Diberdayakan oleh Blogger.
Latest Post

Biarkan TV Lokal Berkembang Alamiah

Written By amoy ya annisaa on Rabu, 30 Mei 2012 | 13.17


TV LOKAL: Para pembicara seminar memaparkan pentingnya konten lokal dalam siaran televisi, pada seminar di Undip kemarin
(HARSEM/DOK)

SEMARANG-Biarkankan TV lokal (daerah) berkembang secara alamiah. Demikian dikatakan anggota panja (panitia kerja) penyiaran, Ishadi SK saat mengisi seminar bertajuk ‘Membangun Penyiaran yang Ideal dan Realistis’, kemarin. Dalam seminar, dia mengkritisi kebijakan KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) yang menerapkan aturan berlebihan mengenai tontonan yang disiarkan televisi.

Mengenai kebijakan televisi berjaringan untuk menyajikan tontonan bermuatan lokal, dia mengatakan sudah mulai dilakukan sejumlah TV nasional. “Sudah banyak TV nasional yang memiliki TV lokal,” jelasnya dalam seminar yang diadakan Magister Ilmu Komunikasi Undip ini.

Dikatakan, hingga saat pun perkembangannya cukup baik. “Meskipun untuk ukuran lokasi, broadcaster yang ada di dalamnya serta fasilitas masih tergolong sederhana, namun perkembangannya cukup baik,” ujarnya.

Dikatakan, memang untuk waktu tayang, masih ada sejumlah TV lokal yang belum memiliki aturan pasti. “Tapi paling tidak sudah ada niat untuk mengembangkan,” tambahnya.

Namun dia berharap perkembangan berjalan wajar. “Tidak melalui pemaksaan untuk mereduksi TV nasional,” ujar komisaris Trans TV ini.

Untuk Trans TV sendiri, hingga saat ini masih aktif untuk mengirimkan tim untuk liputan di daerah. “Ada beberapa acara yang untuk liputannya dilakukan di daerah-daerah. Di antaranya Jejak Petualang, Laptop Si Unyil, Jelajah dan beberapa program lain. Ini yang mungkin luput dari perhatian KPI,” ujarnya.

Dikatakan pula, hingga saat ini pihaknya memiliki 40 koresponden dari sejumlah daerah di Indonesia. “Beberapa koresponden sedemikian aktif sehingga banyak menyumbang kegiatan dan acara yang bersumber dari materi lokal,” ujarnya.

Sementara, pihak KPI yang diwakili oleh Budi Sudaryanto mengatakan, saat ini banyak acara di televisi yang sudah mengalami pergeseran. Dikatakan, penyiaran justru berubah menjadi lahan industri basah.

Dikatakan, pergeseran peran media penyiaran menuntut dikembangkannya undang-undang penyiaran untuk menjaga daya jangkaunya terhadap persoalan kontemporer. Ketua KPID Jawa Tengah ini mengatakan, pada dasarnya televisi besar di Jakarta tidak terlalu peduli perkembangan di luar daerah. Untuk itu diharapkan ada siaran televisi berjaringan.

Salah satu TV nasional yang sudah melakukan yakni SCTV. Dengan siaran lokal, misalnya Surabaya. Pada siaran ini, hanya daerah wilayah Surabaya saja yang bisa menikmatinya. Materi berita yang disajikan juga seputar Surabaya. (awi/16) 

SMAN 1 Demak Peringkat Kelima Jateng


SERAHKAN PIAGAM: Kepala Dindikpora H Afhan Noor menyerahkan penghargaan kepada siswa berprestasi dari SMAN 1 Demak
(HARSEM/SUKMA WIJAYA )

DEMAK-Hasil Ujian Nasional (UN) tahun 2012 dengan rata-rata nilai 8,5 membawa SMAN 1 Demak masuk peringkat lima besar Jawa Tegah. Pengakuan Kepala SMAN 1 Demak, Suyanto keberhasilan berkat kerja keras dan dedikasi guru dan siswa.

Ternyata, kurikulum RSBI yang diterapkan tiga tahun lalu menuai hasil luar biasa. Terbukti, lulusan RSBI generasi pertama dari SMAN 1 Demak telah membawa harum nama.

“Perihal kelulusan, semula SMAN 1 Demak belum pernah meraih prestasi terbaik ke-5 se-Jateng. Namun setelah lulusan RSBI generasi pertama, sekolah semakin berkualitas," jelas Suyanto ketika memberi laporan dalam wisuda SMAN 1 Demak angkatan ke-48, Selasa (29/5) di halaman olahraga SMAN 1 Demak.

Disampaikan Suyanto, sebanyak 362 siswa SMAN 1 Demak 100 persen lulus. Keberhasilan metode pendidikan yang diterapkan pihak sekolah, hanya menggunakan biaya operasional pendidikan lebih murah dibanding sekolah lain sekelas RSBI. Hal inilah yang menjadikan SMAN 1 Demak luar biasa.

Sebanyak 32 siswa telah menerima undangan masuk perguruan tinggi negeri tanpa melalui tes dI UGM, Unnes, dan Undip.  Setelah memberikan penghargaan, Kepala Dindikpora Demak H Afhan Noor mengingatkan menjadi peringkat lima besar bukan akhir tujuan. "Seperti misi Pemda bagaimana terus meningkatkan mutu pendidikan ke depan karena hal ini yang menentukan kemajuan suatu negara," katanya.

Menurut Afhan Noor, prestasi luar bisa yang diraih SMAN 1 Demak juga didukung para wali murid yang turut mendorong putra-putrinya bersemangat dalam menempuh pendidikan. Selain itu kurikulum RSBI mendukung sarana-prasarana menunjang pendidikan berkualitas.

Namun sekolah berkualitas tidak hanya dilihat kondisi gedung sekolahnya yang megah, tetapi ditentukan dengan sistem pembelajaran yang berkualitas. Dan ini bisa dipenuhi melalui kurikulum RSBI. (swi/16)

Siswa Miskin Takut Daftar RSBI


UJIAN RSBI: Siswi mengerjakan soal tes seleksi tahap 1 SMA RSBI di SMA Negeri 1 Semarang, kemarin.
(HARSEM/CUN CAHYA)

JAKARTA-Tak mudah ‘merayu’ siswa miskin agar mau mendaftar ke sekolah RSBI. Mereka takut masuk ke sekolah yang terkesan mahal itu.

PEMERINTAH mewajibkan sekolah RSBI menyediakan kuota siswa miskin sedikitnya 20 persen. Namun fakta di lapangan, kewajiban itu belum terpenuhi. Diduga, mayoritas siswa miskin takut lantaran sudah ada cap bahwa sekolah RSBI itu mahal. "Kenyataan di lapangan, kuota 20 persen untuk siswa miskin di RSBI belum terlaksana," ujar anggota Komisi X DPR RI, Nasrudin kemarin.

Menurutnya, penyebabnya karena siswa miskin masih ragu. Selain itu, sekolah juga dianggap kurang memberikan sosialisasi perihal kuota bagi siswa miskin.

“Diperlukan sosialisasi kepada masyarakat. Selama ini sekolah tak pernah melakukan sosialisasi,” ungkapnya.

Politisi Partai Golkar itu menegaskan, pemerintah harus melakukan kontrol dan pengawasan ketat terhadap kebijakan tersebut. “Pemerintah harus tegas, jika ada RSBI yang tidak mengalokasikan 20 untuk siswa miskin, harus diberikan sanksi,” harap Nasrudin.

Terkait dengan keberadaan RSBI, dirinya merasa memang perlu dilakukan evaluasi secara menyeluruh. Selain masalah biaya yang dirasa terlalu tinggi, penggunaan bahasa asing sebagai bahasa pengantar juga perlu dievaluasi.

“Penggunaan bahasa pengantar menggunakan bahasa asing bertentangan dengan UU. RSBI ini belum standar internasional, tapi beban biayanya sudah terlalu mahal,” tegasnya.

Sementara, Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Pendidikan, Musliar Kasim mengatakan, kewajiban RSBI untuk mengalokasikan kursi bagi siswa miskin harus terlaksana. 
 
Dijelaskan, tidak terlaksananya kuota tersebut disebabkan masih minimnya minat siswa miskin untuk masuk ke RSBI.  “Itu disebabkan masih sedikitnya siswa miskin yang mendaftarkan masuk ke RSBI. Mereka masih takut, padahal sudah ada kewajiban alokasi untuk siswa miskin berprestasi,” tuturnya.

Dikatakan, pihaknya tidak akan segan memberikan peringatan jika ada RSBI yang tidak melaksanakan, apalagi sampai menolak siswa miskin. "Kalau ada RSBI yang menolak siswa miskin, akan kami beri teguran. Tapi sampai saat ini belum ada," ucapnya.

Pendaftar Membludak

Di Semarang, banyaknya peserta tes tertulis di SMAN 3 Semarang membuat panitia harus meminjam ruangan SMAN 5 Semarang. Kepala Sekolah SMAN 3 Semarang, Hari Waluyo mengatakan pihaknya meminjam empat ruang. “Jumlah peserta tes 1.279 orang,” jelasnya.

Untuk itu, diperlukan 64 ruangan. “Untuk tes tertulis tahap pertama ini kami menyaring 125 persen dari kuota yang dibutuhkan,” jelasnya.

Untuk itu, nanti akan ada 545 siswa yang tersaring. “Kuota kami 465 siswa,” imbuhnya.
Di pula SMAN 1 Semarang, ujian diadakan di 35 ruang dengan kapasitas 20 peserta. Kepala Sekolah Bambang Nianto Mulyo mengatakan, pengawas ujian dari guru internal.

Tes tertulis SMA/SMK RSBI Kota Semarang diadakan selama dua hari, yakni Senin (28/5) dan Selasa (29/5). Hari pertama peserta mengerjakan soal matematika, bahasa Indonesia dan IPS. Sedangkan hari kedua bahasa Inggis dan IPA. Masing-masing mata pelajaran diberi waktu 120 menit.

