Diberdayakan oleh Blogger.
Latest Post
Tampilkan postingan dengan label IAIN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IAIN. Tampilkan semua postingan

Serat Sastra Gending Sarat Bahasa Simbolik

Written By Khoierzblogs on Jumat, 09 November 2012 | 09.32

HARSEM/JBSM/ANGGUN PUSPITA
RAIH DOKTOR: Rektor IAIN Walisongo Semarang Prof Muhibbin memberikan ucapan selamat kepada Zaenudin Bukhori setelah berhasil meraih gelar Doktor Studi Islam
SEMARANG- Alunan tembang Kebo Giro dari karawitan Panembrama Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang mengiringi kelulusan Zaenudin Bukhori meraih predikat Doktor Studi Islam dari Program Doktor di kampus tersebut, Kamis (8/11). Melalui ujian terbuka dosen Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Sultan Agung (Unissula)Semarang itu berhasil mempertahankan argumennya pada disertasi yang berjudul ''Mistisisme Islam Jawa: Studi Serat Sastra Gendhing Sultan Agung''.

Pada sidang yang dipimpin Rektor IAIN Walisongo Semarang Prof Muhibbin dan dipromotori Prof Djoko Suryo ini, Zaenudin memaparkan, kerajaan Islam di Jawa mempunyai peran yang signifikan dalam perkembangan sastra ke-Islaman di kawasan nusantara. Karya sastra itu pun mengalami perkembangan yang dinamis sesuai dengan perbedaan orientasi keagamaan serta perubahan tatanan sosial dan sistem pemerintahan.

''Dengan mengubah dan menciptakan karya sastra Islam yang berbentuk serat atau suluk dalam bentuk macapat, raja menyebarkan ajaran Islam. Salah satu serat yang lahir pada masa kerajaan Mataram Islam yaitu Serat Sastra Gendhing karya Sultan Agung. Dan serat tersebut merupakan karya sastra Jawa yang sarat menggunakan bahasa simbolik,'' jelas lelaki kelahiran Demak 2 Mei 1965 itu.

Bahasa simbolik yang tertulis dalam pupuh Dhandang Gula pada ke 13 itu, sastra diartikan sebagai Tuhan yang mencipta, sedangkan gendhing adalah mahluk yang dicipta. ''Untuk menjelaskan simbol dan kandungan isi dalam naskah Serat Sastra Gendhing, saya menggunakan metode hermeneutik. Metode ini relevan untuk mengkaji naskah karena ada unsur jarak kultural antara penulis serat dengan dunia pembaca sekarang,'' ungkap suami dari Hj Siti Sholihati ini.

Adapun, lanjut Zaenudin, corak mistik Sultan Agung dalam Serat Sastra Gendhing adalah panintheisme atau keberadaan suatu benda yang secara majazi mengandung dua unsur, akan tetapi hakikatnya adalah satu. Sehingga latar belakang penulisan serat tersebut karena otoritas politis dan masalah sosial yang melekat padanya yang bergelar 'Amirul Mukminin Sayidin Panatagami'.

''Jadi relevansi ajaran yang terkandung dalam Serat Sastra Gendhing dalam konteks era global, yakni serat panduan moral yang tetap up to date untuk diapresiasi dalam kehidupan sosial kemasyarakatan,'' tandas mantan anggota legislatif Kota Semarang itu. (K3/JBSM/15)

Dr Muh Nashirudin: Tawarkan Kalender Universal Untuk Penentuan Awal Hijriyah

Written By amoy ya annisaa on Selasa, 04 September 2012 | 09.43

DOKTOR ILMU FALAK: Rektor IAIN Walisongo Semarang sekaligus ketua penguji disertasi, Prof Muhibbin memberikan selamat kepada Doktor Ilmu Falak Dr Muh Nashirudin seusai ujian terbuka dan meraih gelar doktor dari program Pascasarjana di kampus I IAIN Walisongo. (HARSEM/JBSM/ANGGUN PUSPITA)

 
SEMARANG- Penentuan awal bulan Ramadan dan Syawal di Indonesia hingga kini masih menjadi perbedaan serta perdebatan di antara pemerintah dengan ormas Islam. Belum ada kajian yang dapat diterapkan untuk menyatukan perbedaan waktu penentuan bulan-bulan Hijriyah tersebut.

Maka ada sebuah harapan yang disampaikan Rektor IAIN Walisongo Semarang sekaligus Ketua Penguji, Prof Muhibbin pada ujian disertasi terbuka promovendus Doktor bidang Hukum Islam Muh Nashirudin di Gedung Program Pascasarjana kampus I IAIN Walisongo, belum lama ini.

Rektor mengatakan, saat ini masyarakat merindukan ada kesatuan ketika mengawali puasa dan dapat lebaran bersama. Maka dengan lahirnya doktor ilmu falak yang disandang Nashirudin pihaknya berharap gagasannya dapat mempersatukan perbedaan tersebut.

Pada disertasi terbuka yang dipromotori Prof Dr Thomas Djamaluddin dan Dr Muhyar Fanani itu, promovendus yang merupakan dosen jurusan Syariah IAIN Surakarta itu menawarkan kalender universal untuk menentukan awal Hijriyah di dunia Islam. 
 
Dengan mengangkat judul disertasi ''Kalender Hijriyah Universal (KHU): Kajian atas Pemikiran Mohammad Shawkat Odeh dan Prospeknya di Indonesia'', lelaki kelahiran Boyolali 2 Desember 1977 ini mencoba mengkaji apakah KHU dapat diterapkan di Indonesia.  Dan apakah KHU juga dapat menyatukan perbedaan awal Hijriyah yang terjadi selama ini di negara ini.

''Pemikiran MS Odeh melalui KHU ini saya tawarkan sebagai upaya untuk menentukan awal bulan Hijriyah. Dan dengan KHU diharapkan ada penyatuan waktu di dunia Islam dalam memulai bulan baru Hijriyah dengan waktu yang sama,'' ungkapnya yang pernah menempuh pendidikan S-2 di Universitas Islam Emir Abdelkader di Constatine, Aljazair ini.

Kajian MS Odeh ini dilakukan dengan membuat kriteria visibilitas hilal, yakni kapan dan pada posisi apa hilal itu bisa dirukyah. Kriteria itulah yang menjadi dasar membuat KHU. Kemudian dengan KHU, dapat membuat dunia Islam berada dalam satu zona, sehingga dapat memulai bulan baru Hijriyah pada waktu yang sama.

''Namun, untuk mengimplementasikanya di Indonesia masih ada kendala, yakni pembagian zona dalam kaidah KHU sangat luas karena meliputi semua benua. 
 
Dan dengan begitu luasnya zona, sebagian besar masyarakat Indonesia masih sulit menerima. Sehingga, tawaran saya mengenai KHU dalam penelitian ini tidak mengadopsi seluruhnya tapi memakai kriteria yang hanya mengambil zona di Indonesia,'' jelas ayah dari tiga putra dan suami dari Imarotus Syari'ah itu.

Harapannya penelitian KHU untuk menentukan awal bulan Hijriyah ini dapat menjadi masukan bagi Kemenag dan ormas Islam di Indonesia. Sehingga ada persatuan dan kesamaan dengan menggunakan kriteria internasional yang memiliki keabsahan secara syar'i dan diterima di kalangan astronomi ini. (K3/JBSM/15)

Puluhan Calon Sarjana Tertipu CPNS IAIN

Written By amoy ya annisaa on Selasa, 31 Juli 2012 | 10.53


SEMARANG- Ditengarai ada 30-an calon sarjana dari kampus Islam di Semarang dan Solo menjadi korban penipuan dengan modus dijanjikan menjadi calon pegawai negeri sipil (CPNS) di lingkungan IAIN Walisongo Semarang.

