Diberdayakan oleh Blogger.
Latest Post

Radikal dan Moderat Bertemu di IAIN

Written By Harian Semarang on Senin, 31 Oktober 2011 | 07.33

Abu Rusydan (kiri) menyampaikan materi dalam seminar nasional Revitalisasi Cinta Tanah Air dalam Mencegah Radikalisme dan Terorisme
TIDAK ada pertentangan antara nasionalisme dan Islam. Dalam konteks Indonesia, Pancasila merupakan hasil dari semangat nasionalisme tokoh bangsa yang digerakkan nilai-nilai Islam. Maka tidak ada alasan bagi seorang muslim untuk tidak menjadi nasionalis.

Demikian disampaikan Dekan Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo, Nasihun Amin dalam seminar nasional Revitalisasi Cinta Tanah Air dalam Mencegah Radikalisme dan Terorisme kerjasama Jurusan Tafsir Hadist Fakultas Ushuluddin dengan Kelompok Ilmuwan Tafsir Hadist IAIN Walisongo di Aula 1 kampus 1, Kamis (27/10). Seminar menghadirkan sejumlah tokoh dari dua kelompok berbeda, yaitu kelompok Islam radikal dan kelompok Islam moderat.

Lebih lanjut, Nasihun Amin mengatakan, upaya menumbuhkan semangat nasionalisme pernah dicontohkan Nabi Muhammad ketika memimpin negara Madinah. Dia berhasil membuat Piagam Madinah yang disepakati seluruh komponen masyarakat waktu itu.

“Namun, nasionalisme yang diartikan perasaan cinta tanah air ini kemudian menjadi bahan perdebatan oleh sebagian muslim. Mereka menganggap nasionalisme bertentangan dengan Islam dengan alasan berasal dari Barat yang sekuler,” ucapnya.

Menurutnya, sikap itu wajar. Kedudukan agama sebagai ideologi, identitas, dan legitimasi etis hubungan sosial, jika tidak dipahami secara proporsional juga dapat menumbuhkan radikalisme yang bisa memecah-belah kesatuan bangsa.

Sementara pembicara lain, Abu Rusydan, mantan panglima Jama’ah Islamiyah mengatakan, Islam garis keras (radikal) memiliki pandangan berbeda mengenai keislaman itu sendiri.

Penganut Islam radikal, dikatakannya, memiliki pendapat bahwa pemerintahan yang menerapkan hukum di luar hukum Allah adalah kafir juhud. Pemerintahan dengan hukum Islam tapi tidak dilaksanakan adalah kafir dholim, dan pemerintah dengan hukum Islam namun keputusannya dipengaruhi keterpaksaan adalah kafir fasiq.

“Indonesia termasuk yang mana? Silakan disimpulkan sendiri. Dengan memahami kesimpulan itu, saya pastikan Anda akan bisa memahami jalan pikiran teman-teman Islam radikal,” ujarnya.

Hadi Surya Abu Ghifar mengatakan, nasionalis adalah orang yang mencintai produk Indonesia. Jadi mereka yang berbelanja di Singapura termasuk bukan nasionalis. Begitupula orang yang mengorupsi uang negara. (sna/nji)

Penuhi Target, Komputer Jadi Milik Sekolah

Kepala Sekolah Kliyat memeriksa keadaan komputer
JIKA memenuhi target jumlah siswa yang mengikuti ekstrakurikuler komputer, maka komputer akan menjadi milik sekolah. Hal itu diungkapkan Kepala Sekolah SDN Gajahmungkur 4 Semarang, Kliyat. Dia mengatakan, kesepakatan disetujui lembaga komputer yang terlibat. “Jadi kalau dalam waktu tiga tahun ini kami berhasil memenuhi target maka komputer menjadi milik sekolah,” jelasnya kepada Harsem saat ditemui di ruang kerjanya, pekan lalu.

Dijelaskan, kesepakatan berbunyi setiap tahun ada 200 siswa yang mengikuti kegiatan komputer. “Itu harus bisa dipenuhi dalam watu tiga tahun ini,” terangnya.

Dia mengatakan, terlepas dari kesepakatan tersebut, kegiatan komputer sendiri perlu diikuti siswa. “Karena komputer ini kebutuhan, sekarang banyak anak yang sudah menguasai komputer,” kata dia.

Hingga kini, banyak siswa yang sangat antusias dalam mengikuti kegiatan ini. “Ada delapan komputer yang saat ini digunakan siswa. Memang kegiatan ini tidak gratis seperti kegiatan lain,” ungkapnya.

Setiap siswa diwajibkan untuk membayarkan biaya bulanan kepada lembaga. “Langsung ke lembaga. Saya malah kurang tahu berapa nominalnya, yang pasti itu sudah merupakan kesepakatan antara orangtua siswa dan lembaga komputernya,” jelasnya.

Bahkan, karena antusiasme tinggi dari siswa dalam mengikuti kegiatan komputer ini, sejumlah kejuaraan pernah diikuti. “Namun sampai saat ini memang belum pernah menjadi juara tapi kami tidak kapok. Bahkan semakin tertantang untuk mengikutinya,” terangnya.

Dijelaskan, eskul diikuti siswa dari mulai kelas satu hingga kelas enam. “Kegiatan ekstrakurikuler lain juga ada, diikuti siswa kelas empat dan lima. Di antaranya pramuka, tari, dan musik,” jelasnya.

Mengenai target yang diberikan lembaga pendidikan komputer dirinya merasa sangat setuju. “Karena kalau tidak begini, sulit bagi sekolah untuk memenuhi fasilitas karena dana BOS sangat terbatas,” jelasnya.

Dijelaskan, meskipun ditarik biaya, sejauh ini kegiatan lancar. “Tidak ada kendala, dan saya berharap seterusnya begini. Ini juga karena dukungan komite sekolah dan wali murid,” kata dia. (awi/nji)

Grup Keroncong SMPN 23 Semarang

Grup keroncong remaja SMPN 23 Semarang saat manggung dalam Kharisma Keroncong Saba Pantura di Demak pertengahan Oktober lalu
Dulu Dianggap Jadul, Kini Sampai Nolak Order Manggung
KHAWATIR kesenian musik keroncong punah karena tergerus perkembangan musik moderen, Kepala SMP Negeri 23 Semarang, S Agung Nugroho melakukan terobosan. Dia menjadikan keroncong sebagai salah satu ekstrakurikuler. Setahun berjalan, kini sudah memiliki tiga grup keroncong remaja. Tawaran manggung juga ramai, berdatangan dari dalam hingga luar kota.

Awalnya Agung mengaku pesimis. Dia khawatir, minat siswa terhadap musik keroncong minim. Namun setelah menggelar workshop musik keroncong dengan menggandeng Komunitas Warung Keroncong, banyak siswa yang tertarik. “Awalnya terbentuk satu grup, kini sudah berkembang menjadi tiga grup,” ucapnya, Jumat (28/10).

Sebagai ektrakurikuler, Agung menjelaskan keroncong masih dikhususkan bagi siswa yang berbakat saja. Mengingat masih terbatasnya sarana dan prasarana seperti pelatih dan perangkat musik. “Satu grup diperkuat 10 siswa. Terdiri atas pemain ukulele, crang, cello, bass, gitar melodi, keyboard dan beberapa penyanyi,” sebutnya.

Mendekatkan musik keroncong dengan siswa di tengah kepungan musik moderen, menurut Agung awalnya tidak mudah. Awalnya, banyak mengejek keroncong sebagai musik jadul. Dia mencoba bersiasat dengan menggunakan lagu remaja. “Supaya siswa berminat belajar keroncong, kami tetap menggunakan lagu-lagu remaja yang tengah trend namun penyajiannya tetap khas keroncong. Alhamdulillah cara ini berhasil menumbuhkan minat siswa memainkan musik keroncong,” bebernya.

Sampai saat ini, grup keroncong remaja SMP Negeri 23 sudah sering mendapatkan kesempatan tampil di berbagai event musik. Terakhir, mereka diundang mengisi Kharisma Keroncong Saba Pantura di Demak pertengahan Oktober lalu. Selain itu, mereka juga pernah tampil mengiringi penyanyi keroncong kondang Tuty Maryati dari Jakarta.

“Kami sering mendapat undangan untuk mengisi acara, baik dalam kota maupun luar Semarang. Banyak yang terpaksa kami tolak karena kami takut kegiatan belajar siswa terganggu,” ucap Agung.

Upaya pelestarian keroncong, dikatakan Agung, akan terus dilakukan pihaknya. Agar musik keroncong kian membumi pihaknya bertekad terus melakukan inovasi. Salah satunya dengan mempersiapkan film dokumenter tentang perjuangan grup keroncong remaja SMP Negeri 23. (sna/nji)

Sudijono: Mahasiswa Harus Berkarakter

Prof Sudijono Sastroatmodjo
REKTOR Unnes Prof  Sudijono Sastroatodjo meminta, mahasiswa sebagai bagian dari pemuda harus memiliki karakter. Amanat itu dia sampaikan dalam upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda di lapangan FIK, kemarin.

Menurut Sudijono, penguatan komitmen kepemudaan dalam membangun masyarakat dan bangsa memang harus dilakukan perguruan tinggi. Hal tersebut, dikatakannya, sudah dilakukan Unnes dengan terus menyampaikan program pendidikan karakter kepada mahasiswanya melalui program konservasi.

“Program penguatan karakter yang dicanangkan Kemenpora dalam momentum Hari Sumpah Pemuda ini sinergi dengan program kami sebagai universitas konservasi,” tandasnya.

Pada kesempatan tersebut, Rektor membacakan amanat Menteri Pemuda dan Olahraga. Dalam amanatnya Menegpora menyatakan, Peringatan Sumpah Pemuda memberi kesempatan kepada para pemuda untuk mengisi energi dan ide perjuangan dalam menggelorakan masyarakat, memajukan bangsa dan menggerakan negara. Terjadi delapan puluh tiga tahun silam saat Kongres Pemuda Indonesia II yang diikuti berbagai perkumpulan pemuda yang bersifat kedaerahan, kesukuan, kepanduan maupun keagamaan. “Namun satu yang mereka punya bersama yaitu keinginan kuat untuk merdeka menjadi bangsa Indonesia,” jelas Sudijiono membacakan amanat tersebut. (sna/nji)


Tari Kelinci Sambut Sumpah Pemuda

Siswa menyajikan tari kelinci untuk merayakan Hari Sumpah Pemuda
MENYAMBUT Sumpah Pemuda, SDN Karangroto 01 Semarang mengadakan pentas seni. Sekolah juga meminta siswa mengenakan pakaian tradisional. Beberapa siswa menyanggul rambut seperti tengah mengikuti kontes kecantikan. Salah satu siswa, Lisa (7) mengatakan senang. “Senang mengenakan busana daerah,” ujar siswa kelas satu ini.

Dia mengatakan, pakaian disiapkan oleh ibunya. Meski senang, dia mengaku tak paham mengapa diminta mengenakan busana tradisional. “Saya nggak tahu,” ujarnya tersipu.