Peserta yang lolos tes tahap I ini, berhak mengikuti tes tahap II yang meliputi kemampuan bahasa Inggris, psikotes, dan wawancara. (K-32-JBSM/awi/16)

Guru Nurul Hasfi ‘Ogah’ Jadi Jurnalis

Nurul Hasfi
(HARSEM/ARIS WASITA WIDIASTUTI)

SALAH satu dosen Ilmu Komunikasi Undip, Nurul Hasfi rupanya memiliki ketertarikan di dunia jurnalistis. Untuk itu, meskipun sudah menjadi pengajar, ibu satu anak ini juga masih setiap terhadap jurnalistik. “Saya mengajar ilmu komunikasi untuk konsentrasi jurnalistik,” jelasnya kepada Harsem saat ditemui, kemarin.

Dia mengatakan, sebelum menjadi pengajar, dia sempat aktif bekerja di salah satu stasiun televisi lokal di Semarang. “Saya lima tahun bekerja di TV lokal. Mulai 2006 saya aktif ngajar di Undip,” ujarnya.

Diakuinya, bekerja sebagai jurnalis dengan menjadi pengajar, lebih enak menjadi pengajar. Namun demikian, dirinya merasa beruntung pernah bekerja sebagai jurnalis. “Kalau cita-cita sih saat itu saya pernah ingin meliput daerah terpencil yang sedang konflik. Namun ternyata saya liputannya untuk daerah Semarang saja,” kata dia.

Dikatakan, sejak kecil dirinya memang sudah bercita-cita untuk menjadi jurnalis. “Karena pekerjaan itu penuh dengan tantangan. Ini kan merupakan pelayanan untuk masyarakat,” ujarnya.

Tak hanya itu, namun keuntungan menjadi jurnalis yaitu bisa menjadi orang pertama yang mengetahui info. “Jadi memang jurnalis itu sangat dibutuhkan orang,” tambahnya.

Namun demikian, dia merasa lebih ‘enak’ menjadi pengajar. “Menjadi pengajar jam kerjanya lebih jelas, dan yang pasti waktu untuk keluarga lebih banyak,” tandasnya. (awi/16)

Pasta Gigi Cangkang Kerang Raih Perunggu di Inepo

Written By amoy ya annisaa on Selasa, 29 Mei 2012 | 16.29

RAIH PERUNGGU: Dua siswa kelas XII Akselerasi SMA 3 Semarang, Amalia Nur Alifah (17) dan Farah Adrienne (16), meraih medali perunggu di Inepo) 2012 di Istambul,Turki. Mereka didampingi Kepala SMA 3 Semarang Hari Waluyo dan Koordinator Pengembangan Inovasi Karya Ilmiah Soleh Amin, dan Wakasek Kesiswaan
(JBSM/ANGGUN PUSPITA)

SEMARANG- Berbekal hasil penelitian ''Pasta Gigi Cangkang Kerang'',  dua siswi SMA 3 Semarang
sukses meraih medali perunggu di ajang Inepo 2012 di Istambul,Turki.

Setelah  berhasil berlaga di ajang Indonesian Science Project Olympiad (ISPO) 2012 Februari lalu dan membawa pulang medali perak, dua dara siswa kelas XII Akselerasi SMA 3 Semarang, Amalia Nur Alifah (17) dan Farah Adrienne (16), kembali menuai prestasi dengan mengantongi medali perunggu di ajang International Enviromental Project Olympiad (Inepo) 2012 di Istambul,Turki 15-19 Mei 2012.

Berbekal hasil penelitian ''Pasta Gigi Cangkang Kerang'',  dua siswi yang baru saja lulus itu berhasil unjuk gigi di antara 123 peserta dari 50 negara. Menariknya, penelitian di bidang kimia tersebut tidak hanya mampu mengubah limbah cangkang kerang dari Pantai Morosari, Sayung, Demak, menjadi pasta gigi, tetapi juga unggul sebab dinilai ramah lingkungan karena tidak menggunakan sodium laurir sulfat atau deterjen pada proses pembuatannya.

Didampingi Kepala SMA 3 Semarang Hari Waluyo dan Koordinator Pengembangan Inovasi Karya Ilmiah Soleh Amin, kemarin  mereka menuturkan ide dan proses pembuatan pasta gigi tersebut.
Amalia menjelaskan, ide membuat produk penelitian ini muncul saat kegiatan ''Science Camp'' yang diadakan sekolah di Pantai Morosari, Sayung, Demak. Di sana banyak limbah cangkang kerang yang mengurangi keindahan pantai. Daripada merusak pemandangan dan terinjak kaki nelayan atau turis, mereka pun memunguti untuk diteliti.

''Setelah pulang dari sana kami meneliti apa yang terkandung dalam cangkang kerang tersebut. Ternyata cangkang kerang mengandung kalsium yang tinggi dan baik untuk kesehatan gigi. Karena itu, kami buatlah menjadi pasta gigi,'' ungkap gadis kelahiran Kudus 29 Desember 1994 yang hendak melanjutkan kuliah di FMIPA ITB itu.

Cangkang kerang dihaluskan menjadi bubuk kemudian ditambahkan peppermint, gliserin, dan daun sirih untuk menjadi pasta gigi. Sengaja tidak ditambahkan deterjen agar tidak mencemari lingkungan ketika dipakai.

''Tidak hanya proses dan bahan pembuat atau formulanya yang kami unggulkan saat presentasi di hadapan juri, tetapi kami juga mengemasnya dalam kemasan menarik seperti halnya pasta gigi lain, sehingga sembilan juri yakin dengan manfaat dari penelitian kami,'' ungkap Farah.

Setelah berhasil meraih medali perunggu, dalam perjalanan dari tempat lomba, semua barang dan projek penelitian itu hilang di kereta saat di Turki. Namun, keduanya masih menyimpan formula pasta gigi itu, karena siapa tahu dapat dipatenkan.

Kepala SMA 3 Semarang Hari Waluyo mengemukakan, prestasi yang diraih para siswa di ajang internasional itu karena sekolah memberi ruang gerak pada bibit-bibit calon peneliti muda dalam kegiatan science creativity.

"Seleksi peneliti-peneliti muda ini sudah dilakukan sejak di sekolah. Tujuan ke depannya adalah jangan sampai negeri ini hanya menjadi konsumen, tapi juga harus bisa menciptakan produk," tandasnya. (JBSM/Anggun Puspita/15)

Siti Zubaidah: Ingin Terkenal Karena Prestasi



SEMARANG-Berharap agar SD Semesta bisa terkenal karena prestasi. Demikian diungkapkan oleh Kepala SD Semesta, Siti Zubaidah terkait harapannya ke depan untuk sekolah tersebut.

Dirinya mengatakan, ingin agar sekolah tersebut bisa mengukuti jejak dari para pendahulunya. “Misalnya SMP dan SMA Semesta itu kan terkenal karena prestasinya, kami juga ingin seperti itu,” jelasnya kepada Harsem saat ditemui, baru-baru ini.

Untuk itu, saat ini sudah ada sejumlah upaya yang dilakukan. “Salah satunya memang kami lebih banyak menitik beratkan penggunaan Bahasa Inggris,” jelasnya. Untuk Bahasa Inggris ini, sudah digunakan hingga 75 persen untuk komunikasi di sekolah. “Sejauh ini kami sudah memiliki 27 kejuaraan, kebanyakan di bidang Bahasa Inggris,” jelasnya.

Meskipun terhitung belum lama berdiri, dirinya yakin SD Semesta bisa menyamai prestasi dari SMP dan SMA Semesta. “Kami sangat optimis. Namun demikian kami masih terus meningkatkan kualitas pembelajaran,” jelasnya.

Sejauh ini, sekolah baru terisi hingga kelas tiga. “Karena kami kan termasuk sekolah baru, jadi memang belum banyak siswa,” ujarnya. Namun sejauh ini, banyak orang yang berkeinginan untuk memasukkan anaknya di SD Semesta. “Sejauh ini mereka sangat antusias. Untuk menghadapi tahun ajaran baru ini, mereka sudah mulai banyak yang tanya,” ujarnya.

Kebanyakan dari mereka tertarik karena penggunaan Bahasa Inggris. “Di sekolah kami, dari mulai siswa kelas satu hingga kelas tiga sudah lancar berbicara Bahasa Inggris,” jelasnya.

Hampir semua mata pelajaran menggunakan Bahasa Inggris. “Yang tidak pakai Bahasa Inggris hanya Bahasa Indonesia, Agama, IPS, dan PKn. Namun selebihnya, untuk komunikasi sehari-hari dengan teman maupun dengan guru kami menggunakan bahasa internasional tersebut,” tandasnya. (awi/15)
 

Kenalkan Semarang Lewat Peta 3D

SUASANA SEMINAR: Seminar “Mengangkat Potensi Kota Semarang Melalui Teknologi 3D” diikuti puluhan mahasiswa Unika Soegijapranata
(HARSEM/ARIS WASITA WIDIASTUTI)

 SEMARANG-Belum lama ini, sejumlah mahasiswa DKV (Desain Komunikasi Visual) Unika Soegijapranata membuat peta Kota Semarang melalui desain 3D. Untuk mengenalkannya, kemarin diadakan seminar “Mengangkat Potensi Kota Semarang Melalui Teknologi 3D (Semarang di Peta 3D Dunia)”. 

Pada seminar di ruang seminar lantai 3 Gedung Thomas Aquinas ini, turut hadir pihak Pemerintah Kota Semarang, yang dihadiri Irwansyah dari Dinas Tata Kota dan Permukiman Kota Semarang, dan dosen DKV, Arwin Purnama Jati.

Pada kesempatan tersebut, Irwansyah mengatakan, pihak pemerintah Kota Semarang sudah merencanakan untuk melakukan hal tersebut. “Namun karena ternyata ada dari para mahasiswa yang memiliki ide demikian, bukan tidak mungkin ke depannya kita akan bertukar pikiran dan bekerjasama,” jelasnya.

Dirinya mengatakan, Kota Semarang sendiri memiliki sejumlah potensi yang tidak bisa diperoleh di kota lain. “Salah satunya yaitu Semarang masuk ke dalam segitiga perekonomian yakni di Joglosemar. Selain itu Semarang juga dilewati antara Jakarta dan Surabaya,” urainya.

Selain itu, Semarang juga merupakan kota dengan fasilitas yang sangat lengkap. “Ada lapangan terbang, pelabuhan serta banyak kawasan industri dan dilengkapi dengan rumah sakit-rumah sakit,” ujarnya.