Para korban yang rata-rata mahasiswa semester akhir dan baru saja diwisuda tersebut dijanjikan menjadi Pegawai Harian Tetap (PHT) di kampus IAIN Walisongo. Rata-rata mereka membayar uang Rp 2,5 juta diawal. Berikutnya, korban diminta menyerahkan uang lagi sebesar Rp 7,5 juta untuk diangkat menjadi CPNS.

Minggu (29/7), lima korban di antaranya telah melapor di Mapolrestabes Semarang. Di antaranya: Muh Yusuf Agung Hidayat (24), warga Tebon RT 01/RW 06  Baki Pandean, Baki, Sukoharjo; Eko Mardiyono (24), warga Sarirejo RT 03/RW 04 Guntur Demak; Yusuf Kurniawan (24), warga Nganguk Wali RT 05/RW 03 Kramat Kudus; Muh Miftah (23); dan Khoirul Anwar (23), warga Karangmojo Klego, Boyolali.

Namun petugas baru menerima tiga korban Miftah, Yusuf dan Eko. Sementara dua yang lain masih diminta melengkapi syarat-syarat lainnya. Ketiganya, mengaku dirugikan  masing-masing  Rp 2,5 juta.

Penipuan tersebut diduga dilakukan seseorang yang mengaku sebagai dosen di IAIN Walisongo, Muntaha, warga Jalan Merpati II Pedurungan Tengah. "Awalnya sekitar Oktober 2011 lalu, saya dikenalkan oleh teman. Katanya dia bisa meloloskan menjadi pegawai PHT dan CPNS," ujar salah satu korban Miftah.

Menurut Miftah, korban penipuan yang sudah diketahui sekira 30 orang. Penyebarannya dari teman ke teman.  "Itu pun masih dimungkinkan ada korban lain," katanya.

Para korban menyerahkan uang melalui beberapa cara. Di antaranya datang langsung di rumah terlapor untuk menyerahkan uang tersebut. Beberapa korban lain melakukan penyerahan uang di lingkungan kampus IAIN Walisongo dangan bukti kuitansi.

Selain itu, beberapa korban menyerahkan melalui transfer "Saya transfers Rp 11 juta langsung. Uang dikirim ke rekening 1350006048522 Mandiri atasnama Amelia Widuri, katanya, Amelia adalah seorang petugas BKN (Badan Kepegawaian Nasional-red)," kata korban lain, Anwar. 

Terlapor menjanjikan pengumuman final penerimaan CPNS di IAIN Walisongo pada Februari 2012. Tapi para korban harus gigit jari lantaran janji itu ternyata hanya menguap begitu saja. "Kami berulang kali meminta kejelasan terkait penerimaan CPNS tersebut, namun ia hanya bisa menjanjikan dan beralasan macam-macam," imbuh Anwar.

Kejengkelan para korban memuncak manakala mendapati nomor telepon terlapor tidak aktif. "Kami sempat mendatangi ke rumahnya, namun ternyata sudah kosong. Menurut tetangga sekitar, Muntaha telah lama pergi," katanya.

Para korban merasa kecewa, namun rata-rata telah pasrah. Bahkan sejumlah korban merasa enggan melaporkan ke polisi dengan alasan malu. "Saya sendiri sudah pasrah aja, mudah-mudahan ada hikmahnya. Nyatanya kondisinya  memang demikian," kata korban Ida. 
 
Hingga saat ini, kasus penipuan tersebut masih diselidiki secara intensif tim Reskrim Polrestabes Semarang.  Guna penyelidikan, jika masih ada korban lain dalam penipuan ini diharapkan segera melapor. (abm/11)

Teliti Tafsir Anom, Arif Junaidi Raih Doktor

Written By amoy ya annisaa on Selasa, 24 Juli 2012 | 09.47

FOTO BERSAMA: Arif Junaidi berfoto bersama dengan anggota Sidang Senat Terbuka Pascasarjana IAIN Walisongo usai menjalani sidang ujian doktor di Gedung Pascasarjana IAIN Walisongo. (HARSEM/JBSM/KRISNAJI SATRIAWAN)

 
SEMARANG- Kajian kitab tafsir Alquran karya ulama lokal khususnya Jawa masih sangat minim. Kebanyakan, kitab tafsir yang dipelajari di sekolah madrasah dan pesantren adalah kitab dari ulama yang belajar langsung dengan Mekah seperti Tafsir A-Munir karya Syaikh Nawawi Banten, Tarjuman al-Mustafid Syaikh Abdur Rauf Sinkel Aceh, dan Tafsir Faidlur Rahman karya KH Soleh Darat Semarang.

Padahal, banyak karya kitab tafsir ulama Jawa yang tidak belajar langsung di Mekah.
''Seperti kitab tafsir Jalalain Basa Jawi karya Kiai Bagus Ngarfah atau Tafsir Djawen yang dibuat oleh Dara Masyitoh. 

Yang paling menarik adalah Kur'an Winedhar Juz I dan Tafsir Al-Qur'anul Adhim karya Raden Pengulu Tafsir Anom V dari Solo,'' kata Arif Junaidi saat mempertahankan disertasi “Tafsir Al-Qur'anul Adhim, Interteks dan Ortodoksi dalam Penafsiran Raden Pengulu Tafsir Anom V” pada Sidang Senat Terbuka Ujian Doktor di Gedung Pascasarjana IAIN Walisongo.

Di hadapan senat yang dipimpin oleh Rektor IAIN Walisongo Prof Dr Muhibbin MAg, Arif mengatakan, tafsir buatan Pengulu Tafsir Anom V sangat menarik karena terdiri dari dua edisi yakni dengan aksara Arab Pegon dan aksara Latin.

 Edisi pertama adalah karya asli dari Radeng Pengulu Tafsir Anom V yang dikumpulkan oleh anak-anaknya. Sedangkan kedua, ujar dia, hasil pengumpulan salah satu anaknya yaitu Prof KH Raden Muhammad Adnan.

''Karya Raden Pengulu ini sangat menarik karena tafsir itu mempunyai keunikan khususnya terkait intertekstualitas (hubungan antarteks) penafsiran. Di mana Raden Pengulu banyak mengutip kitab fiqih,'' jelas dosen Fakultas Syariah IAIN Walisongo ini. Menurut dia, pengutipan kitab fiqih ini tidak dilakukan oleh musafir lain.

Perujukan atau pengutipan kitab fiqih ini, papar pria kelahiran 8 Desember 1970 di Demak ini, dilakukan dengan memosisikan sebagai anutan. ''Keunikan lain dari tafsir ini adalah indikasi ortodoksi pemikiran Islam dari konteks Kasunanan Surakarta pada awal abad 20. Di mana saat itu keraton dianggap pusat sinkritisme Jawa oleh sarjana barat,'' papar Arif.

Dijelaskan, Radeng Pengulu Tafsir Anom V yang nama asli Raden Muhammad Qomar adalah seorang modernis. Saya tidak banyak mengetahui riwayat pendidikannya. Tapi, ia tidak belajar di Mekah,'' ungkapnya. (H85/JBSM/15)

Seleksi Mahasiswa IAIN Sangat Ketat

AWASI PESERTA: Pengawas tes jalur mandiri PMB IAIN Walisongo memantau peserta tes di Aula II kampus 3, belum lama ini. (HARSEM/JBSM/ZAKKI AMALI)

 
SEMARANG- Sebanyak 1.325 peserta mengikuti tes penerimaan mahasiswa baru jalur mandiri IAIN Walisongo Semarang tahun akademik 2012/2013 belum lama ini. 