Lain halnya dengan Devi (7). Siswa kelas satu ini mengaku tahu Hari Sumpah Pemuda. “Tapi saya nggak hapal isinya,” ujarnya ketika diminta untuk membacakan Pumpah Pemuda.

Namun, dia juga mengaku senang. “Sebelumnya saya nggak pernah pakai baju kayak gini, Nggak pernah pakai lipstik sebelumnya,” ujarnya.

Kepala Sekolah Eny Dwi Astuti mengatakan pihaknya meminta siswa untuk mengenakan pakaian daerah agar makna Sumpah Pemuda lebih terasa. “Apalagi selama ini siswa hanya tahu pakaian dari daerah dari gambar saja. Untuk itu, kami mengajak siswa untuk mengenakan,” terangnya kepada Harsem kala ditemui di sela kegiatan.

Pada kegiatan itu, siswa juga diajak meneriakkan isi Sumpah Pemuda. “Juga ada kegiatan pentas seni dan lomba,” jelasnya.

Lomba yang diadakan antara lain cerdas cermat, baca puisi, baca Undang-undang Dasar, serta permainan. “Pada pentas seni, siswa akan membawakan berbagai kegiatan ekstrakurikuler,” urainya.

Antara lain seni tari, reban dan pramuka. “Untuk tari ini ada tari kelinci, gambang Semarang, kidang, serta yapong,” paparnya.

Untuk biaya operasional, Eny mengatakan, semua pengeluaran ditanggung orangtua siswa. “Semua diurus komite sekolah, mereka sangat antusias. Padahal mereka juga harus menyewa pakaian untuk anak-anak,” kata dia.

Menurut Eny, pihaknya berharap siswa makin berminat mengikuti ekstrakurikuler. Karena sejauh ini yang ikut baru ikut hanya 25% dari seluruh siswa yang berjumlah 300 siswa. (awi/nji)

I Made Sudana, Kagumi Semangat Anak-anak Aceh

I Made Sudana
PERIBAHASA ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk nampaknya melekat erat pada pria ini. Dialah I Made Sudana, pria yang sudah puluhan tahun malang melintang di dunia pendidikan ini bahkan sudah mendedikasikan hidupnya pada bidang yang saat ini digelutinya tersebut.

“Belajar tidak mengenal usia, karena sejatinya hidup ini adalah proses pembelajaran. Oleh karena itu sebagai insan yang bertakwa kepada Tuhan YME sepatutnya kita jangan pernah berhenti untuk belajar,” ujar pria kelahiran Klungkung, Bali, 8 Mei 1956 ini.

Bahkan, tak jarang suami dari Tri Budi Kusriyanis ini berusaha untuk selalu menularkan ilmu yang didapatnya kepada orang lain. “Falsafah saya, hidup adalah persembahan, salah satunya ilmu yang saya dapat ini, saya persembahkan kepada orang lain yang juga membutuhkan,” tegasnya kepada Harsem saat ditemui baru-baru ini.

Diakuinya, hingga saat ini dirinya masih terus belajar. “Karena menurut saya, masih banyak hal yang perlu saya pelajari,” lanjut dosen Unnes yang mengampu mata kuliah pengembangan profesionalitas guru dan mata kuliah penelitian tindakan sekolah ini.

Apalagi di dunia pendidikan, dikatakan, setiap tahun selalu saja ada pengetahuan baru yang harus dipelajari. “Terutama di bidang pendidikan, karena setiap tahun kita dituntut untuk meningkatkan mutu pendidikan yang ada, apalagi di Semarang ini yang merupakan ibukota provinsi,” kata pengagum Mahatma Gandhi ini.

Menurutnya, upaya pemerintah menerapkan sertifikasi bagi tenaga pendidik merupakan satu cara untuk semakin menyejajarkan pendidikan Indonesia dengan negara lain, khususnya di tingkat Asean. “Salah satu program yang sangat bagus adalah tenaga pengajar diharapkan bisa menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, apabila banyak lulusan kita yang menguasai dua hal tersebut maka diharapkan angka pengangguran di negara ini bisa berkurang,” harapnya.

Mengenai suka duka  menjadi pengajar, dirinya bercerita saat terlibat dalam pemetaan kebutuhan pendidikan dasar pascatsunami Aceh. Dikatakan, saat mengunjungi Aceh, banyak hal yang membuatnya prihatin. “Kala itu saya dan tim ditugaskan di daerah Pidi, betapa sedih hati saya melihat semua infrastruktur yang ada di sana hancur dan porak-poranda. Utamanya sekolah-sekolah dasar dan madrasah. Sepanjang mata memandang hanya puing-puing,” jelasnya.

Dijelaskan, melihatnya hal tersebut, dirinya merasa pasti berat tanggung jawab pemerintah khususnya departemen pendidikan. “Karena pemerintah pasti harus secepatnya memperbaiki kondisi tersebut, saya juga terpikirkan, pasti banyak sekali anak usi sekolah yang terbengkelai karena tidak bisa meneruskan pendidikannya,” kata dia.

Namun, anak-anak Aceh rupanya memiliki semangat yang tinggi. “Karena itulah kegiatan belajar mengajar dengan cepat kembali menggeliat,” tukasnya.

Untuk itulah, sejumlah pengalaman yang pernah dirasakannya tersebut membuatnya ingin terus setia kepada dunia pendidikan dan ingin terus menggali ilmu yang belum didapatnya. “Karena ilmu yang kita miliki sejatinya bukan hanya milik kita, ajarkan dan tularkan, kepada orang lain, walau hanya sedikit. Dan yang paling penting teruslah belajar,” tandasnya. (aris wasita widiastuti/nji)


Pemilos, Guru Ikut Nyoblos

Kepala sekolah menyaksikan proses perhitungan suara
PEMILIHAN Ketua OSIS (Pemilos) kembali digelar. Kali ini dilakukan siswa-siswa di SMAN 9 Semarang, kemarin. Pemilos yang merupakan program kerjasama dengan KPU Kota Semarang ini diikuti seluruh warga sekolah. Tidak hanya siswa, namun kepala sekolah dan guru turut menggunakan hak suaranya.

Kepala Sekolah Nasikhun mengatakan pemilihan OSIS memang rutin dilakukan setiap tahun sekali. Namun karena ada program dari KPU pelaksanaannya pun menjadi berbeda. “Dalam pemilos, aturan yang digunakan disesuaikan pemilu yang diselenggarakan KPU, seperti pilpres maupun pilwalkot,” katanya.

Karena aturannya hampir sama dengan pemilu pada umumnya, sehingga aturan termasuk perencanaan sampai pelaksanaan pemilihan disesuaikan dengan aturan dari KPU. Misalnya, ada SK untuk anggota KPU tingkat sekolah, pelantikan KPU, pengawas, KPPS, baru mengadakan agenda kegiatan, dimulai dari pemilihan kandidat ketua dan wakilnya.

“Ada tiga pasangan yang sebelumnya sudah melakukan debat kandidat yang disaksikan perwakilan siswa dan KPU. Pelaksanaannya cukup bagus, kandidat cukup cerdas dan tanggap dalam menjawab pertanyaan dari siswa lain maupun guru,” lanjutnya.

Dalam pemilihan ini, ada yang berbeda yakni ketua OSIS tidak hanya dipilih oleh siswa saja melainkan seluruh warga sekolah, termasuk guru dan kepala sekolah. Jumlah pemilih sebanyak 1.020 suara. 

“Guru ikut nyoblos untuk mengimbangi suara siswa yang cenderung subyektif. Sedangkan guru dinilai lebih obyektif dan melihat kemampuan siswa. Ini juga menumbuhkan rasa handarbeni dan tanggung jawab,” jelasnya.

Pemilos diharapkan menjadi pembelajaran siswa. “Tidak hanya teorititis tetapi praktik di lapangan. Paham langkah2ya seperti apa. Sejak awal ditanamkan kompetensi secara sehat. Siap menang dan siap kalah untuk kandidat, dan siswa memilih bukan karena faktor kedekatan melainkan karena potensi,” ungkapnya.

Sayang hingga berita ini diturunkan, belum diketahui siapa calon yang terpilih menjadi ketua OSIS. (wam/nji)


Demi Somalia, Siswa Miskin Kumpulkan Dana

Bencana kelaparan di Somalia menggugah siswa SD Juara. Mereka bersedia menyumbang, meski mereka sendiri dalam keterbatasan.

KEGIATAN ujian tengah semester (UTS) tak harus diisi dengan mengerjakan soal. Hal itu yang dilakukan SD Juara. Pada UTS kali ini, sekolah mengisinya dengan kegiatan sosial. Para pengajar mengajak siswa untuk peduli terhadap kelaparan Somalia. Kepedulian terlihat dari program yang digelar, yakni Aid for Somalia.

Kegiatan yang dilakukan pekan lalu tersebut, diadakan selama beberapa hari. “Yakni Selasa hingga Jumat. Itu karena kegiatan kami cukup banyak,” jelas Kepala Sekolah Joko Kristiyanto.

Kegiatan yang diadakan, antara lain nonton bareng film tentang kondisi terkini rakyat Somalia, penggalangan koin cinta untuk Somalia, pemberlakuan denda pemotongan uang saku Rp 1.000 bagi siswa yang makan siangnya sisa dan uang sakunya terlalu banyak yaitu Rp 1500, dan bazaar pakaian layak pakai.

Dijelaskan Joko, dana yang diperoleh mencapai hampir Rp 1 juta. “Sebagian di antaranya diperoleh dari bazaar dan sebagian lagi dari koin cinta untuk Somalia,” terangnya.

Dijelaskan, kegiatan ini mengajak siswa langsung praktik untuk memberikan solusi terhadap masalah yang kini melanda Somalia. “Secara tidak langsung mengajari siswa sikap berbagi dan peduli terhadap sesama sebagai bagian dari pendidikan karakter,” urainya.

Dia mengungkapkan, SD Juara yang mayoritas siswanya tidak mampu saja bisa membantu Somalia, sekolah lain seharusnya bisa. “Saya yakin, jika ada keinginan pasti pasti. Mari bersama mengembalikan senyum anak Somalia,” tegasnya.

Dirinya mengatakan, antusiasme siswa sangat besar. “Mereka memang selalu kami ajak untuk berbuat baik dan peduli terhadap sesama. Ini sangat berhubungan dengan pendidikan karakter,” jelasnya.

Dikatakan, meskipun siswa kebanyakan berasal dari golongan kurang mampu, namun mereka tetap peduli terhadap yang lebih membutuhkan bantuan. “Terlihat, dari tidak ada sekat antara siswa yang kaya maupun yang kurang. Mereka tetap akrab satu sama lain. Untuk itu, ketika kami mengajak mereka untuk berbuat baik kepada sahabat yang tinggal di Somalia mereka menyambut dengan suka cita,” terangnya.