Untuk itu diharapkan agar masyarakat Semarang juga berpartisipasi untuk mewujudkan Semarang Setara. Sementara itu, Arwin Purnama mengatakan, Semarang merupakan kota yang netral. “Sebagai seorang pendatang dari Yogyakarta dan pernah tinggal di Jakarta, di antara kedua kota besar tersebut, Semarang tidak berjalan secara cepat seperti di Jakarta tidak juga lambat seperti di Yogyakarta,” urainya.

Untuk menampilkan potensi Semarang, dikatakan, sudah didukung oleh banyak hal. “Di antaranya bentuk kota yang ada Kota Atas dan Kota Bawah, ini tidak semua kota memiliki istilah tersebut,” jelasnya.

Sementara itu, pada seminar yang berkerjasama dengan skyscrapercity.com ini, Titus, salah satu anggota dari komunitas tersebut mengatakan, dengan adanya format 3D, maka banyak orang dari luar Semarang khususnya luar negeri yang belum pernah mendengar tentang Semarang menjadi tertarik untuk datang.

Diakuinya, banyak kawan dari luar negeri yang tidak tahu tentang Semarang ketika diminta untuk berkunjung. “Untuk itu kami mengenalkan lewat format 3D ini,” tambahnya.

Dikatakan, sejauh ini sudah ada sekitar 20 bangunan di Semarang yang sudah di-3D-kan. Di antaranya Gereja Blenduk, Kantor Pos, Kota Lama serta sejumlah hotel besar di Semarang.

Moderator yang juga dosen DKV, Bayu Widiantoro mengatakan, kegiatan ini berawal dari keinginan untuk menyumbang ide untuk Kota Semarang. “Apalagi Semarang juga memiliki potensi yang sangat besar. Untuk saat ini kami masih konsentrasi untuk menggali potensi di Kota Lama,” tandasnya. (awi/15)

Lulusan Terbaik dari Keluarga Sederhana

Mutiarani
(HARSEM/ARIS WASITA WIDIASTUTI)

SEMARANG-Siapa sangka, anak seorang pekerja serabutan bisa menjadi lulusan terbaik untuk Ujian Nasional (UN) SMK tingkat nasional. Dialah Mutiarani, siswa SMKN 2 Semarang ini mengaku tidak menyangka bisa menjadi peringkat satu. “Padahal persiapan saya saat menghadapi UN sama dengan teman-teman yang lain," jelasnya.

Dia juga bukan dari keluarga kaya yang setiap saat bisa memfasilitasi untuk meningkatkan pembelajaran. Anak dari pasangan Juwarto (alm) dan Sutarmi (55) itu mengungkapkan sebenarnya berkeinginan melanjutkan ke perguruan tinggi untuk memperdalam akuntansi. Namun, belum berpikir sejauh itu karena himpitan kondisi ekonomi keluarganya.

Namun bukan berarti usaha yang dia lakukan untuk meraih cita-citanya tidak ada. Diakuinya, dirinya sudah mendaftar beasiswa Bidik Misi di Unnes. "Mudah-mudahan lolos,” jelasnya.

Namun kalaupun tidak lolos, dirinya ingin bekerja terlebih dahulu. "Karena saya harus membantu ekonomi keluarga," jelasnya.

Saat ini, Mutiarani yang tinggal di Pudakpayung Setuk RT 6/RW 4 Semarang itu mengaku kedua kakaknya sudah bekerja di pabrik garmen dan bengkel, sementara ibunya bekerja serabutan membantu menjaga dan merawat rumah tetangga. "Jadi saya ingin membantu mereka," tambahnya.

Kepala SMKN 2 Semarang, Supriyanto mengatakan, Mutiarani termasuk siswa berprestasi di sekolah meski tidak pernah menempati peringkat pertama kelas. "Namun, peringkat tiga besar kerap diraihnya setiap semester," ujarnya.

Untuk nilai yang diperoleh Mutiarani hingga akhirnya bisa menduduki peringkat 1 nasional, di antaranya matematika mendapat 10, bahasa Indonesia dengan nilai 9,8, dan bahasa Inggris mendapat 9,8.

"Untuk itu dia berhasil memperoleh nilai 29,6. Itu nilai murni UN, belum ditambahkan nilai dari sekolah. Untuk itu kami sangat bangga dengan prestasi ini," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Bunyamin dalam kesempatan sama mengaku bangga dengan prestasi yang diraih siswa kelas 3 jurusan akuntansi SMKN 2 Semarang itu menempati peringkat pertama UN.

"Dia berasal dari keluarga kurang mampu. Penghasilan ibunya saja hanya Rp 600 ribu/bulan, itu pun tidak tentu. Oleh karena itu, kami akan kawal terus hingga mendapatkan beasiswa ke perguruan tinggi," tegasnya.

Berdasarkan data peringkat siswa SMK 15 besar UN se-Indonesia dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, ada tiga siswa SMK di Jateng yang menempati 10 besar, bahkan salah satunya, Mutiarani menempati peringkat pertama.

Peringkat kedua UN SMK secara nasional diraih siswa SMK Mitra Batik Tasikmalaya, disusul SMKN 1 Katapang, Jawa Barat. Dua siswa lain dari Jateng, yakni dari SMK Negeri 1 Purwodadi Grobogan menduduki peringkat tujuh dan delapan. (awi/16)

Siswa SD Jatisari Dilatih Karawitan

ANTUSIAS: Siswa SDN Jatisari Mijen antusias bermain karawitan
(HARSEM/DOK)
SEMARANG-Suara alunan gamelan terdengar dari sebuah rumah di Jalan Sumbermulyo 25 RT 01 RW I Kelurahan Jatisari, Kecamatan Mijen, pada Sabtu pagi (26/05). Di situ sanggar seni Mawardi Aji Raras atau sanggar Semar berada. Sementara itu, bunyi tetabuhan gamelan dihasilkan siswa kelas IIIA dan IIIB SD Negeri Jatisari yang sedang berlatih memainkan alat musik tradisional Jawa itu.

Telah lebih dari empat bulan, setiap Sabtu, para siswa itu harus berjalan kaki sekitar 500 meter dari sekolah menuju sanggar. Mereka dikoordinasi dua orang guru, Nanik Dwi Haryani, SPd dan Sumarni, SPd. “Para siswa dibagi menjadi lima kelompok yang masing-masing terdiri dari 15 siswa. Secara bergantian kelompok-kelompok itu dilatih oleh dua orang yang sangat peduli pada kesenian Jawa bernama Pak Sarno dan Pak Sugito,” kata Nanik.

Pagi itu para siswa sedang memainkan tembang dolanan sluku-sluku bathok. Tembang demi tembang dipelajari untuk dapat dimainkan. Menurut Sugito, mereka sangat cepat dalam belajar karawitan. “Proses belajarnya cepat,” kata Sugito.

Elma Tuti Latifa, siswa kelas IIIA yang ikut dalam kegiatan itu menyampaikan kegembiraannya. “Saya senang mengikuti ekstra karawitan,” ujar Elma.

WP Haryo Wicaksono, SPd, kepala sekolah menyampaikan bahwa ekstrakurikurer karawitan diselenggarakan siswa kelas tiga bekerja sama dengan sanggar seMAR. Tujuan utama kegiatan ini adalah untuk menanamkan rasa cinta pada diri siswa terhadap kebudayaan Jawa yang adi luhung.

“Kalau siswa bisa bermain gamelan, itu bonus saja. Yang terpenting siswa cinta dulu. Jika sudah cinta, siswa akan mudah belajar. Tidak hanya karawitan, tetapi juga belajar bahasa Jawa dan kepribadian atau unggah-ungguh Jawa. Sekarang banyak orang Jawa yang ilang Jawane,” jelas Wicak. (16)

Tetap Konvoi Meski Sudah Dilarang

NEKAT KONVOI: Sejumlah pelajar nekat melakukan konvoi sepeda motor meski sudah dilarang Dinas Pendidikan Kota Semarang
(HARSEM/INDRA PRABAWA)

SEMARANG-Dinas Pendidikan Kota Semarang elarang siswa merayakan kelulusan dengan konvoi dan corat-coret. Namun masih banyak siswa yang mengabaikan.

MEREKA nekat melakukan konvoi di sejumlah ruas jalan di Semarang. Di antaranya di Jalan protokol seperti Jalan Pahlawan, Jalan Pandanaran, Bundaran Simpanglima, Jalan Ahmad Yani, dan Jalan dr Cipto Semarang.

Mereka berkonvoi lengkap dengan seragam yang sudah dicorat-coret. Di antaranya berasal dari SMAN 11 Semarang, SMKN 3 Semarang, serta SMA Islam Sultan Agung 1.

Berdasarkan pantauan, beberapa d iantara mereka terlihat asyik berkonvoi dengan tidak menggunakan helm, meskipun lebih banyak yang berusaha taat dengan menggunakan helm. Tingkah dari siswa tersebut sempat memacetkan arus lalu lintas yang dilewati.

Terkait hal tersebut, Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Bunyamin mengatakan, pihaknya telah melarang keras aksi konvoi kendaraan bermotor dan corat-coret. Pihaknya telah memberikan surat edaran kepada seluruh sekolah untuk mengantisipasi siswa melakukan konvoi kendaraan bermotor dan corat-coret seragam terkait dengan euforia perayaan kelulusan.

"Konvoi kendaraan bermotor sangat membahayakan, baik diri sendiri maupun pengguna jalan lain. Kalau untuk seragam, daripada dicorat-coret, lebih baik disumbangkan ke orang lain yang lebih membutuhkan,” katanya.

Mengenai sanksi, pihaknya telah menyerahkan kepada masing-masing sekolah. Tidak semua siswa merayakan kelulusan dengan berkonvoi sepeda motor atau corat-coret seragam. 
 
Seperti yang dilakukan siswa SMAN 3 Semarang yang memilih membagikan nasi bungkus kepada masyarakat. Meski berkonvoi, mereka tidak menggunakan sepeda motor, melainkan dengan sepeda angin melewati ruas jalan, seperti Jalan Pemuda, Jalan Gadjah Mada, Jalan Pandanaran, Jalan Menteri Supeno, dan Jalan Pahlawan Semarang. Mereka juga membagikan 120 tangkai bunga mawar dan 150 nasi bungkus kepada warga.