Tes dimulai pukul 07.00 sampai selesai. Terbagi menjadi 98 ruang terpusat di kampus 3 IAIN, di sebar di Aula II, Fakultas Syariah (Gedung H, Gedung G, gedung M dan gedung L), fakultas Dakwah (gedung I gedung J), dan Gedung Serba Guna.

Peserta melakukan tiga kali tes. Yakni tes pengetahuan agama Islam (PAI), tes kemampuan bahasa (bahasa Indonesia, bahasa inggris dan bahasa arab), dan tes potensi akademik (TPA).

Rektor IAIN Walisongo, Prof Dr H Muhibbin MAg mengatakan, Seleksi pada tahun ini memang sangat ketat, tidak sembarang siswa bisa kami terima menjadi mahasiswa. “Tentu mereka yang kami pilih harus memiliki pengetahuan agama Islam yang baik juga," katanya.

Nantinya IAIN akan menerima 2.000 mahasiswa baru. "Penerimaan mahasiswa baru (PMB) jalur mandiri ini menunggu mahasiswa jalur PTAIN selesai registrasi semua. Sehingga kami bisa menentukan jumlah jalur mandiri yang nantinya akan diterima,” tandas guru besar Hukum Islam tersebut.

Ditambahkan, diharapkan mahasiswa yang diterima nanti memiliki kompetensi dan prestasi tidak hanya pengetahuan agama islam saja. Tetapi juga kemampuan di bidang potensi akademik dan kemampuan bahasa inggris dan bahasa arab yang baik. (H74/JBSM/15)

‘Semarang Limbah Carnival’ Ala Santri Daarun Najaah

Written By amoy ya annisaa on Selasa, 19 Juni 2012 | 13.43

KARNAVAL LIMBAH: Para santri melakukan karnaval dengan kostum dari kertas koran dan sampah anorganik. (HARSEM/WARA MERDEKAWATI)

KRAPYAK-Bukan kostum berharga jutaan rupiah, bukan pula asesoris mahal. Para santri Ponpes Daarun Najaah justru mengenakan beragam limbah untuk memeriahkan karnaval haflah akhirussanah ke-13, Sabtu (16/6). Karnaval mengambil rute keliling kampung dengan start dari halaman pondok.

BUKAN hanya koran bekas. Bekas botol air mineral, bungkus plastik sisa detergen atau pewangi tak luput dari perhatian para santri. Mereka mengolah sampah anorganik tersebut menjadi benda-benda yang dapat digunakan sebagai penghias dalam karnaval ini. Kontras dengan gelaran ‘Semarang Night Carnival’ beberapa waktu lalu, tiap peserta bisa menghabiskan jutaan rupiah demi satu kostum.

Farida santri Ponpes Daarun Najaah mengatakan, pemakaian limbah kertas sebagai bentuk kepedulian untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan dan turut menjaga bumi.

"Saya dan teman-teman santri mengumpulkan koran bekas milik warga jerakah dan beberapa sisa deterjen atau pewangi. Setelah terkumpul kami melakukan variasi ide-ide desain baju dengan menggunakan kreatifitas santri putri, sehingga menjadi baju yang layak pakai dan elegan dan pantas digunakan dalam karnaval," tegas mahasiswa Fakultas Syariah IAIN Walisongo tersebut. 

KH Sirodj Chudlori pengasuh Ponpes Daarun Najaah Jerakah Semarang mengatakan, bahwa menggunakan limbah kertas koran ini dalam rangka kepedulian terhadap keasrian bumi yang kita huni atau gerakan go green.

“Dalam Islam, kebersihan adalah sebagian dari iman. Jika orang senang menjaga kelestarian alam dan menjaga kebersihan lingkungan pondok dan alam sekitarnya, dia tergolong orang yang memiliki iman bagus dibandingkan orang yang tidak mau melestarikan lingkungan dan membuang sampah sembarangan,” katanya.
 
DR H Ahmad Izzudin menandaskan, santri diwajibkan peduli terhadap kelestarian alam dengan menjaga kebersihan lingkungan pondok pesantren. Juga dengan menanami pohon-pohon yang mampu menyerap polusi di daerah Semarang.

"Saya menghimbau para santri turut andil dalam menjaga kebersihan dan kehijauan dunia, supaya ke depan bumi ini tidak tercemar dengan sampah-sampah yang berserakan dan limbah-limbah dari pihak yang tidak bertanggung jawab," papar dosen Fakultas Syariah IAIN Walisongo ini. (wam/16)

IAIN Walisongo, Hanya Dapat Jatah 85 Bidikmisi

Written By Sena on Rabu, 06 Juni 2012 | 14.31


(harsem/dok)


SEMARANG- Pada tahun ini, IAIN Walisongo Semarang hanya mendapatkan jatah beasiswa Bidikmisi untuk 85 mahasiswa saja. Padahal jumlah mahasiswa baru mencapai sekitar 3000 mahasiswa.
Rektor IAIN Walisongo Semarang, Muhibbin M Noor mengatakan, kuota beasiwa untuk Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) pada tahun ini hanya 2.100 mahasiswa. Kouta itu dinilai masih belum memadai, karena jumlah itu harus dibagi dengan 32 PTAIN se Indonesia. “Hanya enam perguruan tinggi yang mendapatkan kuota di atas seratus, sementara yang lainnya masih di bawah standar,” katanya, kemarin.  
Dikatakan, jumlah tersebut sebetulnya kurang, mengingat jumlah PTAIN yang tersebar di Indonesia sangat banyak, jumlah itu belum termasuk perguruan tinggi Islam swasta. “Di IAIN Walisongo saja penerimaan mahasiswa baru sekitar 2000 sampai 3000 mahasiswa, jika beasiswa yang diberikan hanya 2.100 untuk semua PTAIN, buat mahasiswa  di satu perguruan tinggi saja tidak cukup,” lanjutnya.
Sebagai upaya untuk membantu siswa miskin, pihaknya berharap agar jumlah nominal beasiswa bisa dikurangi guna menambah jumlah kuota beasiswa Bidikmisi. “Misalnya per tahun hanya dikasih Rp600 ribu. Sehingga nantinya semakin banyak para siswa kurang mampu yang bisa melanjutkan ke PTAIN,” katanya.
Karena jika seorang mahasiswa peraih Bidikmisi mendapatkan Rp 600 ribu setiap semesternya, maka dalam waktu setahun bisa memperoleh beasiswa Rp 1,2 juta. “Ini terlalu banyak, jadi lebih baik dikurangi saja untuk lebih menambah jumlah mahasiswa yang bisa mendapatkan beasiswa bidik misi,” jelasnya.
Terlepas dari masalah tersebut, pihaknya sangat menghargai dan mengucapkan terimakasih atas beasiswa Bidikmisi yang sudah dianggarkan oleh pemerintah kepada mahasiswa miskin ini. “Karena itu berarti pemerintah juga memiliki perhatian yang besar terhadap perguruan tinggi Islam,” tandasnya. (awi/15) 

Elyana, Awalnya Tak Suka Anak

Written By Sena on Kamis, 24 Mei 2012 | 14.55


Elyana.
(harsem/dok)
SEMARANG- Awalnya memang tidak suka dunia anak-anak, namun nasib membawa Elyana harus memasuki dan berdekatan dengan anak-anak. Guru mata pelajaran Bahasa Arab SDIT Bina Amal ini mengakui, sebelum menjadi pengajar sekolah dasar, dirinya menganggap dunia anak-anak hanya merepotkan. “Ribet kalau urusan sama anak-anak, mereka susah diatur. Itu anggapan awal saya,” jelasnya kepada Harsem saat ditemui di ruang kerjanya, kemarin.
            
Namun setelah dirinya tahu dan memasuki dunia anak yang sesungguhnya, diakuinya, dunia anak membawa banyak inspirasi. “Ternyata setelah menekuni mereka, itu membawa inspirasi bagi saya. Dan membuat saya bisa lebih bersabar,” ungkap wanita kelahiran Kediri, 10 Agustus 1983 ini.
            