Ppembaca yang ingin menyumbang bisa menghubungi SD Juara Semarang di Jalan Singa Utara 67 Kelurahan Kalicari Pedurungan, nomor telpon 024-6708707. (nji)

HARSEM/DOK
Para siswa mengikuti kegiatan Aid for Somalia

Kolaborasi Budaya Meriahkan Bulan Bahasa

Penampilan kesenian tradisional dalam perayaan Bulan Bahasa di Unnes
RANGKAIAN Bulan Bahasa Dan Seni (BBS) Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Semarang (Unnes), Selasa (25/10), berlangsung meriah dengan diselenggarakannya kolaborasi budaya tradisional Jawa Tengah dengan Jawa Timur.

Kolaborasi budaya dua daerah tersebut diawali dengan arak-arakan ratusan mahasiswa dari kedua perguruan tinggi, yaitu Unnes dan Universitas Negeri Surabaya (Unnesa) selaku penggagas kegiatan tersebut. Dengea mengenakan berbagai corak pakaian tradisional daerah masing-masing mereka berjalan mengelilingi kawasan kampus Unnes Sekaran. Beberapa kesenian tradisional khas Jawa Tengah dan Jawa Timur, seperti barongan, jathilan, dan reog juga dimainkan para mahasiswa dalam arak-arakan itu.

Menurut ketua panitia Ade Riyanto, arak-arakan tersebut merupakan bentuk apresiasi mahasiswa kedua perguruan tinggi terhadap kebudayaan tradisional Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dengan diangkatnya budaya tradisional dua daerah tersebut diharapkan mampu menyemaikan rasa cinta para mahasiswa terhadap budaya tradisionalnya yang indah dan sarat nilai yang kemungkinan belum banyak diungkap dan dipahami.

“Sasaran kegiatan ini memang untuk mahasiswa, karena mahasiswa merupakan generasi penerus bangsa yang perlu ditanamkan rasa kecintaan terhadap kebudayaan yang dimiliki bangsanya,” jelasnya, di sela kegiatan, kemarin (25/10).

Arak-arakan budaya dua daerah tersebut, dikatakan Ade, bertema Semar-Baya Ngulandara Budaya. Makna dari Semar-Baya, dijelaskannya, merupakan akronim dari kata Semarang dan Surabaya. Sementara ngulandara budaya, diartikan dengan berkelana untuk mengenalkan kebudayaan khas yang dimiliki daerahnya. “Arak-arakan ini sendiri melibatkan 100 mahasiswa dari Unnes dan 60 mahasiswa Unesa,” imbuhnya.

Selain arak-arakan, Ade mengatakan, kolaborasi budaya itu juga akan ditampilkan dalam berbagai bentuk kegiatan lain, diantaranya pertunjukan teater dan pementasan tarian khas kedua daerah. (sna/nji)

Wabup Sragen Bekali Wisudawan UNISSULA

Wabup Sragen H Daryanto (tengah)

Jangan jadi PNS, karena butuh sogokan jutaan rupiah. Begitu kata Wakil Bupati Sragen H Daryanto kepada wisudawan Unissula. Apalagi pesannya?

WAKIL Bupati Sragen H Daryanto berpidato dalam sesi I pembekalan calon wisudawan/wisudawati Unissula, di aula Fakultas Kedokteran kampus Unissula, Jl Kaligawe Semarang, kemarin.

Di hadapan 700 orang lulusan S1 dan dan D3  Unissula, Dayanto yang pernah kuliah di Fakultas Hukum Unissula kurun 1982-1987 ini bercerita panjang lebar mengenai motivasi dan keilmuan. Juga kisah jenaka semasa kuliah di Unissula.

Daryanto yang disebut potret sukses alumni Unissula yang berprofesi ganda; wakil bupati, PNS sekaligus wirausawahan, ini menyampaikan, setiap orang harus mengetahui potensi dirinya dan mengembangkan potensi sebaik-baiknya. Semasa kuliah, kisahnya, banyak teman-teman sekelasnya yang sudah bekerja. Mereka suka titip absen padanya.

Daryanto mengaku berbuat nakal, menandatangani kolom nama-nama teman-temannya yang titip absen padanya. Jika dosen  menyebut nama temannya, dia bilang “hadir”. Lalu pindah tempat duduk dan segera bilang “hadir” lagi saat dosen menyebut nama teman lain lagi.

Lama-lama aksinya itu konangan (ketahuan), sehingga dia dipanggil ke ruang dekan.     “Saya mengaku terus terang saat diinterogasi. Bahwa saya menolong teman dengan membuatkan resume kuliah dan mendapat upah,” tutur Daryanto sambil tertawa, lalu disambut tawa gerr hadirin.

Masih sambil bercanda Daryanto berkata, dirinya mahasiswa pinter  sehingga dipercaya membuat resume dari kuliah lisan para dosen. Keuntungannya banyak, konsentrasi lebih kuat kepada kuliah para dosen, sehingga ilmunya dirasa terus bertambah, lalu dapat upah.  “Saya sadar potensi otak saya. Dengan praktik jadi penitipan absen itu saya jadi pinter. Makanya sekarang jadi wakil bupati,” sambungnya.

Pendamping Bupati Agus Fatchurrahman ini melanjutkan, yang paling penting adalah membangun kepercayaan dan menggalang jaringan. Jika orang bisa dipercaya dan dikenal banyak orang, itu kunci sukses pertama. Dan untuk mencapai sukses berikutnya, sangat mudah ibarat tinggal memetik buah dari pohon yang telah lebat buahnya.

“Saya menyimpulkan, dalam kehidupan ini, termasuk di pekerjaan, kunci sukses adalah kepercayaan dan jaringan. Rezeki datang sendiri sebagai akibat jika orang bisa dipercaya dan dikenal banyak orang,” tutur mantan pengusaha ini.

Dalam kesempatan itu dia mengajak lulusan Unissula untuk merancang masa depan sebagai wirausawahan. Pikiran untuk menjadi PNS dia minta buang jauh. Karena terlalu banyak saingan dan kondisinya sudah tidak karu-karuan. Untuk menjadi pegawai nongajian sebagai on job training (OJT) saja harus membayar Rp 15-20 juta rupiah. Sedangkan untuk diangkat jadi PNS sering terdengar harus membayar puluhan hingga ratusan juta rupiah.

Sebelumnya, Rektor Unissula Prof Laode M Kamaluddin memberi sambutan khasnya, memotivasi agar agar lulusan Unissula menjadi generasi khaira ummah. Yaitu berkarakter yang bagus dan berjiwa berwirausaha.

“Setiap lulusan Unissula harus menahbiskan diri dengan karakter yang baik dan jiwa wirausaha. Dengan hal itu, jika sampai satu tahun dari wisuda tidak mendapat pekerjaan, berarti ada yang salah dengan kita. Maka saya mohon datanglah lagi ke kampus ini. Mungkin bisa kita diskusikan apa penyebabnya dan bagaimana solusinya,” ujarnya didampingi beberapa wakil rektor.

Di sesi kedua sore hari, pembekalan diisi Dekan Fakultas Teknik Unissula Kartono Wibowo dengan tema When Everything Changes (dan diakhiri diskusi kelas pemantapan budaya akademik Islami. (moi/nji)

Helmi Ma’rifatir Rizal, Bintang Kelas yang Serba Bisa

Helmi Ma’rifatir Rizal
SETIDAKNYA sudah ada tiga prestasi bergengsi yang dikantongi siswa kelas VIII akselarasi SMP Negeri 2 Semarang bernama Helmi Ma’rifatir Rizal ini. Menariknya, prestasi-prestasi yang berhasil ia raih itu berasal dari beberapa bidang keilmuan yang berbeda, seperti sains, robotika, dan ilmu pengetahuan sosial (IPS).

Prestasi yang sudah dicatatkan siswa murah senyum dan akrab disapa Helmi ini antara lain juara III pada Lomba Robotic tingkat Jateng-DIY 2011, juara III Olimpiade Sains Nasional (OSN) SMP tingkat nasional 2011 di Manado Sulawesi Utara, pertengahan Juli lalu, dan yang terbaru adalah sebagai juara I Olimpiade IPS SMP/MTS se-Jawa yang diselenggarakan Universitas Negeri Semarang (Unnes) belum lama ini.

Pada Olimpiade IPS tersebut, Helmi berhasil menyisihkan 280 peserta dari berbagai sekolah di provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur, dan DKI Jakarta. Ia berhasil mengungguli siswa SMP Negeri 26 Jakarta dan siswa SMP Negeri 3 Pati yang hanya berhasil menduduki peringkat juara II dan III.

Selain berhasil menggondol sejumlah pengharagaan dari berbagai ajang lomba tersebut, putra pertama pasangan Nur Sholeh dan Merlina Titik Rismawati ini ternyata juga punya catatan prestasi yang sangat membagakan di sekolahnya. Sejak SD hingga SMP ini, siswa penghobi bola ini adalah bintang kelas. Dengan kecerdasannya, ia selalu menjadi rangking I dalam setiap ujian.

Berkat Doa
Bagaimana siswa kelahiran Semarang, 7 Mei 1998 ini mampu meraih prestasi tersebut? Semua prestasi, dikatakan Helmi, berhasil ia raih berkat budaya giat belajar yang sudah ia terapkan sejak masih duduk di bangku SD. Setiap harinya, kecuali hari libur, ia mengaku merasa wajib untuk belajar sendiri di rumah. “Ya seperti kebanyakan siswa lainnya, membaca untuk mengulas pelajaran dikelas dan banyak latihan soal saja. Tetapi itu rutin saya lakukan setiap hari. Biasanya saja mulai belajar dari pukul tujuh sampai sembilan malam,” tuturnya.

Ia juga mengaku sebisa mungkin tidak memilih-milih pelajaran untuk dipelajari. Semua ia tekuni dengan perasaan senang. Sebab jika didasari dengan rasa senang, lanjut Helmi pelajaran akan mudah diserap dan dipahami.

“Namun, bagi saya yang tidak kalah penting juga harus disertai doa. Biasanya itu saya lakukan sebelum memulai belajar. Saya selalu meminta kepada Tuhan untuk diberi kemudahan dalam memahami ilmu yang sedang dipelajari,” beber siswa yang menurut salah satu guru juga terkenal religius itu.

Dalam belajar, ia menambahkan, dirinya juga selalu memperbanyak melakukan wudhu (bersuci dengan air, mulai dari membasuh muka sampai membasuh kaki). Hal itu, menurutnya, sangat berguna untuk mengusir rasa malas dan kantuk selama belajar.

Ditanya cita-cita, Helmi mengatakan, sangat ingin menjadi insinyur bidang kimia. Ia juga berharap nantinya bisa kuliah di luar negeri, seperti Oxford University atau perguruan tinggi kelas dunia lainnya.