Menurut kepala SMAN 3 Semarang, Hari Waluyo, pawai sepeda diikuti seluruh siswa kelas 3 yang berjumlah 484 siswa dari 13 kelas. "Kami pikir itu lebih baik dibandingkan mereka berkonvoi kendaraan bermotor yang merugikan masyarakat atau corat-coret seragam. Apalagi, mereka juga membagikan nasi bungkus," katanya.

Kelulusan Naik

Kelulusan SMA/SMK di Kota Semarang tahun ini naik. Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Bunyamin mengatakan kelulusan mencapai 99,87 persen. “Tahun lalu 99,85 persen,” jelasnya.

Dipaparkan, untuk SMA dan MA (Madrasah Aliyah), untuk program IPA mencapai 99,79 persen, IPS sebesar 99,68 persen, Bahasa sebesar 99,69 persen. "Sedangkan untuk MA program keagamaan 100 persen lulus," jelasnya.

Rerata kelulusan tingkat SMA/MA untuk tahun ajaran 2011/2012 mencapai 99,83 persen. "Sedangkan untuk SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) juga 99,83 persen," ujarnya.

Dikatakan, jumlah siswa yang menjadi peserta Ujian Nasional (UN) SMA dan sederajat di Kota Semarang sebanyak 22.284 siswa. "Yang dinyatakan tidak lulus tahun ini mencapai 29 orang. Mereka tersebar dari sejumlah sekolah," ujarnya.

Sekolah negeri yang tidak meloloskan 100 persen di antaranya SMAN 8 dan SMKN 8 Semarang. “Masing-masing tidak meloloskan satu siswa. Lainnya dari sekolah swasta," ujarnya. (awi/16)

Guru Teguh Waluyo Bangga Prestasi Sepakbola

Teguh Waluyo
(HARSEM/DOK)

SETELAH keluar menjadi juara 1 di tingkat kota, klub sepakbola dari SMP N 4 Semarang sedang mempersiapkan diri untuk maju dalam Pertandingan Liga Pendidikan Indonesia (Lipio) tingkat Jateng. 
 
Bagi Kepala Sekolah SMP N 4 Semarang Teguh Waluyo, ini menjadi prestasi yang mengharumkan nama sekolah.

Teguh Waluyo mengatakan, setelah menjadi juara pertama di tingkat kota, akan dilanjutkan berlaga di tingkat provinsi. “Persiapan untuk pembinaan pemain-pemain sudah kita lakukan selama satu tahun,” katanya.

Teguh mengatakan, pembibitan pemain telah dilakukan sejak kelas VII. Sehingga untuk Lipio tahun 2012 ini diikuti oleh siswa kelas VII dan VIII. “Kami belajar dari pengalaman sebelumnya yang hanya mendapatkan peringkat runner up. Untuk Lipio 2012 kita optimis menjadi juara pertama,” ungkapnya.

Untuk melatih kemampuan siswanya, Teguh menambahkan, mendatangkan pelatih khusus yakni mantan pelatih PSIS Achmad Wiryo untuk mengglembeng siswa yang akan maju dalam Lipio.

Meski sebagian siswa tengah mempersiapkan Lipio, namun mereka tidak ketinggalan dalam hal pendidikan akademik. Karena, mereka juga diberikan pelajaran tambahan khusus.

“Para siswa yang akan maju Lipio, juga harus mengutamakan pendidikan akademiknya. Jadi, siswa tidak hanya berprestasi di bidang olahraga saja, tetapi juga akademiknya. Kami akan mendukung potensi apa saja yang dimiliki siswa asalkan positif dan membanggakan,” ungkapnya. (wam/16)

Amc Tri Handajani Awalnya Ingin Jadi Asisten Apoteker



SEMARANG-Berawal ingin menjadi asisten apoteker, namun nasib membawanya menjadi guru TK. Demikian penggalan hidup dari Amc Tri Handajani. Dirinya ingin menjadi asisten apoteker dikarenakan kesan yang diberikan, asisten apoteker selalu terlihat bersih dan cantik. “Selain itu pasti banyak uangnya, itu yang bikin saya pingin jadi asisten apoteker,” ujarnya.

Kepala TK Taman Putra ini mengaku, karena ingin menjadi asisten apoteker, dirinya sempat bersekolah di Theresiana. “Saya sempat menyelesaikan tahun pertama saya di sana, tapi memasuki tahun kedua, rasanya saya tidak sanggup,” jelasnya kepada Harsem, kemarin.

Akhirnya dirinya memutuskan untuk keluar dari sekolah. “Tapi saat itu saya sempat dilarang keluar oleh guru dan teman-teman, tapi saya tidak sanggup lagi akhirnya keluar,” jelas ibu dua anak ini.

Setelah keluar, dirinya sempat bingung untuk melanjutkan sekolah kemana. “Sempat bingung juga, tapi dalam hati saya harus tetap sekolah, saya nggak mau berhenti sampai disini,” jelas nenek empat cucu ini.

Akhirnya, ada satu tetangga yang menjadi guru TK. “Suatu hari dia menawari saya untuk mau ngajar di TK, langsung saya bersedia. Tapi kan saya masih bingung dengan sekolah saya,” jelasnya.

Selanjutnya, dirinya mulai sering bertanya kepada orang-orang di sekitarnya untuk pendidikan guru. “Akhirnya tetangga saya itu menyuruh saya untuk mendaftar di SGTK,” ujarnya.

Mengenai karir, dirinya mulai mengajar sejak tahun 1970. “Saat itu usia saya masih 17 tahun,” jelas wanita kelahiran Semarang, 25 Januari 1953 ini. Dirinya mengatakan, bulan Januari tahun depan dirinya memasuki masa pensiun sebagai PNS. “Setelah pensiun nanti, kalau memang saya masih dibutuhkan di TK ini maka saya akan tetap mengajar,” jelasnya.

Namun dirinya juga akan tetap aktif di bidang organisasi. “Saya kebetulan juga sangat senang berorganisasi. Organisasi yang saya ikuti ini bernama Yayasan Dharma Ibu, lebih ke bidang keagamaan dan pendidikan. Kami juga mengelola sejumlah TK di Kota Semarang,” tandasnya. (awi/15)

TK Taman Putra Mengajak Mandiri, Berani dan Peduli

NYANYI BARENG: Para siswa TK Taman Putra menyanyi dan menari bersama
(HARSEM/ARIS WASITA WIDIASTUTI)

SEMARANG- Mengajak anak agar mandiri, berani dan peduli merupakan satu hal yang dilakukan TK Taman Putra. Kemarin, para siswa diajak untuk berlatih mengenai kemandirian, keberanian dan kepedulian terhadap orang-orang yang ada di sekitarnya. 

“Misalnya ada satu sesi dimana anak-anak dibagi ke dalam kelompok. Satu kelompok berisi 10 anak. Mereka lantas melakukan tugas yang sudah diberikan,” jelas Kepala TK Taman Putra Amc Tri Handajani, saat ditemui di sela kegiatan, di Wisma Lansia Harapan Asri.

Dalam tugas tersebut, para siswa diminta untuk membuat pembatas kitab suci dari kertas. “Mereka menggunting kertas hingga menyerupai berbentuk bintang-bintang, setelah itu diwarnai,” jelasnya.

Yang menarik adalah masing-masing kelompok difasilitasi oleh peralatan dengan jumlah terbatas. “Misalnya satu kelompok hanya diberi tiga gunting dan satu crayon saja. Jadi mau nggak mau kan mereka harus bergantian menggunakan peralatan tersebut dengan teman yang lain. Tidak boleh egois,” ujarnya.

Dikatakan, selain itu, anak juga diajarkan untuk peduli terhadap orang lain. “Misalnya ada teman yang belum selesai mengerjakan tugasnya, maka teman yang sudah selesai bisa membantu,” ujarnya.

Dikatakan, kegiatan ini juga sekaligus mengajarkan kepada siswa tentang pendidikan karakter. “Karena dalam kegiatan ini mereka juga mendengarkan cerita tentang Santo Paulus. Dia adalah orang yang pemberani dan peduli,” terangnya.

Untuk itu, seusai siswa mendengarkan cerita tersebut, mereka bisa mencontoh sifat-sifat baik dari Santo Paulus. “Agar mereka juga mau mendalami karakter ini,” ujarnya.

Dijelaskan, pada kegiatan tersebut ada 60 siswa yang mengikuti dari TK kelompok A. Kalau untuk TK kelompok B sudah tanggal 18 Mei lalu, dengan membawa tema ‘Musa membebaskan Bangsa Galia’.

Pada kegiatan ini pihak sekolah juga melibatkan sejumlah mahasiswa Jurusan Psikologi dari Unika Soegijapranata.     

Laurencia Rizki yang bertindak sebagai trainer mengatakan, dengan adanya kegiatan-kegiatan yang sengaja diciptakan sendiri olehnya tersebut, para siswa bisa dilatih untuk mendalami tiga sikap tersebut.

“Pada kesempatan ini ada tujuh mahasiswa dari Psikologi Unika yang ikut. Dalam kegiatan ini juga ada sesi dimana anak-anak makan snack namun pembagiannya tidak dengan berebutan. Dengan begitu mereka akan lebih sabar menunggu giliran,” ujar mahasiswa Magister Profesi Psikologi tersebut. (awi/15)

Talent Show SD Semesta, Mainkan Drama Berbahasa Inggris


 
Kelincahan siswa SD Semesta tampak saat mereka mengisi pentas seni yang diadakan di Ruang Poncowati Hotel Patrajasa, kemarin. Pada acara tersebut, puluhan siswa terbagi dalam sejumlah kelompok. Di antaranya ada yang menampilkan tarian, drama musikal serta ada pula yang memainkan alat musik piano.

Dalam sambutannya, Kepala SMP/SMA Semesta, Moh Haris mengatakan, pihaknya sangat mengapresiasi terhadap apa yang sudah ditampilkan para siswa. "Kebutuhan gizi yang baik bagi anak akan memunculkan anak yang cerdas. Namun demikian mereka juga harus mendapatkan asah dan asuh dari orang tua dan guru," ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, dirinya juga berharap agar para siswa memberikan perhatian dan mau meluangkan waktu untuk mengikuti perkembangan anak-anak mereka. "Mereka telah diasuh oleh guru dengan kasih sayang yang berlimpah saat di sekolah. Untuk itu saya berharap agar orang tua juga mampu menciptakan atmosfer yang sama saat di rumah," ujarnya.

