaan tersebut, dirinya menjadi semakin termotivasi untuk bisa berkarya lebih baik lagi.
“Tentu saja bisa beragam, mulai dari pemikiran dan gagasan untuk publik, riset serta pengabdian kepada masyarakat,” jelasnya usai mendapatkan penghargaan. Dikatakan, dengan ada maupun tidak adanya penghargaan, kalangan perguruan tinggi tetap harus mengembangkan gagasan, prakarsa serta harus memajukan dunia pendidikan di Indonesia.
Dikatakan, sejauh ini, banyak dosen Undip yang sudah melakukan riset yang berguna bagi masyarakat luas. Dalam upacara tersebut, rektor juga menyerahkan penghargaan serupa kepada sekitar 45 dosen dan pegawai Undip lainnya.
SLKS sendiri merupakan penghargaan dari presiden yang diperuntukkan bagi para PNS yang masa kerjanya lebih 10, 20, hingga 30 tahun. Sebagai suatu bentuk penghargaan yang diberikan pemerintah terhadap para pegawai yang telah mengabdikan dirinya kepada pemerintah selama bekerja. (awi/15)
PNS Undip Terima Satya Lencana Karya Satya
| BERI SELAMAT: Rektor Undip menyematkan piagam dan memberikan selamat kepada para penerima Satya Lencana Karya Satya (HARSEM/DOK) |
SEMARANG-Memperingati Hari Pendidikan Nasional, Rektor Undip Prof Sudharto P Hadi menganugerahi sejumlah dosen yang telah mengabdi kepada universitas dengan piagam Satya Lencana Karya Satya (SLKS).
Penghargaan tersebut diberikan bersamaan dengan upacara Hardiknas yang dilakukan di Halaman Gedung Widya Puraya, Tembalang. Dosen yang menerima penghargaan ini adalah mereka yang sudah mengabdi selama 30, 20 dan 10 tahun.
Selain dosen, sejumlah PNS yang bekerja di lingkungan Undip juga mendapatkan
penghargaan serupa. Salah seorang penerima penghargaan yang merupakan salah satu dosen dari Fisip Undip, Adi Nugroho mengatakan, dengan mendapatkan penghargaan tersebut, dirinya menjadi semakin termotivasi untuk bisa berkarya lebih baik lagi.
“Tentu saja bisa beragam, mulai dari pemikiran dan gagasan untuk publik, riset serta pengabdian kepada masyarakat,” jelasnya usai mendapatkan penghargaan. Dikatakan, dengan ada maupun tidak adanya penghargaan, kalangan perguruan tinggi tetap harus mengembangkan gagasan, prakarsa serta harus memajukan dunia pendidikan di Indonesia.
Dikatakan, sejauh ini, banyak dosen Undip yang sudah melakukan riset yang berguna bagi masyarakat luas. Dalam upacara tersebut, rektor juga menyerahkan penghargaan serupa kepada sekitar 45 dosen dan pegawai Undip lainnya.
SLKS sendiri merupakan penghargaan dari presiden yang diperuntukkan bagi para PNS yang masa kerjanya lebih 10, 20, hingga 30 tahun. Sebagai suatu bentuk penghargaan yang diberikan pemerintah terhadap para pegawai yang telah mengabdikan dirinya kepada pemerintah selama bekerja. (awi/15)
Label:
Dosen,
Pendidikan,
Prestasi,
Semarang,
UNDIP





