Pada awalnya, lulusan Pondok Pesantren Gontor Cabang Banten ini mengaku, mendapatkan tawaran kerja di sebuah kantor pengacara. “Namun saat itu saya bingung dengan tawaran tersebut, saya takut kalau gajinya tidak halal,” jelasnya

Karena ragu, akhirnya dia memilih untuk tidak mengambil tawaran tersebut. “Akhirnya saya malah terjun di dunia pendidikan. Karena penghasilannya jelas dan tentunya halal,” ujarnya.
           
Diakuinya, untuk saat ini dirinya masih berkonsentrasi untuk mengejar studi S2 di IAIN Walisongo. “Saya sangat senang sekolah. Bahkan sebelum saya meninggal, saya tidak akan berhenti untuk belajar dan sekolah,” jelasnya.

Dirinya mengatakan, untuk mengejar pendidikan, dari usia 12 tahun dirinya sudah berpisah dari orang tua. “Sejak usia 12 tahun saya sudah belajar di Pondok Pesantren Gontor yang ada di Banten, kebetulan kakak juga ada di sana,” jelasnya.

Setelah enam tahun di Banten, lulus SMA dirinya kuliah di Fakultas Hukum Undip. “Dan sejak tanggal 1 Juli 2007 saya mulai ngajar di Bina Amal ini. Berbeda dengan latar belakang pendidikan saya dari perguruan tinggi, saya sekarang malah ngajar di Bahasa Arab,” ujarnya.
           
Dikatakan, dukungan dari keluarga besar sangat baik. “Mereka senang sekali dengan apa yang saya raih sekarang, yang pasti saya sangat membutuhkan dukungan dan restu dari mereka,” tandas wanita yang hobi traveling dan membaca buku tentang motivasi ini. (awi/15)


Drs H Syaefudin MPd Cemburu Bakul Warteg


 H Syaefudin.
(harsem/panji joko satrio)


Syaefudin tengah dilanda api cemburu. Yang dicemburui adalah pemilik warung tegal (warteg) Barokah Semarang. Kenapa? Menurut cerita Kepala Sekolah (Kasek) MAN 1 Semarang ini, pemilik warteg barokah adalah adik kelasnya saat masih menimba ilmu di MAN 1 Adiwerna Tegal. "Namanya Wartono, dia punya warteg jumlahnya delapan," ceritanya perihal adik kelasnya sesama wong ngapak-ngapak itu.

Yang membuat dia cemburu adalah, saban tahun Wartono bisa beramal sedikitnya Rp 600 juta. Itu di luar zakat yang sifatnya wajib. "Bayangkan, dari usaha warteg dia bisa beramal minimal Rp 600-700 juta per tahun," ceritanya di sela perhelatan Gebyar MAN 1 Semarang, Sabtu (19/5).

Dia membandingkan dengan dirinya yang hanya menjadi' PNS. “Saya cuma PNS, nyumbang masjid atau amal paling tak seberapa," ujarnya merendah.

Mengapa nggak nyambi bikin warteg saja Pak? Biar kaya dan bisa beramal jariyah? "Wah, nggak boleh nyambi-nyambi. Saya kan mendapat amanah menjadi guru dan kepala sekolah, ya harus dijalankan dengan sungh-sungguh. Tidak boleh nyambi karena itu amanah," ujar peraih magister pendidikan (MPd) dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ini.

Sebagai 'kompensasi' tak bisa berjariyah dalam jumlah besar, dia ingin memberikan ilmu yang bermanfaat kepada siswanya. Alumni S1 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini ingin mengantar semua siswanya yang berjumlah sekitar 1.165-an ini meraih prestasi. 

"Saya ingin siswa meraih prestasi, baik bidang akademik maupun nonakademik, tetapi terutama berprestasi di masyarakat," jelasnya.

Salah satu strateginya adalah, mendongkrak kepercayaan diri siswa. Maklum, masih ada segelintir suara sumbang yang menganggap madrasah itu nomor dua. Maka dia memacu siswanya terus berprestasi, agar siswa pede dan kian berani bersaing. 

Jejeran piala di ruangnya, menjadi bukti banyaknya perstasi. "Komplit, bukan hanya bidang agama. Tetapi juga umum seperti sains, seni, dan olahraga," jelasnya yang cas cis cus bahasa Inggris ini.

Di bawah kepemimpinannya, MAN 1 Semarang telah mengantungi sertifikat ISO 9001:2008. Juga sudah mempunyai kelas imersi (bilingual). Tak lupa, fisik sekolah dibikin megah karena ‘penampilan’ itu juga penting. 

Mayoritas alumni MAN 1 Semarang melanjutkan ke perguruan tinggi negeri. Kebanyakan ke IAIN, tetapi banyak juga yang Unnes, Undip, dan PTN lain. Lebih bahagia lagi, jika ada siswanya yang sukses menjadi penguasa. "Agar jadi orang kaya dan banyak beramal jariyah,” ceritanya. Setuju Pak! (16)



Workshop Wirausaha IAIN Walisongo, Dunia Bisnis Penuh Ranjau

TUMBUHKAN MOTIVASI: Workshop “Penumbuhan Motivasi Bagi Calon Wirausaha
di Kota Semarang Provinsi Jateng” di IAIN Walisongo
(HARSEM/DOK)

SEMARANG-Banyak orang yang gagal menjalankan bisnis, hal tersebut karena dunia bisnis penuh dengan ranjau. Untuk itu, sebelum merintis sebuah usaha, setiap orang perlu memiliki konsep dan teori-teori berwirausaha. Demikian dikatakan oleh penulis buku dasar-dasar kewirausahaan Hendri saat mengisi workshop “Penumbuhan Motivasi Bagi Calon Wirausaha di Kota Semarang, Provinsi Jateng” di kampus IAIN Walisongo, baru-baru ini.

Dirinya mengatakan, bisnis akan berhasil jika didukung oleh mimpi, kemauan dan alasan yang kuat. “Data dari ILO menunjukkan, 69% muda-mudi Indonesia menganggur, 10% dari 10 juta angkatan kerja juga menganggur. Sementara setiap tahun lulusan dari perguruan tinggi sebanyak 2,5 juta orang,” jelasnya.

Untuk itu, mulai sekarang saatnya kuliah sambil berwirausaha. “Agar nanti ketika sudah lulus dari perguruan tinggi sudah memiliki pekerjaan dan aktivitas,” jelasnya. Pada acara yang bekerjasama dengan Kemenkop dan UMKM RI ini, dirinya mengatakan, ada delapan faktor untuk meraih kesuksesan memilih dan memulai karir.

Di antaranya, visi, misi, mimpi dan imajinasi, usaha apa yang nantinya membuat sukses dan berkembang, pilihan yang tepat antara bekerja di perusahaan atau berwirausaha sendiri, kesiapan mental dan kemauan, pengetahuan wawasan dan skill yang dimiliki. Juga kecintaan dan fokus, lingkungan dan jaringan, pendamping atau mentor serta determinasi teguh dan keyakinan.

Sementara itu, motivator dan dosen Unisula Ali Shahab mengatakan, dalam berwirausaha membutuhkan jiwa kewirausahaan. “Mengapa mesti jiwa, karena kewirausahaan adalah jiwa dinamis dalam menangkap tantangan menjadi peluang,” jelasnya.

Dikatakan, bicara mengenai kewirausahaan tidak ada hubungannya dengan kecerdasan akademik dan bukan juga keterampilan menyelesaikan pekerjaan secara sempurna. “Kunci sukses jiwa wirausaha yaitu sikap mental yang positif serta bekerja dengan profesional. Lebih baik kita berusaha dan gagal dari pada gagal sebelum berusaha,” tegasnya.