Diakuinya, melihat penampilan anak-anak yang memainkan drama dengan menggunakan Bahasa Inggris, hal tersebut sangat membanggakan. "Penampilan mereka saya acungi jempol. Semoga mereka bisa menjadi anak-anak yang tumbuh dan berkembang dengan baik," urainya.

Sementara itu, pada penampilan tersebut, para siswa juga menampilkan drama Bawang Putih dan Bawang Merah dengan berbahasa Inggris. Semaraknya kostum yang digunakan pun menambah kelucuan dari penampilan para siswa.

Sementara itu, Kepala SD Semesta, Siti Zubaidah mengatakan, kegiatan ini merupakan puncak acara dari pelajaran yang sudah diberikan kepada siswa sehari-hari. "Ini kami tampilkan dalam bentuk pementasan," ujarnya.

Dalam acara yang bertema 'Talent Show' ini, para siswa dilatih untuk mengasah kreativitas dan kepercayaan diri masing-masing siswa. "Ini baru pertama kali diadakan, ke depannya kami ingin rutin seperti ini," tambahnya.

Ketua panitia, Eka Riyanti mengatakan, dalam kegiatan ini, pihak sekolah juga mengundang beberapa TK yang berada di sekitar Banyumanik. "Karena sekolah kami kan juga berada di Banyumanik," ujarnya.
Diharapkan dari acara seperti ini, para undangan bersedia untuk bergabung di SD Semesta. (awi/15)

Mahasiswa IKIP Juara di Peksimida

MELUKIS DI PASAR : Sejumlah mahasiswa lomba Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) peserta karya seni lukis belum lama ini melukis di tengah - tengah keramaian pasar tradisional Bodjong Salaman, Pusponjolo
(HARSEM/INDRA PRABAWA)


SEMARANG- Tiga mahasiswa IKIP PGRI Semarang menyabet gelar juara dalam Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Jateng 2012.

Ketiganya adalah Santi Almufaroh yang menyabet juara pertama lomba menulis cerpen, Ibrahim sebagai juara II lomba membaca puisi, dan M Raisul Hakim juara harapan I membaca puisi.

Rektor IKIP PGRI Semarang Muhdi mengatakan, ketiganya mewakili Jateng dalam Peksiminas 2012 setelah menjuarai event serupa tingkat daerah. Adapun dari keiga mahasiswa itu, lanjutnya Santi yang mendapatkan juara pertama bakal mewakili Jateng untuk lomba menulis cerpen pada Peksiminas 2012 yang rencananya digelar 1-6 Juli mendatang di Universitas Mataram, NTB.

IKIP PGRI Jateng sendiri, memberi porsi yang cukup besar dalam kegiatan kemahasiswaan untuk memfasilitasi bakat, talenta, dan kemampuan seni. Selama 13 tahun terakhir ini, pihaknya rutin menjadi penyelenggara festival drama yang diikuti peserta dari pelbagai daerah.

''Tidak sedikit partisipan event yang kami selenggarakan ada yang berasal dari Pontianak, Manado, hingga Sulawesi Utara,'' ujarnya, kemarin. Sementara itu, Wakil Rektor III IKIP PGRI Semarang Supriyono  menyebutkan, Peksimida 2012 diikuti 184 mahasiswa dari 30 perguruan tinggi di Jateng. 

IKIP PGRI Semarang mengirimkan sembilan mahasiswa dalam ajang tersebut. Adapun event itu melombakan lima kategori lomba, antara lain menulis cerpen, membaca puisi putra dan putri, menulis puisi, dan menulis naskah lakon. Kategori serupa juga dilombakan dalam Peksiminas.

Menurutnya, keunikan dari event itu adalah seluruh karya yang dilombakan orisinil dari karya siswa. Mereka diharuskan menulis di lokasi lomba selama delapan jam masa karantina. Keharusan peserta menelurkan karya secara langsung di lokasi menjadi pembeda event ini dengan tahun sebelumnya. Ketentuan itu untuk menghindarkan penjiplakan.

Terpisah, Santi Almunafaroh yang menjuarai lomba menulis cerpen mengaku sudah terbiasa menulis puisi dan cerpen sejak duduk di bangku SMP. Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris ini mengungkapkan sudah lima buku yang dibuatnya, yakni "Antologi Puisi: Adalah Debu", kemudian cerpen yang berjudul "Perempuan Bersayap di Kota Seba", "Tanda", dan “Tatapan Mata Boneka". '

'Alhamdulillah cerpen saya berjudul 'Kelambit di Atas Kepala' berhasil menang. Cerpen ini mengisahkan kejahatan seorang lurah kepada masyarakatnya,'' tuturnya. (JBSM/J9/15)

Suluk Ling Lung dan Matematika Paling Diminati

DIMINATI: Buku Suluk Ling Lung dan matematika cukup diminati pembeli dari kalangan pelajar dan mahasiswa.
(HARSEM/SUKMA WIJAYA)

DEMAK-Ada fenomena menarik dalam pameran buku yang digelar Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah di Gedung KONI Demak. Para pelajar yang memadati pameran tertarik membaca buku Suluk Linglung dan matematika di salah satu stand.

Buka adalah samudera ilmu pengetahuan, demikian menurut Diah Yani pelajar SMA di Demak. Dia menyukai bacaan-bacaan yang menentramkan jiwa, seperti buku yang mendorong semangat berkarya, soal keteguhan niat, atau perjuangan.

Dia juga sempat kaget melihat sebuah buku terjemahan Suluk Linglung hasil karya Imam Anom, menceritakan perjalanan kewalian Sunan Kalijaga ketika bertemu Nabi Khidir, berisi wejangan mengenal diri sendiri. “Ceritanya seperti wayang Dewa Ruci,” akunya.

Pameran yang diselenggarakan selama tujuh hari mulai Senin (21/5) cukup mengundang perhatian pelajar dan pecinta buku. Sebagian dari mereka juga membeli karya-karya besar dari sastra atau sebuah cerita fiksi yang mendidik.

Kendati pameran buku dipadati pengunjung, ternyata masih ada yang menganggap animo baca masyarakat Demak kurang. Kendati demikian penyelenggara terus mencoba mendorong masyarakat di kota wali dengan pameran atau perpustakaan keliling. “Kami terus berharap minat baca bagi masyarakat atau pelajar meningkat,” ungkap Kepala kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah, Muliana, kemarin.

Keramaian 'Pesta Sejuta Buku 2012 Membaca Menjadi Tradisi' cukup menyita perhatian, apalagi mengadakan sejulah lomba untuk memeriahkan pameran buku yaitu lomba mewarnai gambar tingkat PAUD-TK, lomba fashion show (PAUD-TK), sulap magic for kids, lomba pildacil (tingkat SD), dan lomba baca puisi (SLTP-SKLTA).

“Kalau bisa pameran buka terus dilakukan agar kami terus mengetahui perkembangan informasi,” ungkap Siswa SMKN 1 Demak, Okter Syahenza ketika bersama kawannya melihat-lihat buku matematika. (swi/16)

Dilarang Kunto, Tetap Nekat Corat-coret

CORAT-CORET:Siswa SMA Negeri 1 Semarang melakukan aksi corat-coret merayakan kelulusan Ujian Nasional, kemarin
(HARSEM/INDRA PRABAWA)

SEMARANG-Permintaan Kepala Dinas Pendidikan Jateng Kunto Nugroho agar siswa tak melakukan aksi corat-coret saat merayakan kelulusan, tak gubris. Siswa SMA Negeri 1 Semarang bahkan sudah ‘beraksi’ kemarin, sebelum pengumuman resmi dilakukan pada Sabtu besok.

Sebelumnya Kunto Nugroho mengatakan, dinas pendidikan kabupaten/kota harus dapat memberikan peringatan kepada peserta didik agar tidak melampiaskan kegembiraannya secara berlebihan. Misalnya, dengan corat-coret baju seragam, arak-arakan, atau konvoi dan kegiatan lain yang mengganggu kepentingan umum.

“Harus dikoordinasikan dengan aparat keamanan setempat, orang tua atau wali siswa dan pihak terkait untuk mengantisipasi kegiatan yang tidak diinginkan,” ungkapnya, kemarin.

Dia berharap, sekolah dapat mengarahkan siswa untuk melakukan kegiatan positif dalam merayakan kelulusan. Diantaranya, menyumbangkan pakaian seragam pantas pakai kepada saudara, teman atau yang membutuhkan.

Mengenai ‘ulah’ siswanya yang melakukan aksi corat-coret, Kepala SMAN 1 Semarang Bambang Nianto Mulyo mengatakan tidak tahu. Dia mengaku belum memberikan pengumuman kepada siswa terkait kelulusan tersebut.     “Saya malah tidak tahu kalau anak-anak melakukan aksi corat-coret, jujur saya kaget,” jelasnya.

Dia mengaku juga tidak tahu bagaimana siswa demikian percaya diri bahwa mereka pasti lulus. “Kan pengumuman resmi itu baru akan keluar Sabtu tanggal 26 Mei nanti,” jelasnya kepada sejumlah wartawan saat ditemui di SMAN 1 Semarang, kemarin.

Diakuinya, dirinya sempat ditelepon Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Bunyamin. “Saya sempat ditanyai, kok anak-anak sudah melakukan hal demikian,” jelasnya.

Pihaknya sempat bertanya kepada para siswa mengenai pemberitahuan kelulusan tersebut. “Mereka bilang lewat internet, kami sendiri malah belum tahu perihal tersebut,” kata dia.

Mengenai hal itu, pihaknya memaklumi. “Karena kecanggihan teknologi saat ini, mungkin mereka bisa mendapatkan informasi yang lebih. Tapi kan belum tentu itu valid,” jelasnya.

sekolah diminta menghimbau siswa agar mereka membubarkan diri. “Karena pengumuman secara resmi belum ada,” tambahnya.

Lagi pula, pihak dinas pendidikan melalui sekolah sudah menghimbau kepada para siswa agar tidak merayakan kelulusan dengan cara yang berlebihan. “Tapi ini belum-belum kok sudah corat-coret,” tukasnya.