Saat ini, Helmi mengaku sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti olimpiade sains tingkat nasional yang diselenggarakan SMA Taruna Nusantara, Magelang, yang direncakan berlangsung 13 November mendatang. “Mudah-mudahan nanti saya bisa masuk dalam peringkat lima besar, sehingga bisa diterima sekolah di situ nantinya,” tandasnya. (sokhibun ni’am/nji)



Kenalkan Demam Berdarah lewat Video

Sosialisasi tentang nyamuk demam berdarah yang diadakan di SD Kemala Bhayangkari 4 Semarang
Perhatian penuh terlihat dari raut wajah siswa yang pada siang hari itu berkumpul di aula SD Kemala Bhayangkari 04 Semarang. “Coba disimak video ini, setelah itu kita akan membahasnya,” ujar salah satu mahasiswa relawan.

Sambil melihat video, sekali waktu para siswa saling berbisik dan bergidik ngeri. Rupanya pada hari itu, para siswa sedang disuguhi tontonan tentang nyamuk Aides agiepty.

Pemutaran video tersebut menjadi salah satu langkah untuk menyosialisasikan bahaya penyakit demam berdarah. Sementara, salah satu pengajar, Retno Hestiningsih meminta siswa untuk mengumpulkan botol berisi air.

Untuk mendukung program sosialisasi tersebut, sehari sebelumnya para siswa diminta membawa jentik-jentik nyamuk, untuk selanjutnya digunakan untuk materi. “Wah, ternyata semua pinter ya, tahu apa itu jentik nyamuk, dari mana kalian mendapatkan ini” tanyanya.

Riuh rendah, siswa berebut menjawab. Sebagian menjawab mendapatkannya dari got, namun tak sedikit pula yang mengambilnya dari bak mandi di rumah masing-masing.

Kegiatan sosialisasi tersebut menurut Retno perlu dilakukan. “Mengingat Kecamatan Gajahmungkur menduduki peringkat pertama se-Kota Semarang untuk penderita demam berdarah terbanyak. Kota Semarang menduduki peringkat kedua setelah Denpasar,” jelasnya kepada Harsem, kemarin.

Dikatakan, pihaknya melibatkan siswa itu cukup efektif. “Para siswa ini daya ingatnya masih baik, jadi kami berharap, agar para siswa ini selanjutnya bisa menularkan Informasi yang mereka ketahui, tak hanya kepada keluarga saja, namun juga kepada teman yang lain, apalagi kalau di SD itu kan ada dokter kecil,” urainya.

Dijelaskan, apalagi sekolah tersebut berada di lingkungan perumahan. “Karena ternyata penyebaran nyamuk lebih gampang di sekitar perumahan, itu karena jarak satu rumah dengan yang lain sangat berdekatan,” jelasnya.

Usai mengikuti sosialisasi, siswa diharapkan lebih peduli terhadap lingkungan tempat tinggalnya. “Paling tidak mereka mau membantu orangtua untuk menjaga kebersihan di lingkungan rumahnya. Yang penting prinsip 3M yakni menutup, mengubur, dan menguras bisa diterapkan dengan benar,” paparnya.

Sementara itu, Itamara (10) mengungkapkan kengeriannya terhadap serangan nyamuk DB tersebut. “Tadi saya lihat videonya jadi takut, ternyata nyamuk DB itu bahaya sekali,” ujar siswa kelas lima tersebut.

Bahkan, usai melihat video dan mendengar penjelasan mengenai keganasan nyamuk DB tersebut dirinya berjanji akan menjaga lingkungan rumah dan sekolah agar tetap bersih. “Nyamuk berkembang biaknya di tempat yang bersih, jadi yang dilakukan bukan hanya sekedar membersihkan, tapi juga harus menerapkan 3M,” ujar gadis yang tinggal di jalan Papandayan ini. (awi/nji)

Dibiasakan Tadarus, Siswa Nglotok Juz Amma

Salah satu siswa kelas SD Al Huda sedang menjalani ujian hapalan surat-surat pendek, kemarin.
PERLAHAN namun pasti, bibir mungil Faiz Arfian lancar melafalkan ayat demi ayat Juz Amma. Seperti sudah hapal di luar kepala, salah satu siswa kelas II SD Al Huda tersebut langsung nerocos ketika seorang guru menyodorkan nama-nama surat pendek Alquran yang harus ia lafalkan seketika di hadapan puluhan guru dan siswa-siswi lain yang memadati halaman sekolah, kemarin (25/10).

Begitu pula Nabil Fawaz Syahada dan siswa-siswi lain yang mendapat giliran untuk tampil berikutnya dalam kegiatan “Demonstrasi hafalan Juz Amma sekolah swasta di Jl Tumpang Raya No 103-A tersebut, juga nyaris tanpa kekeliruan dalam melafalkan surat-surat Alquran yang disodorkan kepada mereka.

Sebagian besar siswa terlihat tidak canggung dan tegang meskipun saat mereka tampil menjadi fokus perhatian banyak orang. Karena selain harus menggunakan pengeras suara, mereka juga harus duduk di atas satu-satunya kursi yang ada di halaman sekolah tersebut.

Menurut Kepala Sekolah, Muslimin, kegiatan “Demonstrasi Hafalan Juz Amma” tersebut pada dasarnya digelar sebagai ujian midsemester untuk mata pelajaran (mapel) baca tulis Alquran (BTA) dan tahfidz yang selama ini telah menjadi salah satu program unggulan di sekolahnya.

“Selain itu, kegiatan ini sekaligus kami maksudkan untuk menumbuhkan semangat siswa dalam membaca dan mempelajari Alquran. Sehingga ke depan mereka akan menjadi manusia yang cinta terhadap kitab sucinya dan mampu mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dalam kehidupan sehari-hari,” jelas Muslimin.

Kegiatan tersebut, dikatakan Muslimin, akan dilaksanakan selama tiga hari, 25 – 27 Oktober, dan wajib diikuti seluruh siswa kelas I–VI sesuai jadwal masing-masing. Menurutnya, setiap siswa akan diuji kemampuannya menghafalkan surat-surat pendek oleh para guru sesuai silabus.

“Surat yang harus dikuasi oleh masing-masing siswa di setiap kelas berbeda. Untuk tengah semester ini kelas I dituntut hafal surat Annas sampai Al Qoriah, Kelas II dari Annas–Al Adiyat, Kelas III dari Annas–Al Bayyinah, Kelas IV dari Annas–Al ‘Alaq, Kelas V dari Annas – Adduha, dan Kelas VI dari Annas – At Thariq,” jelasnya.

Terkait kemampuan siswa-siswinya yang rata-rata sudah mampu menghafal berbagai surat pendek dalam juz amma, Muslimin mengaku bangga dan bersyukur. Semuanya itu, ia katakan, tidak terlepas dari metode pengajaran yang tidak hanya menekankan pada pembelajaran teori, namun juga dengan praktek melalui kegiatan-kegiatan pembiasaan.

“Setiap pagi, sebelum memulai pelajaran, kami selalu membudayakan melakukan kegiatan tadarus. Dari situ, sedikit demi sedikit siswa jadi bisa hafal,” bebernya.

Selain itu, ia menambahkan, para siswa juga antusias dalam melafal dan menghafalkan Alquran secara baik dan benar. (sna/nji)

Guru MTs se-Jateng Ikuti Workshop Bahasa Inggris

KH Saiful Rahman bersama Project Manager Kang Guru Indonesia Kevin Dalton
SEDIKITNYA 80 guru MTs se-Jateng digodok kemampuannya dalam berbahasa Inggris melalui workshop Practical Activities and Suggestions for Teaching English Using Materials from Kang Guru Indonesia. Kegiatan atas kerjasama Forum Komunikasi (Fokus) MTs SA AIBEP bekerjasama dengan pemerintah Australia.

Surat kesepakatan ditandatangani Project Manager Kang Guru Indonesia (wakil dari pemerintah Australia) Kevin Dalton dan Ketua Fokus MTs SA AIBEP KH Saiful Rahman di MTs Darusslam Ngadirgo Mijen, Semarang, kemarin (25/10). Dilanjutkan workshop selama dua hari yaitu hingga, Rabu (26/10) di sekolah setempat.

Direktur Pendidikan Madrasah Prof Dedi Djubaedi yang turut menghgadiri acara tersebut menuturkan bahwa pemerintah Indonesia menyambut baik atas terlaksananya kerjasama ini. mengingat madrasah-madrasah merupakan sekolah yang memiliki sifat kemandirian.

“Tentunya pemerintah sangat menyambut baik atas kerjasama ini. sudah saatnya pendidikan Indonesia, terutama madrasah-madrasah lebih meningkatkan kualitas pendidikan,” ujarnya seusai memberikan sambutan.

Ditambahkan, madrasah-madrasah ini nantinya bisa menjadi standar internasional dan berani bersaing dengan negara lain dalam mencetak generasi muda melalui pendidikan. “Kami ingin kerjasama ini bisa terus dilanjutkan, supaya madrasah-madrasah bisa menjadi sekolah bertaraf internasional,” lanjutnya.

Saiful Rahman menambahkan ini adalah kerjasama untuk kali kedua setelah Pada tahun 2007 pemerintah Australia bekerja sama dengan Pemerintah Indonesia melalui Departemen Agama meluncurkan program untuk pondok pesantren berupa pembangunan gedung Madrasah Tsanawiyah Satu Atap 2010 ini telah selesai pembangunannya.

“Setelah pembangunan sekolah selesai, kali ini kami bekerjasama kembali dalam meningkatkan kualitas guru, terutama mapel bahasa Inggris,” tuturnya.

Sementara itu, Kevin Dalton mengaku senang melakukan kerjasama dengan Indonesia. Selain mendapat respon positif, Indonesia merupakan negera yang sedang berkembang terutama di dunia pendidikan. “Kami sangat menyukai Indonesia, dan kami berterimaksih kepada semua pihak yang telah mendukung kegiatan ini,” ucapnya. (wse/nji)



Siswa BPK Penabur Bandung Live In di Ungaran

Siswa tengah kerja bakti mengecat tembok sendang
Tinggal di Rumah Warga, Dilarang Bawa Gagdet
DI era moderen, mayoritas orang tak bisa lepas dari piranti komunikasi dan gagdet. Dari sekadar ponsel jadul hingga ponsel cerdas. Gagdet memang bermanfaat, namun tak sedikit negatifnya. Banyak orang sibuk dengan piranti komunikasi untuk bertelepon, SMS, BBM, atau berselancar di dunia smaya. Akibatnya, lebih sibuk “berbicara” (on) dengan orang jauh, tapi membuat jarak (line) dengan orang-orang yang secara fisik hadir di sekitarnya.

Namun, apa jadinya kalau mereka bersengaja melepaskan ponsel dan gadget lainnya saat lima hari penuh dan tinggal di desa? Itulah yang dilakukan 271 siswa kelas XI (7 kelas) SMAK 2 BPK Penabur Bandung melalui program Live In, (14-19/10) di beberapa desa di Kabupaten Semarang. Bersama 14 guru pendamping, mereka disebar di Desa Brangkongan dan Sumberejo, Kecamatan Pabelan, dan Desa Cukilan serta Jangglengan, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang. 