Dirinya menambahkan, mulai sekarang, saatnya merubah paradigma para mahasiswa yang hanya sekadar mementingkan kuliah saja.”Akan tetapi, mari kita memikirkan jenjang karir dan pekerjaan, dengan berwirausaha sambil kuliah,” ajaknya. (awi/15)



Calon Mahasiswa IAIN Tes Bahasa

Written By amoy ya annisaa on Rabu, 23 Mei 2012 | 17.14


Tes bahasa di IAIN Walisongo
(Photo:Dok)
SEMARANG- Untuk mengetahui kemampuan bahasa calon mahasiswa baru IAIN melalui Program Seleksi Siswa Berprestasi (PSSB), sebanyak 334 calon mahasiswa baru melakukan Placement Test atau biasa disebut tes bahasa.

Demikian diungkapkan Rektor IAIN Walisongo Prof Muhibbin di sela-sela monitoring bersama PR II Ruswan, Kepala Biro AUAK Asmu’i dan Kepala Bagian Akademik Basit Z di Auditorium Kampus 3 IAIN, Selasa (1/5) lalu.

Rektor mengatakan, setelah placement tes, calon mahasiswa akan diketahui nilai bahasanya, yaitu bahasa Inggris dan bahasa Arab. “Sehingga nanti klasifikasi kemampuan bahasa mereka dapat ditentukan. Kemampuan bahasa akan dipegang oleh Pusat Bahasa dan Budaya (PBB) IAIN Walisongo Semarang,” paparnya.


Pada kesempatan yang sama, Kepala Bagian Akademik Basit Z menandaskan, bulan kemarin pendaftar lewat jalur PSSB sebanyak 1012 siswa SMA/MA/SLTA yang mendapat peringkat 10 besar di kelas. Yang diterima di IAIN sejumlah 752, akan tetapi yang sudah regristasi baru 334 calon mahasiswa. (awi/15)



Indosat Dukung Pendidikan

MODEM WIFI: Penyerahan secara simbolis modem wifi dan pulsa dari Head of Area Central Java, Wasis Sulaiman kepada perwakilan dari IAIN Walisongo
HARSEM/WARA MERDEKAWATI


SEMARANG- Bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, PT Indosat Tbk kemarin, menegaskan kembali dukungannya kepada dunia pendidikan di lingkungan sekolah. Dukungan tersebut dalam bentuk pengaplikasian Indosat Cyber School (ICS).

Tiga tahun lalu, Indosat telah melaksanakan program ICS yang telah dinikmati oleh 153 SMU di seluruh Indonesia dalam bentuk pelatihan. Pelatihan tersebut untuk mengoptimalkan pemanfaatan software secara lebih produktif untuk proses belajar mengajar di sekolah.

Program ICS salah satu program CSR Indosat berupa bantuan perangkat ICT yaitu perangkat komputer, koneksi internet broadband, proyektor multimedia dan perangkat lunak bidang sains (fisika) untuk mendukung proses belajar mengajar dan minat siswa terhadap bidang sains.

Head of Area Central Java, Wasis Sulaiman, mengatakan sebagai wujud apresiasi Indosat kepada komunitas sekolah, Indosat memberikan kemudahan kepada anggota komunitas.

“Dalam penyediaan fasilitas pendukung kegiatan belajar mengajar di sekolah, melalui jaringan layanan internet indosat dengan dukungan jaringan 3,5 G, serta program Indosat Cyber School di berbagai sekolah seluruh tanah air,” katanya.

Perangkat lunak tersebut, lanjut Wasis, disediakan oleh Pesona Edu secara lengkap merupakan modul belajar berbagai mata pelajaran untuk pelajar SD, SMP, hingga SMA, terutama untuk mata pelajaran IPA dan Matematika.

“Indosat internet ini hadir untuk mensuport pendidikan, salah satunya dengan mempercepat proses akselerasi data pendidikan di Indonesia,” lanjutnya. (wam/15)


Ciptakan Kelompok Profesional Sensitif Gender


FEMINISME: Seminar kesetaraan gender di IAIN Walisongo (harsem/dok)

SEMARANG- Feminisme bukan sekadar ideologi, namun merupakan gerakan nyata yang bermuara pada keadilan dan kesetaraan gender.

SEMARANG- IAIN Walisongo belum lama ini menggelar seminar “Menyoal RUU Kesetaraan dan Keadilan Gender”. Salah satu materi yang diusung yakni tentang feminisme. Pengisi seminar, Abu Hafsin mengatakan, feminisme bukan sekadar ideologi, namun merupakan gerakan nyata yang bermuara pada keadilan dan kesetaraan gender.

Dikatakan, feminisme adalah gerakan wanita yang menuntut kesamaan hak dengan pria. “Secara esensial , gerakan kesetaraan gender yang diusung oleh kalangan feminis relegius memiliki tujuan yang mulia, yakni memanusiakan manusia. Dalam hal ini wanita,” paparnya.

Dikatakan, jika memang tujuan tersebut merupakan muara dari upaya yang dilakukan oleh kalangan feminis muslim, maka hal tersebut sudah sejalan dengan keseluruhan aturan yang termuat dalam berbagai teks suci keagamaan.

“Bukankah semua teks suci keagamaan juga diarahkan untuk memanusiakan manusia? Dengan demikian antara kalangan feminis dan teks suci keagamaan sebenarnya memiliki tujuan yang sama, yakni memanusiakan wanita. Inilah yang menjadi titik temu di antara keduanya,” paparnya.
Sementara itu, pembicara lain, Musdah Mulia mengatakan, Tuhan menciptakan manusia dengan kemuliaan tanpa membedakan lelaki dan perempuan. “Yang diharapkan selanjutnya bagaimana budaya masyarakat mampu menghormati dan menghargai kepada manusia tanpa membedakan jenis kelamin,” jelasnya.

Dipaparkan, peran institusi perguruan tinggi sangat penting guna memberikan sumbangan pemikiran akademis yang mendorong terciptanya keadilan dan kesetaraan gender. “Salah satu upaya yang dilakukan yakni menciptakan kelompok profesional yang sensitif gender,” jelasnya.

Sementara itu, seminar tersebut bertujuan untuk menyosialisasikan nilai-nilai kesetaraan gender sehingga bisa menjadi sebuah norma. Sehingga nanti tercipta kesiapan dan kesadaran masyarakat terhadap keadilan dan kesetaraan gender. Seminar juga diisi oleh Ubaidillah Shodaqoh, Katib Suriyah PWNU Jateng. (awi/15)


IAIN Walisongo Siap Jadi Universitas

Written By p3joeang45 on Senin, 09 April 2012 | 19.40

DIES NATALIS: Wakil Gubernur Rustriningsih memberikan sambutan pada Dies Natalis Ke-42 IAIN Walisongo di Aula Kampus I
SEMARANG- Rektor IAIN Walisongo Prof Muhibbin mengatakan, konversi IAIN ke UIN (Universitas Islam Negeri) Walisongo siap dilakukan pada tahun 2013.
    
Hal itu dibuktikan dengan pembangunan gedung-gedung perkuliahan baru, gedung serbaguna (GSG), dan beberapa fasilitas kampus yang lain. ''Di samping itu, IAIN telah menyiapkan 24 prodi untuk menampung calon mahasiswa dari seluruh Jateng, karena  telah mendapat bantuan dari IDB sebesar 35 juta dolar AS,'' tandasnya pada acara Dies Natalis Ke-42 IAIN Walisongo di Aula Kampus I, belum lama ini.
      