Dikatakan, pengumuman resmi mengenai kelulusan UN ini bisa dilihat melalui web sekolah pada Sabtu (26/5) pada pukul 14.00 WIB. “Selain itu kalau untuk pemberitahuan secara resmi akan dilakukan pengiriman surat kelulusan melalui pos dan ditujukan ke alamat rumah masing-masing siswa,” ujarnya.

Plt Kepala Sekolah SMAN 2 Semarang tersebut juga telah memberikan pengumuman kepada siswa SMAN 1 maupun SMAN 2 untuk menunggu pengumuman resmi hingga hari Sabtu mendatang. “Jadi bisa dilihat lewat web sekolah dan surat secara resmi,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Bunyamin mengakui menerima laporan mengenai aksi corat-coret yang dilakukan oleh sejumlah siswa dari beberapa SMA di Semarang.

“Saya menerima laporan hari ini tadi. Padahal rapat terkait kelulusan siswa di seluruh kabupaten/kota di Jawa Tengah baru dilakukan Kamis ini,” ujarnya, kemarin.

Pihaknya menyayangkan tindakan siswa tersebut.
Sore ini (kemarin), rapat tingkat provinsi dilakukan. “Selanjutnya, hasil UN dikirimkan hari ini ke masing-masing kabupaten/kota. Siangnya baru sekolah mengadakan rapat pleno penentuan kelulusan,” jelasnya.

Karena, kriteria kelulusan tidak hanya dari nilai UN, namun ada empat komponen. “Salah satunya nilai ujian sekolah,” tambahnya. (K3-JBSM/awi/16)

Guru Atik Namanya Pendek, Pengalamannya Panjang


Atik
(HARSEM/ARIS WASITA WIDIASTUTI)

NAMANYA cukup singkat: Atik. Tapi pengalamannya sebagai guru lumayan panjang. Sudah 16 tahun dia mengabdi menjadi guru. 
 
Awalnya dia hanya menggantikan seorang sahabat yang sedang sakit. Namun akhirnya menjadi guru tetap di SMA Institut Indonesia. “Awalnya saya bekerja di sebuah perusahaan, bagian akuntansi. Nggak tahunya sekarang malah jadi guru ekonomi,” jelas wanita kelahiran Kudus, 11 Novemver 1996 ini.

Dirinya mengatakan, pada awalnya dirinya hanya menggantikan selama beberapa waktu saja. “Tapi malah jadi keterusan,” ujar wanita yang hobi menyanyi ini.

Diakuinya, sebelum menjadi guru, dirinya tidak tertarik untuk berkecimpung di dunia pendidikan. “Tapi karena nasib membawa saya kesini, justru sekarang saya mencintai dunia pendidikan,” ujar guru Ekonomi kelas 10 dan 12 ini.

Hingga saat ini, dirinya sudah 16 tahun menjadi guru di SMA Institut Indonesia. “Dari sejak 15 Juli 1996 saya sudah menjadi guru,” jelas ibu dua anak ini.

Dikatakan, keasyikan menjadi pengajar yaitu ilmu bisa berkembang. “Selain itu kita diharuskan untuk berhadapan dengan banyak karakter siswa, dan itu berbeda-beda. Jadi kondisi ini membuat kita belajar, bagaimana bisa menjadi menangani dan membimbing mereka dengan baik,” jelasnya.

Yang paling penting, baginya mengajar adalah ibadah. “Karena kita kan memberi ilmu bagi orang lain, tak hanya itu, namun di sini kita juga terus belajar,” ujarnya.

Mengenai harapannya terhadap sekolah tempat mengajar, dirinya ingin agar SMA Institut Indonesia bisa menjadi sekolah swasta pilihan pertama setalah sekolah negeri. “Karena bagaimanapun juga sekolah negeri itu kan favorit, jadi kami ingin menjadi sekolah yang menjadi rujukan pertama setelah negeri,” jelasnya.

Untuk mewujudkan hal itu, dirinya dengan warga sekolah harus meningkatkan kualitas sekolah. “Semboyan SMA kami kan ‘Hidup 1000 Tahun Lagi’, semoga ini bisa terus terwujud,” tandasnya. (awi/16)

Lomba PAUD Tingkat Karesidenan

Written By Sena on Jumat, 25 Mei 2012 | 17.02


 PENILAIAN: Tim juri saat melakukan penilaian di Gugus RA Kartini di PAUD Koronka, Bawen.(HARSEM/HERU SANTOSO)


Gugus RA Kartini Wakili Kab Semarang

UNGARAN - “Satu untuk semua”, dijadikan motto Gugus RA Kartini di Jalan Diamond 442-443 Perum Ambarawa Asri, Kelurahan/Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang dalam melakukan semua kegiatannya. Kalimat tersebut mengandung arti, jika semua memiliki kelebihan maka harus dapat berbagi dengan yang lain. 

“Jika yang satu pandai maka semua harus bisa pandai dan yang terpenting, semuanya harus menjadi unggulan,” ungkap Ketua Gugus RA Kartini, Bernadetta S Tini di hadapan tim juri dari Karesidenan Semarang dalam penilaian kegiatan Gugus RA Kartini di PAUD Koronka Bawen, Selasa (22/5). 

Dipilihnya nama RA Kartini karena diharapkan para guru PAUD yang tergabung dalam gugus ini dapat memiliki semangat seperti pahlawan wanita itu.  Dalam melangkah menuju semangat seperti RA Kartini tersebut tentunya tidak lepas dari berbagai hambatan, namun dengan tekad berkembang dan harus maju akhirnya rintangan itu dapat dilalui bersama.
          
“Kami katakan, sebagai guru PAUD maka dalam konsep berpikirnya harus dapat mendidik anak bangsa dengan bekerja secara ikhlas. Namun, keikhlasannya dalam mendidik ini belum diimbangi dengan pengakuan dari pemerintah dengan baik. Artinya, belum ada keseimbangan antara pengakuan pemerintah dengan tugas mulia yang dilakukan para guru PAUD ini,” jelas Kepala PAUD Koronka Bawen itu, saat presentasi program PAUD di hadapan para juri.
          
Sementara, Kepala UPTD Pendidikan Kecamatan Bawen Noor  Komariyanta mengatakan, penilaian yang akan dilakukan juri dalam lomba gugus ini, intinya akan menilai kelompok PAUD yang di dalamnya tergabung TK, kelompok bermain, penitipan anak, dan satuan PAUD sejenis. Semua ini, diakui ada di PAUD Koronka Bawen, sehingga dalam lomba di tahun 2012 ini, berhak mewakili Kabupaten Semarang dalam lomba tingkat Karesidenan Semarang.

Bina Masyarakat
          
“Dengan telah dijadikannya PAUD Unggulan di Kabupaten Semarang ini, segala potensi yang dimiliki dapat mendukung  yang lain. Dengan kata lain, akan menjadi pedoman dari gugus lainnya yang akhirnya dapat melaksanakan pendidikan PAUD sesuai dengan acuan atau kurikulum yang ada. PAUD ini awal dari kegiatan bina masyarakat di sekitarnya, “ tandas Noor didampingi Kasi PAUD dan TK Diknas Kabupaten Semarang kepada Harsem, di sela-sela lomba gugus di PAUD Koronka.
          
Kabid PAUD dan PNFI Diknas Kabupaten Semarang Supandi mengatakan, dengan lomba ini diharapkan dapat meningkatkan pendidikan dan memunculkan generasi penerus pendidikan. Jika Gugus RA Kartini menjadi pemenangnya, akan mewakili Karesidenan Semarang untuk lomba tingkat Provinsi Jawa Tengah.
          
Tim juri yang datang dan melakukan penilaian masing-masing Suyadi (Kabupaten Semarang), Mohammad (Kabupaten Grobogan), Joko Sambudi (Kota Salatiga), Elisa (Kota Semarang), Yosephine (Kabupaten Demak), serta utusan dari Kabupaten Kendal. 
“Tim juri ini akan melakukan penilaian apa adanya yang diberikan Gugus RA Kartini, bahkan dijamin tidak ada suap-menyuap untuk memenangkannya,” tandas Koordinator Tim Juri, Lukito. (heru santoso/15)  

Guru Jadi Boy Band, Siswa Histeris

TAMPIL ENEGRIK: Para guru terlihat energik saat tampil di depan ratusan siswa dan tamu undangan
(HARSEM/ARIS WASITA WIDIASTUTI)

SEMARANG- -Menarik melihat perayaan perpisahan siswa kelas tiga SMA Institut Indonesia yang diadakan di Gedung Wanita, kemarin. Panggung yang biasanya diisi siswa, kali itu juga diisi penampilan guru. Yang lebih menarik, para guru berdandan layaknya boy band dan girl band yang saat ini sedang marak digandrungi kaum muda.

Keriuhan siswa mewarnai penampilan lima guru pria dan lima guru wanita tersebut. Bahkan banyak yang histeris, berjingkrak naik kursi mengiringi penampilan guru tercinta.

Ketua panitia perpisahan, Atik mengatakan, para guru sengaja terlibat secara langsung karena mereka juga ingin memeriahkan acara. “Dari tahun ke tahun, kami selalu menyelenggarakan perayaan perpisahan seperti ini, dan guru-guru selalu terlibat, baik dalam kepanitiaan maupun dalam penampilan,” jelasnya kepada Harsem saat ditemui di sela acara.

Dia mengatakan, penampilan guru menjadi momen yang sangat ditunggu-tunggu oleh siswa. “Mereka sangat senang, dan guru pun latihan sangat keras agar bisa memberikan penampilan terbaik di depan siswa didiknya,” kata dia.

Dijelaskan, para guru yang tampil di panggung tergabung dalam kelompok Sunjo. Kepanjangannya ‘Suka Njoged’.

Tahun ini, tema yang diambil retro. “Mengambil tema retro karena kami ingin mengajak siswa untuk bercermin dari masa lalu untuk bisa menyongsong masa depan yang lebih cerah,” ungkapnya.

Dia mengatakan, dari tahun ke tahun, sekolah selalu mengangkat tema berbeda. “Pernah saat itu tema tradisional, jadi para tamu juga harus memakai baju tradisional. Pernah juga hitam putih, tidak boleh ada warna lain yang dipakai selain itu,” jelasnya.

Dikatakan, acara sebagai klimaks dari perjuangan siswa kelas 12. “Ini akhir dari perjuangan mereka saat duduk di SMA, jadi ya dirayakan dengan meriah. Untuk siswa kelas tiga ada 260 siswa. Ada yang duduk saja menjadi tamu, ada juga yang tampil di panggung,” jelasnya.