“Selama kegiatan,. siswa tinggal di rumah-rumah penduduk. Mereka menyesuaikan diri dengan kondisi dan mengikuti aktivitas sehari-hari keluarga yang ditempati,” jelas Veralyta Altaria, guru pendamping.

Sekolah berharap, siswa mendapat pengalaman berharga dari situasi dan kebiasaan yang sangat berbeda dengan keseharian di Kota Bandung. Siswa bangun pagi-pagi, menimba, mencuci pakaian sendiri, memberi makan ternak, serta membantu tugas-tugas rumah tangga menggunakan peralatan sederhana. Misalnya memasak menggunakan tungku kayu bakar dan terlibat aktif dalam mata pencaharian keluarga. “Mereka juga ikut mencari rumput untuk ternak, membuat besek, membuat gula merah, maupun kegiatan home industry lainnya,” jelas Novy M Takarina, juga guru pendamping.

Tak kalah menarik, siswa belajar menyantap makanan setempat dan mengikuti ritme kehidupan di sana. “Yang lebih utama, siswa bertata krama, bersosialisasi, dan berkomunikasi dengan keluarga asuh dan warga, termasuk mengatasi hambatan budaya dan bahasa,” ungkap Veralyta.

Yang lebih berkesan, mereka dapat menikmati berjalan kaki dari satu tempat ke tempat lain dan menikmati keindahan alam, termasuk ke mata air dan sungai. Sesuatu yang sukar mereka jumpai di kota.

Pendidikan Karakter

Kesadaran pada tantangan globalisasi akhirnya mendorong dunia pendidikan untuk kembali mendahulukan pendidikan karakter. Di sisi lain, ketergantungan siswa pada teknologi komunikasi dan gadget menajamkan sisi indivualistis, sekaligus melemahkan kemampuan komunikasi interpersonal. Perlu ditanamkan kesadaran pada peserta didik bahwa mereka adalah makhluk Tuhan dan harus selaras dengan diri sendiri, sesama, dan alam di masyarakat multikultural ini.

Dalam kegiatan Live In, peserta didik mempraktikkan apa yang mereka pelajari dan serap dari masyarakat (learning by doing). Pada proses inilah mereka mengalami pengayaan pengetahuan (knowledge), keterampilan sosial (social skill), dan sikap (attitude). Pendidikan karakter pun berjalan alamiah, menyenangkan, praktis, dan tidak teoritis.

Program yang wajib diikuti seluruh siswa kelas XI ini sejalan dengan nilai-nilai kehidupan yang diimplementasikan di seluruh aspek pembelajaran dan kegiatan di SMAK 2 BPK PENABUR, yang meliputi kejujuran, keramahan, dan integritas.

“Tujuannya untuk membangun karakter agar siswa memiliki tanggung jawab, disiplin, kepedulian sosial, dan menghargai orang lain. Melalui Live In diharapkan siswa lebih bersyukur atas apa yang mereka miliki, mau bekerja keras, bertingkah laku benar, dan memiliki kepekaan terhadap kebutuhan orang lain. Dengan demikian, saat melanjutkan studi, bekerja, dan terjun ke masyarakat, mereka dapat memberikan pengaruh positif pada kehidupan,” jelas Takarina

Live In kali ini merupakan yang ketiga. Dua tahun sebelumnya diadakan di Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Kali ini sekolah bekerjasama dengan GKMI & GIA di Desa Brangkongan, Cukilan, Jangglengan, dan Sumberejo, Kabupaten Semarang. (nji)


260 Siswa Digembleng Kemandirian

Motivator James Gwee tengah memberikan motivasi kepada ratusan siswa peserta Champion Teens Care for the Nation
SEKURANGNYA 260 siswa jenjang SMA/MA dan SMK dari Kota Semarang dan Kabupaten Semarang mengikuti program pembangunan karakter remaja bertajuk Champion Teens Care for the Nation di gedung serbaguna Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Unnes Sekaran. Selama dua hari, Sabtu – Minggu (22– 3/10). Mereka digembleng untuk menjadi pribadi mandiri dan berkarakter juara.

Salah satu Founder Champion Teens, Sesilia DKF mengatakan, program kerjasama dengan PT Nasmoco Group ini diselenggarakan khusus untuk memberikan motivasi kepada pelajar kurang mampu agar memiliki semangat dan karakter sebagai pemenang, berani bermimipi dan mampu merealisasikan impiannya tersebut.
“Di sini, mereka tidak cuma mendapatkan materi motivasi dari ahli, tetapi juga mendapat dasar-dasar ketrampilan dan berwirausaha,” jelasnya, di sela kegiatan, Sabtu (23/10).

Selain itu, Sesilia mengatakan, program Champion Teens ini juga memberikan kesempatan bagi siswa yang mampu membuat rencana bisnis yang baik. “Mereka akan kami beri modal untuk merealisasikan rencana bisnis tersebut. Selain  itu, kami berikan pendampingan selama tiga tahun agar bisnisnya berjalan dengan baik,” ujarnya.

Sementara, James Gwee selaku motivator pengisi program ini menjelaskan, seminar motivasi itu dimaksudkan untuk membangun pemikiran dan karakter maju di kalangan siswa tak mampu, agar mereka tidak minder dengan kondisi yang mereka alami.

Untuk itu, ia mengatakan, dalam program ini para siswa tidak hanya akan dibekali dengan pembelajaran karakter dan mental untuk menjadi sukses, namun juga bekal keterampilan-keterampilan yang secara riil dibutuhkan untuk para siswa menuju sukses.

“Mereka kami beri pelatihan-pelatihan bagaimana cara berkomunikasi yang baik dan efektif dan bagaimana cara mengembangkan usaha. Setidaknya, bekal-bekal ini berguna bagi mereka dalam melangkah demi mencapai cita-citanya,” ucapnya.

Dalam program tersebut, James Gwee mengajak para siswa untuk meyakini bahwa setiap manusia sesungguhnya juara, dan harus memiliki pemikiran semacam itu agar selalu optimistis dalam menentukan langkah.(sna/nji)

Kintan Pildacil Menang Khitobah

Salah satu tim rebana unjuk kebolehan di lomba Mapel PAI dan Seni Islam tingkat Kota Semarang
Berbekal pengalaman mengikuti Pildacil di stasiun televisi swasta, Kintan Aulia menang lomba khitobah. Pada ajang Mapsi tingkat Kota Semarang ini, delapan SD berhasil merebut tropi.

DELAPAN SD berhasil menjadi pemenang lomba Mata Pelajaran Agama Islam dan Seni Islam (Mapsi) tingkat Kota Semarang yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Kota Semarang, di lingkungan SD Hidayatullah Banyumanik, Sabtu (22/10).

Masing-masing SD yang menjadi pemenang yaitu, SD Nurul Islam Ngaliyan menang juara lomba PAI untuk kategori putera dan puteri, SD Islam Supriyadi Pedurungan juara tilawah Alquran putra, SDN Sambiroto Pedurungan juara tilawah Alquran putri.

Kemudian, SD Islam Darul Falah Genuk juara khitobah putra, SD IT Harapan Bunda Pedurungan juara khitobah puteri. Dia adalah Kintan Aulia A, yang pernah berlaga di ajang Pemilihan Dai Cilik (Pildacil) di sebuah stasiun televisi swasta.

SD Bangetayu Kulon Genuk juara kaligrafi putra, SDN Tlogosari Kulon 5 Pedurungan juara kaligrafi putri, dan SDN Srondol Wetan Banyumanik juara mocopat Islam putra dan putri.

Sementara untuk cabang lomba rebana sebagai satu-satunya lomba berkategori kelompok atau gabungan dimenangi oleh Kecamatan Semarang Tengah. Para juara akan menjadi wakil Kota Semarang untuk lomba serupa di tingkat Jateng yang dijadwalkan akan berlangsung 24 November mendatang.

Ketua Panitia Lomba Mapel PAI dan Seni Islam tingkat Kota Semarang 2011, Sutarto mengatakan, perlombaan merupakan kegiatan tahunan siswa SD se-Kota Semarang. “Selain sebagai sarana pembinaan bakat siswa, Kegiatan ini sekaligus sebagai seleksi untuk mencari wakil dari Kota Semarang untuk lomba serupa di tingkat Jateng,” jelasnya.

Sutarto menambahkan, peserta lomba tingkat kota ini merupakan perwakilan dari setiap Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pendidikan Kecamatan di Semarang. Untuk semua cabang lomba, kecuali lomba rebana, mereka wajib mengirimkan dua siswa, putera dan puteri, sebagai peserta.

“Biasanya, di tingkat kecamatan sudah ada seleksi sebelumnya. Pemenangnya kemudian dikirmkan untuk mengikuti seleksi tingkat kota ini,” ucapnya.

Dengan kegiatan ini pihaknya berharap dapat menumbuhkan rasa cinta seni Islami pada diri siswa dan menumbuhkan persatuan dan kesatuan antarsiswa sekolah dasar. (nji)

Tiga Siswa SMAGA Menang di Ajang Internasional

Kepala Sekolah Hari Waluyo berfoto bersama Aulia Prahardika (kiri), Ghandam Bagus Putra, dan Irham Rosyidi
PRESTASI membanggakan kembali ditorehkan putra-putri Indonesia di kancah internasional. Dalam “Hongkong Internastional Science Fair (HKISF) 2011” yang berlangsung di Hongkong, 16-18 Oktober kemarin. Tiga karya dari siswa-siswi SMAN 3 (Smaga) Semarang yang menjadi wakil Indonesia berhasil menyabet medali perak, perunggu, dan certificate honorable mention.

Medali perak dipersembahkan Ghamdan Bagus Putra (kelas XII IPA 9) dan Irham Rosyadi (kelas XII IPA 11) melalui penelitian berjudul SMS Gateway as an Alternative of Computer Answer Sheet. Medali perunggu dipersembahkan Andy Aulia Prahardika (kelas XI IPA 7) melalui karya Effective and Environment Friendly Runway Flood.

Sementara penghargaan honorable mention didapatkan dari penelitian Pemanfaatan Minyak Biji Ketapang sebagai Bahan Pembuatan Margarin yang dibuat Hani Mufidah dan Enggardini Rachma Hakim (keduanya siswi kelas XI program olimpiade).

Ajang sains ini sendiri diikuti 37 finalis dari 17 negara, seperti Korea Selatan, Amerika Serikat, China (Hongkong), Italia, Rumania, Turki, Indonesia, Argentina, Tunisia, Rusia, dan Jerman.

Ditemui di sekolahnya di kawasan Jl Pemuda, Ghandam Bagus Putra dan Irham Rosyidi mengaku senang atas pencapaian prestasi ini. Menurut Irham, karya kreatif berupa pengembangan program pesan singkat (SMS) sebagai alternatif pengganti lembar jawaban ujian di sekolah yang mereka buat awalnya terinspirasi dari SMS Gateway yang biasa dimanfaatkan sebagai alat polling pada dunia entertainment.