Sedang Wakil Gubernur Rustriningsih  dalam sambutannya mengatakan, peningkatan status tersebut diharapkan bukan untuk ajang gagah-gagahan. Sebab, perubahan status tersebut harus mampu meningkatkan mutu pendidikan dan kualitas sumber daya manusia (SDM).
    
Menurutnya, sungguh tepat jika pada peringatan ini mengambil tema ''Memperkokoh Persatuan Menuju UIN Walisongo Semarang'', karena dengan perubahan status, ke depan perguruan tinggi ini harus mengutamakan persatuan dan kebersamaan untuk mencapai keberhasilan dalam meraih tujuan, cita-cita, dan harapan.
    
“Dengan persatuan, segalanya harus menjadi semakin mudah dikerjakan dan diselesaikan,'' ungkapnya. Konversi IAIN menjadi UIN hendaknya tidak semata untuk menjadi lembaga bisnis yang berorientasi pada keuntungan atau menaikkan pamor, melainkan sebagai semangat membangun SDM yang andal dan berkualitas di perguruan tinggi. 
    
Rustriningsih berharap ke depan akan banyak lahir SDM Indonesia yang bukan saja menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi serta beriman dan bertakwa kepada Allah SWT, namun juga profesional dan berdaya saing tinggi. Acara tersebut juga dihadiri Wakil Wali Kota Semarang Hendi Hendar Prihadi, muspida, dan para pendiri IAIN Walisongo beserta anggota senat. (K3/JBSM/15)


Prestasi Sarjana Program DMS Memuaskan

Written By p3joeang45 on Selasa, 31 Januari 2012 | 08.49

Pembantu Rektor Prof H Achmad Gunaryo memimpin wisuda
SEBANYAK 934 sarjana dari program dual mode system (DMS) Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo diwisuda bersama 23 sarjana program kualifikasi di aula kampus Ngaliyan, Senin (30/1). Pada wisuda itu dilaporkan bahwa pencapaian prestasi akademik sarjana program DMS rata-rata amat baik.

“Pencapaia akademik para sarjana program DMS yang diwisuda kali ini secara umum amat baik, 87 persen berhasil mendapatkan IP ditas 3,00,” ucap Pembantu Rektor (PR) I IAIN Walisongo, Prof H Achmad Gunaryo saat membacakan laporan wisuda, kemarin.

Begitu pula untuk program kualifikasi, menurut Gunaryo, 91% dari 23 sarjana yang diwisuda juga berhasil mendapat IP di atas 3,00. “Dengan pencapaian ini kami berharap para wisudawan bisa mendarmabaktikan ilmu yang telah didapatnya selama kuliah,” ucapnya.

Rektor IAIN Walisongo Prof H Muhibbin menjelaskan, program DMS merupakan program dari Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Dirjen Pendis) Kemenetrian Agama (Kemenag) untuk membantu guru-guru yang belum berkualifikasi S1. IAIN Walisongo sebagai salah penyelenggara yang ditunjuk Dirjen Pendis menjalankan program ini bersama empat STAIN yang menjadi mitra IAIN Walisongo, yaitu STAIN Kudus, STAIN Pekalongan, STAIN Salatiga, dan STAIN Purwokerto.

“Jadi, selain di IAIN proses perkuliahan juga dilangsungkan di empat STAIN tersebut. Tujuannya untuk memudahkan para guru tersebut menempuh studi. Kalau proses perkuliahan dilangsungkan dengan dua model, yakni tatap muka dan non tatap muka,” jelasnya, usai memimpin prosesi wisuda.

Lama studi program DMS, ia katakan, tetap sama dengan program S-1 lainnya, yaitu sekitar 4 tahun, hanya saja biaya kuliahnya lebih murah karena sebagian biaya ditanggung pemerintah. Untuk itu, dengan mendapat fasilitas studi murah ini pihaknya berharap para wisudawan berani melakukan perubahan, mulai paradigma hingga metode mengajarnya.

“Semakin meningkatkatnya kualitas pendidikan ini harus dibarengi dengan makin meningkatkannya paradigma, meski sudah menjadi guru harus tetap giat belajar dan membaca. Selain itu, kualitas cara mengajar juga harus lebih baik, semakin perhatian kepada siswa, sekaligus sering melakukan evaluasi,” tandas Muhibbin.

Selain wisuda sarjana program DMS dan Kualifikasi kemarin, hari ini juga IAIN Walisongo akan menggelar wisuda 432 mahasiswa program regular, meliputi 401 orang Sarjana (S.1), 26 orang Magister (S.2) dan 5 orang Doktor (S.3). Prosesi wisuda akan dilakukan di kampus Ngaliyan. (sna/nji)

Teliti Syiah di Jepara, Raih Doktor

Written By Harian Semarang on Sabtu, 21 Januari 2012 | 15.17

Muhsin Jamil (kiri) menerima ijazah doktor dari Rektor Prog Muhhibin
ALIRAN syiah lagi ramai-ramainya dibicarakan di Indonesia. Tema ini diteliti secara ilmiah untuk disertasi doktor. Sisik melik komunitas syiah di Kabupaten Jepara yang tak pernah muncul dalam berita, diteliti mahasiswa S3 IAIN Walisongo M Muhsin Jamil.

Hasil risetnya dipaparkan dalam ujian promosi doktor dirinya di Kampus I IAIN Walisongo (Kamis, 19/1). Dia akhirnya dikukuhkan sebagai doktor ke-7 yang diluluskan IAIN Walisongo Semarang.

Disertasi yang diambil Dinamika Identitas dan Strategi Adaptasi Minoritas Syiah di Jepara. Dosen Fak Ushuluddin IAIN Walisongo ini mengungkapkan, Syiah di Jepara dan umumnya Indonesia, tidak seperti syiah imamiyah di negara-negara Arab.

Golongan minoritas ini, kata dia, berbaur dan beradaptasi dengan masyarakat lokal yang secara tradisi adalah penganut sunni (mayoritas dunia). Amalan keagaman yang mereka lakukan juga dibuat sama dengan saudara-saudaranya sesama muslin. Seperti mauludan, muharoman, atau suronan.

“Komunitas syiah di Jepara yang merupakan yang terbesar di Jawa Tengah. Mereka melakukan adaptasi dan dinamisasi dengan masyarakat sekitar. Identitas mereka tidak lagi tampak sebagai mayoritas yang ‘aneh’ apalagi sampai disebut menyimpang.

Hasil observasinya, kelompok syiah di Jepara tidak menampilkan diri sebagai golongan yang berbeda dengan kebanyakan muslim lainnya. Tak satupun dari anggota Syiah Jepara, kata Muhsin, melakukan kawin kontrak alias nikah mut’ah. Mereka juga berbaur dan mengamalkan ritual keagamaan yang sama dengan sunni.

“Komunitas syiah di Jepara sangat anteng. Mereka rukun saja dan selama ini guyub dengan komunitas lain yaitu NU dan Muhammadiyah. Tak pernah ada konflik walaupun sekedar debat,”  tuturnya.

Mudjahirin Tohir dalam ulasannya usai sidang yudisium menyampaikan selamat atas kegigihan Muhsin Jamil melakukan penelitian. Suami dari Nur Rochayati SAg ini dinilai seorang muslim sejati. Karena sebagai orang berpaham sunni –mayoritas—Muhsin mampu menjadi peneliti yang netral dan meneguhkan dia sebagai aktivis multikulturalisme.

Namun Rektor IAIN Walisongo yang juga penguji, Muhibbin menyatakan, pihaknya terpaksa tidak bisa memberi predikat cum laude kepada Muhsin karena sang promovenda melebihi batas waktu penyelesaian studi doktoral. Yakni lebih dari lima tahun yang dipersyaratkan.