Tak hanya penampilan dari guru yang menari dan melakukan aksi drama dengan diiringi sejumlah lagu anak muda, ada juga penampilan tari Jawa, dance, solo vocal, serta model. Sementara itu, dengan tema retro tersebut tak sedikit tamu yang berbusana lampau. 
 
Sejumlah tamu terlihat memakai baju bunga-bunga serta tak sedikit yang menyempurnakan penampilan dengan memakai kaca mata lebar khas anak muda masa lalu. (awi/16)


Seminar Internasional FEB Undip Tiap Negara Punya Gaya Manajerial Berbeda


SEMINAR INTERNASIONAL: Tiga pembicara di seminar internasional bertema Practices and  Research in Management: Cross-Cultural Perspective yang diadakan FEB Undip(HARSEM/ARIS WASITA WIDIASTUTI)


SEMARANG - Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Undip mengadakan seminar internasional bertema Practices and  Research in Management: Cross-Cultural Perspective di Auditorium Gedung C Kampus Tembalang, kemarin.

Pada seminar tersebut, tampak hadir Prof Jagannath Mohanty dari Indian Management of Technology, dan Heiko Schorr dari GIZ Germany. Ketua Jurusan Manajemen FEB Undip, Suharnomo  mengungkapkan, manajemen selama ini dianggap sebagai ilmu yang universal dimana praktik manajemen dianggap seragam. Pemikiran arus utama menganggap manajemen Amerika dapat ditransfer ke seluruh dunia. 

“Kalaupun ada perbedaan, keragaman tersebut hanya terletak pada management art or practices dan bukan pada ilmu manajemen sebagai sains yang mengandung konsep. Aliran tersebut dikenal dengan nama universalist approach yang menyatakan adanya uniformity dalam praktik manajemen,” ujarnya.

Namun seiring dengan munculnya kekuatan ekonomi baru seperti Jepang, Cina dan Korea, kesahihan teori universal dalam manajemen mendapat tantangan karena negara-negara tersebut tidak menerapkan gaya manajemen Amerika. “Inilah bukti empirik  dari  teori divergence yang mengatakan organisasi mempunyai kedekatan dengan budaya nasional yang melekat dan  sangat sulit untuk berubah sehingga masing-masing negara  memiliki gaya manajerial yang berbeda,” kata dia.

Dikatakan, penerimaan pandangan tersebut makin meluas didasarkan pada makin meningkatnya  perhatian pada  variabel lintas budaya di dalam praktek manajemen. “Tidak tertutup kemungkinan untuk melakukan penelitian yang mengarah pada terbentuknya Indonesian Style in Management dengan kinerja istimewa meskipun praktik manajemennya mendasarkan pada budaya Indonesia sendiri,” jelasnya.

Dikatakan, sebenarnya tidak ada komunitas tanpa budaya, tidak ada masyarakat tanpa pembagian kerja, tanpa proses pengalihan atau transmisi minimum dari informasi. “Dengan kata lain tidak ada komunitas, tidak ada masyarakat, dan tidak ada kebudayaan tanpa adanya manajemen komunikasi yang baik. Disinilah pentingnya kita mengetahui manajemen komunikasi antarbudaya,” tukasnya. (awi/15)

Guru Enny Setyawati Pukul Enam Pagi Tiba di Sekolah

Enny Setyawati
(HARSEM/ARIS WASITA WIDIASTUTI)

MENINGKATKAN kinerja harus dilakukan guru jika sudah meraih sertifikasi. Demikian dikatakan guru bimbingan konseling (BK) SMPN 2 Semarang, Enny Setyawati. Dia mengatakan, guru harus meningkatkan kinerja. “Karena sudah mendapatkan tunjangan dari pemerintah, apalagi saya bekerja di lingkungan RSBI,” jelas ibu dua anak ini saat ditemui di ruang kerjanya, kemarin.

Namun dia mengatakan, disiplin sudah mulai diterapkan jauh sejak dirinya belum menerima sertifikasi. “Peningkatan itu misalnya berangkat dan pulang kerja tepat waktu,” jelasnya.

Diakuinya, jauh sebelum itu dirinya sudah melakukan hal tersebut. “Kebetulan guru yang kebagian piket harus berangkat lebih pagi dari siswa. Saya pada pukul enam pagi tepat sudah sampai di sekolah. Begitu juga guru yang lain,” tandasnya.

Tak hanya itu, saat pulang pun hampir setiap hari guru harus kerja lembur untuk mengerjakan administrasi kantor. “Sering ada guru yang masih di kantor hingga pukul 10 malam,” jelas wanita kelahiran Semarang, 14 Maret 1959 ini.

Dia mengatakan, lingkungan kerjanya sudah ditunjang ketegasan kepala sekolah. “Kepala sekolah sangat tegas menerapkan peraturan sekolah. Kalau guru melakukan kesalahan, ya akan dimarahi betul,” jelasnya.

Terkait tunjangan sertifikasi, digunakan untuk fasilitas belajar. “Bisa digunakan untuk sekolah lagi, dalam waktu dekat ini saya berencana melanjutkan S2 di IKIP PGRI,” jelas lulusan S1 Tata Boga Unnes dan S1 BK IKIP PGRI ini.

Dia mengakui, sekolah merupakan kegemarannya. “Saya juga didukung oleh keluarga dan teman-teman, bahkan kepala sekolah juga meminta saya segera melanjutkan studi S2. Sekolah juga memberikan subsidi bagi guru yang ingin S2,” jelasnya.

Saat ini dirinya juga berkonsentrasi untuk meningkatkan kemampuan di bidang bahasa Inggris dan TIK (teknologi informasi dan komunikasi). “Karena kemampuan tersebut merupakan salah satu syarat guru di RSBI,” tandasnya. (awi/16)

Bina Siswa Nakal



Nur Atika Lutfiana.
(harsem/aris wasita widiastuti)

SEMARANG- Menangani kelas yang bermasalah menjadi satu tugas yang harus diemban oleh Nur Atika Lutfiana. Salah satu guru di SDIT Bina Amal ini dari dulu sering diserahi tugas untuk membina siswa nakal di sekolahnya. “Saya tidak menjadikan itu beban, karena pada dasarnya saya suka berdekatan dengan anak-anak,” jelas wanita kelahiran Tegal 28 Juli 1981 ini.
Dirinya mengatakan, pendekatan yang dilakukan salah satunya harus mengetahui latar belakang orang tua seperti apa. “Untuk itu saya sering kali berkomunikasi dengan orang tua. Karena apa yang terjadi di rumah itu sangat penting mempengaruhi tumbuh kembang anak,” jelasnya.
Diakuinya, dirinya bisa memperbaiki kalau berdekatan dengan anak. “Memang disini ada guru BK, namun yang paling tahu keseharian anak itu ya wali kelasnya. Dengan demikian idealnya wali kelas harus tahu masalah yang dihadapi siswanya,” jelas wali kelas lima ini.
Dia mengatakan, ketika berhadapan dengan siswa yang nakal, dirinya harus bisa bersikap kapan harus lembut dan kapan harus tegas. “Jangan setiap saat tegas, nanti malah bikin siswa takut,” ujarnya.
Ada satu aturan yang selalu diterapkan di kelasnya, yaitu jika masalah belum selesai, maka siswa yang bersangkutan tidak boleh mengikuti kegiatan belajar mengajar. “Misalnya mereka habis berantem dengan temannya, sebelum mau berdamai ya tidak boleh ikut kegiatan kelas,” jelasnya.
Sementara itu, mengenai karir, dia sempat memiliki keinginan untuk menjadi guru mata pelajaran. “Bukan menjadi wali kelas. Awalnya saya pingin menjadi guru Bahasa Inggris, namun karena orang tua tidak boleh maka saya mengambil Jurusan Biologi di Unnes,” jelasnya.
Larangan dari orang tua tersebut dikarenakan orang tua lebih ingin dia mengambil Jurusan Eksak. “Bukan noneksak, biasa, kadang kan orang tua itu cederung keras dengan peraturan,” jelasnya.
Namun meskipun tidak lagi guru mata pelajaran, namun karirnya di SDIT Bina Amal bisa dikatakan cukup moncer. Dia saat ini tercatat sebagai koorninator bidang akademik di sekolah Islam tersebut.
“Saya berada di bawah waka kurikulum, hingga saat ini saya membawahi guru kompetensi dan guru wali serta mengelola pelaksanaan ujian di sekolah,” ujar wanita yang sudah bergabung di SDIT Bina Amal sejak tujuh tahun lalu ini. (awi/15)

Gebyar MAN 1 Diikuti 93 Peserta

TANDA PESERTA: Kepala Kantor Kemenag Kota Semarang H Taufik Rahman menyematkan tanda peserta menandai pembukaan Gebyar MAN 1 Kota Semarang.
(HARSEM/DOK)

SEMARANG-Sebanyak 93 peserta dari berbagai SLTP/MTs se-Karesidenan Semarang mengikuti beragam lomba yang dipertandingkan dalam Gebyar MAN 1 Semarang, Sabtu (19/5). Lomba merupakan bentuk kepedulian pelayanan kepada masyarakat, mengembangkan bakat dan minat, sekaligus silaturahmi dengan berbagai sekolah.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Semarang Drs H Taufik Rahman SH M Hum dalam sambutannya mengatakan, siswa harus dibekali ilmu duniawi dan ukhrowi. Selain itu juga cara berpikir nasional dengan membangkitkan lebih mencintai tanah air dengan ber-fastabiqul khoirot. 
 
“Semua aktivitas harus dilandasi dzikir dan pikir. Jangankan mengerjakan soal matematika, nyanyi saja pakai mikir kok. Jadi budaya pikir di kalangan siswa harus terus dikembangkan,” pesannya.
Kepala Sekolah Drs H Syaefudin MPd berpesan  untuk menjaga sportifitas demi kelancaran dan kesuksesan dalam lomba ini yang merupakan ajang silaturahim dengan mengenal lebih dekat keberadaan MAN 1 Semarang.

Lomba berlangsung dengan persaingan ketat dan tetap menjaga sportifitas. Terlihat begitu semangat dan antusias ketika siswa siswi yang mengikuti lomba pidato bahasa Arab, bahasa Inggris dan dai. Dengan lantangnya mereka menyalurkan minat dan bakat dengan talenta yang luar biasa.