“Setelah kami lakukan serangkaian percobaan, ternyata SMS Gateway bisa dipakai untuk pengganti kertas lembar jawab ujian,” jelasnya.

Senada, Ghandam menjelaskan, piranti dan cara kerjanya juga tidak rumit, cukup modem SMS gateway yang banyak dijual di pasaran dan seperangkat komputer. “Kalau cara kerjanya, siswa tinggal mengetik jawaban sesuai dengan format, lalu dikirimkan ke komputer melalui nomor yang ditentukan modem,” terangnya.

Data-data jawaban yang masuk, ia lanjutkan, kemudian diolah dengan program microsoft excel yang telah dilengkapi dengan program otomatisasi hasil sehingga tidak perlu melakukan pencocokan benar atau salah jawaban dengan cara manual. Sekali klik, maka bisa langsung diketahui hasilnya.

“Tentunya, penggunaan SMS Gateway untuk LJK ini lebih murah biayanya dibandingkan ongkos kertas LJK. Ongkos SMS hanya butuh sekitar Rp 150, sementara harga kertas LJK perlembar bisa mencapai Rp. 350,” tandasnya.

Sementara, Aulia Prahardika mengatakan, karyanya Effective and Environment Friendly Runway Flood lahir dari keprihatinan melihat banyaknya kejadian pesawat tergelincir akibat landasan pacu bandara tegenang banjir. “Dengan sensor banjir ini, tentunya dapat menjadi solusi untuk menghindari kecelakaan pesawat tersebut, karena alat ini didesain untuk memberikan peringatan dini kepada kru pengontrol udara untuk disampaikan kepada pilot, sekaligus menyedot genangan air secara otomatis,” urainya.

Keunggulan lain dari alat ini, ia katakan, tidak membutuhkan suplai listrik dari jaringan PLN karena seluruh kerja sensor ditopang dengan solarsel atau panas matahari dan baterai penyimpan arus listrik.

Kepala SMAN 3 Semarang, Hari Waluyo mengatakan, pihaknya sangat bangga dan gembira atas prestasi yang diraih siswanya ini. Bagi sekolah, pencapaian ini sangat diharapkan sebab rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) dituntut menorehkan prestasi di tingkat internasional.

“Kami sangat bersyukur siswa-siswi kami yang berhasil mengukir prestasi baik tingkat nasional maupun internasional. Prestasi-prestasi ini menjadi bukti bahwa sebenarnya kami telah siap menjadi sekolah bertaraf internasional,” tandasnya. (sna/nji)

Satu Puisi, Enam Bahasa

Seorang penampil membaca puisi dalam bahasa Arab, dalam baca puisi dalam enam bahasa di FBS Unnes, kemarin

UNTUK kesekian kalinya, helatan Bulan Bahasa dan Seni kembali diselenggarakan mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Semarang (Unnes). Menariknya, pembukaan acara tahunan kali ini diwarnai dengan pembacaan satu puisi dalam enam bahasa.

Pada pembukaan Bulan Bahasa dan Seni 2011, Jum’at (21/10), puisi berjudul Rakyat karya Hartoyo Andangjaya dibacakan secara bergantian oleh enam mahasiswa FBS Unnes dalam bahasa Indonesia, Perancis, Arab, Jawa, Inggris, dan Jepang.  Menurut Ketua Panitia, Ade Riyanto, hal itu dimaksudkan sebagai apresiasi dan penghargaan terhadap bahasa yang selama ini menjadi fokus pembelajaran di kampus FBS Unnes.

“Pembacaan puisi dalam enam bahasa ini bisa dikatakan sebagai representasi dari enam jurusan bahasa yang ada di kampus kami,” jelasnya, di sela acara yang berlangsung di lapangan FBS Unnes, kemarin.

Pelaksanaan kegiatan Bulan Bahasa dan Seni, dikatakan Ade, dijadwalkan akan berlangsung selama tiga bulan dengan berbagai kegiatan apreasi, bakti sosial, dan lomba. Di antaranya,  kolaborasi budaya dengan Universitas Negeri Surabaya (Unesa), workshop pembuatan film, sunatan masal, serta kompetisi menulis esai tentang bahasa dan seni untuk tingkat SMA se-Jawa Tengah.

“Kolaborasi budaya antara Unnes dengan Unesa nanti akan menampilkan arak-arakan budaya dan penampilan kesenian tradisional. Kami akan membawakan kesenian Jawa Tengah dan para mahasiswa Unesa sendiri akan menampilkan kesenian khas Jawa Timur,” ujarnya.

Dengan kolaborasi dua kesenian dan budaya itu, mereka berharap bisa saling bertukar pikiran dan saling mengasah kreativitas dan kemampuan di bidang seni dan budaya. Selain itu, dimaksudkan juga sebagai upaya turut melestarikan kebudayaan dan kesenian tradisional.

Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FBS Unnes, Mas Bagus Purwo Basuki menambahkan, Bulan Bahasa dan Seni ini merupakan kegiatan tahunan khas FBS Unnes setiap Oktober. “Tujuannya, selain untuk mendorong peningkatan prestasi mahasiswa FBS Unnes juga sebagai media konservasi budaya,” jelasnya.

Sementara itu, Pembantu Rektor III Unnes Prof Masrukhi, saat membuka acara tersebut mengaku mendukung dan mengapresiasi minat mahasiswa di bidang seni dan budaya, sesuai jargon Unnes sebagai universitas konservasi. “Konservasi itu tidak sebatas pelestarian lingkungan alam, namun juga mencakup konservasi nilai budaya dan moral,” tandasnya. (sna/nji)

28,5% Wisudawan dari Luar Jawa

Dekan FH Sartono Sahlan  memberi ucapan selamat kepada wisudawan terbaik Donny Wahyu Tobing
WISUDA periode II Tahun 2011 Unnes meluluskan 67 orang sarjana hukum (SH). Tiga wisudawan terbaik diraih Amrina Rosida, IPK 3,65 (Tegal), Donny Wahyu Tobing IPK 3.6 (Kota Medan), dan Agustin Lamasi Hasiholoan IPK 3,56 (Tapanuli Utara).

Dekan FH Sartono Sahlan dalam sambutannya, Selasa mengatakan, mahasiswa FH Unnes berasal dari berbagai wilayah di Indonesia dengan peminat tertinggi dari Sumatera Utara dan Jakarta. Hal itu menunjukkan FH memiliki daya tarik tersendiri sebagai fakultas paling muda yang mencetak sarjana nonkependidikan.

”Banyak mahasiswa FH yang berasal dari luar Jawa. Khusus untuk wisuda periode II Tahun 2011 ini, sebanyak 28,5 persen dari 67 wisudawan berasal dari luar Jawa Tengah. Artinya peminat FH di luar wilayah Jateng cukup banyak. Saya berharap lulusan FH Unnes mampu menunjukkan performa terbaik di lingkungan kerjanya. Para lulusan Unnes adalah agen masyarakat,” katanya di gedung C7 lantai III FIS kampus Unnes Sekaran, Selasa (18/10).

Menurut Sartono, FH merupakan fakultas termuda di Unnes dan fakultas yang mendidik tenaga non kependidikan.

Ika Sulistyawati Terbaik FIS
Adapun Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Unnes meluluskan 240 orang. Mereka tediri atas 131 sarjana (S1) dan 9 ahli madya (D3).  Ika Sulistyawati menjadi wisudawan terbaik  dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,67.
Dekan Subagyo dalam sambutannya menyatakan kebanggaannya terhadap prestasi mahasiswa yang semakin meningkat dari tahun ke tahun. “Saya bangga dan terharu atas pencapaian Saudara. Bukan hanya IPK rata-rata lulusan di atas 3,00 tetapi juga peningkatan pengetahuan akademik dan penguasaan teknologi informasi dan komunikasi,” katanya di auditorium Unnes, Kamis (20/10).

Pembantu Dekan  Bidang Akademik Eko Handoyo menambahkan, para lulusan dibekali kemampuan bahasa Inggris agar mampu bersaing di dunia kerja. “FIS mempersyaratkan nilai minimal TOEFL 450 sebagai salah satu standar kelulusan,” katanya.

Menurutnya, standar yang diterapkan oleh FIS kepada lulusan diberikan sebagai bekal lulusan dalam memasuki dunia kerja dan kompetisi nasional serta global. (nji)

Seminar Pentingnya Child Bugdeting

Kegiatan seminar Undip-UNICEF
ANGGARAN anak di Indonesia memiliki tujuan untuk mengidentifikasi alokasi anggaran untuk program-program yang terkait hak anak sebagai bentuk komitmen pemerintah serta realisasinya.

Hal tersebut diungkapkan pemerhati anak dari Undip, Johanna Maria Kodoatie pada seminar Undip-UNICEF kependudukan mengenai dampak pertumbuhan penduduk dan perlunya penganggaran untuk anak pada Selasa (18/7) lalu.

Pada seminar yang diadakan di dekanat Fakultas Ekonomi Undip tersebut, Johanna mengatakan, dari penelitian yang dilakukannya, ada kesimpulan yaitu pemerintah memiliki komitmen terhadap anak yang ditunjukkan dengan alokasi anggaran yang signifikan dalam RPJM (Aksi Percepatan Pencapaian Tujuan) 2010-2014 oleh 14 kementrian dan lembaga.

"Perhatian pemerintah terhadap anak juga tercermin pada program dan kegiatan dari kementrian terkait seperti Kementerian Sosial, Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan Kementerian Ketenagakerjaan, Kementerian Pendidikan Nasional, dan Kementerian Kesehatan," jelasnya.

SelanjutnyaK kepala UNICEF bagian kebijakan sosial dan monitoring di Indonesia, Niloufar Pourzand mengatakan bahwa child budgeting (penganggaran anak) sangatlah penting karena sebagai refleksi dari realisasi dari hak-hak anak itu sendiri.

"Pengganggaran anak adalah langkah pertama untuk memeriksa sumberdaya pemerintah yang mengalokasikan kepada program-program yang menguntungkan anak-anak dan dapat diaplikasikan di Indonesia," kata dia.

Sementara itu pembicara lain, Dekan Fakultas Kesehatan Undip, Tinuk Istiarti mengatakan, dampak kependudukan terhadap kesehatan lingkungan adalah makin berkurangnya lahan produktif, makin berkurangnya ketersediaan air bersih dan pencemaran lingkungan.

"Sedangkan dampak kependudukan terhadap kesehatan masyarakat adalah kemiskinan sebagai dampak peledakan penduduk yang dapat mengakibatkan gizi buruk, makanan tidak sehat, pekerjaan yang beresiko terhadap kesehatan, perilaku hidup sehat yang rendah,dan rendahnya akses pelayanan kesehatan," ujarnya.