Para pengujinya adalah Prof Muhibbin, Ahmad Hakim, Prof Nurdien H Kistanto, Prof A Ghazali Munir, Prof Ibnu Hadjar, Abu Hapsin. Adapun promotornya  adalah Prof Mudjahirin Rohir  dan co promotor M Nafis. (moi)

Teliti Wakaf Produktif, Abdurrohman Raih Doktor

Written By p3joeang45 on Senin, 16 Januari 2012 | 09.01

Abdurrohman Kasdi berfoto bersama para penguji.
ABDURROHMAN Kasi meraih gelar doktor setelah mempertahankan disertasi dalam Rapat Senat Terbuka Terbatas Ujian Promosi Doktor di IAIN Walisongo, (Selasa, 8/01). Rapat dipimpin Rektor IAIN Walisongo Prof Muhibbin.

Abdurrohman mempertahankan disertasi yang mengupas peran wakaf produktif dalam pengembangan pendidikan di Universitas Al  Azhar Mesir. Promotornya ialah  Prof KH.Muhammad Tholhah Hasan dan Prof Muhibbin. Sedangkan penguji M Nafis, Prof Abdul Hadi, Prof Ahmad Gunaryo,  Prof Ibnu Hadjar, dan Fadholan Musyaffa’

Dalam disertasinya, Abdurrohman menyatakan Al-Azhar membiayai operasional pendidikan dari pengelolaan aset wakaf, berupa benda bergerak maupun tetap. Di antaranya, saham di beberapa perusahaan, di bank dan properti, dan sertifikat investasi. Juga punya aparteman dan pemukiman yang disewakan kepada penduduk.

“Pengelolaan wakaf di Al-Azhar sangat produktif. Universitas mengelola rumah sakit, gedung, dan auditorium. Hasilnya untuk gaji dosen dan karyawan, juga dana penelitian dan beasiswa,” jelasnya.
Abdurrohman dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan (cum laude) dengan indeks prestasi komulatif (IPk) 3,76. Dia menjadi doktor keenam yang diluluskan IAIN Walisongo Semarang.

Promovenda kelahiran Pati, 25  Februari 1976 ini  merupakan menantu mantan Wakil Bupati Demak KH Muhammad Asyiq. Dia menikahi teman kuliahnya di Universitas Al-Azhar, Umma Farida yang merupakan putri M Asyiq.

Sebelum S-3 di IAIN Walisongo, Abdurrohman meraih gelar magister Studi Timur Tengah dan Islam dari Universitas Indonesia pada 2004. Sebelum kuliah S-1 di Kairo pada 1996, dia pernah ngicipi  Jurusan Peradilan Agama di Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta selama dua tahun (1994-1996).

Dosen STAIN Kudus dan Universitas Islam Sultan Fatah (Unisfat) Demak ini juga alumni MAN 1 Pati. Saat ini dia sebagai Wakil Ketua PC GP Ansor Demak dan anggota MUI Demak. Beberapa buku karyanya di antaranya Sosiologi Hukum Islam, Integrasi Ilmu Agama dan Ilmu Umum, dan Dinamika Politik Islam: Studi Pemikiran dan Gerakan Ikhwanul Muslimin.

Usai mendapat doktor, dia diwejang promotornya KH Tholhah Hasan. Yakni agar selalu ingat keluarga, para kiai dan guru yang telah dan terus memberi dukungan dan doa.

“Anda bisa meraih keberhasilan ini tidak sendirian. Banyak orang yang membantu. Ibu Anda, istri Anda, mertua dan anak Anda. Juga para kiai dan guru-guru Anda. Ingatlah mereka selalu, yang telah mendoakan Anda,” tutur Kiai Tolhah.  Abdurrohman juga dipesan menjauhi penyakit orang sukses. Yaitu sombong, serakah, dan hasud (dengki).

“Terima kasih atas semua dukungan dan doa semua pihak kepada saya,” ujar Abdrurohman usai sujud syukur di depan para penguji. (moi/nji)

Behind the Scene Teru-Teru Bozu Putar Layar Tancap untuk ‘Usir’ Warga yang Nonton Syuting

Written By p3joeang45 on Kamis, 05 Januari 2012 | 18.30

Kru Teru-Teru Bozu saat roadshow di Universitas Semarang (USM)
DI dunia nyata, Jarwo (Ahmad Mashudi) barangkali merupakan pria paling beruntung di dunia. Bagaimana tidak, lelaki fakir yang hanya pawang hujan itu beristrikan gadis Jepang nan cantik bernama Naomi (Diah Ayu Suki). Mereka melakoni hidup bersahaja di sebuah gubuk reyot. Sehari-hari, pasutri beda bangsa ini berkomunikasi dengan bahasa isyarat, lantaran Naomi belum mahir bercakap menggunakan bahasa Jawa.

Masuk akal atau tidak, itulah kisah yang diangkat film Teru-Teru Bozu karya Langkah Orang Langit (LOL) Production Udinus. Di dunia nyata, perempuan sesetia itu tentu langka. Tapi, barangkali ini salah satu pesan moral yang diangkat, betapa mulianya kesahajaan di era serba materi. Ini tampak dari adegan saat saudara Jarwo memintanya beralih profesi yang lebih menjanjikan. Atau ekspresi Jarwo yang malu-malu kucing menerima amplop dari pengorder jasanya sebagai pawang hujan.

Bukan hanya tema, proses pembuatan film ini juga sarat idealisme. Lantaran untuk mengongkosi film garapannya, komunitas ini harus merogoh kocek sendiri.

Film ini pada Selasa (3/01) dipentaskan di Universitas Semarang (USM), Sebagai tuan rumah adalah Komunitas Sinema Canopus USM. Pemutaran film dalam dua sesi itu berhasil menyedot dua ratusan penonton.Bukan hanya mahasiswa USM, tetapi juga dari Unnes, IAIN Walisongo, Undip, serta beberapa pelajar SMA. “Penonton mencapai dua ratusan,” jelas Ketua Canopus USM, Dading Prasojo.

Sutradara Teru-Teru Bozu, Dimas Tirta Franata alias Dimek menurutkan, film produksi 2011 berusaha memotret dua budaya yang relatif mirip: Jawa dan Jepanag. “Jepang dan Jawa sama-sama menuju puncak modernitas, namun tetap menghargai tradisi. Pawang hujan merupakan profesi yang ada di Jepang maupun Jawa, sampai sekarang,” jelasnya.

Menurut Humas LOL Faruq Dermawan, banyak kisah menarik mengiringi syuting film di Desa Guci Kecamatan Godong, Grobogan ini. “Syuting nyaris batal karena terganggu kerumunan penonton dari warga setempat. Mungkin saking penasarannya, penonton sampai naik pohon,” cerita Faruq.

Akhirnya kru bersiasat melakukan ‘pengalihan isu’, yakni dengan memutar film layar tancap di lapangan desa setempat. “Setelah penonton pergi ke layar tancap, baru kami bisa syuting,” kenangnya perihal syuting film berbujet Rp 6 juta ini.

Kenangan menarik lain, kru harus ‘menanam’ beberapa batang pohon bambu untuk seting tempat. “Berat banget, hujan-hujan harus menamam pohon bambu utuh,’ ceritanya tergelak.

Film dengan durasi 17 menit ini dilengkapi narasi dalam bahasa Jepang. “Kami ingin ikut festival film internasional,” jelasnya.

Sayangnya, obsesi terkendala dana. Pasalnya harus mengubah format menjadi pita seluloid 35 mm. Biaya transfer mahal. Padahal, selama ini mereka kerap bantingan untuk ngongkosi biaya bikin film.

Semua pemeran film adalah mahasiswa ‘pribumi’. Naomi misalnya, diperankan Diah Ayu Suki, mahasiswa Unisbank. Adapun pembuatan narasi berbahasa Jepang, dibantu Komunitas Hikari Udinus.