Peserta dari lomba sains juga begitu teliti dan cermat dalam setiap tahapan yang diberikan panitia. Dari cabang kaligrafi, siswa begitu asyiknya menorehkan lafadz dalam Alquran. Tak kalah menariknya adalah cabang MTQ, peserta melantunkan ayat-ayat suci Alquran begitu merdu dan syahdu.

Ketua Panitia Ahmad Alfan S Ag menutup serangkaian acara lomba  juga sekaligus mengumumkan hasil lomba. Para juara baik bidang sains, matematika, bahasa, seni dan keagamaan mendapatkan uang pembinaan dan tropi yang langsung diterimakan di MAN 1 Semarang. Selain itu, ada hadiah beasiswa pendidikan serta piagam baik peserta maupun pendamping.

“Kegiatan ini mudah-mudahan banyak memberi manfaat  dan akan berdampak positif bagi siswa dalam menyalurkan minat bakat dan kemampuan. Diharapkan pula semoga MAN 1 Semarang semakin terdepan dalam meraih prestasi demi meningkatkan kinerja dan pelayanan kepada masyarakat,” ujar Alfan.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas Anie Rachmawati SAg Msi mengatakan, acara akan dijadikan ajang tahunan. “Kegiatan ini mendapat respons baik, terbukti dari banyaknya peserta,” jelasnya. (16)

Di Ebiko International KT Olimpiade 2012 Pelajar SMAN 3 Raih Medali Perak

Written By Sena on Kamis, 24 Mei 2012 | 15.00


BANGGA: Wakil Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi (kiri) ketika menemui dua pelajar SMAN 3 yang berhasil menjadi runner-up Ebico International KT Olimpiade 2012 di Turki, didampingi Kepala SMA 3 Semarang Hari Waluyo. (harsem/jbsm/lanang wibisono)


SEMARANG- Dua pelajar SMAN 3 Semarang, Imam Prasetyo (17) dan Zanuar Galang (17) sukses  meraih medali perak di ajang Ebiko Internasional KT Olimpiade di Turki 2012.

Prestasi pelajar SMAN 3 Semarang, Imam Prasetyo (17) dan Zanuar Galang (17) yang  meraih medali perak di ajang Ebiko Internasional KT Olimpiade di Turki 2012 tak hanya membanggakan bagi sekolah, tapi juga bangsa Indonesia. Prestasi di bidang teknologi informasi komunikasi (TIK) itu menjadi bukti, bahwa pelajar Indonesia, khususnya pelajar Kota Semarang masih bisa bersaing di tingkat internasional. 

Kebanggaan sangat terlihat ketika kedua pelajar kelas XI jurusan Olimpiade dan IPA itu sampai di Semarang (21/5). Atas prestasinya, dua remaja berkacamata itu mendapat apresiasi dari Wakil Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi. Keduanya diharapkan dapat menjadi pelopor bagi teman-temannya, untuk bisa berprestasi lebih baik lagi.

Prestasi yang diukir siswa SMAN 3 Semarang ini memang tak diraih dengan cara instan. Berawal dari rasa ingin tahu terkait pengelolaan administrasi sekolah, dua remaja ini memutuskan untuk mencoba membuat projek pribadi.

"Dari hasil observasi, kami berniat membuat projek mengenai sistem administrasi sekolah secara terpadu. Melalui web hosting dan SMS gateway, orangtua bisa memantau perkembangan putra-putrinya di sekolah, mulai nilai ulangan, rapor, atau pembayaran SPP," ujar Imam ketika ditemui di Balai Kota Semarang, kemarin.

Atas dukungan sekolah, projek tersebut kemudian diikutkan dalam Indonesia Science Project Olympiad (ISPO) yang digelar Februari 2012. Saat itu keduanya sempat nyaris gagal mengikuti ISPO, karena terkendala waktu yang terlalu singkat.

"Kami dikejar target, karena ide baru muncul Desember 2011 sementara ISPO dilaksanakan Februari 2012. Mau tidak mau kami harus bekerja ekstra keras mengerjakannya," terang Imam yang berasal dari Salatiga.

Sistem Terpadu

Sedangkan Galang mengakui, tingkat kesulitan dalam realisasi ide adalah membuat desain sistem secara terpadu. "Pembuatan desain memakan waktu 1,5 bulan. Kami mengerjakannya usai pulang sekolah. Kebetulan kami memang satu kos," kata siswa yang menghuni kos di kawasan Imam Bonjol tersebut.

Pada pelaksanaan ISPO, diikuti ratusan peserta dari berbagai kota di Indonesia. Dari total jumlah peserta, disaring menjadi 25 tim yang berhak lolos ke Jakarta, 22-24 Februari.

"Saat akan berangkat ke Jakarta, kami sempat ketinggalan kereta. Terpaksa beli tiket lagi untuk jadwal selanjutnya. Beruntung sampai Jakarta masih bisa mengikuti perlombaan," terang Galang, remaja yang lahir di Jepara.

Di Jakarta, tepatnya di ballroom UI, para peserta diminta untuk menggelar pameran. Juri melakukan penilaian secara diam-diam dengan menyamar sebagai pengunjung pameran. "Banyak pengunjung yang menanyakan fungsi dan keunggulan projek kami. Dari situ kami berhasil keluar sebagai juara dan mendapat medali emas," ceritanya.

Atas prestasi tingkat nasional tersebut, kedua siswa berprestasi ini berhak mewakili Indonesia dalam ajang Ebiko Internasional KT Olimpiade di Turki, 12-14 Mei. Di sana keduanya harus bersaing dengan peserta perwakilan dari 20 negara. 

Ada kejadian lucu saat tiba di Bandara Esenboga Turki. Imam dan Galang sempat tertangkap petugas bandara karena disangka sebagai imigran gelap. Meski sudah menunjukan paspor resmi, namun petugas tetap tidak percaya. Pelajar malang itu sempat dibawa ke sebuah ruang dan diinterogasi selama 1,5 jam. Setelah dijelaskan secara detail, petugas pun akhirnya melepaskan.

"Paspor kami dianggap palsu. Dalam paspor menyebutkan kami orang Indonesia, tapi mereka tidak percaya dan mengira kalau kami orang Cina," ujar Galang. 

Permasalahan kembali muncul saat dilaksanakannya penilaian. Saat itu, setiap peserta diberi waktu 10-15 menit untuk mempresentasikan hasil karya. Karena panitia dan pengunjung kebanyakan penduduk lokal, maka presentasi dengan menggunakan bahasa Inggris harus diterjemahkan ke bahasa Turki.

" Itu sedikit menyulitkan kami untuk mempresentasikan karya dengan bahasa yang harus diterjemahkan ulang," kata Imam. Projek tim dari Indonesia rupanya menarik perhatian juri. Hingga akhirnya dinobatkan sebagai runner-up dan mendapat medali perak. 

Sementara juara I diraih tim tuan rumah, dengan projek jejaring sosial yang digunakan untuk kegiatan sosial. Imam dan Galang berharap hasil ciptaannya itu dapat diterapkan di sekolah-sekolah, termasuk SMAN 3.

"Saat ini kita masih dalam proses pematenan hak cipta. Setelah itu harapan kami program tersebut dapat diaplikasikan di setiap sekolah," tandasnya. (Lanang Wibisono, Anggun Puspita/JBSM/15)








Elyana, Awalnya Tak Suka Anak


Elyana.
(harsem/dok)
SEMARANG- Awalnya memang tidak suka dunia anak-anak, namun nasib membawa Elyana harus memasuki dan berdekatan dengan anak-anak. Guru mata pelajaran Bahasa Arab SDIT Bina Amal ini mengakui, sebelum menjadi pengajar sekolah dasar, dirinya menganggap dunia anak-anak hanya merepotkan. “Ribet kalau urusan sama anak-anak, mereka susah diatur. Itu anggapan awal saya,” jelasnya kepada Harsem saat ditemui di ruang kerjanya, kemarin.
            
Namun setelah dirinya tahu dan memasuki dunia anak yang sesungguhnya, diakuinya, dunia anak membawa banyak inspirasi. “Ternyata setelah menekuni mereka, itu membawa inspirasi bagi saya. Dan membuat saya bisa lebih bersabar,” ungkap wanita kelahiran Kediri, 10 Agustus 1983 ini.
            
Pada awalnya, lulusan Pondok Pesantren Gontor Cabang Banten ini mengaku, mendapatkan tawaran kerja di sebuah kantor pengacara. “Namun saat itu saya bingung dengan tawaran tersebut, saya takut kalau gajinya tidak halal,” jelasnya

Karena ragu, akhirnya dia memilih untuk tidak mengambil tawaran tersebut. “Akhirnya saya malah terjun di dunia pendidikan. Karena penghasilannya jelas dan tentunya halal,” ujarnya.
           
Diakuinya, untuk saat ini dirinya masih berkonsentrasi untuk mengejar studi S2 di IAIN Walisongo. “Saya sangat senang sekolah. Bahkan sebelum saya meninggal, saya tidak akan berhenti untuk belajar dan sekolah,” jelasnya.

Dirinya mengatakan, untuk mengejar pendidikan, dari usia 12 tahun dirinya sudah berpisah dari orang tua. “Sejak usia 12 tahun saya sudah belajar di Pondok Pesantren Gontor yang ada di Banten, kebetulan kakak juga ada di sana,” jelasnya.

Setelah enam tahun di Banten, lulus SMA dirinya kuliah di Fakultas Hukum Undip. “Dan sejak tanggal 1 Juli 2007 saya mulai ngajar di Bina Amal ini. Berbeda dengan latar belakang pendidikan saya dari perguruan tinggi, saya sekarang malah ngajar di Bahasa Arab,” ujarnya.
           
Dikatakan, dukungan dari keluarga besar sangat baik. “Mereka senang sekali dengan apa yang saya raih sekarang, yang pasti saya sangat membutuhkan dukungan dan restu dari mereka,” tandas wanita yang hobi traveling dan membaca buku tentang motivasi ini. (awi/15)


 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. HARIAN SEMARANG - Education - All Rights Reserved
Template Created by Mas Fatoni Published by Tonitok
Proudly powered by Blogger