Selanjutnya, dijelaskan pula, dampak kependudukan terhadap kesehatan reproduksi dapat berupa tidak terlingdunginya hak-hak kesehatan reproduksi dan hak-hak seksual. “Selain itu yaitu tidak terkendalinya penyebaran IMS, HIV-AIDS, tidak tertangani secara tuntas masalah-masalah trafficking, KDRT, PSK, perlindungan anak,” terangnya.(awi/nji)
 

Meriah, Hari Pramuka di Demak

Anggota pramuka mengadakan atraksi, kemarin
KAMIS sore kemarin, puluhan ribu anggota gerakan Pramuka dari Siaga, Penggalang, Penegak, dan Pandega, berkumpul bersama dalam memeringati Hari Gerakan Pramuka ke-50, di alun-alun.

Bupati Demak, Tafta Zani sebagai Inspektur Upacara, meminta pada Gerakan Pramuka bisa menjadi benteng generasi muda dari segala ancaman kejahatan dan upaya merusak NKRI. "jalin persatuan dan kesatuan melalui kegiatan kepramukaan," jelas  Bupati Zani.

Ketua Kwarcab Demak, H Wakiyo menegaskan, Pramuka mempunyai misi menegakan NKRI, dengan moto "Satu Pramuka Untuk Satu Indonesia", Wakiyo meminta, Pramuka mampu sebagai benteng generasi muda dalam menghadapi tantangan, dari diri sendiri, kejahatan dan penyalahgunaan narkoba. "Pramuka akan menjadi garda paling depan dalam memerangi narkoba," tandasnya.

Upacara yang dihadiri seluruh gerakan Pramuka se-Demak, dilakukan juga penurunan bendera oleh pasukan penurun bendera, Cakra Adi Bintara, yang sebelumnya sudah dikukuhkan.

Sementara Kakak Pembina, Rr Noer Indah Apriani yang juga Kepala SMPN 1 Mranggen, berharap saatnya Demak menjadi Jawara di Pramuka Jateng atau tingkat Nasional. "Dengan melibatkan puluhan Pramuka dalam kegiatan ini, dengan mudah menyeleksi anggota Pramuka yang terbaik sebagai wakil Demak," katanya. (swi)


Pojok BEI Hadir di Unika

Suasana Pojok BEI Unika
MEDIA pembelajaran di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata kini lebih lengkap setelah pada 23 September lalu diresmikan pendirian Pojok Bursa Efek Indonesia (BEI). Dengan Pojok BEI ini mahasiswa tidak hanya bisa memahami lebih jauh tentang pasar modal, tetapi juga bisa turut ambil bagian dalam kegiatan pasar modal.

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Andreas Lako mengatakan pendirian Pojok BEI tersebut merupakan kerjasama antara Unika Soegijapranata, BEI, dan PT Sinarmas Sekuritas. Tujuan pendirian pojok BEI yaitu sebagai wahana edukasi bagi mahasiswa terkait bisnis pasar modal sehingga kedepannya mereka bisa menjadi investor yang cerdik dan bijak dalam menentukan investasi.

“Selain menyasar kalangan mahasiswa, pendirian Pojok BEI ini juga untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat luas dalam memahami tentang bisnis pasar modal atau bursa efek,” jelasnya, kemarin (20/10).
Keberadaan Pojok BEI ini, dikatakan Andreas, tidak hanya membantu mempermudah mahasiswa dalam menambah pengetahuannya tentang bidang pasar modal, tetapi lewat Pojok BEI tersebut mereka juga bisa turut ambil bagian dalam kegiatan bisnis pasar modal.

Senada, Elizabeth Lucky Maretha Sitinjak selaku Ketua Pojok BEI Unika Soegijapranata mengatakan, pendirian Pojok BEI untuk memberikan pendidikan dan pengajaran pada mahasiswa terkait bidang pasar modal, khususnya mahasiswa fakultas ekonomi, sekaligus juga untuk mendorong temuan-temuan kreativitas baru mahasiswa melalui penelitian di bidang pasar modal, sebagai kontribusi positif dari kalangan kampus.
“Meski relatif masih baru, Pojok BEI Unika sudah dilengkapi data-data bisnis dan ekonomi yang cukup lengkap,” ujarnya.

Dari kelengkapan data yang ada, ia menambahkan, Pojok BEI tersebut sudah dikunjungi banyak mahasiswa. “Tidak hanya mahasiswa kami sendiri, tetapi banyak juga mahasiswa dari luar Unika, seperti dari Pekalongan maupun kota-kota lain di jawa tengah,” ucapnya.

Sementara, Aifi Louista, Branch Coordinator PT Sinarmas Sekuritas menjelaskan, dukungan pihaknya pada Pojok BEI unika tidak hanya sebatas  pada pendirian. Pihaknya juga terus akan berperan memberikan pendidikan, pelatihan, dan pendampingan berinvestasi di pasar modal untuk mahasiswa, dosen, dan masyarakat luas di lingkungan Unika.

“Rencananya, kami juga akan menggelar sekolah pasar modal tingkat pemula dan intermediate mulai November 2011 nanti. Selain itu, juga ada program bimbel (bimbingan belajar) untuk mahasiswa Unika setiap Jumat, dan masih banyak lagi program-program lainnya,” katanya.

Selain Unika Soegijapranata, kata Aifi, pihaknya juga bekerja sama mendirikan Pojok BEI dengan sejumlah perguruan tinggi, seperti Universitas Ciputra Surabaya dan Universitas Kristen Maranatha Bandung. (sna/nji)

Agar tak Ndeso, Sediakan Eskul Komputer


Mayoritas SD sudah menyediakan eskul komputer bagi siswanya. Penting untuk bekal melanjutkan ke jenjang SMP.

KEGIATAN ekstrakurikuler seolah bukan lagi kegiatan tambahan bagi sejumlah sekolah yang ada di Kota Semarang. Salah satu sekolah yang menganggap penting kegiatan ini bahkan menjadikannya sebagai kegiatan yang wajib yaitu SD Kemala Bhayangkari 02 Semarang. “Selain pramuka yang memang sudah diwajibkan pemerintah, di sekolah kami ada kegiatan komputer yang wajib diikuti semua siswa,” jelasnya kepada Harsem saat ditemui di ruang kerjanya, baru-baru ini.

Dikatakan, ketrampilan komputer di masa depan akan berguna bagi siswa. “Pastinya sangat berguna. Apalagi setelah siswa lulus dari SD dan mulai belajar di SMP,” terangnya.

Dia menjelaskan, semakin hari para siswa dituntut semakin mandiri. “Yang pasti mereka harus bisa minimal mengoperasionalkan komputer, baik mengetik maupun keperluan lain,” kata dia.

Diakuinya, antusiasme siswa untuk mengikuti kegiatan cukup tinggi. “Kami pernah mengikuti lomba komputer yang diadakan lembaga pendidikan komputer Cipta Karisma. Dua kali sekolah kami menyabet juara umum,” urainya.

Eskul komputer juga diadakan di SD Muktiharjo lor Semarang. Kepala Sekolah Jumadi mengatakan, eskul komputer merupakan kegiatan penting bagi siswa. “Bahkan, untuk kegiatan komputer kami menyediakan ruangan yang cukup luas. Meskipun hanya sederhana, namun karena luas bisa menciptakan situasi yang kondusif saat siswa belajar komputer,” paparnya.

Karena pentingnya kegiatan ini, Jumadi kerap mengecek langsung kondisi komputernya, apakah masih dalam kondisi baik atau perlu diperbaiki. “Kami memiliki 10 komputer dan semua masih bisa dipakai dengan baik. Memang, dengan jumlah sedikit, siswa masih harus bergantian. Tapi mereka bisa memahami kondisi tersebut,” urainya.

Lain halnya dengan TK Al Iman. Meskipun masih tingkat TK, namun para siswa sudah dikenalkan dengan komputer. “Kami hanya memiliki satu komputer, namun itu sudah kami syukuri,” jelasnya.

Pihak sekolah tak mewajibkan siswa menguasai semua pengetahuan tentang komputer. “Yang penting mereka tahu dulu, bagaimana menghidupkan komputer dan mematikan,” lanjutnya.

Tak hanya itu, para siswa terkadang juga diajarkan menggambar melalui program komputer. “Kami ingin siswa tidak gaptek, karena saat ini saja ada sejumlah SD yang sudah mewajibkan kegiatan komputer untuk diikuti siswa,” jelasnya.(awi/nji)

Siswa Ikuti Simulasi Kebakaran

Siswa SMPN 2 sedang memadamkan api dengan menggunakan karung goni saat simulasi pemadaman kebakaran,  

SEBANYAK 189 siswa SMPN 2 Semarang, Rabu (19/10) kemarin berkesempatan berlatih menjinakkan “si jago merah” atau kebakaran di halaman Kantor Dinas Kebakaran Kota Semarang. Para siswa kelas VII terlihat antusias mengikuti simulasi pemadaman api dengan menggunakan karung goni basah.

Pembina OSIS SMPN 2 Semarang Sri Wahyuningrum menerangkan, kegiatan simulasi pemadaman kebakaran tersebut merupakan kegiatan wajib untuk siswa kelas VII. Dimaksudkan untuk membekali para siswa tentang bagaimana langkah pertama menanggulangi kebakaran.

“Cuma mengenalkan kepada para siswa seperti apa teknik yang benar dalam melakukan pemadaman kebakaran. Paling tidak, untuk menangani kebakaran yang sifatnya masih kecil,” ujarnya saat ditemui di sela kegiatan simulasi, kemarin.

Sebelum simulasi dilangsungkan, para siswa mendapatkan pengarahan dari para petugas pemadam kebakaran tentang teknik-teknik penanganan pertama pemadaman api menggunakan karung goni basah yang aman dan benar.

“Cara memegang karung harus benar agar jari-jari kita tidak terkena api. Jangan lupa perhatikan arah angin ketika hendak menutupkan karung goni basah pada sumber api agar apinya cepat padam,” terang salah satu instruktur.

Selanjutnya, pada praktek simulasi itu, setiap siswa mendapat giliran satu persatu melakukan pemadaman api yang berkobar dari dalam drum yang telah disediakan petugas kebakaran sebelumnya.

Sementara Pembina OSIS lainnya, Etty Sugiyarti megatakan, selain kegiatan simulasi kebakaran ini, SMPN 2 Semarang dalam tiga hari ini juga tengah mengirimkan siswa di kawasan Banyubiru Ambarawa untuk mengikuti kegiatan home stay.

“Kegiatan home stay tersebut sudah dimulai hari Selasa (18/10) kemarin dan akan berakhir besok (hari ini, red). Maksud tujuan dari kegiatan ini agar para siswa dapat berinteraksi dengan para penduduk dan mengetahui bagaimana kehidupan sederhana di kawasan pedesaan,” bebernya. (nji)


Berdayakan MGMP, Tingkatkan Profesionalisme Guru

Written By Harian Semarang on Minggu, 30 Oktober 2011 | 23.35

Ketua MKKS meminta kesadaran guru dalam meningkatkan kualitas anak didik

KENDATI sudah banyak guru bersertifikasi dengan waktu mengajar 24 jam per minggu, tetapi masih ada yang melalaikan profesionalisme mengajar. Menyikapi itu, Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) menggelar Program pemberdayaan MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) Bahasa Indonesia dan Matematika SMP se-Demak.