LOL sudah bikin empat film. Selain Teru-teru Bozu (2011), ada Kost 420 (2009), Refleksio (2010), dan Good Job Mr Tripp (2011). (nji)


Pengajian Mengenang Gus Dur di Unwahas

Written By p3joeang45 on Senin, 02 Januari 2012 | 18.32

Suasana pengajian haul Gus Dur di Unwahas
KH Soleh Darat pernah berkata, salah satu tanda kewalian seseorang adalah banyaknya orang yang berziarah ke kuburnya setelah meninggal dunia. Hal yang ternyata terjadi pada makamnya itu juga terjadi pada Gus Dur.

Terkait dengan ulama agung gurunya para ulama tanah Jawa itu, Rektor Universitas Wahid Hasyim Dr Noor Ahmad punya cerita menarik. Dia tuturkan, sewaktu ia dan tim PWNU Jateng hendak mendirikan universitas, ketika sowan kepada Gus Dur di Jakarta malah disuruh ziarah ke makam Mbah Soleh Darat.

Ia dan timnya pun ke makam     gurunya pendiri NU KH Hasyim Asy’ari dan  juga gurunya pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan tersebut di Bergota. Saat itu Noor Ahmad masih berpikir keras, apa maksud Gus Dur menyuruh datang ke makam wali.

“Setelah kami ziarah, kami baru mengerti maksud Gus Dur. Mendirikan universitas itu harus dilandasi niat yang bukan duniawi. Harus dengan jiwa mendidik seperti Mbah Soleh Darat,” tuturnya.

Ulasan senada juga disampaikan dosen IAIN Walisongo Semarang Hasyim Muhammad yang menjadi pembicara dalam pengajian model diskusi di acara Haul Gus Dur di halaman kampus Unwahas Rabu (28/12) malam kemarin. 

Hasyim menguraikan, ziarah ke kuburan adalah cara paling afdhol untuk mengingat mati. Orang kalau ingati mati, pasti ingat akhirat. Lalu bisa merefleksikan langkah hidupnya yang sedang dilakoni.
“Itulah hebatnya Gus Dur. Untuk menasehati orang, beliau langsung melibatkan wali besar di tanah Jawa yang juga merupakan guru kakeknya. Agar kita selalu bening pikiran dan bersih jiwa,” tuturnya di hadapan ratusan hadirin yang mayoritas mahasiswa Unwahas.

Lebih lanjut Hasyim menjelaskan, orang yang selalu ingat mati, pasti hidupnya terkendali. Tidak diperbudak duniawi. Menurutnya, hal itulah jalan sufi yang ditempuh Gus Dur dan diajarkan kepada umat Islam agar berakhlak mulia seperti Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Pembicara lainnya,  penulis Buku “Nasionalisme NU” Zudi Setiawan memaparkan, Gus Dur telah menjaga Indonesia seutuhnya sebagaimana tujuan awal didirikan. Gus Dur, menurutnya, selalu konsisten menjaga konstitusi dan taat pada hukum.

“Gus Dur memang pantas jadi bapak bangsa ini. Dia menjaga kebinekaan dan kerukunan seluruh kompenen bangsa. Semua merasa diayomi,” terang dosen FISIP Unwahas ini.

    Selanjutnya, Ketua Lembaga Studi Sosial dan Agama Tedi Kholiluddin mengulas  keberanian Gus Dur memperjuangkan kebenaran yang diyakininya. Semua orang yang menjaga moral, seperti para Nabi, kata Tedi, selalu dimusuhi oleh masyarakatnya di awal. Namun dipuja banyak orang setelah tiada,” tuturnya.

Bersarung dan Berpeci
Dalam acara haul yang diadakan malam hari tersebut, para mahasiswa Universitas Wahid Hasyim kompak memakai sarung dan peci khas santri. Sedangkan mahasiswi memakai rok panjang atau sarung, plus jilbab yang juga khas santri pesantren. Sebelumnya, dibacakan sholawat dengan syiir tanpo waton gubahan Gus Dur oleh tim rebana Unwahas.

Ketua BEM Unwahas Wahyu Aji mengatakan, kegiatan haul Gus Dur akan digelar tiap tahun. (moi/nji)


Pengukuhan Doktor IAIN Walisongo

Written By p3joeang45 on Jumat, 25 November 2011 | 10.34

Mihtahul Huda (kiri) menerima ucapan selamat dari Rektor Prof Muhibbin usai dinyatakan lulus promosi doktor
 JANGAN anggurkan aset wakaf, tapi kembangkan agar asetnya beranak pinak. Di antaranya dengan cara fundraising.  Selama ini, wakaf sering dimaknai kaku, yakni berupa tanah atau bangunan sebagai aset tak bergerak. Padahal, wakaf bisa berupa uang tunai atau benda yang mudah dipindahkan seperti Alquran Braille untuk penyandang tunanetra.

Wakaf yang dikelola profesional dan kreatif, serta menerapkan manajemen fundraising,  manfaatnya terus menerus dan berkesinambungan meski nadhir-nya berganti-ganti. Jika pengelola wakaf ‘mata duitan’, maka aset wakaf tak mati, justru semakin berkembang.

Hal itu dipaparkan Miftahul Huda dalam ujian promosi doktor dalam Rapat Senat Terbuka Terbatas  di Aula Gedung Pascasarjana IAIN Walisongo Semarang, kemarin.

Ia berhasil mempertahankan disertasi berjudul Pengelolaan Wakaf dalam Perspektif Fundraising: Studi tentang Penggalangan Wakaf pada Yayasan Hasyim Asy’ari Ponpes Tebuireng Jombang, Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, dan Yayasan Dana Sosial Al-Falah Surabaya.

Dia yakin, eksistensi Ponpes Tebuireng Jombang karena pengurus yayasan menerapkan fundraising.
Sedangkan Yayasan Badan Wakaf UII Yogyakarta, berkembang seusia republik karena menerapkan fundraising pemberdayaan masyarakat berbasis universitas.

Adapun Yayasan Dana Sosial Al-Falah (YDSF) Surabaya sebagai lembaga filantrofi  tertua di Indonesia, yang berbasis kaum dhuafa, berhasil menggalang dana wakaf masyarakat kota dan mengembangkan wakaf itu dalam program investasi dan ekonomi produktif.

“Ketiga nadhir wakaf tersebut menerapkan fundraising dengan mehimpun wakaf dari sumber yang tersedia, membuat unit usaha sehingga aset wakaf produktif, serta mampu mendatangkan penghasilan (earned income) plus pemberdayaan masyarakat,” terangnya.

Atas hasil penelitian dan karya tulisnya itu, promovenda dinyatakan lulus sangat memuaskan dengan indeks prestasi 3,74.
Para pengujinya ialah Prof Ibnu Hadjar, Prof Khoirudin Nasution, Prof Ahmad Gunaryo, Ahmad Hakim, serta Abu Hafsin. Adapun promotornya adalah Rektor IAIN Walisongo Prof Muhibbin dan co-promotor M Nafis.

Miftahul Huda merupakan doktor kelima yang diluluskan IAIN Walisongo. Huda adalah dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Ponorogo yang menempuh jenjang S1 dan S2 di IAIN (UIN) Sunan Kalijaga.

Pria kelahiran Kediri, 17 Mei 1976 ini  juga mengajar di STAI Nahdlatul Ulama Madiun dan aktif di kepengurusan NU Cabang Ponorogo. Yakni menjadi Sekretaris II Litbang PCNU Ponorogo dan sekretaris Lajnah Tallif wa an-Nasr PCNU Ponorogo. (moi/nji)

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. HARIAN SEMARANG - Education - All Rights Reserved
Template Created by Mas Fatoni Published by Tonitok
Proudly powered by Blogger