Ratusan guru mata pelajaran tersebut akan mengikuti pelatihan selama 15 kali pertemuan. Mereka dilatih pembelajaran inovatif, peningkatan penelitian tindakan kelas, dan sistem penilaian pendidikan berkarakter untuk kurikulum KTSP. "Kami beri free test dan post test, untuk mengetahui sejauh mana guru bisa menguasai materi," kata Ketua MGMP Bahasa Indonesia, Sutopo.

Menurut Ketua MKKS Demak, Rr Noer Indah Aprianti, perberdayaan MGMP sangat penting dalam meningkatkan mutu pendidikan. Hasil pelatihan, guru semakin profesioanl, dan otomatis peserta didiknya akan semakin berkualitas. "Kadang pelajaran yang sama di sampaikan oleh orang berbeda, penerimaan murid juga berbeda. Berkulitasnya siswa didik ini menunjukan profesionalisme guru dalam mendidik," tegasnya.

Sementara, sebelum membuka program pemberdayaan MGMP, Kasi Kurikulum Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dindikpora) Demak, H Abdul Haris, mengatakan, ada tiga alasan mendasar dalam peningkatan profesionalisme guru. Yakni cinta pekerjaan, kompetensi (kemampuan) pada bidang yang ditekuni, dan penghasilan profesional. "Dinas berharap, kepala sekolah bisa mengevaluasi kewajiban mengajar 24 jam," ujarnya. (swi/nji)


Unimus Bangun Rumah Sakit Pendidikan

Prof Djamaluddin Darwis memberi sambutan pada upacara meletakkan batu pertama rumah sakit pendidikan

UNIVERSITAS Muhammadiyah Semarang (Unimus) memulai pembangunan Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan (RSGMP) di lokasi kampus Kedungmundu II Jl Kedungmundu Raya No 22 Semarang, Selasa (18/10). Rektor Unimus, Prof Djamaluddin Darwis melakukan peletakan batu pertama pembangunan  Rumah Sakit tersebut.

Hadir dalam kesempatan tersebut antara lain Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah yang juga merupakan Ketua Badan Pelaksana Harian (BPH) Unimus Drs. Musman Tholib, anggota BPH H Widadi, Wakil Rektor I Unimus Diyono Ikhsan, para dekan, ketua program studi beserta jajaran pimpinan lainnya di lingkungan Unimus.

Pada kesempatan tersebut Rektor Unimus menyampaikan bahwa seiring dengan karakterisitik amal usaha utama Muhammadiyah dalam bidang pendidikan dan kesehatan, maka pihaknya berupaya memenuhi kebutuhan pendidikan kesehatan termasuk kebutuhan kesehatan gigi dan mulut.

“kami sangat serius dalam memenuhi kebutuhan baik perangkat keras (hardware) maupun perangkat lunak (software). RSGMP ini merupakan perangkat keras untuk pemenuhan kebutuhan pendidikan kesehatan gigi dan mulut.” tegasnya.

Sementara Ketua PWM Jawa Tengah menyampaikan bahwa Muhammadiyah berkembang semakin hari semakin maju. Keberhasilan Muhammadiyah yang terdepan adalah dalam bidang pendidikan dan kesehatan.
Pimpinan Wilayah Muhammadiyah mendukung upaya-upaya Unimus untuk mengembangkan kualitas pendidikan terutama pendidikan Kesehatan. Pembangunan RSGMP untuk peningkatan kiprah Muhammadiyah di bidang Kesehatan khususnya kesehatan gigi dan mulut di kota Semarang.

PWM juga mendukung upaya Unimus untuk segera mendirikan fakultas kedokteran gigi, dan mengajak kepada semua warga Muhammadiyah untuk mendukungnya.

Unimus dengan semangat A University for the Excellence  telah memiliki 19 program studi dan 8 fakultas. Meliputi fakultas kesehatan masyarakat, fakultas MIPA, fakultas teknik, fakultas ekonomi, dan fakultas budaya dan bahasa asing.

Kemudian fakultas ilmu keperawatan dan kesehatan, fakultas kedokteran, serta fakultas keguruan dan ilmu pendidikan. Saat ini Unimus tengah mempersiapkan prodi kedokteran gigi yang sedang diajukan izinnya ke Dirjen Dikti Kementerian Pendidikan Nasional. (nji)


Andalkan Eskul Tari, Belum Punya Kostum

Para siswa mengikuti ekstrakurikuler tari

SUDAH sering tampil di hadapan umum. Itulah salah satu prestasi yang dikecap SDN Purwosari 02 Semarang dalam kegiatan ekstrakurikuler tari.  Hal itu diungkapkan Kepala Sekolah Purwaningsih saat ditemui Harsem di ruang kerjanya, kemarin. Dijelaskan, eskul tari memang merupakan salah satu unggulan sekolah.

“Eskul tari kami sering mengikuti kejuaraan di tingkat kecamatan maupun kota. Selain itu, siswa yang mengikuti eskul tari juga sering mengisi acara yang diadakan sekolah. Misalnya dalam acara perpisahan kelas enam, siswa selalu menampilkan tari,” jelasnya.

Dikatakan, eskul tari wajib diikuti semua siswa. “Mulai kelas satu sampai kelas enam wajib mengikuti. Eskul ini sifatnya gratis,” jelasnya.

Dia mengatakan, semua siswa mengikuti eskul tari. Ketika akan mengikuti perlombaan, barulah kontingen dipilih oleh guru. “Yang pasti, kami mencari siswa yang luwes dan memiliki gerakan bagus. Untuk kami kirimkan di kejuaraan tari,” ungkapnya.

Perihal jenis tari yang dipelajari siswa, biasanya disesuaikan dengan tingkat umur. “Untuk siswa kelas rendah, mereka belajar tari dolanan yang gerakannya lebih mudah. Mulai kelas empat, mereka belajar tarian yang gerakannya agak susah dan kompleks, misalnya tari golek dan bondan,” paparnya.

Dijelaskan, siswa diajarkan berbagai macam jenis tari. “Ada tari klasik, tari Jawa, tari nasional dan kreasi,” sambungnya.

Purwaningsih  mengatakan eskul tari juga menghadapi kendala. “Kendalanya, sampai saat ini kami belum memiliki kostum untuk pentas. Jadi kalau mau pentas kami harus meminjam kostum,” kata dia.

Untuk itu dia berharap mendapatkan bantuan pengadaan kostum ini. “Kalau siswa mendapatkan kostum baru mereka pasti akan lebih semangat mengikuti kejuaraan,” terangnya.

Biaya operasional mengikuti kejuaraan tari dibebankan pada dana BOS. “Namun kalau siswa berkeinginan tampil mengisi acara, biasanya orangtua yang membiayai,” lanjutnya.

Tak hanya tari yang menjadi kegiatan esktrakurikuler. “Kegiatan lain antara lain baca tulis Alquran, komputer, voli mini, pramuka, gambar dan lukis, serta karate,” paparnya.

Belum lama ini, bolavoli dan karate SDN Purwosari 02 maju hingga tingkat kota. “Para siswa sudah mengikuti olimpiade dan POPDA. Mereka sudah memiliki jam terbang cukup tinggi dalam mengikuti lomba-lomba hingga tingkat kota,” tandasnya.

Dijelaskan pula, orangtua siswa sangat kooperatif dalam mendukung sekolah. “Sampai saat ini orangtua sangat kooperatif. Mereka juga mau melibatkan diri dari segi pendanaan. Karena mereka menyadari selama ini pihak sekolah hanya mengandalkan dana BOS. Padahal dana BOS jumlahnya minim,” ujarnya.

Dilanjutkan, dirinya meyakini semua prestasi yang dicetak siswa tergantung dukungan orangtua. “Selama orangtua mendukung dan anak memiliki bakat, saya yakin prestasi ada di tangan,” pungkasnya. (nji)

HARSEM/ARIS WASITA WIDIASTUTI

Pascasarjana Unnes Siapkan Lima Prodi Baru

Prof Samsudi
PROGRAM Pascasarjana Universitas Negeri Semarang (Unnes) kini tengah melakukan berbagai upaya penguatan lembaganya, salah satunya dengan menyiapkan penambahan lima program studi (prodi) baru yang dijadwalkan akan mulai dibuka pada 2012 mendatang.

Di sela pelepasan 370 magister dan 15 doktor Program Pascasarjana Unnes di Hotel Patrajasa, kemarin (18/10), Direktur Pascasarjana Unnes, Prof Samsudi mengatakan, sampai saat ini pihaknya terus melakukan berbagai penguatan untuk menuju lembaga pengembangan dan penyebarluasan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni bertaraf internasional.

Misalnya dari sisi akademik, ia mengatakan, pihaknya terus berupaya memberikan layaan secara optimal mulai dari pengembangan kurikulum, konten perkuliahan, pemantauan perkuliahan secara online, serta peningkatan kualifikasi dosen.

“Dosen pascasarjana itu kan minimal harus berjenjang pendidikan doktor. Dan itu yang saat ini terus kita dorong meskipun saat ini Pascasarjana Unnes telah mempunyai sekitar 150 doktor dan 60 profesor,” ucapnya.

 Selain itu, juga dilakukan penguatan dengan melakukan pengembangan prodi baru. Selama ini, pasacasarjana Unnes telah memiliki 13 prodi dan lima konsentrasi pada jenjang pendidikan S2. Sementara untuk S3, terdiri empat prodi, meliputi Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Bahasa Indonesia, Pendidikan Olahraga, dan Manajemen Pendidikan.

“Tahun ini kami sudah mengajukan ijin kepada Dirjen Dikti untuk mengembangkan lima prodi baru. Kemungkinan besar prodi-prodi baru tersebut sudah bisa kami buka pada 2012 nanti,” ujarnya.

Samsudi menyebutkan, lima prodi baru yang bakan dibuka itu terdiri pendidikan ekonomi (S2), pendidikan kejuruan (S2), pendidikan seni (S3), pendidikan IPA (S3), dan pendidikan matematika (S3).

 “Semua itu kami kembangkan dengan tetap berorientasi pada kebutuhan masyarakat. Tiga tahun terakhir minat masyarakat terhadap pendidikan pascasarjana terbilang meningkat. Ini menjadi indikasi bahwa kebutuhan pendidikan pascasarjana kian dibutuhkan,” ucapnya.

Samsudi juga mengatakan, penguatan lembaga juga dilakukan dengan melakukan kerjasama dan pengayaan dengan berbagai universitas, baik di dalam maupun luar negeri melalui program dual master degree, seperti di antaranya dengan Belgia, Ohaio, Amerika, Indiana, dan Australia. (sna/nji)



 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. HARIAN SEMARANG - Education - All Rights Reserved
Template Created by Mas Fatoni Published by Tonitok
Proudly powered by Blogger